
Amara
Aku mulai melakukan pekerjaan ku. Aku sudah bilang pada Nada jika aku sedang tidak ingin di temui siapa pun untuk sekarang ini. Selain banyaknya pekerjaan, aku juga sedang banyak pikiran. Terlebih soal Alby yang katanya akan bertanggung jawab.
Memang pertanggungjawaban seperti apa yang akan Alby lakukan padaku?
Menikahi ku, begitu??? Bulshitt! Percuma saja! Untuk apa pernikahan tanpa di dasari cinta. Aku mencintai nya, dia tidak! Bertepuk sebelah tangan bukan?
Almarhumah istri nya saja mengalami hal yang sama, tak mendapatkan cinta dari Alby karena dia masih tak bisa melepaskan perasaannya dari Bia. Lantas, aku harus mengalami hal yang sama seperti ibunya Nabil?
Tidak! Aku tidak mau seperti itu. Aku ingin menikah dengan orang yang memang mencintai ku dengan segala kekurangan ku begitu pun sebaliknya, orang itu juga aku cintai.
Tapi apa??? Cinta ku bertepuk sebelah tangan! Dari dulu! Sekali nya ada yang menyambut, ternyata suami orang! Menyedihkan sekali hidup mu Amara!
Kenapa aku harus terlibat dengan para duda? Dulu Febri, sekarang Alby bahkan Frans.
Aku cemas jika Frans benar-benar melakukan hal yang nekat. Tak apa, jika itu ia lakukan padaku. Tapi bagaimana jika ia melakukan itu pada Alby?
Jika keberadaan ku saja dengan mudah ia tahu, apa tidak mungkin jika dia mencari tahu tentang Alby?
Sejak aku memutuskan untuk berpisah dengan Frans, aku baru tahu tabiat aslinya. Dia tak sebaik seperti awal pertemuan kami dulu di medan perang.
Dia memang seorang dokter, biasa mengobati luka orang lain. Tapi dia justru melukai ku. Sekarang, dengan tanpa dosa dia tiba-tiba bilang ingin aku kembali padanya. Yang benar saja??!!!!
Ceklekk l! Aku mendengar pintu terbuka. Tanpa melihat nya aku langsung menegur.
"Nada, sudah saya bilang saya sedang tidak ingin menerima tamu. Kamu de....!", aku mendongakkan kepala ku ke arah pintu. Ternyata Kak Daniel yang masuk ke ruangan ku.
"Kak Daniel!",aku langsung berdiri.
"Kamu tidur di apartemen?",tanya kak Daniel. Aku mengangguk.
"Iya kak, kenapa?",tanyaku.
"Dengan laki-laki?",tanyanya dengan wajah terlihat marah. Aku menggeleng pelan.
"Ngga kak, aku...aku sendiri di apartemen ku kok!"
__ADS_1
"Benarkah? Lalu siapa laki-laki yang bersama mu itu, heum?", Kak Daniel duduk di mejaku sambil melipat kedua tangannya.
"Laki-laki siapa sih Kak? Ngga ada!",jawabku sedikit gugup.
"Jangan bohongi kakak!", kata kak Daniel. Usia kak Daniel lima tahun lebih tua dariku. Sedang kakak pertama ku bernama Nathaniel, usianya sudah empat puluh tahun. Jadi, bisa di bayangkan bukan usia papi Mami ku? Makanya mereka meminta ku untuk menggantikan papi di kantor.
"Mara ngga bohong kak, emang semalam aku di apartemen sendiri kok!"
"Siapa laki-laki yang dua satpam bantu masuk ke unit mu? Bahkan malam nya, dia masuk lagi ke sana. Jujur sama kakak, Amara! Jangan mengelak!"
Aku sedikit tersentak. Kak Daniel memang lebih tegas di banding kak Nathaniel.
"Itu...itu teman ku kak, dia tadi sakit. Jadi aku bawa ke sini. Soalnya kalo aku bawa ke rumah sakit atau anterin ke rumahnya jauh. Jadi aku ambil jalan tengah, bawa di ke apartemen ku kak!"
"Begitu?"
Aku mengangguk.
"Kami ngga ngapa-ngapain kak. Aku tahu batasan kak. Lagi pula, kami hanya berteman mana mungkin kami akan melakukan hal-hal yang tidak-tidak. Aku cuma...!"
"Kakak ngga nuduh kamu yang tidak-tidak Amara, hanya saja berdua dengan lawan jenis yang bukan mahram apalagi di tempat tertutup seperti itu...kok...??? Assh...kakak tahu kamu sudah dewasa Amara. Kakak tahu, cowok yang kamu puja-puja sampai kamu bertahan di dunia militer itu sudah menikah, sudah berkeluarga dan punya anak. Tapi bukan berarti kamu melampiaskan kecewa mu dengan berhubungan sama cowok yang tidak jelas. Dua lagi!", kata kak Daniel panjang lebar.
"Ngaku kan sekarang? Jadi laki-laki itu Alby?",tanya kak Daniel. Percuma rasanya aku menyimpan rahasia pada kakak ku ini.
"Iya, CEO HS grup kak!"
Kak Daniel menatap ku sekilas.
"Kalau kalian memang cocok, lanjutkan saja ke jenjang pernikahan. Jangan pacaran- pacaran segala."
"Kami ngga pacaran kak!"
"Ngga pacaran tapi berduaan begitu?"
Aku bingung memberikan penjelasan apa lagi pada kakak ku ini.
"Tapi serius kak, kami...kami...sejauh ini masih berteman, tidak lebih!", kataku.
__ADS_1
"Jadi, yang pacar kamu dokter bule itu? Siapa nama nya? Dokter Frans?"
Aku menganga tak percaya. Bagaimana bisa Kak Daniel tahu tentang Frans?
"Frans?", tanyaku membeo.
"Iya, dia menemui papi dan mami di rumah. Mengaku kalo dia pacar kamu saat kamu tugas di perbatasan. Tapi karena kamu ke tanah air, kamu memutuskan hubungan mu dengan nya!"
Aku menggeleng tak percaya. Dasar Frans tukang bohong!
"Tapi..."
"Tapi apa kak?", tanyaku.
"Maaf kalo kakak lancang, Kakak ke apartemen mu. Ada sesuatu yang kakak cari. Terpaksa kakak liat cctv !"
Aku semakin menganga tak percaya. Tanganku reflek menutupi wajah dan mulutku. Benar-benar mati kutu! Benar kan? Percuma aku menutupi segala sesuatu nya dari kak Daniel???
"Kak!"
"Jadi, apa kamu masih mau mencoba tidak jujur pada kakak?", tanya Daniel.
Aku di jebak kak Daniel agar aku jujur mengatakan apa yang sebenarnya? Kalau dia lihat cctv berati dia lihat Alby yang....
Argggghhhh! Aku malu sekali pada kak Daniel. Lebih tepatnya takut,!
"Kak, aku ...aku....!"
"Aku apa?"
"Tapi itu...itu ngga seperti apa yang kak Daniel lihat kami ngga...ngga...!"
"Tak perlu kamu jelaskan Amara! Tapi yang jelas kakak kecewa sama kamu! Kamu bilang, kamu akan memperbaiki diri. Kenyataannya apa? Kamu bahkan berhubungan dengan dua laki-laki sekaligus!"
"Astaghfirullah, kak! Aku ngga ada hubungan apapun sama salah satu di antara mereka apa lagi mereka berdua. Kak Daniel tahu aku lah. Mana mungkin aku seperti itu !"
"Kakak ngga mau tahu. Selesaikan masalah kalian berdua. Dan kalau memang salah satu dari mereka adalah pilihan mu, segera halalkan! Biar nanti tidak terjadi fitnah yang akan mempermalukan diri kamu sendiri, terlebih mami dan papi."
__ADS_1
Setelah itu, kak Daniel keluar dari ruangan ku. Aku benar-benar pusing karena hal ini! Kenapa semakin rumit hidup ku ini !!!