
Flashback on....
"Sudah siap semua kan?", tanya Azmi pada Alby dan yang lain.
"Insyaallah sudah semua nak Azmi!", jawab Mang Sapto.
"Jadi, kita cukup pakai satu mobil saja?", tanya Azmi entah pada Sapto atau Alby. Karena yang ia lihat, Alby seperti seseorang yang sedang melamun. Mungkin grogi karena sebentar lagi akan kembali mengucapkan kalimat suci di depan penghulu.
"Gini aja, biar saya dan yang lain pakai mobil Alvared. Biar Nak Azmi sama Alby berdua pakai mobil lain. Ngga apa-apa kan neng Nur?", justru mang Sapto bertanya pada Nur.
"Lho? Kok tanya ke saya Mang?", tanya Nur bingung.
"Ya barangkali neng Nur teh ngga pengen pisah sama Mak Azmi kan?",ujar Mang Sapto.
"Ya Allah Mang, ngga masalah saya mah!", kata Nur. Azmi hanya mengedikkan bahunya.
"Ya udah, kita berangkat!", ajak Mang Sapto.
Semua mengiyakan.
"Papa, Nabil mau sama papa!", rengek Nabil. Alby pun menggendongnya.
Mereka berdua duduk di bangku penumpang samping Azmi.
"Teh Putri kok ngga di jemput sih mang Ami?", tanya Nabil.
"Belum libur tetehnya, Bil!", jawab Azmi.
"Oh ya pa, nanti Nabil di sana main sama Dhea ya?!", kata Nabil riang.
"Heum, iya sayang! Tapi Nabil janji lho ya ngga boleh nakal!"
"Siap papa!", jawab Nabil riang. Entah kenapa anak lelaki itu melirik spion belakang lalu tersenyum tipis.
Alby pun menyadarinya.
"Kenapa Bil?",tanya Alby.
"Kata Kak Nabila, dia senang kalo papa mau menikah heheheh!", jawab Nabil. Mendadak bulu kuduk Azmi dan Alby merinding bersamaan dan melirik ke arah belakang yang tentu saja tidak melihat ada siapa-siapa di sana.
Azmi berdehem pelan, begitu pula dengan Alby yang berusaha menetralkan perasaan tak jelas nya.
Alby meraih ponselnya lalu menghubungi Amara.
[Assalamualaikum Neng]
Dan obrolan tentang keduanya yang batal tunangan pun membuat Amara menari panggilan telponnya.
"Gue yakin, Amara salah sangka!", ujar Azmi.
"Huum, jelas! Buktinya dia belum dengar penjual apa-apa udah keburu di matiin."
"Ya wajar lah, Lo ngomong nya kaya gitu tadi. Coba Lo bilang, ga jadi tunangan tapi mau nikah langsung. Ngga bakalan dia kaya gini!"
"Iya sih, kasian sebenarnya tapi ya ...gimana lagi, emang rencana dari awal kan begitu."
Azmi menggeleng pelan. Antara kasian dengan Amara atau justru mendukung Alby untuk memberikan kejutan yang tidak akan pernah Amara lupakan seumur hidupnya.
__ADS_1
.
.
Squad gendeng dengan pasangannya masing-masing sudah ada di kediaman Amara. Mereka sengaja tak menemui Amara saat itu sesuai instruksi Tuan Rahadi. Jadi, mereka pun menuruti apa yang Tuan Rahadi katakan.
Febri-Bia, Dimas-anika, Seto-Naya, Sakti-Bina mengenakan pakaian yang senada meski dengan model yang berbeda.
"Febri!", panggil papi.
"Iya, tuan Rahadi!", jawab Febri.
"Boleh saya pinjam istrinya sebentar?", tanya papi. Bia yang merasa istrinya Febri jelas langsung menoleh. Begitu pula dengan Febri yang merasa heran kenapa papi Amara ingin meminjam Bia.
"Maksudnya?", tanya Febri.
Rahadi tersenyum tipis.
"Saya ingin berbicara empat mata dengan Bia, boleh?", tanya Papi. Febri menatap Bia sebentar lalu mengangguk pelan.
"Silahkan!", Febri mempersilahkan. Bia pun mengekor di belakang Papi, laki-laki yang baru ia temui hari ini.
"Nak Bia!", kata Papi memulai pembicaraannya.
"Iya Tuan, apa ada hal penting yang ingin anda sampaikan pada saya? Karena... sepertinya saya tidak pernah bersangkutan dalam hal apapun dengan keluarga anda?", tanya Bia dengan wajah bingungnya.
Rahadi pun tersenyum simpul, dia cukup paham dengan kebingungan seorang Bia. Sebagai lelaki pada umumnya, Rahadi mengakui jika pesona Bia memang tak bisa di remehkan. Perempuan cantik, lembut dan ramah. Penampilannya memang biasa, tapi tetap saja membuat orang lain betah berlama-lama untuk sekedar memandanginya.
Wajar saja kalau calon menantunya sampai susah payah mempertahankan pernikahan mereka sebelumnya. Karena kesalahan Hartama, Bia dan Alby yang menanggung beban kehidupan dan masa depan mereka berdua hingga terjadi sebuah perpisahan yang pasti menyakitkan bagi keduanya.
"Tentang?", tanya Bia dengan nada pelan. Beda ya kalo lagi sama pak Suami!
"Tentang masa lalu kamu dengan calon menantu saya!", jawab Rahadi. Terdengar Bia menghela nafas pelan.
"Apa yang ingin anda ketahui tuan?", tanya Bia.
"Kamu... ikhlas jika Alby dan Amara menikah?", tanya Papi. Bia tersenyum tipis tapi bagi yang sangat mengenal Bia, senyum itu pasti memiliki makna yang berbeda.
"Anda orang ke sekian yang melempar pertanyaan yang sama pada saya tuan!", jawab Bia. Rahadi menautkan kedua alisnya.
"Benarkah? Lalu, bagaimana tanggapan kamu?", tanya Papi.
"Apa yang membuat saya harus tidak ikhlas?", tanya Bia balik.
"Mungkin...kalian masih..."
"Saya sudah punya kehidupan sendiri. Begitu pula dengan Alby yang berhak dengan kehidupan barunya. Jika saya saja mampu untuk melangkah ke masa depan, kenapa tidak? Sudah cukup Alby di hujat oleh para pembencinya. Karena pada dasarnya, semua bukan sepenuhnya salah Alby!"
Papi menatap intens perempuan yang ada di hadapannya.
"Saya yakin, Amara perempuan yang tepat yang akan mendampingi Alby. Karena Amara mau menerima masa lalu Alby yang mungkin bagi sebagian perempuan tak bisa menerimanya."
"Bagi saya saat ini, saya ingin berdamai dengan masa lalu kami. Mungkin memang kami punya masa lalu, tapi untuk ke depannya kami cukup menjadi teman."
Papi semakin mengagumi sosok cantik yang ada di hadapannya. Dia berpikir, pantas saja bertahun-tahun Amara mengejar Febri tapi tak bisa ia luluhkan. Karena ternyata hati Febri memang sudah tertautkan pada sosok yang ada di hadapannya.
"Terimakasih Nak Bia, do'akan yang terbaik untuk mereka berdua!", kata Papi. Bia pun tersenyum tulus.
__ADS_1
"Aamiin, semoga Amara dan Alby bahagia."
.
.
Alby dan rombongannya sudah sampai di kediaman Rahadi. Suasana tak terlalu ramai untuk ukuran pernikahan anak seorang konglomerat. Tapi.... pernikahan kejutan ini tentu saja membuat semua ikut speechless.
"Assalamualaikum!", Mang Sapto yang mewakili pihak keluarga Alby pun menyalami calon besan dan keluarganya.
Usai berbasa-basi dengan pihak keluarga mempelai perempuan, penghulu siap menikahkan Alby dan Amara.
"Berhubung ayah dari mempelai perempuan adalah non muslim, maka saya mewakili menjadi wali hakim untuk menikahkan ananda Amara."
Semua pun menganggukkan kepalanya. Meski Nathan dan Daniel seorang muslim, tapi mereka bertiga lahir dari pernikahan non muslim, maka kedua kakak nya tidak bisa menjadi wali yang sah bagi Amara.
(Mohon maaf kalau mamak salah 🙏🙏🙏🙏)
Alby duduk berhadapan dengan penghulu. Entah kenapa matanya tertuju pada sosok perempuan berhijab cream yang duduk bersama tamu lainnya. Perempuan itu pun sedang menatap dirinya dengan pandangan yang tidak bisa dia artikan.
Tapi teguran dari penghulu menyadarkan dirinya dan langsung memutuskan pandangannya pada sosok di ujung sana.
"Saudara Alby Gunawan bin Gunawan, saya nikahkan dan kawinkan ananda Raden Ayu Amara Dewi Legini dengan mas kawin emas sebesar dua puluh lima gram dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Raden Ayu Amara Dewi Legini dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!"
Alby mengucapkan ijab qobul itu dengan satu kali tarikan nafas.
"Bagaimana para saksi?"
"Sah!"
"Sah!"
"Sah!"
Sahutan saksi menandai jika Alby sudah sah meminang Amara. Kemudian penghulu pun meminta mempelai perempuan untuk segera di panggil.
Lagi-lagi mata Alby dan perempuan cantik yang tak lain adalah Bia, saling bertemu kembali. Bia menyunggingkan senyumnya tipis.
Jika saat Bia menikah dengan Febri, Alby seperti berada di drama Korea yang menyakitkan akibat di tinggal menikah. Tidak dengan Bia saat itu, dia seperti seseorang yang memang gak lagi memiliki perasaan apa pun pada Alby.
Kamu bahagia aku menikah dengan Amara neng Bia? Benarkah rasa itu benar-benar sudah tidak ada sedikit pun di hati mu neng??? Batin Alby sendu.
Flashback off
******
Akhirnya bisa ngehalu lagi hehehe...😁😁
berharap masih ada yang berkenan mampir ke lapak AlMara.
Maaf lahir batin semuanya....
Mohon maaf kalo cerita nya tidak sesuai ekspektasi kalian.
Terimakasih 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1