Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 134


__ADS_3

Keluarga besar Rahadi kembali ke ibu kota dengan pesawat pribadi mereka. Hubungan papi dan Amara masih dingin. Amara masih kekeh dengan ego tinggi yang merasa dirinya sudah banyak berkorban. Begitu juga dengan Papi, yang sejauh ini masih berpura-pura tidak merestui Alby dan Amara.


Satu keluarga besar itu sampai di kediaman Rahadi siang hari. Kedua orang tua Mara langsung beristirahat di kamar. Sudah lebih dari sebulan tidak menghuni kamar mereka.


Ketiga bersaudara itu kini duduk di rumah ruang tengah. Sedang Mayang dan Dhea beristirahat di kamarnya.


"Kakak denger, besok sidang perdana kasus Frans?",tanya Nathan.


"Iya kak!",jawab Amara.


"Besok kakak temani!",kata Nathan.


"Aku juga akan menemani kamu Ra!",kata Daniel tak mau kalah.


"Huum, iya. Makasih kalian sudah mau meluangkan waktu untuk menemani ku kak Nathan kak Daniel!"


"Setelah selesai sidang, kamu ada rencana mempertemukan Alby sama mami papi?",tanya Nathan.


"Rencana itu sudah lama ada kak. Tapi ..."


"Tapi kenapa?",tanya Daniel.


"Tapi Alby takut kalau mami dan papi tidak merestui kami, dan kenyataan nya sekarang begitu kan? Papi ngga mau memberi restu pada kami!",kata Amara lesu.


"Belum di coba, masa udah menyerah!",kata Nathan. Daniel tersenyum miring.

__ADS_1


"Takut ngga di restui?",ledek Daniel. Amara dan Nathan menoleh pada sosok tampan itu.


"Ya wajar sih ketakutan Alby!",kata Nathan.


Tapi mendengar kalimat kakaknya, Daniel malah terkekeh. Sedang Amara sendiri menatap kedua kakak nya bergantian.


"Kenapa kamu malah tertawa begitu?",tanya Nathan pada adiknya.


"Heum? Aneh aja gitu kak!",sahut Daniel sambil menyandarkan kepalanya ke bahu sofa.


"Aneh?",tanya Amara dan Nathan bersamaan.


"Kompak sekali Abang adik ini!", sindir Daniel.


"Apaan sih Dan?",tanya Nathan yang penasaran dan membutuhkan jawaban dari tawa adiknya itu.


Nathan langsung menoleh cepat pada adik perempuannya itu.


"Tanggung jawab apa ini dek?",tanya Nathan pada Amara. Amara tersentak mendengar pertanyaan Nathan. Bagaimana dia akan menjelaskan peristiwa memalukan itu?


Kak Daniel mengetahui saja dia sudah sangat malu! Bagaimana jika kak Nathan pun tahu? Mau di letakkan di mana wajahnya.


Bagaimana jika citra Alby semakin buruk di mata keluarganya?


"Jawab Amara!",pinta Nathan dengan nada tegasnya.

__ADS_1


"Heum... itu kak...itu...!",Amara sedikit ragu menjawab pertanyaan kakak sulungnya.


"Kamu pernah ONS sama Alby? Atau hamil sama Alby?",cerca Nathan dengan mata melotot tajam. Amara langsung menggeleng cepat.


"ONS?? Astaghfirullah. Ngga kak!",kata Amara menggeleng lagi.


"Lalu tanggung jawab apa?",tanya Nathan lagi.


"Udah , cerita aja dek. Kak Nathan juga bakal ngerti kok!",kata Daniel santai. Amara terlihat semakin bimbang. Tapi akhirnya Amara pun menceritakan kejadian memalukan saat itu. Tebakan Daniel ternyata salah. Nathan tak terima begitu saja.


"Dek, sebelum kamu mengajak Alby menemui mami papi, pertemukan kakak sama dia! Ngerti?!",kata Nathan sambil berdiri dari sofa nya. Daniel tak menyangka jika respon kakaknya akan seperti itu.


Padahal di awal, Daniel sudah memprediksi jika kakaknya akan bersikap seperti dirinya. Tapi ternyata dia bersikap seperti itu. Ya, sebenarnya wajar. Tapi bagaimana lagi? Toh semua sudah terjadi bukan.


"Iya kak, kapan kakak ada waktu?",tanya Amara.


"Malam ini! Di rumah kakak! Dan, Dhea aku bawa pulang ke rumah ku!",kata Nathan.


"Astaghfirullah kak, kan aku Bapaknya. Kapan aku sama anakku dong kak?",tanya Daniel lesu.


"Lagian, Dhea kalo sama kamu tuh rewel Dan. Biarin lah sama kakak atau mba mayang. Toh, kami merawat nya dengan baik!",kata Nathan lalu menuju ke kamar nya.


"Udah deh!",kata Daniel menggelengkan kepalanya pelan.


"Kak, aku harus bilang sama Alby via telepon apa gimana ya?",tanya Amara.

__ADS_1


"Bilang aja mau ketemu sekalian! Kangen kan beberapa hari ga ketemu?",ledek Daniel yang juga meninggalkan Amara di ruangan itu.


Amara hanya mendesah pelan. Jam tangan nya sudah menunjukkan pukul setengah dua siang. Mungkin dia masih sempat untuk bertemu Alby di kantornya.


__ADS_2