
"Kenapa?",ulang Nathan.
"Karena saat itu memang keadaannya belum sebaik sekarang kak!",kata Alby mulai sedikit menguasai diri.
"Keadaan yang belum sebaik sekarang? Lalu keadaan seburuk apa yang membuat kamu menolak Alby untuk bertanggung jawab Amara?",kini pertanyaan beralih pada Amara.
Amara menunduk meremas kedua tangannya. Bahkan telapak tangannya pun berkeringat dingin.
"Jawaban jujur kalian, berdampak terhadap restu mami dan papi!",kata Nathan.
Amara dan Alby seketika mendongakan kepalanya. Bagaimana bisa respon kak Nathan menjadi hasil akhir keputusan restu kedua orang tuanya?
"Siapa yang akan menjawabnya? Kakak tahu, kalian bukan orang bodoh!"
Amara menghirup nafas dalam-dalam. Sebelum ia mengatakan alasan yang sebenarnya.
"Waktu itu...aku belum yakin dengan perasaan ku, dan juga perasaan Alby kak!"
"So???"
"Aku tidak ingin Alby menikahi ku hanya karena sebuah rasa bertanggung jawab dengan apa yang sudah kami lakukan. Aku ingin menikah karena didasari cinta dan kasih sayang kak. Sedang kan saat itu....saat itu Alby masih mencintai mantan istrinya."
"Istri nya Febri? Istri dari laki-laki yang kamu kejar sejak dulu?",tanya Nathan. Amara mengangguk lemah.
"Itu, menurut kamu! Alasan yang kamu ambil karena merasa Alby belum bisa berpaling dari mantan istrinya?"
"Iya kak!",jawab Amara. Vibes nya seperti ia sedang berbicara dengan atasannya saat masih dinas dulu.
"Kalau kamu? Apa alasan mu kekeh ingat tetap bertanggung jawab pada Amara? Sedang kamu sendiri belum memiliki perasaan apa pun pada Amara? Benar semata-mata karena tanggung jawab?"
Alby menarik nafas sesaat.
"Kak, dulu sebelum Amara ke perbatasan dan memutuskan untuk menjadi mualaf, aku...aku pernah menanyakan perasaan Amara terhadap ku. Dan Amara mengakui bahwa dia memiliki perasaan sama aku. Jujur, saat itu aku belum memahami sepenuhnya jika aku sudah mulai berpaling pada Amara. Puncaknya, saat Amara berangkat ke perbatasan. Aku sudah mengatakan semuanya. Aku sudah terbuka padanya tentang masa laluku yang membuat aku di posisi seperti saat ini. Dulu, aku pikir...jika kami bersama, aku hanya akan menyakitinya karena aku belum sepenuhnya mencintai Amara. Tapi seiring berjalannya waktu, aku menyadari kalau...kalau...aku tidak bisa melupakan Amara. Sampai akhirnya kami di pertemukan lagi, dan...sampai terjadi hal itu. Maaf, mungkin penjelasan ku terlalu berputar-putar tidak jelas dan terlalu panjang. Tapi asal kak Nathan tahu, saat ini aku benar-benar mencintai Amara. Aku ingin menikah dengan nya karena aku memang mencintai nya, bukan karena rasa tanggung jawab atas apa yang aku lakukan pada waktu itu."
Huh????!!! Akhirnya kalimat demi kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut Alby. Entah lah, semoga kak Nathan paham dengan penjelasan amburadul itu.
"Tapi sampai saat ini kalian tidak pernah melakukan itu kan?", tanya Nathan pada keduanya.
"Belum kak!",jawab mereka kompak lalu saling memandang.
"Wow? Kompak sekali ya? Belum??? Itu artinya ada kemungkinan untuk 'akan' melakukannya bukan?", sindir Nathan.
Alby dan Amara menggeleng bersama-sama. Bukan itu yang mereka berdua maksud. Tapi apa iya kak Nathan tak paham maksud mereka??
"Tidak kak!",sahut keduanya kompak lagi. Nathan hanya mampu menghela nafas berat. Seperti nya sepasang kekasih ini terlalu kompak dan sulit terpisahkan andai kata papi pun tak merestui hubungan keduanya.
Obrolan mereka terhenti saat melihat Mayang muncul dari pintu samping ruang tengah. Dia sedikit mempercepat langkahnya menuju suami dan adik iparnya berada.
"Kenapa Yang?",tanya Nathan pada Mayang. Yang di sini memang panggilan kesayangan Nathan pada istrinya.
"Mas, kok di depan ada beberapa orang yang pake baju item-item. Mana badannya gede semua lagi. Bukannya su'uzon, tapi...mereka nyeremin mas",adu Mayang pada suaminya.
''Masa sih Yang?",tanya Nathan berdiri.
__ADS_1
"Kak, mba. Sebentar! Sepertinya merah adalah bodyguard ku kak! Sejak Frans berbuat jahat kemarin, aku memang memaksa jasa bodyguard."
Mayang mengelus dadanya.
"Syukurlah Ra. Mba pikir siapa. Habis badannya gede semua",ujar wanita berusia tiga puluh enam tahun itu sambil bergidik ngeri.
Dari semua obrolan, akhirnya Kak Nathan memberikan kesimpulan pada sepasang kekasih itu.
"Kakak harap, kalian tidak main-main untuk melanjutkannya hubungan yang halal. Semakin lama kalian seperti ini, semak banyak membuat dosa!", nasehat Nathan.
''Iya kak."
Sahut keduanya saling melempar senyum. Mayang sampai menggeleng kepala melihat kedua orang di hadapan suaminya tampak begitu kompak.
"Jadi, kak Nathan merestui kami kan kak?",tanya Alby pada Nathan.
"Kalo aku sih Yes!", ujar Nathan mengikuti gaya juri ajang pencarian bakat.
"Makasih kak!",Amara menghambur memeluk kakak sulungnya.
"Iya!",Nathan menepuk punggung adik bungsunya itu. Setelah berbicara serius seperti itu, akhirnya keduanya berpamitan pada Nathan dan Mayang.
Ada rasa lega yang mereka rasakan saat ini. Setidaknya, kurang lebih situasi tak berbeda jauh jika bertemu papi mami Amara.
"Mau masuk dulu?",tanya Amara pada Alby. Alby melihat jam tangan nya.
Sudah lewat dari setengah sepuluh malam. Ada perasaan tak enak andai ia menolak ajakan Amara untuk mampir sebentar.
"Iya. Lagian aku ngga minta kamu nginep kali By. Kasian Nabil kalo nyariin papa nya."
Alby tersenyum manis. Lalu keduanya berjalan menuju ke unit Mara. Para bodyguard Mata menyebar di sekitar apartemen karena merasa semua sudah jauh lebih baik sejak tidak ada Frans.
Sepasang kekasih itu sudah masuk ke dalam ruang tamu. Amara melepas pastannya lalu berjalan ke kamar untuk meletakkan barang tersebut di dalam.
"Mau minum apa By?",tanya Amara yang sekarang tanpa hijab. Hanya tunik berwudhu ungu melekatkan d tubuhnya.
"Ngga usah sayang! Sini, duduk!", pinta Alby. Amara pun menurut duduk di sofa.
"Apa?",tanya Amara sambil memeluk kekasihnya.
Please setan...jangan membuat mereka berubah khilaf mentang-mentang sudah mengantongi restu kak Nathan. Masih ada yang harus di lalui, yaitu meminta restu papi nya.
"Bisa nggak, kamu memanggil ku dengan embel-embel Mas atau Aa begitu?",tanya Alby. Amara mendongak sesaat. Mata mereka saling bertemu, bahkan jarak wajah mereka cukup dekat.
"Maaf, aku akan mencobanya. Memang sih, kita seumuran. Tapi alangkah baiknya memang aku harus memanggil mu lebih sopan By!"
Alby mengangguk tipis sesekali mengecup kening Amara yang tepat di bawah dagunya.
"Enaknya manggil apa?",tanya Amara.
"Senyamannya kamu sayang!"
"Kamu juga gitu. Emang manggil nya kudu sayang juga kalo di depan orang banyak?"
__ADS_1
"Heheh iya, aku mau manggil kamu...neng juga. Masalah tidak?",tanya Alby. Amara tercenung beberapa saat.
"Kalo kamu keberatan ya...?"
''Ngga apa-apa By, eh...A!",ujar Amara kaku.
Keduanya saling menatap. Jika amara dari bawah, Alby dari posisi atas. Puas memandang kekasih hati, perlahan Alby menundukkan wajahnya pada wajah Amara. Amara sendiri hanya memandangi wajah lelaki tampan paripurna.
Amara meraih tengkuk Alby. Gadis itu lebih dulu beraksi mencium dan ******* bibir kekasihnya itu.
Di beri 'kegiatan' seperti itu, tentu saja Alby tak bisa menolaknya. Mereka saling menjelajahi dan mengeksplorasi mulut. Amara semakin membuat Alby blingsatan tak jelas.
Amara tidak seperti biasanya. Saat ini dia benar-benar seperti seorang yang sedang membutuhkan 'sesuatu'!
Ciuman mereka akhirnya terlepas saat Amara mengakhirinya. Tapi ternyata salah, Amara kembali melakukan apa yang dia inginkan.
Entah lah, Alby seolah tak enak jika menolak apa yang Amara lakukan. Mungkin gadis itu benar-benar sedang merindukannya.
Bahkan sekarang Amara sudah mulai menjelajah ke sekitar leher alby. Mungkin ia meninggalkan jejak di sana.
Alby merasa ada yang salah dengan Amara. Kenapa dia tiba-tiba berubah seperti ini.
"Sayang, eeumhhh...!",Alby ingin bicara di sela kegiatannya itu.
"Tolong jangan teruskan! Ini...ini tidak boleh Amara!",Alby mendorong tubuh kelas perlahan.
Amara pun menghentikan kegiatan 'liar' nya. Malu! Itu yang Amara rasakan. Bagaimana bisa melakukan hal seperti itu. Amara pun terdiam.
Alby yang tak enak hati pun meminta maaf pada kekasihnya.
''Maaf, bukan maksud ku...?"
"Iya A, aku yang salah.."
"Kamu kenapa heum? Kita seiring berciuman. Tapi kenapa sekarang kamu malah seperti ini?"
"Entah A."
Alby memeluk tubuh kekasihnya itu. Di kecup puncak kepala dengan sayang.
"Aku pulang, kamu tidak apa-apa kan?'
"Sebenarnya aku masih kangen sama kamu A. Tapi... "
"Besok kita bisa bertemu lagi."
"Heum!",sahut Amara menenggelamkan kepalanya di dada Alby.
*****
Ngantuk pake banget. Kalo ada aneh-aneh, harap maklum ya 🤭🤭🤭🤭🤭 nanti di beresin lagi.
Selamat menjalankan ibadah puasa 🙏. Insya Allah kalo sempet, beres sahur langsung eksekusi.
__ADS_1