Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 56


__ADS_3

Amara


Aku menunggu apa komen dari Bia. Bagaimana pun juga, dia jauh lebih mengenal Alby.


"Bi, kamu ngga ada kan? Salah ya aku cerita ke kamu?", tanyaku takut-takut. Aku melihat dia menghela nafasnya.


"Aku ngga apa-apa, Ra."


"Jadi, aku sebaiknya gimana?"


FYI... untuk kejadian kissing dan sejenisnya aku tak mengatakannya pada Bia, ya! Biar gimana juga, itu terlalu privasi hehehe


"Kamu sendiri maunya gimana?",tanya Bia balik.


"Justru itu Bi, aku ngga tahu!"


"Ikuti kata hati kamu aja, gimana? Kamu...cinta sama si Aa? Ya...ya udah, kamu bilang aja ke dia. Si Aa bukan tipikal cowok yang peka. Ngga bisa baca kode lah pokoknya. Jadi kalo ngomong sama dia, ya langsung aja ke intinya apa."


Aku mengernyitkan alis ku.


"Kamu nantang dia kan? Dia maunya gimana?"


Aku mengangguk.


"Kamu ngga usah nanya kaya gitu. Langsung aja bilang ke dia apa yang kamu inginkan dari Alby. Gitu aja sih!"


"Eum... contoh nya?"


Bia menghela nafas lagi. Mungkin kah dia sedang bersabar menghadapi kelemotan ku.


"Misalnya! Kalo emang Alby mau memperjuangkan kamu, minta dia melakukan apa yang dia mampu. Tapi kalo dia emang ngga bisa...bilang ke dia. Jangan pernah memberikan harapan palsu. Perasaan di tarik ulur mulu kaya layangan tuh ngga enak Ra. Apalagi ujung-ujungnya talinya putus! Ngga enak sumpah....!",kata Bia.


Lha, kok malah jadi dia yang curhat????


"Eh, kok Yo aku sing curhat!",dia menepuk kepala nya sendiri sambil tertawa. Bia sudah membebaskan dirinya dari rasa sakit hatinya pada sosok Alby, dia sudah benar-benar move on karena memiliki Febri yang tulus mencintai segala kekurangan dan kelebihannya. Aku salut pada mereka berdua!


"Aku ngga tahu sih Bi. Tapi, justru aku takut kalo Frans berbuat yang tidak-tidak pada Alby."


Bia menautkan kedua alisnya.


"Macam-macam gimana maksudnya?"


"Ya takut aja kalo sampai..."


"Jangan suudzon dulu, Ra. Mungkin benar, Frans punya salah yang begitu besar sama kamu. Tapi kalo dia sampai ke sini, jauh-jauh dari negaranya sana cuma mau balik sama kamu bukan kah itu juga perjuangan yang ngga mudah?"


Bia menjeda ucapannya beberapa saat.


"Kamu masih punya kesempatan untuk memilih kok Ra. Kalo bingung, kamu bisa sholat istikharah. Aku tidak bermaksud melarang kamu atau aku keberatan kamu cinta sama Alby. Ngga! Ngga gitu! Hanya saja....maaf, seperti yang kamu bilang tadi. Katanya Alby masih belum bisa lupain aku. Aku ngga mau ada Bia kedua atau Silvy berikutnya! Cukup kami! Kamu jangan! Yakinkan dulu perasaan kalian masing-masing! Baru menentukan langkah apa selanjutnya. Bukan menakut-nakuti, berpisah itu hal yang menyakitkan Ra!", Bia mengatakan panjang lebar. Entah dia sedang menasehati ku atau mencurahkan unek-uneknya selama ini.


"Iya Bi!", sahut ku singkat.


"Kalo kamu masih terus menghindar dari Alby atau Frans, lalu kapan kalian akan menemukan titik temu?"


Aku tak menyalahkan apa yang Bia katakan. Tapi juga bukan hal mudah buat ku untuk membicarakan tentang masa depan.


Kenapa kesannya aku jadi yang terlalu berharap pada salah satu di antara mereka???


"Udah, gini aja! Kamu bilang, sebelum kamu memutuskan untuk keluar dari instansi sebelumnya, kamu melakukan sholat istikharah?"


Aku mengangguk.


"Memang kadang jawaban dari yang di atas tak serta merta langsung di tunjukkan. Kadang DIA membungkusnya dalam bentuk atau contoh dari orang lain. Ngga ada salahnya juga kamu melakukan hal yang sama. Kalo memang DIA memberi petunjuk secepatnya ya ... mungkin itu yang akan kamu anggap sebagai jawaban dari istikharah mu!"


"Heum, iya Bi. Insyaallah aku coba lakukan itu!"

__ADS_1


Tiba-tiba hujan deras mengguyur. Ribi dan Fesha juga sudah bangun.


"Ya Allah, Bi!"


"Kenapa Ra?",tanya Bia sedikit terkejut.


"Ini benar udah mau jam empat? Astaghfirullah aku main di sini hampir setengah hari tahu!"


"Hehehe ya ngga apa-apa. Kapan lagi coba??"


"Iya sih. Kamu mau mandiin Fesha sama Ribi? Aku bantu ya?"


"Bisa?",tanya nya pada ku.


"Jangan meremehkan anggota kowad buk! Apa sih yang ga bisa heheheh."


"Ralat Mara... mantan!", katanya menegasakan.


"Heum, iya iya...mantan Bi. Mantan!", sahutku.


Bia sudah menyiapkan bak untuk mandi si kembar. Aku benar-benar memandikan Fesha. Sedang Ribi dengan ibunya.


"Makasih lho Ra, udah bantuin aku jaga si kembar. Pake acara ikut mandiin lagi."


"Aku malah seneng Ra."


Fesha yang identik pink terlihat sangat girly, sedang Ribi yang memakai warna biru juga tak kalah imut.


"Eum, Bi. Boleh tanya satu hal lagi?"


"Sok atuh!", jawab nya ringan.


"Maaf, kamu sama Alby nikah udah lama bukan? Kenapa tidak memiliki...anak?",tanyaku ragu-ragu. Ku lihat dia menarik nafasnya dalam-dalam.


Aku mengerjapkan mataku.


"Mungkin orang lain menganggap nya sepele. Tapi ngga buat aku Ra. Terdengar lebay mungkin! Tiba-tiba suami mu 'mengunjungi' mu, padahal dari baru saja ia melakukan nya dengan istri mudanya. Jangan di tanya seperti rasa sakit nya!", Bia tersenyum miris.


"Aku sudah berusaha bertahan Ra, dengan alasan anak yang ada dalam kandungan ku. Tapi ternyata ya...Silvy hamil Nabil. Entah sebuah jawaban atau mungkin petunjuk. DIA mengambil anakku dan Alby bahkan sebelum lahir ke dunia. Dan aku anggap, itu sebagai jawaban bahwa kami memang tidak bisa berlanjut!"


"Astaghfirullahaladzim!",gumam ku.


Begitu banyak yang mereka lewati ya Allah!


"Tapi Ra, mas Febri selalu meyakinkan ku. Sebenarnya Alby tak seburuk apa yang aku pikirkan. Mungkin keadaan yang membuat dia berubah. Seperti sekarang ini ...!"


"Seperti sekarang gimana ya Bi?"


"Seperti yang dia lakukan sama kamu. Mungkin... keadaan yang membuat dia seperti itu."


"Kamu masih sakit hati sama Alby, Bia?"


Dia tersenyum tipis.


"Insyaallah ngga. Aku sudah berusaha memaafkannya. Toh kami sudah hidup dengan pilihan masing-masing. Mas Febri bilang, semua punya masa lalu yang tidak akan pernah bisa di ubah. Maka dari itu, sebaik mungkin kita melakukan hal yang lebih baik di masa yang akan datang. Meski tidak merubah dan memperbaiki masa lalu, setidaknya masih ada harapan yang lebih baik di masa depan!",kata Bia.


Masyaallah... sempurna sekali hidup mu sekarang Bia!


"Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam!", jawabku dan Bia bersama-sama.


"Udah pulang mas! Tumben gasik!",tanya Bia pada Febri. Febri mencuci tangan nya lebih dulu baru menghampiri kami.


"Iya, dari posko langsung pulang aja!", Bia mencium punggung tangan Febri. Kenapa aku iri sekali....wait! Seriusan iri, bukan karena aku masih ada rasa sama Febri lho!

__ADS_1


"Lo dari siang di sini Ra?",tanya mas Febri. Aku mengangguk.


"Apa kabar kantor Lo di tinggal main seharian?",ledek Febri.


"Ada sekretaris gue!", jawab ku. Febri yang memulai Lo Gue??!!


"Vibes nya kaya CEO yang suka kamu baca di novel online ngga sih Nduk??? Kerja semaunya, keluar kantor sebebasnya!", sindir Febri.


Bia melotot tajam pada suaminya.


"Gue abis menangin proyek mas Febri! Wajar kalo mau healing, ngga usah ngeluarin duit pula. Liatin si kembar aja udah healing rasanya!"


"Oh gitu!", sahut Febri. Setelah itu, perhatian Febri beralih pada dua anak gadisnya. Lalu setelah itu pada istrinya.


"Nduk, awit mau awakmu ga nganggo jilbab Tah?". (Dari tadi kamu ga pake jilbab?)


"Hooh. Lha poh? Kan gur enek Amara. Podo-podo wedok ae."( Kenapa? Kan cuma ada Amara. Sesama cewek)


"Iyo sih, tapi iku lho stempel neng gulu mu ambek dadamu. Kok Yo ga isin!"


(Stempel di leher dan dada. ngga malu?)


"Ben ae lah mas, wes kadung weroh!"


(Biar lah mas, udah terlanjur liat)


Aku memang turunan Jawa , tapi aku tak tahu bahasa Jawa. Jadi aku menyimak saja obrolan mereka yang terlihat sangat akrab.


.


.


.


"Makasih lho mas, udah mau anterin! Kok bisa sih Bia percaya aja kamu antar aku pulang? Dia ga cemburu?"


"Emang apa yang mau Bia cemburuin? Kamu? Kalo emang aku niat mau selingkuh sama kamu, kenapa ngga dari dulu aja. Ya kan?",kata Febri.


Benar-benar sudah berubah ini Kapten ku????!!


"Ya udah, aku ga nawarin mampir deh. Kasian Bia kelamaan nunggu mas Febri di rumah!"


"Iya!", sahut Febri.


Aku baru saja turun dari mobil Febri. Dari dua arah yang berlawanan, datang dua buah mobil yang berhenti tepat di depan pintu gerbang.


Alhasil, mobi Febri di apit depan belakang. Aku dan Febri sama-sama bingung apalagi suasana halaman tidak terlalu terang.


Febri belum juga pergi sebelum memastikan aku masuk kedalam rumah. Dan di saat yang bersamaan, pintu mobil yang ada di depan dan belakang mobil Febri terbuka.


Di mobil depan, Frans yang turun. Di mobil belakang, Alby yang turun.


Ya Allah, ngapain mereka kesini bareng-bareng???? Gumamku.


"Mas Febri???", panggil ku sedikit bergetar.


Akhirnya Febri ikut turun dari mobilnya. Bukan mau ikut campur tapi hanya ingin memastikan jika 'sahabatnya' masuk ke dalam rumah nya dengan selamat!


"Amara!",panggil Fran dan Alby bersamaan. Febri sendiri hanya menggaruk pelipisnya.


Jangan ada perang dunia ya Allah! Gue pen pulang, tapi kasian Amara! Ngga pulang kasian istri sama anak-anak! Udah ah pulang aja! Batin Febri.


******


Bagaimana kelanjutannya hayo????

__ADS_1


__ADS_2