Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 183


__ADS_3

"Sssh...ah...huffft!", Amara terkulai lemas. Ia mengelap peluhnya.


Habis ngapain coba???? Hahaha habis treadmill dia lho....


"Sayang, pagi banget udah olahraga? Bangun jam berapa sih?", tanya Alby lalu menyerahkan air putih. Padahal belum setengah jam azan subuh berlalu.


"Udah lama nggak olahraga A. Nih badanku rasanya udah lembek!", kata Mara sambil mengelap keringatnya lagi.


"Kata siapa lembek? Masih kenceng gini!", goda Alby mengecup bahu Mara yang terbuka.


"Aku bau keringat A!", Mara sedikit tak enak hati pada suaminya.


"Biasa ge berkeringat bersama!", cibir Alby. Amara terkekeh pelan.


"Kan beda situasinya sayang!"


"Heum?! Nabil ngga di bangunin dulu nih?", tanya Mara.


"Ngga usah. Nanti bangun semau dia aja. Teh Ani langsung ke sini ntar."


"Owh...gitu!", Amara kembali meneguk air putihnya.


"Aku mandi dulu ya A. Habis itu baru masak. Kasian nanti Nabil sarapannya kesiangan. Aku udah punya daftar makanan kesukaan Nabil."


"Kalo makanan kesukaan ku?"


Amara mengulas senyum.


"Kan aa pernah bilang, apa pun yang aku masak, Aa pasti suka!"


"Iya...iya... tentu saja!", Alby mencolek hidung Amara.


"Aku mandi dulu ya A!", pamit Amara. Dia langsung masuk ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Ternyata, suaminya pun ikut masuk ke dalam kamar. Ia membuka pintu kamar mandi yang memang tidak di kunci.


"Astaghfirullah! Aa! Ngapain?", Amara sedikit tersentak karena tiba-tiba Alby sudah ada di dalam kamar mandi yang sama.


"Mandi bareng kamu lah. Tapi sebelumnya, kita olahraga sebentar!", bisik Alby sambil menyalakan kran showernya.


Aktivitas mandi bersama tidak hanya mandi saja, tapi ada kegiatan menyenangkan lainnya yang halal untuk pasangan suami istri.


Setengah jam berlalu, keduanya sudah segar dengan rambut yang sama-sama basah.


"Nanti, aku ke Bandung ya sayang. Ada kerjaan, tapi ngga nginep kok!", kata Alby mengusap kasar rambutnya dengan handuk.


"Sama Azmi?", tanya Amara, ia pun sedang mengeringkan rambutnya.


"Ngga, sama Billy. Tapi nanti anak buah Billy tetep pantau kamu. Apalagi aku ngga ada bareng kamu!", kata Alby lagi. Ia memakai pakaian yang sudah di sediakan oleh Amara. Sedang Amara sendiri masih memilih memakai PDH-nya. Bukan pakaian dinas harian, melain pakaian daster harian bergambar bunga. Vibes nya emak-emak sekali emang....?!?!


Kenapa ? Amara masih melanjutkan kegiatannya di dapur. Jadi lebih baik ia memakai daster barulah nanti mengganti pakaian sebelum ke kantor.


"Oke deh!", kata Mara.


"Wajar dong kalo aa minta bekal pagi-pagi kata tadi?", Alby menaik turunkan alisnya.


"Heum, iya. Kapan pun selama aku tidak berhalangan, aku siap!", kata Amara mengalungkan tangannya di leher Alby.


"Kalo begini terus, aku tidak jadi berangkat lho. Ada ronde selanjutnya!", ancam Alby. Amara terkekeh pelan.


"Emang enak ya?", ledek Amara.


"Emang kamu ngga, heum??", Alby semakin gemas pada istrinya.


"Mau lagi sih sebenernya!", Amara mengetuk-ngetuk dagunya dengan telunjuknya.


(Maafkan kerandoman bahasan mereka ya 🙈🙈🙈🙏🙏✌️)


"Nanti malam lagi!", kata Alby. Lalu keduanya pun terkekeh bersama. Amara pun keluar kamar untuk segera memasak sarapan. Beruntung tadi ia sudah memasak nasi lebih dulu. Jadi sekarang ia tinggal memasak lauk yang simpel.


Omlet toping sosis dengan saus jamur sebagai pelengkap. Tak lupa sayur sop seperti biasa menu yang Nabil mau. Sedang suaminya yang tak rewel soal makanan pun tak berbeda jauh. Yang penting, ada makanan pedasnya. Entah itu sambal atau masakan pedas lainnya.


Bel di depan berbunyi dari tadi, Amara pun membuka pintu ruang tamunya. Sosok teh Ani di antar oleh suaminya menunggu di depan gerbang.


Amara memakai jilbab alakadarnya saat membuka pintu.


"Assalamualaikum ibu...!", sapa teh Ani.


"Walaikumsalam. Masuk teh!",pinta Amara. Suami teh Ani langsung pergi setelah Ani turun dari motornya.


Teh Ani mengikuti langkah Amara yang masuk ke dalam rumah.


"Den Nabil belum bangun ya Bu?", tanya Teh Ani.


"Iya teh. Semalam kami makan malam di luar, Nabil bobonya udah malam banget. Makanya mungkin sekarang masih ngantuk!"


Mara mengantar teh Ani ke kamar Nabil. Anak tampan itu masih bergelung di bawah selimutnya.


"Tolong bangunin ya teh. Saya lanjutkan masak dulu!"


"Iya Bu, silahkan?!", kata Teh Ani. Lalu pelan-pelan, Ani pun membangunkan Nabil.

__ADS_1


.


.


"Teh, nitip Nabil ya! Kalo Nabil minta di antar ke rumah neneknya, tolong anterin. Ada mobil dan supir di depan sana. Namanya pak Doni", Mara memberikan penjelasan pada teh ani.


"Siap Bu!"


"Sayang, mama sama papa berangkat kerja dulu ya. Baik-baik sama amih Ani. Oke anak pintar?"


"Oke papa!", Nabil pun tersenyum senang. Ani sendiri sudah menganggap nabil seperti cucunya sendiri.


"Ayo sayang!",ajak Alby pada Amara. Setelah berpamitan, mereka pun menuju ke kantor.


"Maaf ya sayang, padahal Aa udah janji mau nemenin kamu di sidang putusan kasus Frans."


"Ngga apa-apa lah A, lagi pula semua udah selesai kok. Anak buah Billy juga standby kan. Ngga ada yang perlu Aa cemaskan!", kata Amara.


Alby memang merasa jika Frans sudah tak lagi menjadi ancaman bagi hubungan nya dengan Amara, tapi...entah kenapa perasaannya tidak enak saja.


Alby menggenggam tangan istrinya sambil terus fokus dengan kemudi.


"Aa yakin cuma berdua Billy?"


Alby mengangguk.


"Iya, anak buah Billy yang lain akan menjaga kamu. Ya... walaupun Aa tahu, bahkan ilmu beladiri kamu jauh lebih tangguh di banding aa."


"Heum, tapi... buktinya aku selalu kalah sama Aa. Bisanya cuma pasrah!", kata Amara. Selanjutnya ia tergelak sendiri.


Alby menyadari jika istrinya memang sedang 'menikmati' pengalaman baru yang ia berikan setelah keduanya menikah.


"Mungkin lain kali kita bisa honeymoon sayang!", kata alby.


"Ngajak Nabil kan?", tanya Amara.


"Mana ada honeymoon ngajak anak. Itu mah tamasya namanya!"


"Kasian dong kalo Nabil di tinggal kelamaan. Ngga usah lah honeymoon segala. Toh tujuan nya sama kan? Di kamar aja juga bisa! Ngapain jauh-jauh. Ya ngga?", Amara meminta persetujuan suaminya agar sependapat dengannya.


"Kumaha neng wae ah. Aa mah milu wae!", celetuk Alby. Amara yang tahu maknanya tapi tak bisa mengembalikan katanya pun hanya tersenyum.


Tak terasa, mobil mereka sudah berada di kantor pengadilan negeri.


"Aa temani turun ya?", tawar Alby.


"Yakin ga di antar sampai dalam?"


Amara mengangguk.


"Aa juga hati-hati ya. Awas nih mata, ngga boleh jelalatan! Pake kaca mata hitamnya, sama masker nya juga."


Posesifnya mulai nampak bu bos ini!!


"Iya sayang, iya!", Alby sudah mengantongi maskernya dan juga kaca matanya.


"Di pake dong!",titah Amara.


"Kalo aa pake masker nya sekarang, ngga bisa kaya gini dulu dong!!!", kata Alby. Ia langsung mendaratkan ciuman pada sang istri. Amara pun tak menolaknya. Untuk beberapa saat mereka menikmati penyatuan bibir mereka.


Alby memutuskan lebih dulu, lalu menghapus sisa basah di bibir Amara.


"Nih, langsung Aa pakai!", kata Alby memasang maskernya tak lupa kacamata hitamnya.


Amara tertawa pelan. Dia sadar jika mungkin dirinya terlalu over protektif pada suaminya. Tapi...ada alasan kenapa dia sampai seperti itu. Suaminya terlalu mempesona di mata kaum hawa. Bukti konkritnya, Bianca saja sampai bertindak seperti itu kemarin.


"Heum, iya. Hati-hati. Kabarin aku ya !", pinta Amara. Alby pun mengangguk. Usai mencium punggung tangan suaminya, Amara pun turun.


Pengacara Amara sudah sampai di depan gedung lebih dulu.


Billy berpindah mobil, ia menyetir mobil yang Alby kendarai. Sedang pasukan nya yang lain tetap ada yang menjaga Amara. Sisanya ada juga yang mengikuti Billy dan Alby.


.


.


.


Suasana persidangan sudah mulai riuh oleh tamu undangan serta beberapa orang yang memang berkepentingan dengan kasus Frans.


Jantung Amara berdetak hebat saat hakim ketua memulai sidangnya.


Setelah melewati beberapa rangkaian acara, akhirnya Frans muncul dengan di apit oleh dua orang petugas.


Amara memejamkan matanya, gak sanggup melihat kondisi Frans saat ini. Tubuh atletisnya yang pernah ia rasakan sekarang tinggal tulang berbalut kulit, Frans begitu kurus. Ada hal yang tak bisa Amara artikan dalam hatinya. Perasaan bersalah mungkin!


Di sudut lain, Amara melihat seorang wanita dengan seorang anak laki-laki yang bukan wajah pribumi mengikuti sidang tersebut. Wanita dan anak laki-laki yang sama yang pernah ia lihat saat itu.


Hakim mulai membacakan setiap tuntutan yang di tujukan untuk Frans. Sedang Frans sendiri seolah tak keberatan dengan setiap tuntutan yang di layangkan padanya.

__ADS_1


Amara kembali memejamkan matanya saat hakim ketua memberikan keputusan hukuman yang harus Frans jalani.


Palu sudah di ketuk. Semua hadirin memberikan hormat pada hakim ketua dan jajarannya.


Amara meminta waktu untuk bertemu dengan Frans, mungkin untuk terakhir kalinya sebelum Frans di oper ke negara asal nya dengan kasus yang lebih berat.


Di sebuah ruangan...Mara dan Frans duduk berhadapan. Tatapan Frans masih sama, tak sehangat dulu.


"Frans!", Amara membuka suaranya. Frans menatap lekat gadis yang sangat ia cintai hingga membawanya masuk ke sel ini karena terlalu mencintai gadis itu.


"I'll still loving you,baby! Now and forever."


Mata Frans mengembun. Amara tak bisa lagi menahan perasaan nya. Bagaimana pun juga, lelaki itu pernah menjadi obat bagi hatinya yang patah dan terluka karena cintanya bertepuk sebelah tangan pada Febri.


Tangan Amara terulur untuk meraba pipi Frans yang tirus dan di tumbuhi rambut sedikit lebat.


"I'm sorry!", bisik Amara.


Frans menarik tubuh mantan kekasihnya. Ia sudah tak sanggup lagi untuk menahan gejolak dalam dadanya.


Pada akhirnya, Frans memang di takdirkan untuk tidak memiliki cinta juga raga Amara. Amara sadar, saat ini apa yang ia lakukan salah. Berpelukan dengan laki-laki lain yang bahkan pernah mengisi hati dan hari-harinya. Tapi....ya...hanya mereka berdua yang tahu.


Perlahan pelukan itu mengendur. Frans menakupkan kedua tangannya di pipi Amara.


"I'll still loving you baby, everytime and always. Semoga kebahagiaan selalu bersama mu. Dan sampai kapan pun, aku tidak akan pernah melupakan mu."


Amara tergugu dengan tangisnya. Ia tak sanggup membayangkan hukuman seperti apa yang akan Frans jalani di sini juga di negaranya.


(Maafkan mamak, harusnya mamak lebih banyak baca referensi soal hukum ya. Jadi ngarangnya ga kebangetan 🙈🙈🙈)


Usai perpisahan dramatis itu, Amara pun keluar dari ruang pertemuan. Entah lah, apakah anak buah Billy melaporkannya pada Alby atau tidak saat dirinya berpelukan dengan Frans tadi.


"Pulang atau ke kantor Nona?", tanya supir, anak buah Billy.


"Eum?", gumam Amara. Dia melihat jam di pergelangan tangan kirinya. Sudah jam dua siang.


"Ke kantor deh!", jawab Amara.


"Baik Nona."


Baru saja Amara ini memejamkan matanya, ponselnya berdering. Ada panggilan dari Mak Titin.


[Assalamualaikum Mak?]


[Walaikumsalam mama ini Nabil]


[Iya Nabil sayang, kenapa nak?]


[Eum...Nabil sama nenek mau ke makam bunda sama opa tapi....nomor papa ngga aktif ma. Nabil takut di omelin papa kalo ngga ijin]


[Ke makam bunda?]


[Iya ma. Kan mau puasa, biasanya juga di ajak ke sana walaupun ngga puasa. Tapi ...udah lama papa ngga ngajak Nabil ke sana]


Amara memejamkan mata sesaat.


[Ya udah, tunggu mama. Mama ikut Nabil. Biar kalo papa marah, papa marahnya sama Mama. Ngga sama Nabil apalagi nenek. Oke?]


Nabil yang sedang bersama neneknya pun menoleh pada neneknya sebentar.


[Beneran mama mau ikut ke makam bunda?]


Titin mengernyitkan dahinya, mungkin sama penasarannya seperti Nabil.


[Iya beneran sayang. Nih, mama lagi di mobil mau pulang. Ngga apa-apa kan ke makam agak sorean, bareng mama?]


Nabil menanyakan pada Neneknya, apakah mau ke makam sore-sore. Dan neneknya pun tak keberatan.


[Mau ma. Nabil tunggu ya ma. Tapi.... semoga papa ngga marah karena Nabil pergi ngga ijin papa]


[Insyaallah ngga marah sayang. Apalagi Nabil juga udah ijin mama kok. Tunggu mama ya sayang]


[Iya ma. Dah mama, assalamualaikum]


[Walaikumsalam]


"Maaf, mas. Pulang aja ya! ngga jadi ke kantor!", perintah Mara pada supirnya.


''Baik nona!"


Mobil pun putar arah menuju ke komplek perumahan tempat tinggal mereka.


Makam Silvy? Bahkan aku tak pernah memikirkan nya sama sekali. Aku terlalu fokus cemburu pada Bia. Tapi aku tak menyadari, kehadiran Nabil karena adanya hubungan Alby dengan Silvy. Apa aku masih pantas untuk cemburu pada almarhumah yang sama sekali tak ku kenali????


****


Maafkan typo yang betebaran di mane-mane ye...✌️🙏🙏🙏🙏😌


Makasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2