Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 186


__ADS_3

Azmi melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul empat sore. Pekerjaannya dia tunda karena memang tidak ada yang urgent. Azmi hanya merasa heran kenapa kali ini ia tak di ajak perjalanan bisnis bos sekaligus sahabatnya itu.


Tapi...toh ini bukan wewenangnya untuk bertanya. Yang bos kan dia????


"Selamat sore pak Azmi!", sapa beberapa karyawan yang berpapasan dengannya.


Azmi memang tak beda jauh juteknya dengan Alby. Tapi dia sedikit lebih ramah dengan bosnya karena Azmi masih mau membalas sapaan dari bawahannya, minimal tersenyum.


Nomine Ganteng tapi jutek tentu saja masih pantas di sandang oleh Alby dan Azmi. Bedanya....gelar dudanya Alby sudah tak lagi di pakai karena dia sudah sold out. Mungkin sebentar lagi Azmi otewe nyusul....


Lelaki tampan itu memasuki mobil, pikiran nya mendadak teringat pada mendiang istrinya.


Ya, dia merindukan sosok istrinya yang sudah mendahuluinya bertemu sang Khaliq. Ada perasaan bersalah saat dirinya ternyata sudah membagi perasaannya pada sosok yang baru ia temui. Bayangan wajah Nur yang bahkan ia pandang hanya sekilas setiap bertemu pun mengganggu mata dan otaknya.


Tapi... di setiap sujudnya, lelaki itu selalu saja mendapatkan petunjuk jika Nur yang sudah perlahan mengisi hatinya meski keduanya tak menjalin hubungan seperti sepasang kekasih. Azmi hanya meminta, seandainya ia di beri kesempatan untuk menikah lagi nanti dia di pertemukan dengan jodoh yang baik. Mungkin tak sesempurna mendiang istrinya, tapi apa salahnya jika berdoa yang baik bukan? Toh Azmi sendiri mengakui dirinya juga tidak sempurna. Dan setiap usai ia berdoa, sosok Nur selalu muncul di mimpi nya. Itulah kenapa Azmi seolah tiba-tiba menantang Nur untuk menjalin hubungan halal. Dan ternyata, gayung bersambut.Tapi ya... bagaimana pun, Abah Nur adalah wali sah dari Nur. Azmi tidak bisa memaksa seseorang yang sudah memungutnya dari jalanan untuk memberikan putri bungsunya pada seorang duda semacam Azmi.


Tanpa di sadari, mobilnya kini sudah masuk ke pintu gerbang pemakaman. Karena menjelang ramadhan, hari yang cerah tapi menjelang sore ini masih terlihat ramai oleh para peziarah.


Azmi pun langsung menuju ke blok dimana mendiang istrinya di makam kan.


Lelaki tampan itu berjongkok di depan batu nisan dengan rumput Jepang yang subur. Ia memanjatkan doa pada sang pencipta. Semoga sang Khaliq melapangkan kubur istri shalihah nya yang bahkan menampakkan wajahnya hanya pada Azmi usai menikah. Tapi ...saat ia sakit parah, mau tak mau wajah cantik itu juga di lihat oleh orang lain. Bukan maksudnya untuk mengumbar apa yang biasa ia tutupi untuk suaminya.


"Umi....Abi kangen sama umi."


Azmi mengusap batu nisan yang ia anggap seperti ia mengusap kepala istrinya.


"Umi.... maafkan abi. Abi sudah mengkhianati umi!", monolog Azmi. Berharap istrinya akan mendengar suara nya.


"Abi tidak tahu, kapan perasaan itu muncul Mi. Tapi....Abi seolah melihat sosok umi di dalam diri Nur."


"Abi tahu, tidak seharusnya abi berharap seperti itu karena kalian tetap orang yang berbeda."


"Umi tahu? Kadang Abi merasa capek Mi. Kasian sama putri kita. Abi tidak bisa sepenuhnya memperhatikan perkembangan buah hati kita Mi."


Azmi menjeda kalimat nya karena dadanya kian merasa sesak. Entah.... meski kadang dia bersikap konyol jika bersama Alby, ada saatnya juga dirinya rapuh dan butuh sandaran.


Azmi tersenyum tipis, kadang dia hanya berpura-pura kuat di depan semua orang. Padahal...dia pun butuh orang lain yang bisa menguatkannya.


Lelaki itu masih berjongkok di depan nisan istrinya. Tangan nya masih terulur mengusap batu nisan itu.


"Maafin Abi yang sudah jatuh cinta pada Nur, ya Mi. Maafkan abi!", bisik Azmi sambil menundukkan kepalanya.


"Aku juga cinta sama A Azmi!"


Azmi mengerjap pelan. Lalu ia menggeleng cepat. Azmi rasa, dirinya sedang berhalusinasi. Mana mungkin gadis itu ada di sini. Abahnya saja tak mengijinkan mereka berkomunikasi, apalagi sampai Nur ada di pemakaman ini.


Karena tak ada respon dari Azmi, Nur merasa kesal sendiri. Dia menarik kerah kemeja Azmi.

__ADS_1


"Astaghfirullah?!", Azmi terkejut saat menengok ke belakangnya. Ternyata, gadis yang sedang ia pikirkan ada di belakangnya. Dengan cepat Azmi pun bangkit dari jongkoknya.


"Nur? Kamu ...di sini? Bagaimana bisa...???", tanya Azmi terkejut.


"Ikut mas Alby!", jawab Nur singkat.


"Hah????", Azmi mendadak ngelag. Mungkin kelamaan jongkok atau kelamaan jomblo. Entahlah....


Beberapa saat sebelumnya....


"Pak Bram cariin kamu, kamu kalo mau berhenti bekerja juga ada prosedur nya Nur. Restoran Pak Bram bukan warung nasi pinggir jalan yang bebasin pegawainya keluar masuk. Adabnya, kalo kamu masuk baik-baik, keluarnya pun harus baik."


Nur sedikit terkesima dengan sosok tampan yang ada di hadapannya. Selain sahabat yang baik, nyatanya Alby memang bos yang baik.


"Tapi nur takut Abah ngga ijinin ke kota lagi Mas Alby!", kata Nur menunduk. Rupanya, nasehat Alby di dengar oleh pak Mirza. Lelaki setengah baya itu kini kembali mendekati putri bungsunya dan juga tamunya. Pak Mirza duduk di sebelah Nur.


"Apa pekerjaan Azmi saat ini?", tanya Pak Mirza. Mata Nur membelalak lebar.


Ngapain Abah tanyain pekerjaan Azmi??? Monolog Nur dalam hati.


"Azmi sekretaris sekaligus asisten pribadi saya Pak Haji!", jawab Alby lugas.


"Cowok? Sekretaris?", tanya Pak Mirza. Alby mengangguk.


"Betul pak Haji. Azmi lebih dari sekedar asisten bagi saya. Dia kakak sekaligus sahabat saya. Jika pak haji ingin tahu berapa gaji Azmi, asisten saya yang lain akan menunjukkan berapa penghasilannya perbulan. Belum lagi jika dia turut menangani proyek, bonus nya akan di tambah di luar gaji bulanannya. Jadi...saya rasa pak haji tak perlu khawatir jika Nur akan kekurangan sandang dan pangan. Soal rumah... kebetulan saya dan Azmi ambil KPR di daerah yang sama pak Haji."


Bukankah dari dulu memang pak Mirza berharap Azmi menjadi bagian dari keluarganya??? Di saat Azmi mendekat karena tuntutan yang kuasa, kenapa justru dirinya seolah memasang barikade??? Eh...???


"Oh ya pak Haji, saya mohon ijin membawa Nur ke kota. Pak Haji tenang saja. Saya tidak sendiri. Ada beberapa bodyguard saya. Jadi... kami tidak pergi berdua kok. Lagi pula saya juga laki-laki beristri!", jelas Alby.


"Untuk apa?", tanya Pak Mirza. Padahal tadi dia sempat mendengar perihal keluar nya Nur dari pekerjaan yang kurang baik. Bagaimana pun juga, ia mengajarkan adab yang baik untuk anak-anaknya. Hanya saja, semua kembali pada si anak itu sendiri.


"Baiklah...saya ijinkan. Tapi setelah itu, Nur harus kembali pulang lagi ke sini. Anda bilang, azmi akan kemari bukan?", tanya Pak Mirza.


Nur menatap abahnya tak percaya. Abahnya berubah drastis begitu cepat. Sebenarnya apa yang sudah Alby lakukan....????


Akhirnya, Nur pun ikut Alby ke Jakarta. Alby duduk di samping Billy, sedang nur duduk di belakang. Mereka sudah berpameran dengan Pak haji dan keluarga.


"Baterai ponsel ku habis ternyata Bil!", Alby pun men-charge ponselnya. Setelah beberapa menit terisi, ia menyalakan kembali ponselnya.


Sudah ia duga, serentetan pesan dari sang istri dan juga Mak nya. Alby tersenyum saat Amara yang meminta ijin untuk mengantarkan Nabil ke makam bundanya. Kenapa dia senyum???


Amara perempuan yang ikhlas dan berbuat sesuatu tidak tergesa-gesa. Sekalipun ia pergi, Alby tidak akan tahu. Tapi Amara tetap meminta ijin jika dia pergi bersama Mak dan Nabil.


Dua jam perjalanan, Alby bermaksud menyusul Nabil dan istrinya. Tapi ternyata ponselnya berdering, bahkan sebelum mobilnya berhenti.


[Assalamualaikum]

__ADS_1


[Walaikumsalam, ya Allah A. Kenapa baru aktif?]


Amara mencerca dengan pertanyaan yang wajar di ucapkan saat cemas.


[Baterai habis sayang. Oh iya, masih di pemakaman ya?]


Alby basa basi karena ia sudah melihat anak buah Billy yang standby.


[Iya A. Masih!]


[Aa sudah di depan, tunggu Aa ya]


[Oh gitu, iya A!]


Ponsel itu pun ia masukkan ke saku jas nya lagi. Ia menoleh ke belakang, melihat nur yang tertidur. Beruntung gadis itu mengenal masker. Entah lah, di balik masker itu apakah dirinya ngeces atau tidak.


"Pak, ada pak Azmi!", ujar Billy memberi tahu Bos nya. Alby pun menoleh. Ia yakin jika asprinya akan ziarah ke makam umi nya Putri.


"Bagaimana kalau kita buat kejutan untuk pak Azmi , pak bos?", tanya Billy.


"Gimana?", tanya Alby. Lalu Billy berkata lirih, Alby pun mengangguk lalu menoleh ke Nur yang tengah tidur di belakang.


"Nur! Nur!", panggil Alby. Nur pun mulai sadar dari kantuknya. Ia mengucek matanya.


"Udah sampai ya mas Alby?", tanya nya.


"Iya, sampai di pemakaman umum."


"Hah???", Nur terkejut di buatnya.


"Pujaan hati kamu tuh, temui dia!", kata Alby pada Nur. Nur menatap punggung Azmi yang memasuki area makam.


"Sekarang banget ya mas ?", tanya Nur ragu.


"Ngga. Kapanpun kamu mau!", kata Alby turun dari mobilnya di ikuti Billy.


"Eh?? Ko di tinggal?", Nur pun ikut turun.


"Aku mau ke makam bundanya Nabil, kamu ke makam yang Azmi tuju sana!", pinta Alby pada Nur.


"heuh? Eum...iya!",kata Nur. Alby menghampiri Amara dan keluarga, Nur menghampiri Azmi.


Gadis itu tak langsung memanggil Azmi. Dia memilih mendengar curhatan hati Azmi dia atas makam yang ternyata makam almarhum istrinya. Dan...Nur mendengar ungkapan perasaan Azmi padanya yang tak pernah ia dengar sekalipun. Nur pun membalas ucapan itu, sayangnya...Azmi beranggapan jika dirinya hanya berhalusinasi. Hingga akhirnya Nur tak tahan untuk menarik kerah kemeja Azmi.


*****


Hhhhuff?!?!?!? Udah ya...? Lanjut besok lagi. Makasih ✌️🙏🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2