
Seorang gadis muda menghentikan mobilnya di depan pos sebuah perumahan elit. Dia membuka kaca nya untuk berbicara pada satpam yang menjaga pos gerbang perumahan.
"Selamat sore pak!"
"Selamat sore mba!"
"Saya mau ke rumah Mas Alby, diijinkan kan?", tanyanya.
Satpam itu memandangi gadis muda yang cantik itu. Pak Anto, satpam tersebut teringat dengan sosok almarhumah Silvy yang berpenampilan hampir sama seperti gadis itu. Bedanya, Silvy hanya duduk di kursi rodanya di saat-saat terakhir hidupnya.
"Sudah ada janji Mba? Soalnya, kami tidak bisa sembarangan mengijinkan tamu masuk ke area perumahan ini Mba!"
Gadis itu tersenyum.
"Saya ada urusan pekerjaan dengan mas Alby, ini kartu nama saya. Silahkan di cek kalau tidak percaya."
Gadis itu menyerahkan kartu namanya pada pak Anto. Pak Anto membaca sekilas nama tersebut.
"Baiklah, mba. Silahkan!", ujar Satpam tersebut.
"Terimakasih pak!",kata Bianca ramah. Gadis itu memang Bianca. Dia punya cara lain mendekati Alby. Jika tidak bisa mendekati Alby secara langsung, dia bisa mendekati orang terdekat nya lebih dulu bukan? Contoh nya, anak semata wayang Alby atau orang tuanya.
Dengan senyum merekah, Bianca melajukan kendaraannya menuju ke rumah Alby.
Tak sulit menemukan keberadaan rumah mewah milik keluarga Hartama. Bianca menghentikan mobilnya tepat saat pintu gerbang terbuka dan keluar sosok perempuan setengah baya yang memakai jilbab bergo.
Bianca turun dari mobil lalu mendekati wanita tersebut.
"Assalamualaikum?",sapa Bianca.
"Walaikumsalam?!", jawabnya.
"Selamat sore, saya teman mas Alby. Apa mas Alby sudah pulang?",tanya Bianca basa-basi. Padahal dia tahu, Alby belum pulang dari kantornya.
"Maaf, Alby mah pulang nya biasa nya malam. Nama kamu teh siapa?", tanya perempuan itu, yang ternyata Mak Titin.
"Saya Bianca, Bu!", Bianca mengulurkan tangannya.
"Oh, saya Titin. Mak nya Alby!",kata Mak Titin.
Oemji, untung gue bersikap manis. Dia calon ibu mertua gue??!! Batin Bianca.
Percaya diri sekali ya mbak 😆???
"Eum, maaf apa Bian ganggu ibu?'',tanya Bianca dengan wajah imutnya yang memang beneran imut.
"Ngga kok Nak Bian!",kata Mak Titin tersenyum.
"Ya sudah mari masuk!",ajak Mak.
"Lho, ibu bukannya mau pergi? Batal dong gara-gara Bian?"
Mak Titin tersenyum.
"Panggil Mak aja. Nanti Mak bisa minta teh Mila atau mang Sapto!",kata Mak Titin mengajak Bianca masuk.
"Assalamualaikum!", Bianca mengucapkan salam.
"Walaikumsalam!",sahut Mak Titin. Selang berapa lama, muncul lah sosok mungil yang sangat tampan dan sangat mirip dengan Alby.
"Nenek!"
__ADS_1
"Nabil, udah mandi sayang?", tanya Mak Titin sambil mengusap kepala bocah tampan itu.
"Udah!", jawab nya singkat dan riang. Bianca tersenyum melihat wajah bocah tampan dan menggemaskan itu.
"Siapa nek?",tanya bocah yang usianya dua tahun lebih pada Neneknya, menanyakan Bianca.
"Oh, ini teh Bian. Temen papa!", jawab Mak Titin.
Lha, aku di panggil teteh??? Batin Bianca.
Nabil mendekati Bianca, lalu mencium punggung tangan Bianca.
"Masyaallah, pinter sekali Nabil ya?!", puji Bianca tulus.
"Makasih Tante!", jawab Nabil dengan suara cadelnya. Lalu setelah itu, ia berlari ke arah pengasuh nya yang memakai seragam khas pengasuh.
"Nabil mau ke mana?",tanya Bianca.
"Main, sama amih!",jawab Nabil. Mak Titin tersenyum.
"Teh Ani, di panggil Amih sama Nabil. Sama aja panggilan Mak!",jelas Mak Titin. Bianca hanya mengangguk.
"Main sama Tante aja!",kata Bianca menwarkan diri. Pedekate mungkin 🤔
"Sama teteh?",tanya Nabil. Huffft...ya sudah lah, di sebut teteh pun tak masalah. Bianca mendekati Nabil yang meminta gendong teh Ani.
"Iya, sama teteh. Biasanya Nabil main apa?",tanya Bianca pelan. Mak Titin hanya memperhatikan dari sofa.
Apa...dia perempuan yang sedang dekat dengan Alby? Bukan kah Alby bilang, dia sedang dekat dengan Amara??? Batin Mak Titin.
"Main robot di dekat kolam!",jawab Nabil.
Bianca menoleh pada Mak Titin.
"Iya, silahkan!", jawab Mak Titin.
Bianca dan Nabil menuju ke samping rumah yang ada kolam renangnya.
"Ani, minta buatin minum ke Mila ya!",ujar Mak.
"Iya Bu!", jawab Teh Ani. Mak menyusul Nabil dan Bianca ke teras samping.
Mak Titin memperhatikan Bian dan Nabil yang bermain sangat akrab. Padahal ini pertama kalinya Bian bertemu dengan Nabil.
"Sudah mau magrib, nak Bian mau menunggu Alby?",tanya Mak Titin.
"Kayanya ngga usah deh Mak. Nanti Bian pulangnya kemaleman. Setelah ini, Bian juga mau ke rumah sakit. Papa sedang di rawat. Bian pikir, mas Alby sudah di rumah. Tapi ngga apa-apa lah Mak. Urusan pekerjaan bisa besok lagi!",kata Bian tersenyum manis.
"Oh, ya sudah atuh kalo begitu mah. Maaf ya nak Bian!", ujar Mak Titin tidak enak.
"Iya Mak, ngga apa-apa! Oh iya Mak, lain kali Bian boleh main ngga? Di luar urusan pekerjaan gitu Mak, main sama Nabil!"
"Boleh atuh, pintu rumah ini terbuka buat kamu!"
Saat ini, Mak dan Bianca sudah berada di ruang tengah. Mata Bian tertuju pada foto pernikahan Alby dan Silvy.
Mak Titin melihat ke mana arah pandangan Bianca.
"Itu mendiang bundanya Nabil!", kata Mak Titin.
"Cantik sekali ya Mak!",puji Bianca kagum dan tulus dari dalam hatinya.
__ADS_1
"Heum, terima kasih."
Mak Titin mengulas senyum.
"Kalau begitu, Bian pamit ya Mak. Assalamualaikum!", Bian bersalaman dengan Mak Titin.
"Walaikumsalam, hati-hati ya Nak Bian."
Bianca pun melesat meninggalkan kompleks perumahan elit itu.
(Bingung ga sih dari Bia alias Shabia, Bina alias Sabrina, dan Bian yang tak lain Bianca??? Kalo typo harap maklum ya 🙏😆)
.
.
Alby dan Amara sedang berada di dalam mobil menuju ke rumah sakit. Tak banyak obrolan yang keluar dari bibir keduanya. Mungkin masih belum bisa menghalau perasaan yang tersisa saat di dalam ruang meeting tadi.
Di sela keheningan dalam mobil,ponsel Alby berdering. Ada nama Sakti yang muncul di layar tipis kenangan terakhir yang Bia belikan untuk nya.
"Sakti!",gumam Alby. Mungkin maksudnya ingin memberi tahu pada Amara jika sakti yang menghubunginya.
"Ya udah angkat aja. Kalo perlu menepi?",ujar Amara. Alby mengambil bluetooth di depan nya. Lalu ia pasangkan ke telinga.
[Assalamualaikum Sak!]
[Walaikumsalam, Lo di mana By?]
[Di jalan, mau otw ke rumah sakit bareng Amara. Kenapa Sak?]
[Gue udah dapet hasilnya, tapi gue lagi off sekarang. Gimana cara serahin atau kasih tahu hasilnya ke Amara atau pak Daniel?]
[Bentar, gue tanya Mara dulu!]
"Ra, hasil lab udah keluar, tapi sakti sedang off. Gimana? Mau nunggu besok aja pas Sakti tugas?"
"Sekarang aja ga apa-apa. Dia keberatan ga, ketemu di luar rumah sakit?",tanya Amara.
[Sak, kita bisa ketemuan di resto Xxx ga?]
[Oh, oke! Gue otewe ke sana.]
[Gue tunggu, makasih Sak. Assalamualaikum]
[Walaikumsalam]
"Ya Allah, mudah-mudahan papa ga kenapa-kenapa!",gumam Amara yang masih Alby dengar.
"Oh ya Ra, bisa telpon kak Daniel? Kali aja dia ada waktu untuk mendengarkan penjelasan Sakti!"
"Iya By, aku coba telpon kak Daniel." Amara pun menelan nama Daniel di ponselnya.
[Assalamualaikum kak, di mana?]
[Walaikumsalam. Baru keluar kantor!]
[Kak Daniel, bisa kita ketemu di restoran Xxx? Dokter Sakti sedang off, tapi hasil lab papi sudah keluar. Bisa ngga kak!?]
[Oke, kakak meluncur sekarang!]
[Langsung ketemu di sana ya kak, Assalamualaikum]
__ADS_1
[Walaikumsalam]
Panggilan pun berhenti. Amara kembali memasukkan ponselnya. Hati Amara tak menentu untuk mendengarkan penjelasan dokter Sakti. Amara berharap jika papi nya akan segera pulih dan mendapatkan pertolongan yang tepat.