Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 95


__ADS_3

Alby


Nabil berceloteh riang sepanjang perjalanan menuju ke kantor. Terlihat betapa ia menikmati pemandangan kota di pagi hari yang sudah mulai ramai oleh hiruk pikuk kendaraan bermotor.


"Papa!", panggil Nabil. Nabil duduk di sebelah ku, sedang teh Ani di bangku belakang. Jangan lupa, bekal Nabil beserta peralatan tempur nya pun berada di genggaman teh Ani.


"Apa sayang?"


"Nabil mau naik itu!",tunjuk Nabil saat melihat busway.


"Eum...boleh, kapan-kapan ya sayang!",kuusap puncak kepala nya.


"Oke papa!"


Nabil kembali melihat-lihat sekitar. Sampai dia melihat anak kecil yang di gendong ibunya.


"Papa!"


"Iya sayang?", sahut ku kembali menoleh pada Nabil.


"Itu...sama bundanya ngapain sih pa?",tanya Nabil saat melihat anak kecil yang di gendong ibunya sambil membawa alat seadanya untuk mengamen.


"Itu...namanya ngamen Bil!",jawabku.


"Ngamen itu apa?",tanyanya tanpa menoleh padaku. Dia fokus melihat pengamen itu.


"Menyanyi!",jawabku. Dia mengangguk.


"Oh...!",gumamnya. Aku harap dia tak salah tafsir.


Beberapa menit berlalu, Nabil kembali bertanya hal random. Dia memang ingin tahu banyak hal. Entah apa pun yang dia lihat pasti akan dia tanyakan.


Ponsel ku berdering, ada nama Azmi di sana.


[Assalamualaikum Mi]


[Walaikumsalam bos]


[jalan kan?]


[Heum, otewe. Kenapa?]


[Ngga lupa kan? Hari ini pertemuan rutin dengan pemegang saham?]


Astaghfirullah, aku lupa!


[Lupa Mi. Ya udah, gue udah jalan ini]


[Iya. Ya udah assalamualaikum]


[Walaikumsalam]


Ku letakkan bluetooth headset ku lagi.

__ADS_1


"Sayang, nanti papa ada rapat penting di kantor. Kamu main sama amih aja gak apa-apa kan?"


"Iya papa!", jawab Nabil. Semoga saja Nabil tak rewel.


Mobil kami berhenti di depan lobi. Setelah menurunkan Nabil, aku menyerahkan kunci pada sekuriti. Teh Ani membawa keperluan Nabil di stroler nya.


Azmi menunggu ku di depan.


"Assalamualaikum mang Ami!",sapa Nabil pada Azmi.


"Walaikumsalam den Nabil. kok mang Ami?", tanya Azmi.


"Kata nenek manggil nya amang!", kata Nabil. Azmi sendiri hanya mengerucutkan bibirnya. Terserah bosnya saja?!


"Keberatan maneh di panggil amang?", tanya ku.


"Nya heuh atuh. Da kumaha tos kasep kieu dipanggil amang, Ami pula. om Azmi Kitu pan sae!",bisik Azmi karena tak mau Nabil mendengar nya.(Iyalah, ganteng gini di panggil amang. Om Azmi kan bagus)


"Oh...bisi hayang di panggil Uwak. Maneh kan leuwih kolot ku urang!",balasku.(Kirain mau di panggil Uwak, kamu kan lebih tua dariku)


Hidung Azmi makin kembang kempis. Dan hal itu membuat ku sedikit terhibur.


Keakraban antara kami menjadi pusat perhatian semua yang ada di sana. Beberapa orang memanggil nama Nabil. Dan Nabil yang kurang begitu suka keramaian memilih mendekapku erat.


"Rapat jam berapa sih Mi?",tanyaku sambil berjalan menuju ke lift.


"Jam sepuluh! Sebagian udah ada di ruangan!", jawab Azmi. Aku hanya mengangguk. Saat di depan lift, aku menjumpai Bia yang sedang mengantri di lift umum.


Sekali pun dia memakai cadar atau apapun itu, aku hafal seperti apa mantan istri ku.


"Aa!", sahut nya lirih. Sontak orang yang mengantri di lift pun menoleh pada kami. Azmi menyenggol lengan ku. Aku terdiam beberapa detik melihat mata Bia yang sekarang memakai kacamata.


"Sendiri?",tanyaku. Bia mengangguk.


"Fesha sama Ribi, siapa yang jagain?",tanyaku lagi.


"Ada ibu dan lek Dar ke rumah A. Makanya... waktu mas Azmi menghubungi ku, aku bisa datang ke sini!"


Aku hanya mengangguk. Nabil menatap ku dan Bia bergantian.


"Mama kakak Nabila!", celetuk Nabil. Aku dan Bia sama-sama mengernyitkan alis.


"Nabil!",aku menggelengkan kepala ku.


"Kata kakak Nabila,kakak sayang Mama Bia!", lanjut Nabil.


Bia yang tak tahu apapun hanya terlihat bingung mendengar ucapan Nabil. Nabil mengulurkan tangannya minta di gendong Bia. Bia yang pada dasarnya penyayang pun menerima Nabil yang berpindah gendongan.


Anakku memeluk Bia deneng erat. Karena sesak, Bia pun melepaskan masker nya. Wajah Bia yang cantik menjadi perhatian orang-orang yang ada di sekitar lift.


"Pakai lift ini aja neng!",ajakku. Azmi sudah beberapa kali memberikan kode padaku. Tapi entah kenapa aku masih mengabaikannya.


Akhirnya Aku, Nabil , Bia, Azmi dan teh Ani pun masuk ke lift khusus.

__ADS_1


"Mama Bia?!",panggil Nabil. Bia yang tak biasa di panggil Mama pun hanya mengiyakan saja.


"Iya Bil?",tanya Bia.


"Kakak Nabila bilang, dia sayang sama mama sama papa juga."


"Oh ya?",Bia menanggapi seperti itu. Badan nya yang kecil sekarang lebih berisi pun nampak sedikit keberatan karena menggendong tubuh gemoy Nabil.


Nabil mengangguk cepat.


"Iya."


"Kalo boleh tahu, kakak Nabila itu siapa?",tanya Bia. Nabil tersenyum.


"Anaknya mama Bia sama papa!",jawab Nabil dengan entengnya. Bia tampak mengerutkan keningnya.


"Hah?",hanya itu yang keluar dari bibir Bia. Mungkin Bia sama terkejutnya dengan ku.


"Iya. Kakak Nabila, anaknya mama Bia sama papa Aby! Tapi sekarang kakak di atas sana jauh. Kaya bunda! Tapi...kalo malem suka main sama Nabil juga kok!"


Mendadak aku merinding ya??? Mungkin Bia dan yang lain seperti itu.


"Bil, jangan ngajakin Tante Bia ngobrol seperti itu ya!",kataku. Nabil menggeleng.


"Nabil ngga boong. Kakak Nabila emang suka main sama Nabil kalo malem."


Aku menghela nafas. Lebih baik ku iyakan saja.


"Mi, apa ga sebaiknya gue sekolahin Nabil aja ya? Biar dia ga kebanyakan menghalu. Kasian ngga ada teman main!",kataku.


"Iya...coba aja sih!",bisik Nabil. Mereka semua menuju ke ruang rapat.


Berbeda tanggapan dengan Alby, Bia justru semakin mendengarkan apa yang Nabil cerita kan. Jika dulu kehadiran Nabil adalah hal yang sangat Bia benci, tapi melihat Nabil yang ada dalam gendongan nya saat ini.... kebencian nya pada ibu kandung Nabil pun kian luntur. Benar, mungkin memang soal waktu.


"Nabil, Tante Bia sama papa dan Mang Ami mau rapat dulu ya! Nabil sama amih Ani! Jangan nakal!", nasehat ku pada nabil.


"Iya papa! Mama Bia!", panggil Nabil lagi.


"Iya...Nabil?",sahut Bia.


"Nabil boleh main sama Fesha dan Ribi ngga?",tanya Nabil. Bia mengangguk pelan.


''Boleh!",jawab Bia setelah itu Nabil pun ke ruangan lain yang ada di dekat ruang rapat. Bia lebih dulu masuk ke dalam ruangan rapat. Sedang Azmi menahanku lebih dulu.


"Apa sih Mi?"


"Ingat ya, istri orang! Jangan baper!",Azmi memperingati ku.


"Astaghfirullah! iya Mi!",kataku.


"Ya udah, ayok masuk!",pinta Azmi.


"Yang bos tuh gue apa Lo sih??", tanyaku. Tanpa menjawab apapun, Azmi membukakan pintu untuk ku. Ya, kami kembali pada mode formal lagi sekarang di hadapan para pemegang saham.

__ADS_1


__ADS_2