
Tiga hari berlalu. Aktivitas perkantoran kembali sibuk. Alby sibuk di kantornya, begitu pula dengan Amara .
Bulan puasa tetap semangat bekerja apalagi nanti akan libur panjang. Semua pekerjaan harus selesai tepat waktu. Entah itu proyek ataupun administrasi perusahaan.
Karena tidak ada makan siang, Amara atau Alby tidak ada yang saling mengunjungi. Hanya sekedar saling berbalas chat atau telpon sebentar sebelum mereka di sibukkan dengan pekerjaan.
Kesibukan yang sama pun di alami oleh Azmi. Dia sampai tak sempat menghubungi Nur yang sedang bosan di dalam kamar kost mereka.
Mau memulai masak, tapi masih terlalu pagi...ya...siang sih, sudah lewat dari jam dua belas siang.
Nur mondar-mandir di dalam kamar kostnya. Ia bingung mau melakukan apa. Kamar Azmi sangat rapi. Tidak ada yang harus ia kerjakan selain menyapu dan ngepel. Tapi hanya dalam hitungan menit, sudah selesai.
Menjemur pakaian juga cukup di depan pintu kost, sudah kering. Tiba-tiba terlintas di pikirannya untuk mendatangi kantor suaminya.
Nur mengirim pesan pada Azmi. Meminta ijin untuk menemui nya di kantor. Azmi yang tahu jika istrinya sedang bosan di kamar terus pun mengijinkannya.
Setelah mendapatkan ijin, Nur pun bersiap-siap. Ia mengambil pakaiannya yang ada di lemari Azmi. Tapi saat ia akan mengambil pakaiannya, tiba-tiba ia melihat sebuah foto yang tersimpan di bawah pakaian harian Azmi.
Dengan pelan ia mengambil foto tersebut. Foto yang terdiri dari Azmi , putri dan uminya yang wajahnya tertutup niqob. Tapi di foto yang lain, terlihat wajah cantik uminya Putri.
"Uminya Putri cantik ya A!", monolog Nur. Matanya kembali tertuju pada setumpuk pakaian yang di lapisi plastik. Karena penasaran, Nur pun membuka plastik tersebut. Ternyata ada beberapa pakaian gamis lebar. Mungkin milik umi nya Putri.
Kenapa suami ku masih menyimpannya? Batin Nur. Tapi dia tak mau berpikir negatif. Mungkin saja Azmi memang belum bisa sepenuhnya melupakan umi Putri. Bagaimana pun mereka pernah berada dalam ikatan yang sah bertahun-tahun.
Apa pantas aku cemburu pada almarhumah??? Batin Nur.
__ADS_1
Nur kembali melipat pakaian itu lalu memasukkannya ke dalam plastik tersebut. Nur jadi berpikir, apa dirinya pantas bersanding dengan Azmi sedang uminya Putri saja berbeda terbalik dengan Nur.
Nur memang memakai jilbab, tapi masih asal. Jika di bandingkan dengan almarhumah....???
Akhirnya Nur memilih gamis yang bisa di pakai untuk santai ataupun formal. Gamis berwarna baby pink cocok di pakai olehnya. Tak lupa ia mencoba memakai jilbab dengan model menutupi dadanya.
Meskipun terlihat anggun, tapi Nur tetap masih nampak muda sesuai dengan usianya. Ia pun mantap langsung menuju ke kantor HS grup untuk menemui suaminya.
.
.
Fisik Frans yang dominan bule sedikit menyulitkannya untuk menyamar. Apalagi tinggi badannya melebihi standar tinggi laki-laki asia pada umumnya.
Dia berencana mencari makanan untuk mengganjal perutnya. Tak peduli apakah itu makanan asia atau eropa seperti kebiasaannya makan sehari-hari. Sayangnya hingga berjalan cukup jauh, ia menemukan rumah makan yang cukup ramai.
Kenapa Frans memilih tempat yang ramai? Tentu saja agar dirinya terlihat berbaur dengan pengunjung yang lain agar tak mudah di temukan. Apalagi...Frans pura-pura tak bisa bicara dan berjalan menggunakan tongkat.
Hanya ada sebuah meja yang kosong, itupun di pinggiran agak dekat dengan meja kasir.
Frans pun memesan makanannya dengan melambaikan tangan. Tanpa menggunakan suara, Frans menunjuk foto malamnya di dalam daftar menu.
Saat Frans sedang menunggu pesanan makanannya, ia mendengarkan percakapan beberapa laki-laki berseragam yang baru saja masuk kerumah makan terus.
"Bagaimana bisa kabur ya? Penjagaan ketat banget gitu!", kata Seto.
__ADS_1
"Lo aja yang tanya sama bokap mertua Lo??", kata Dimas.
"Heum, nanti coba!", sahut Seto. Tak lama kemudian Febri mendekat mereka berdua.
Masih seputar kaburnya Frans, Febri ikut menimpali.
"Harusnya sih gampang nangkap Frans lagi!", kata Febri tiba-tiba.
"Kenapa?", tanya Dimas.
"Secara fisik, Frans bertubuh tinggi yang lebih dari standar orang Indonesia pada umumnya. Harusnya dia sedikit kesulitan untuk berbaur dengan masyarakat luas. Kecuali...dia bisa mengikuti jejak dan lingkungan sekitar." Febri mencoba menjelaskan pemikirannya.
"Gue yakin dia pasti bakal nemuin Amara di apartemennya!" ,kata Dimas.
"Iya, paling gitu?!"
"Tapi untuk apa ke sana? Toh Amara sudah tinggal bersama Alby!", kata Febri.
Apa??? My baby sudah menikah dengan Alby???? Gumam Frans. Dia akan mencari tahu dimana Amara berada sekarang.
Kamu hanya milikku Amara, tidak orang lain apalagi Alby! Matanya merah menahan emosi. Seandainya bukan di tempat umum, sudah pasti remuk meja dan seisinya.
*****
Selamat malam ✌️😉
__ADS_1