
"Sejak kapan kamu pakai jasa bodyguard Ra?",tanya Daniel saat ia masuk ke unit Amara. Dia merasa kesal karena sempat di cegat oleh bodyguard Amara. Beruntung wajah Daniel begitu mirip dengan Amara, lalu ia menghubungi Amara. Setelah itu barulah ia di ijinkan menemui sang adik.
Amara pun menceritakan kronologisnya. Dari tunangan dengan Frans, ancaman dan kejadian tadi pagi tanpa ada satupun yang terlewat. Kecuali...adegan nya dengan Alby tentunya.
"Bren*** banget tuh Frans!",kata Daniel kesal sambil meremas kedua tangannya.
"Insyaallah sudah aman kak, polisi sudah menanganinya. Besok aku juga di panggil untuk di jadikan saksi sekaligus korban. Beruntung aku punya teman-teman yang baik dan selalu mendukung ku kak!", kata Amara lirih.
"Iya, maaf! Kakak ngga bisa dampingi kamu akhir-akhir ini karena sibuk! Dhea saja mungkin sudah menganggap kak Nathan dan mba Mayang orang tua nya sendiri! Bahkan sepertinya Dhea betah sekali di Padang"
Daniel terdengar menghela nafas pelan.
"Kak Nathan sama mba Mayang kan emang sayang banget sama Dhea,kak!"
"Iya sih. Terus kamu udah kasih tahu mami papi soal kasus Frans dan apa yang udah dia lakuin ke papa?"
Amara menggeleng pelan.
"Ke mba Mayang sih udah kak. Tapi ngga tahu, apa mba Mayang udah cerita sama mereka apa belum!"
"Kamu tanya ke mba Mayang coba. Kak Nathan kan juga lagi ke luar."
"Iya kak. Nanti aku tanya mba Mayang!",sahut Amara.
"Lalu... gimana kelanjutannya? Kamu batal bertunangan dengan Frans, terus gimana?",tanya Daniel membingungkan.
"Gimana apanya?",tanya Amara.
"Pake tanya segala. Ya gimana kelanjutan hubungan kamu sama Alby? Ada rencana ke arah sana apa gimana?",tanya Daniel.
"Huum, insyaallah iya kak. Tapi ...?"
"Tapi Mami dan Papi?",tanya Daniel. Amara mengangguk.
"Kalo papi dan mami udah di kasih tahu soal Frans, bukannya seharusnya ngga masalah dong?"
__ADS_1
"Harus nya sih iya kak. Dulu papi juga sempat nyangka aku sama Alby dekat sebelum aku mualaf. Tapi dari situ aku langsung tugas keluar. Yang papi tahu aku sama Frans berhubungan di luar. Tahu ah kak!"
"Papi tahu, kalo sebelumnya Alby pernah nikah sama istrinya Febri?",tanya Daniel.
"Mungkin tahu kak."
Daniel terdiam beberapa saat.
"Ya udah, nikah aja! Restu mami papi belakangan."
"Kak Daniel kok ngajarinnya gitu?",tanya Amara balik.
"Lagian ya, kamu nikah pun aku, kak Nathan apa lagi Papi, ngga ada yang bisa jadi wali kamu kan?",tanya Daniel.
"Iya sih kak. Tapi ...Alby bilang, dia pengen saat kami menikah mami dan papi merestui Kak."
"Heum, iya juga sih. Coba aja dulu. Kamu sama Alby bilang ke papi dan mami. Urusan nanti gimana, ya ...yang penting udah usaha."
"Iya kak!",sahut Amara.
.
.
Rahadi dan Kirana, papi dan mami Amara sedang bersantai di sebuah saung di tepi sawah. Tak jauh dari sana, ada ponpes yang ramai oleh para santri/santriwati yang sedang melakukan aktivitas rutin di jam sore.
Sepasang suami istri yang sudah senja itu begitu damai berada di saung itu. Meski senja, keduanya tampak meninggalkan pemandangan persawahan dengan padi yang mulia menguning, yang masih menjadi wilayah pondok.
"Papi, Mami!",panggil Mayang pada kedua mertuanya.
"Sini May!", panggil mami. Mayang yang menuntun Dhea pun menghampiri beliau.
"Udah pulang dari kota? Banyak belanjaan nya?", tanya Mami. Mayang memang baru saja pulang dari pusat kota membawa Dhea ke pusat perbelanjaan di sana. Sekedar mengajak Dhea berbelanja kebutuhan pokok anak santri. Sebenarnya Mayang hanya ikut, yang belanja pasti pengurus pondok.
"Udah Mi. Pengurus pondok udah biasa belanja kok Mi. Mayang sama Dhea cuma jalan-jalan aja. Iya kan Dhe?",tanya Mayang pada Dhea yang berusia dua tahun lebih.
__ADS_1
"Iya Oma!",sahut Dhea.
"Mami,papi. Mayang mau kasih tahu sesuatu. Mayang harap mami dan papi bisa menerima kenyataan ini."
Kedua orang tua itu saling melempar pandangan. Kenapa Mayang bilang harus menerima kenyataan? Kedengaran nya seperti sesuatu yang sangat buruk.
"Ada May?", tanya Papi.
Mayang pun menyerahkan ponselnya. Setelah itu ia juga menceritakan kejadian yang menimpa Amara.
"Ya Tuhan, Pi?! Mami ngga percaya Frans setega itu!", kata mami. Sedang papi hanya terdiam. Dia merasa bersalah karena sudah memaksa Amara untuk bersama Frans.
"Pi, Mi... seandainya...Mara sama Alby, mami dan papi ngga keberatan kan?",tanya Mayang mewakili Amara. Amara bukan tak bisa mengatakan sendiri pada kedua orang tuanya. Tapi sejauh ini, Mayang adalah sosok yang sangat di dengar kan oleh kedua orang tuanya.
"Papi akan cari tahu semua tentang Alby dulu, May! Kalo memang dia layak untuk Amara tentu papi akan mengijinkannya. Tapi kalo tidak...papi yang akan mencarikan pasangan yang tepat untuk Amara!",kata papi.
"Pi, udah lah Pi. Belum cukup papi mendapatkan pengalaman dari si Frans itu? Papi mau maksa Amara lagi? Udah banyak yang Mara korban kan lho Pi? Papi lupa, papi pernah bilang kalo papi tidak akan memaksa keinginan papi setelah Mara meneruskan bisnis papi? Belum cukup?",tanya mami panjang lebar.
Ya, sebenarnya mami juga bisa melihat jika putri bungsu nya sangat mencintai Alby. Tapi karena mata hati mereka terlanjur tertutup dengan tipu daya Frans. Apalagi latar belakang keluarga nya pun sangat baik. Siapa sangka jika Frans yang di kenal baik justru seperti seorang psikopat.
"Terserah mami! Pokoknya papi mau yang terbaik buat anak kita. Kalo memang Alby yang terbaik buat Amara, pasti papi menyetujuinya. Atau ... jangan-jangan mami tahu sesuatu tapi papi ngga tahu?",tanya papi balik.
Jika mami tahu kalau Alby menikah dua kali. Dan mantan istrinya sudah menikah dengan laki-laki yang sering membuat Amara patah hati sejak dulu. Papi tidak tahu itu!!!
"Terserah papi!",Mami beranjak dari saung meninggalkan suami dan menantu serta cucunya.
Papi hanya memandangi punggung Mami yang menjauh meninggalkan saung dengan sedikit tergesa-gesa. Mungkin karena emosi.
"Apa karena Frans juga kamu bawa papi dan mami kemari?",tanya papi pada Mayang. Mayang pun mengangguk.
"Maaf Pi, kami ngga mau sesuatu hal yang buruk menimpa mami atau papi. Frans sangat berbahaya Pi."
"Lalu, kalo bahaya buat kami, apa tidak bahaya buat kalian? Terutama Amara?", tanya Papi sedikit ngegas. Mayang tak ingin membuat mertuanya semakin emosi.
"Udah sore Pi, mau magrib. Kita pulang ya? Pamali, anak kecil kaya Dhea masih di luar begini!", Mayang pun menuntun Dhea. Tangan satu nya mendorong kursi roda mertuanya.
__ADS_1
"Dhea dipangku opa ya, biar budhe Mayang ngga susah!",pinta Papi. Dhea sempat meminta persetujuan Mayang, dengan mendongak menatap Mayang. Mayang pun mengangguk, lalu mendudukkan Dhea di pangkuan opanya.
Perempuan bercadar itu mendorong kursi roda mertuanya menuju ke rumah yang mereka tinggali selama berada di kota ini.