Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 214


__ADS_3

Gema takbir berkumandang. Ini tahun pertama Alby merayakan idul Fitri bersama Amara. Perempuan yang sudah menjadi istrinya setelah perjalanan panjang menuju ke arah ikatan sakral yang bernama pernikahan.


Alby memutuskan untuk lebaran di kota saja. Bukan tidak mau di kampung halamannya seperti tiga tahun terakhir. Hanya saja, kondisi istrinya sedang tak bisa di ajak perjalanan jauh.


Bahkan kedua mertuanya pun masih di Jogja. Daniel masih di Australia, sedang Dhea anak dari Daniel di bawa oleh Nathan dan Mayang ke Padang.


Alhasil, Amara benar-benar idul Fitri bersama keluarga suaminya saja.


Sepasang suami-isteri itu memutuskan untuk tinggal sementara di rumah Mak Titin selama Teh Mila dan mang Sapto mudik. Jadi, Mak Titin tidak kesepian.


Berbeda dengan keluarga Alby, Azmi dan Nur mudik ke Bandung beserta Putri yang sudah mereka jemput beberapa hari sebelum cuti idul Fitri.


Ketiganya tampak kompak seperti pada umumnya keluarga harmonis. Meski bukan pertama kalinya melakukan perjalan Jakarta Bandung, entah kenapa Nur merasa staminanya kurang bagus. Dia sering kali meminta Azmi untuk menghentikan mobilnya agar Nur bisa memuntahkan isi perutnya.


Memang, perjalanan mereka lakukan malam hari agar besok pagi bisa ikut solat Ied di kampung Nur. Tapi sepertinya kondisi Nur tidak memungkinkan di tambah lagi jalanan cukup padat merayap.


.


.

__ADS_1


.


Pagi hari, Amara dan Mak disibukan dengan acara masak memasak untuk sarapan sebelum solat Ied. Sudah tradisi keluarga Mak Titin akan sarapan sebelum berangkat ke masjid untuk sholat Ied.


Amara yang tak boleh terlalu lelah hanya sesekali membantu mertuanya untuk sekedar menyiapkan alat-alat makan.


Tak lupa ia juga menyiapkan meja ruang tamu yang akan di gunakan untuk open house yang akan di adakan dirumah Mak Titin. Akan ada karyawan Alby dan juga Amara serta rekan-rekan Amara di instansinya dulu.


"Sudah siap anak Soleh?", tanya Amara pada Nabil yang sudah memakai baju Koko serta sarung kecil seperti papanya.


"Insya Allah siap mama!", jawab Nabil lugas.


Wajah mereka benar-benar mirip. Min saat Alby kecil, wajahnya seperti Nabil.


"Ayo sayang!", ajak Alby pada Amara. Mak sudah menunggu di depan rumah. Keluarga kecil Alby pun menghampiri Mak Titin yang sudah rapi dengan mukenah putih. Begitu pula dengan Amara.


Mereka memasuki mobil yang nanti di setir oleh Alby. Nabil berceloteh riang. Bocah tampan itu sangat senang lebaran kali ini. Dia bisa memiliki keluarga yang lengkap meskipun ia tak pernah bertemu dengan ibu kandung yang melahirkannya.


Tak beda jauh dengan Nabil, Alby pun sama bergembiranya seperti sang putra. Senyuman manis selalu terukir di wajah tampannya yang putih.

__ADS_1


Setelah sekian lama akhirnya ia bisa melakukan idul Fitri bersama orang-orang yang ia sayangi.


Titin bisa melihat kebahagiaan dari anak dan juga cucunya. Entah, Titin lupa kapan melihat Alby sebahagia itu merayakan lebaran.


Pikiran Titin menerawang jauh. Teringat terakhir kalinya berlebaran dengan Bia. Perempuan mungil itu sibuk menyiapkan segala sesuatunya sendiri tanpa mengeluh sama sekali. Tak ada baju baru apalagi perhiasan selain cincin nikah dari Alby yang tak seberapa.


Tapi Bia tetap lah Bia yang sederhana meskipun dia mampu membeli apa pun yang dia mau.


Sekalipun Bia sudah memaafkan ku, tapi aku tetap merasa bersalah karena aku lah yang menjadi pemisah antara Bia dan Alby.


Mata tua itu menatap menantu baru nya yang terlihat sumringah bercanda dengan Alby sepanjang perjalanan menuju ke masjid.


Titin mengulas senyum, mungkin sudah takdir Alby untuk melewati banyak hal hingga akhirnya ia menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.


******


Udah lebaran gaes ✌️


Insya Allah satu bab lagi lunas 🤣🤣🤣✌️✌️🙏

__ADS_1


Makasih 🙏🙏🙏✌️


__ADS_2