
Amara sudah menyelesaikan masakannya untuk makan malam. Hidangan sederhana namun cukup menggiurkan.
Ikan gurame asam manis pedas, tumis brokoli, SOP ayam, ayam goreng, bakwan jagung tak lupa sambal tomat. Amara tidak tahu selera anak sambungnya. Alby hanya bilang Nabil suka sayur berkuah. Jadilah...sop ayam untuknya.
Lebih dari dua jam ia menyelesaikan masakannya itu. Beruntung ikan dan ayam sudah siap di masak jadi bisa mempersingkat waktu untuk memasaknya.
Amara melepas celemeknya lalu mencuci tangan di wastafel. Saat ia akan mengelap tangan nya yang basah, tiba-tiba ada tangan kecil melingkar di pinggang rampingnya.
Sontak Amara langsung menoleh karena terkejut.
"Mama!"
Amara tersenyum lalu memutar badan menghadap Nabil, lalu berjongkok.
"Kapan datang? kok ngga ucap salam dulu?", tanya Amara.
"Hehehe lupa. Assalamualaikum Mama Mara!", ulang Nabil.
"Walaikumsalam Nabil ganteng!", goda Amara. Nabil terkekeh pelan mendengar pujian dari ibu sambungnya.
Tak lama kemudian terlihat Alby yang menenteng beberapa barang. Sebuah koper dan ransel juga tas berisi laptop milik Amara yang tadi lupa ia bawa dari rumah Papi Amara.
"Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam!", jawab Nabil dan Amara.Alby pun mendekati keduanya.
"Cuci tangan dulu A, kita makan. Habis itu mandi terus solat magrib berjamaah !", kata Amara.
"Ngga kesorean makan jam segini Mah?", tanya Alby sambil menarik bangku.
Amara sempat bingung saat Alby mengucap 'mah'?
"Mama?!", panggil Nabil. Amara pun sempat terkejut. Dipanggil Mama oleh Nabil sudah tidak kaget tapi kalo Alby...????
"Tahu tuh mama, bengong aja ya Bil!", kata Alby.
Jadi benar, Alby memanggil ku Mama tadi???
"Ngga bengong A. Ya udah aku siapin nasi sebentar?!"
Setelah memindahkan nasi ke dalam mangkok besar, Amara menuangkan nasi ke atas piring Nabil dan Alby.
"Mama, ikan nya pedes ngga?"
"Eum...pedes manis sih Bil, tapi ngga tahu Nabil suka apa ngga? Mama bikin sayur sop sama ayam goreng juga lho!", tawar Mara.
"Boleh coba ikannya ngga?"
"Boleh sayang!", sahut Mara. Ia pun mencuil sedikit bagian daging ikan yang tak terlalu dilumuri saus.
Nabil mengaduknya ke nasi, lalu menyuapkan kemulutnya. Alby memperhatikan mimik wajah Amara yang penasaran dengan reaksi Nabil saat memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Eum...enak ma. Ngga pedes banget, Nabil suka deh!", kata Nabil lalu menyuap lagi dengan lahap.
Amara tersenyum puas saat tahu kalau Nabil menyukai masakannya.
"Papa ngga di ambilin juga ikannya, Ma?",tanya Alby. Wajah Amara memerah di panggil seperti itu.
"Eum...pa-pa mau ikan juga?",tanya Amara sedikit kagok karena memang belum terbiasa.
"Heum, mau atuh! Masa Nabil doang?"
Amara terkekeh lalu tangannya terulur mengambil lauk untuk suaminya.
__ADS_1
Makan sore mereka usai! Kenapa sore? Ya karena mereka makan bahkan masih jam lima sore. Bukan makan malam namanya dong?
"Kamar Nabil yang kiri, kamar mama papa yang kanan!", ujar Alby. Nabil terdiam sebentar.
"Memangnya Nabil ngga boleh bobo sama papa lagi?", tanya Nabil.
Alby berjongkok di depan Nabil, mencoba memberikan pemahaman.
"Nabil sekarang sudah besar. Biasanya Nabil juga bobo sendiri kan kalo di rumah nenek?"
Nabil mengangguk pelan.
"Tapi...Nabil pengen bobo sama mama sama papa!", kata Nabil sendu. Impian bocah itu sederhana, ingin tidur bersama kedua orang tuanya.
Amara turut berjongkok di depan Nabil, tak tega rasanya membuat anak lelaki itu menangis sedih.
"Nanti papa mama temani Nabil bobo. Mama bacakan cerita sebelum Nabil bobo, gimana?"
Alby dan Nabil menoleh bersamaan. Jika Nabil merasa senang, tidak dengan Alby yang memasang wajah masamnya meski tak mengurangi kadar tampannya sih.
"Beneran mama bobo sama Nabil?"
Amara mengangguk.
"Mama nemenin Nabil sambil baca dongeng, tapi setelah Nabil bobo, Nabil bobo sendiri. Mau kan?"
Nabil nampak menimang-nimang sebentar hingga akhirnya ia mengangguk. Alby tersenyum melihat istrinya begitu mudah membujuk Nabil.
"Nah sekarang, Nabil mandi yuk! Mama temenin!", ajak Amara.
"Nabil udah mandi sama Amih Ani tadi Ma di rumah nenek."
"Oh...gitu. Ya udah, papa duluan deh!", pinta Amara. Alby pun mengangguk lalu masuk ke kamarnya sambil menenteng koper milik Amara.
"Siap ma! Nabil mau nonton Upin Ipin, abis itu kita solat magrib sama-sama kan?"
"Iya sayang!", Amara mengusap puncak kepala Nabil. Setelah itu, ia mengunci pintu ruang tamu lebih dulu sebelum ke kamar untuk membereskan pakaiannya yang tak banyak.
Saat masuk ke kamarnya, ternyata Alby belum beranjak ke kamar mandi.
"Lho, malah masih di sini? Kirain udah mau selesai?", tanya Amara sambil menyeret koper ke depan lemari pakaiannya.
Alby tak menjawab apapun, tapi justru ia memeluk istrinya dari belakang. Amara sedikit tersentak karena pelukan tiba-tiba itu.
"Aa, ngagetin deh! Mandi sana! Gantian!", pinta Amara.
"Makasih ya sayang, udah sayang sama Nabil. Udah mau menerima kehadiran Nabil. Aa ngga nyangka kalau kalian akan langsung sedekat ini!", Alby menyandarkan dagunya di bahu Mara.
Amara menyunggingkan senyumnya.
"Nabil kan anakku juga A. Kalaupun suatu saat nanti Nabil punya adik, aku tidak akan pernah membedakan kasih sayang ku sama Nabil. Meskipun Nabil tidak lahir dari rahim ku, tapi...aku sayang sama Nabil A!", kata Amara.
Tanpa keduanya sadari, sosok kecil yang sedang di bicarakan tak sengaja masuk ke kamar orang tua nya tanpa mengetuk pintu. Niat hati ingin minta cemilan pada mama nya, ia batalkan.
Nabil teringat ucapan neneknya. Anggap Tante Amara ibu kandung Nabil, karena Tante Amara tulus sayang pada Nabil. Dan Nabil kecil sudah melihat sekaligus mendengar secara langsung ucapan mama sambungnya.
Nabil membatalkan untuk meminta cemilan, ia langsung menutup pintu pelan hingga orang tuanya tak mendengar jika ia sempat masuk.
"Mandi bareng aja yuk, biar cepat!"
"Hei? Ada Nabil di depan A. Malu ih! Udah Aa duluan aja!", Amara mendorong suaminya agar masuk ke kamar mandi lebih dulu. Perempuan itu menggeleng heran dengan tingkah suaminya yang amat sangat jauh berbeda dengan pertama kali ia kenal dulu.
.
__ADS_1
.
.
Azmi mengendarai mobil menuju ke ibukota sendirian. Nur di bawa oleh Abah nya ke Bandung. Bahkan abahnya tak lagi mengijinkan Nur untuk kembali ke kosan mereka.
Flashback on
"Jadi kamu dan Azmi pacaran Nur?", tanya Pak Mirza.
"Ngga bah, kami ngga pacaran. Kami juga baru kenal belum lama ini. Tapi ...kami punya perasaan yang sama Bah. Kami juga tidak..."
"Tidak apa? Jangan bilang kalian sudah berzina sampai dia berani berniat menemui Abah!"
"Maaf pak Mirza, kami memang tidak pernah melakukan apa yang pak Mirza pikirkan. Saya memang berusaha untuk menghindari perasaan saya terhadap Nur. Tapi saya selalu meminta petunjuk pada yang kuasa, sampai saya berani mengatakan niat saya pada Nur. Dan...."
Azmi menoleh pada gadis cantik itu.
"Dan nur pun merasakan perasaan yang sama seperti saya. Saya tidak ingin kami berzina dalam konteks apapun meski hanya sekedar saling memandang. Maka dari itu sa...."
"Kamu pikir, setelah kamu menolak perjodohan dengan putri sulung saya, saya akan menyerahkan putri bungsu saya sama kamu?", tanya pak Mirza.
Semua mata tertuju pada Pak Mirza dan Azmi, gak terkecuali Nur.
"Maaf kyai Ahmad, sudah menimbulkan kekacauan di sini. Tapi...anda ingat bukan, santri yang saya pungut di jalanan lalu saya masukkan ke pondok Xxx beberapa belas tahun yang lalu?", tanya Pak Mirza pada kyai Ahmad.
Kyai Ahmad pun mengangguk.
"Dia, dia anak laki-laki yang tidak tahu diri dan balas budi ini. Dia yang sudah membuat anak sulung saya semakin membangkang!"
"Astaghfirullah, Abah! Teteh sudah bahagia dengan pilihannya. Abah jangan menyalahkan pak Azmi. Hati memang tidak bisa di paksa Bah. Salsa...tidak tahu jika Pak Azmi adalah laki-laki yang mau di jodohkan dengan teteh dulu. Tapi... semua sudah berlalu bah!", Salsa angkat bicara. Tak ingin Azmi di pojokan seperti itu. Apalagi Nur yang terbiasa bar-bar juga sampai menangis mendengar apa yang Abah katakan pada sosok laki-laki yang pertama kali menggetarkan hatinya.
"Pokoknya Abah ngga akan menyetujui niat kamu untuk dekat dengan putri bungsu ku, Azmi!"
Suara Pak Mirza terdengar begitu tegas dan tanpa ba-bi-bu, Pak Mirza menyeret Nur keluar. Di susul oleh istrinya dan juga anak serta menantunya.
"Kami permisi kyai Ahmad, sekali lagi saya minta maaf sudah menimbulkan kekacauan. Assalamualaikum!", pamit pak Mirza.
"Walaikumsalam!", jawab Kyai. Azmi sendiri hanya mematung dan Putri memeluk pinggang abinya.
Nur sendiri tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti langkah kaki abahnya yang sudah memaksanya keluar dari pondok kyai.
"Yang sabar nak Azmi. Insyaallah kalau jodoh tidak akan pernah terlambat. Dia akan datang di waktu yang tepat. Allah maha pembalak balik hati Nak. Mungkin saat ini, pak Mirza sedang emosi. Putri sulung nya memutuskan untuk... mengikuti keyakinan suaminya. Jadi...saya harap kamu memaklumi kekecewaan seorang ayah. Ya?", kyai Ahmad menepuk bahu Azmi. Laki-laki tampan itu hanya mengangguk lemah.
Usai berpamitan pada kyai, Azmi mengantarkan Putri ke asrama putri. Ia mengecup kening putri begitu lama. Dan putri sendiri memeluk erat abinya.
"Abi, abi pernah janji sama Putri. Setelah Umi meninggal, Abi tidak akan pernah menangis dan sedih lagi. Ingat kan?"
Azmi mengangguk pelan.
"Iya. Abi tidak akan menangis kok sayang! Sekarang putri masuk ya, Abi...pulang ke Jakarta. Nanti kalau om Alby melangsungkan pernikahannya, papa jemput Putri. Ya?"
Putri mengangguk pelan. Azmi pun berpamitan pada anak gadisnya.
Flashback off
Jalanan ibukota mulai macet di akhir pekan. Terutama dari arah kota hujan seperti dirinya. Entah kenapa Azmi menjadi merasa bersalah. Andai dulu ia menerima putri sulung pak Mirza, mungkin.....
Astaghfirullah! Azmi mengusap wajahnya kasar. Dia tak menyangka jika akan serumit ini.
****
Maafkan daku ✌️. Lagi badmood pisan 😔😭
__ADS_1
Makasih yang masih mau mampir 🙏🙏🙏