Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 187


__ADS_3

Warning! Sedikit hareudang! Kalo suruh di edit sama kk Mimin ya mon maap 🙏🙏🙏🙏✌️✌️✌️😉


*******


"Bro!", Azmi menghampiri Alby yang sudah bersama keluarganya. Lelaki tampan yang sudah meninggalkan gelar dudanya itu tersenyum pada sahabatnya.


"Gue ...ngga tau apa yang udah Lo lakuin buat gue... makasih! Tapi ...Lo hutang penjelasan sama gue besok!", kata Azmi sambil menyalami Alby.


"Iya, besok gue jelasin!", sahut Alby.


"Masa sama bos ngomong nya Lo Gue A, meuni teu sopan!", protes Nur.


"Pan tos di luar jam kerja. Atuh kita mah temen Nur!", sahut Azmi.


"Gimana juga kan mas Alby teh bos Aa. Nur panggil 'maneh' aja ke Aa, Aa marah lho!"


"Itu beda cerita Nur. Kalo mau, Alby mah manggil nya teh Aa ka urang. Aa mah leuwih kolot ku manehna."


Nur memutar bola matanya malas. Entah lah kenapa dirinya bisa jatuh hati tanpa sadar pada sosok duda satu ini.


"Udah Nur, sante aja kali. Kaya sama siapa aja!", kata Nur menengahi sepasang calon kekasih itu. Entah itu kekasih bayangan atau kekasih halal karena belum terlihat jelas ujung nya nanti.


"Ngga nyangka ya Azmi bisa ngomong banyak juga heheheh!", celetuk Amara.


"Bu bos, emang sejak kapan dia pendiam ya? Bukannya bagus kalo diem, soal nya seringnya mah sekalinya ngomong nyakitin!", kata Nur lirih tapi masih di dengar oleh yang lain.


"Sabar Nur, sebelas dua belas sama bos nya kok! Kan emang udah julukan mereka tuh. Duda ganteng tapi jutek!", Amara ikut menanggapi gumaman Nur yang terdengar jelas.


"Hehehe duda yang meresahkan tapi kan?", kata Alby sambil memasang kacamatanya. Lalu ia berjalan mendahului yang lain untuk menghampiri Nabil di makam opanya karena Mak bilang dompetnya ketinggalan.


"Apa aa bilang???", Amara menarik ekor jas Alby membuat si empunya terpaksa berhenti.


"Heheh bercanda sayang!", kata Alby tersenyum takut-takut istrinya berpikir dirinya akan tebar pesona padahal sudah sold out.


"Awas aja kalo macem-macem! Aku smackdown sama jurus karate ku yang udah lama ngga kupakai!", bisik Amara. Alby mengangguk cepat. Bukan karena takut pada istrinya, tapi dia tak mau bertengkar di area makam seperti ini.


Azmi pun menyusul sepasang suami istri yang baru official itu di belakang mereka. Di belakang Azmi, Nur pun turut berjalan sambil memegangi tas selempangnya. Sesekali ia melihat jam tangannya. Sudah hampir magrib. Niatnya kan mau menemui pak Bram, tapi kenapa sampai menjelang gelap ia masih di sini? Berharap Alby akan mengantarkan ke Pak Bram gitu??? Emang dia siapa???


"Pamali bengong menjelang magrib begini, apalagi ini di makam. Hati-hati kesambet!", kata Azmi yang mendadak berhenti di depan Nur. Karena dia tak mendengar langkah nur yang ternyata berjalan lamban di belakangnya.


Azmi yang mendadak berhenti pun membuat Nur terkejut karena dia menabrak dada lelaki itu.


"Astaghfirullah, Aa!", Nur terkejut lalu memukul pelan dada lelaki tampan itu.


"Pegang-pegang lagi, belum mahram!", kata Azmi.


"Iya belom, tapi katanya mau otewe. Kata Mak othor sih. Moga ga ngeprank!", sahut Nur.


"Ngebet banget sama Aa?", kata Azmi lirih.


"Katanya belum mahram, ngga boleh liat lebih dari tiga detik! Dosa! Awas minggir!", Nur menyingkirkan Azmi yang menghalangi jalannya. Azmi sendiri hanya tersenyum tipis.


Sikapnya seperti kamu Umi, galak dan suka ceplas-ceplos! Semoga ia pun sebaik kamu dan juga sayang pada Putri!


Azmi pun menyusul semuanya. Nabil sudah dalam gendongan Alby.


"Mama, nanti Nabil mau bobo sama nenek. Boleh kan?", tanya Nabil pada Amara. Kok nanya emaknya? Bukan bapaknya???


"Faseh amat manggil mamanya Bil!", sindir Azmi pelan.


"Apa itu faseh amang Ami??",tanya Nabil. Azmi menghela nafas, entah...dia gak suka panggilan kesayangan Nabil padanya.


"Bukan apa-apa sayang! Boleh kok, kan waktu itu kita udah pernah bilang. Nabil boleh nginep di tempat nenek!", jawab Amara.


"Makasih mama cantik!", Nabil mengecup singkat pipi Amara.


"Heum...merdeka bapak mu Bil! Sering-seringlah menginap di rumah nenek!", kata Azmi lagi.


"Paham banget ya Bro!", kata Alby.


"Huum, udah kebaca!", jawab duda itu. Mak Titin menggeleng heran sambil tersenyum. Baru kali ini ia melihat Alby yang bisa kembali tertawa lepas seperti itu sejak perpisahannya dengan Bia.


"Ya udah, ayok pulang. Udah mau magrib!", Mak menginterupsi.


"Ayok!",ajak Alby.

__ADS_1


"Tunggu!", sekarang nur yang menginterupsi.


Semua menoleh pada gadis itu.


"Nasib aku gimana? Emangnya pak Bram masih di resto jam segini? Kan mas Alby teh bilang, nemuin pak Bram dulu sebelum keluar?", tanya Nur dengan wajah memelas.


"Tanggung jawabnya Aa Azmi atuh! Ayok A, Bil, Mak!", Mara merangkul bahu ibu mertuanya yang tersenyum.


"Jangan berduaan, takutnya khilaf Mi!", kata Mak saat melewati Azmi. Azmi menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Ya udah, ayok pulang!", ajak Azmi pada Nur tanpa menoleh padanya karena ia langsung berjalan.


"Tunggu!", Nur meraih tangan Azmi. Reflek Azmi melepaskannya.


"Ngomong aja, ngga usah pegangan! Kita belum sampai jalan raya kok, ngga mau nyebrang!", kata Azmi. Nur di buat ternganga.


"Ishhhh!!!", mau tak mau Nur mengikuti langkah Azmi.


Setelah di pinggir jalan, Nur pun berhenti. Dia bingung akan ikut mobil siapa. Gadis itu celingukan, hal itu menyita perhatian Azmi. Karena dia geregetan, ia pun menyeret nur ke mobilnya. Nur melihat pergelangan tangannya yang di gandeng Azmi.


"Katanya belum mahram, ga boleh pegangan!", sindir Nur.


"Otw!", jawab Azmi singkat. Nur tak mengerti jalan pikiran duda satu ini. Setelah menengok ke arah bos nya beserta keluarga sudah masuk ke mobil mereka, Nur pun masuk kedalam mobil Azmi.


"Sekarang pak Bram pasti sudah tidak ada di restoran, gimana mau nemuin nya coba jam segini?", tanya Nur pada Azmi. Tapi ternyata Azmi tak merespon apapun. Gadis itu mendengus kesal. Ia melipat kedua tangannya di dada.


Jika Alby belok kanan, Azmi belok ke kiri. Itu artinya dia langsung pulang ke arah kostan.


"Lho, kita mau ke mana?", tanya Nur.


"Pulang lah!", jawab Azmi.


"Ke mana?", tanya Nur seperti orang be**.


"Namanya pulang ya ke rumah bocil!", sahut Azmi kesal tanpa melihat gadis cantik itu yang sedang memanyunkan bibirnya lima Senti.


"Ke kostan?", tanya Nur. Tapi Azmi diam tak menjawabnya.


"Kan aku udah ga kost di sana A. Kamarku udah di sewa orang baru!", kata Nur.


"Whattttt???? Gak! Eh, jangan mentang-mentang kita udah mau meresmikan hubungan kita ya. Bukan berarti ak....!"


"Bawel!", kata Azmi singkat. Back to mode judesnya.


"Ishhh...oke, aku emang cinta sama kamu ya A. Tapi bukan berarti aku bakal ngasih....!"


"Bisa diem ngga sih? Apa kamu pikir aku semesum itu?? Ckkk...hilangin tuh pikiran kamu yang ngeres!", pinta Azmi. Nur pun memilih diam. Semakin ia banyak bicara, semakin ketus laki-laki pujaan hatinya.


Suasana di dalam sangat hening. Suara cacing yang memberontak dari perut Nur sampai terdengar Azmi.


"Pantes rese, ternyata laper?!"


"Nggak!", sahut Nur cepat. Tapi suara perut nya tak bisa di ajak kompromi. Dia kembali berbunyi. Azmi menggeleng pelan, heran dengan kelakuan bocah di sampingnya.


"Sholat dulu di masjid itu, abis itu baru makan terus pulang."


"Heum!", gumam Nur yang sudah kepalang malu.


.


.


Berbeda dengan Azmi dan Nur, pasangan baru itu hanya menumpang solat magrib di rumah Mak. Nabil yang tak mau pulang bersama mereka pun langsung nemplok pada Neneknya.


Tak lupa Alby mengabari teh Ani agar datang ke rumah Mak besok pagi. Karena Nabil ada di rumah Mak, tidak di rumahnya.


"Ngga makan malam dulu di sini Jang? Neng?", tanya Mak. Entah lah, meski Alby udah bapak-bapak, Mak masih belum bisa menghilangkan panggilan 'jang' dari Alby karena sudah terbiasa sejak kecil.


"Gimana A?", tanya Amara.


"Langsung pulang aja lah Mak, gampang nanti delivery order. Yang penting Mak sama Nabil udah makan duluan."


"Owh...nya' nggeus atuh!", kata Mak. Alby dan Amara pun berpamitan pada Mak Titin. Mereka keluar dari kediaman keluarga Hartama.


Di depan rumah, masih ada anak buah Billy. Alby menghampiri mereka yang ada di sana.

__ADS_1


"Malam pak, ada lagi tugas kami?", tanya salah satunya.


"Kalian pulang saja. Besok pagi baru ke sini. Insyaallah di sini aman. Gerbang perumahan tidak bisa di masuki sembarang orang!", kata Alby.


"Tapi pak?"


"Pulang dan istirahat lah. Saya tahu kalian lelah sejak pagi ikut kami. Jadi, istirahat dan jaga kesehatan kalian. Tidak untuk diri kalian sendiri, tapi ada orang-orang yang menunggu kalian bukan?"


Para bodyguard anak buah Billy pun mengangguk patuh.


"Baik pak, kami akan pulang setelah memastikan anda sampai ke rumah."


Alby dan Amara menggeleng heran. Mau protes pun sepertinya mereka lebih takut dengan aturan yang Billy buat.


Akhirnya, Alby dan Amara pun pulang ke rumahnya yang hanya ada beberapa blok dari rumah Hartama.


Keduanya pun turun dari mobil mereka. Tak lupa, Alby mengunci pintu gerbang dan Amara membuka pintu ruang tamunya.


"Sayang, kamu pesan makanan saja ya. Jangan masak! Udah malam!", kata Alby. Padahal azan isya saja belum berkumandang, tapi Alby sudah bilang malam.


"Heum, iya A!", sahut Amara. Keduanya langsung masuk ke kamar mereka. Jika Alby langsung masuk ke kamar mandi, berbeda dengan Amara yang hanya melepaskan jilbabnya. Tangan nya mengetik aplikasi untuk memesan makanan. Dia hanya tinggal menunggu makanan itu datang. Sengaja Amara memesan makanan dari rumah makan yang tak jauh dari perumahan agar tak terlalu lama.


Sambil menunggu pesanan datang, Amara memasak air panas untuk membuat teh panas yang pasti dia sediakan untuk sang suami. Sudah kebiasaan Alby meminum teh hangat saat malam begini karena Alby memang bukan pecinta kopi. Agak berbeda memang di banding laki-laki pada umumnya. Ya...namanya juga selera.


Tak lama kemudian, air nya mendidih. Ia pun menuangkan air panas itu ke dalam mug besar.


Ia meletakkan di meja ruang tengah. Selang beberapa detik, Alby keluar dari kamarnya sudah dengan wajah yang segar.


"Tehnya A. Aku mandi dulu ya. Kayanya bentar lagi makanannya sampe. Aku pesan di warung depan soalnya."


"Iya sayang! Ya sudah sana mandi, solat isya sekalian ya. Nanti tinggal makan!", pinta Alby.


"Siap pak bos!", kata Amara cekikikan sambil masuk ke dalam kamarnya.


Dua puluh menit berlalu, Amara keluar dari kamarnya. Ia melihat sang suami yang sudah menunggunya di meja makan dengan makanan yang sudah terhidang.


"Kok jadi Aa yang siapin?", tanya Amara.


"Udah sama aja sayang! Ayok makan! Masih ada tugas yang belum selesai!", kata Alby. Amara mengangguk lalu ia pun menghadapi makanan yang sudah terhidang.


Tak butuh waktu lama, Alby pun selesai makan malam. Ia kembali ke sofa ruang tengah menikmati teh panasnya. Sedang Amara merapikan meja makan mereka. Setelah selesai mencuci peralatan makan mereka, Amara duduk di samping Alby.


"Boleh Aa tahu hasil sidang terakhir Frans?",tanya Alby. Amara tampak ragu. Alby menyadari hal itu.


"Kenapa? Kamu takut aku marah melihat kalian berpelukan?",tanya Alby. Suara Amara tercekat, tak tahu harus menjawab apa.


"Eum...itu...aku minta maaf A!", kata Amara. Suaranya sedikit bergetar.


"Kenapa harus minta maaf?", tanya Alby balik. Padahal niat Alby hanya ingin asal mengerjai, tapi ternyata istrinya memang merahasiakan sesuatu darinya.


"Kalian benar-benar berpelukan?", ulang Alby. Amara menggenggam tangan suaminya.


"Aku...aku hanya...!", Alby melepaskan genggaman tangan Amara. Dia bangkit lalu masuk ke dalam kamarnya.


Amara menjambak rambutnya kasar. Tak berselang lama, ia menyusul Alby yang sudah merebahkan diri di ranjang mereka. Amara beringsut mendekati suaminya.


"Aa, aku tidak bermaksud apapun A. Hanya...hanya ungkapan haru. Dan... mungkin setelah ini kami tidak akan bertemu lagi. Kam...."


"Jadi...kamu berharap akan bertemu lagi dengannya, begitu?", tanya Alby datar. Amara menghela nafasnya.


Alby merebahkan tubuhnya di kasur sambil memejamkan matanya. Dia sama sekali tak marah, murni hanya ingin mengerjai istrinya. Jika dia marah karena Amara berpelukan dengan Frans, lalu bagaimana dirinya yang beberapa kali masih memeluk Bia? Perempuan yang amat sangat sulit ia lupakan?


Lengan tangan kanan Alby menutupi matanya. Ia ingin mendengar apakah istrinya akan membalikkan fakta jika dirinya pernah berlaku sama pada mantan istrinya.


Tapi... setelah sekian lama menunggu, Amara tak ada tanda-tanda protes. Justru Alby merasa heran, tak mendengar suara Amara. Saat ia membuka lengan tangannya dari mata, dan matanya yang masih buram karena tertindih lengannya sendiri pun berusaha menguceknya.


Apa yang ada di hadapannya adalah sebuah keindahan yang tak bisa ia abaikan. Sang istri perlahan mendekatinya bahkan duduk di atas perutnya.


"Aku minta maaf!", kata Amara sambil membuat gambar abstrak di dada Alby. Lelaki itu meneguk salivanya dengan kasar.


Niat hati ia yang ingin mengerjai, kenapa jadi istrinya yang mengerjainya? Membuat tubuhnya panas dingin!


Jemari Amara mulai menyentuh pipi dan bibir Alby. Nafas Alby mulai memburu. Sentuhan istrinya sudah membangkitkan sesuatu di bawah sana! Awwww!!! 🙈🙈🙈🙈


Tidak akan Mak lanjutkan! Silahkan lanjutkan dengan imajinasi kalian wkwkwkwk

__ADS_1


Terimakasih 🙏🙏🙏🤭🤭🤭


__ADS_2