Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 30


__ADS_3

Alby


Aku sudah berada di kantor dimana Amara dinas. Aku bertanya pada rekannya yang berjaga di meja pos depan.


"Siang Bu!", sapaku. Aku bingung memanggil apa. Di panggil ibu, masih muda. Di panggil mba, ngga enak sama seragam yang di pakai.


Perempuan itu tampak tercengang beberapa detik melihat ku. Sampai akhirnya aku langsung to the point mengatakan tujuan ku.


"Hallo? Bu?? Bisa kah saya bertemu Amara?",tanyaku sambil mengibaskan tanganku di depan wajah nya agar dia sadar dari lamunannya.


Perempuan berseragam itu tersadar beberapa saat kemudian.


"Iya pak. Lettu Amara?"


Aku mengangguk.


"Bisa tidak saya bertemu, saya ada kepentingan mendesak."


"Tapi tidak bisa sembarangan masuk ke dalam kantor pak. Saya panggilkan sebentar ya?"


"Memang kenapa? Istrinya Febri saja ada di dalam kan? Dia juga bukan petugas seperti anda!", aku mulai menaikan intonasi suaraku.


"Tapi kan...?"


"Kalo tidak bisa menemui Amara, katakan pada Febri, Alby mau bertemu!", kataku dengan congkak.


Rekan Amara pun akhirnya membiarkan ku masuk setelah perdebatan alot.


Aku bertanya pada rekan Amara di dalam sana, di mana letak ruangan Amara. Tapi setelah sampai di sana, aku tak menemukan gadis itu.


Akhirnya aku menemui Febri di ruangannya. Dia cukup terkejut melihat kehadiran ku.


Tok tok tok


"Masuk!", pinta Febri dari dalam dengan suaranya yang berwibawa. Ya, dia nampak berbeda jika sedang berdinas seperti sekarang ini.


"Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam. Lho? By? Masuk!", kata Febri langsung berdiri.

__ADS_1


Aku pun langsung masuk ke dalam ruangannya. Dia sepertinya sedang sibuk.


"Ada apa? Tumben sampai ke sini?", tanya nya sambil melihat jam di pergelangan tangannya.


"Aku mau ketemu Amara. Tapi ngga ketemu, padahal aku sudah keruangannya."


"Oh ya? Ke mana dia?"


Lha, malah dia nanya ke gue???


"Kalo aku tahu, mana mungkin aku ke sini!"


Febri tampak mengangguk.


"Mungkin dia sedang ada kepentingan lain. Soalnya, yang lain sedang mengumpulkan form untuk berangkat ke perbatasan. Rekan satu ruangan Amara mengatakan kalo Amara tadi juga sudah sempat membawa form itu. Tapi entah lah dia kemana sekarang."


"Berangkat ke perbatasan?"


Febri mengangguk.


"Kapan?"


Febri menautkan kedua alisnya, mungkin heran aku bertanya sedetail itu.


Aku terdiam. Apa yang harus ku lakukan?


"Ada yang penting? Kenapa ngga telpon atau chat dia?"


"Ponselnya di nonaktifkan!"


"Kalian bertengkar?", tanya Febri.


"Tidak. Hanya ada hal yang harus aku luruskan di sini!"


"Oke!", Febri hanya mengangguk paham. Toh, dirinya tak berhak banyak bertanya urusan pribadi Alby. Mereka tak sedekat itu lah....


"Ya udah, aku balik. Makasih! Maaf udah nyita waktu kerja mu."


"Ngga kok. Habis ini, aku juga mau anterin Bia cek kandungan."

__ADS_1


Ada rasa yang tak bisa ku uraikan dalam dadaku. Mereka mau cek kandungan? Di sela kesibukannya saja, Febri masih bisa mengantar Bia cek kandungan. Apa kabar aku dulu????


Sampai kapan pun penyesalan ku tak akan pernah luntur. Lepas dari ku adalah pilihan terbaik bagi Bia. Lalu kapan aku bisa move on dari perempuan cantik itu? Dia sudah bahagia dengan dunianya. Sedang aku masih begini-begini saja.


"Ya udah, aku balik ke kantor. Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam."


Aku keluar dari ruangan Febri. Kedatangan ku di sini hanya sia-sia. Aku bahkan tak bisa menemukan Amara. Atau kah dia menghindar dari ku?


Apa ini salahku yang terlalu gengsi?!


Aku kembali ke kantor. Tak lupa ku serahkan kunci motor pak satpam. Di depan ruangan ku, Azmi sibuk dengan pekerjaannya. Tanpa menyapa Azmi aku langsung masuk ke dalam ruangan ku.


Tak lama kemudian, Azmi menyusul masuk.


"Kusut amat tuh muka? Gimana?", tanya Azmi.


"Gimana apanya?"


"Ya...Amara lah!"


"Tau! Gue ga ketemu sama dia."


"Alhamdulillah!", gumam Azmi.


"Eh, maksud Lo apa?"


"Gak. Gue takut abis Lo jelasin sama Amara, kalian jadi pacaran. Kalo sampai kalian pacaran, yang ada nanti aku ikutan kecipratan dosa juga. Hehehehe."


"Rese Lo?!", aku melempar pulpen padanya dan langsung di tangkap.


"Terus gimana? emang dia ngga di kantor?"


"Ngga tahu. Malah aku dengar...dia mau ikut tugas ke perbatasan!"


"Wow...LDR dong?"


"Apa yang LDR emang gue ada hubungan apa sama dia?!"

__ADS_1


"Hehehe....coba perjuangin. Kali aja dia luluh. Gantian! Biar Lo rasain gimana rasanya di cuekin! Dah lah, gue mau kerja lagi."


Azmi buru-buru meninggalkan ruangan ku.


__ADS_2