
Amara
Aku keluar dari ruangan Alby dengan wajah memerah. Malu! Itu yang aku rasakan. Huftt entah apa yang ada dalam pikiran ku ini.
Azmi memperhatikan ku beberapa saat setelah itu ia menundukkan pandangannya. Aku pun melakukan hal yang sama. Tapi setelah itu, ada satu hal yang dia katakan namun membuat ku cukup tertampar meski bahasa halus sekalipun.
"Maaf! Sebenarnya, ini bukan ranah saya berbicara. Tapi ... perbedaan di antara kalian akan menjadi penghalang. Sebaiknya anda pikirkan lebih dulu Nona. Sebelum nantinya akan semakin sakit jika kalian berpisah, saat sudah memulai."
Aku mencerna ucapannya. Apa aku terlalu kentara mengejar Alby? Sampai asisten nya saja bicara seperti itu padaku?
"Apa aku salah?", tanyaku berbalik badan menghadap Azmi.
"Tidak nona. Perasaan anda memang tidak salah, hanya saja..."
"Aku bisa mengikuti keyakinan Alby..."
Azmi justru tersenyum simpul. Ya, dia memang tak kalah tampan dari Alby. Hanya saja terlihat Azmi lebih dewasa di bandingkan Alby.
"Nona. Bicara keyakinan itu sensitif sekali."
"Tapi aku sudah lama tertarik, bahkan sebelum aku mengenal Alby!"
Azmi diam sejenak.
"Aku tahu, laki-laki seperti mu tak mengenal kata pacaran. Mungkin Alby juga akan seperti mu, Azmi. Tapi..."
Azmi mendengar kelanjutan ku.
__ADS_1
"Tak bisakah kamu membantuku?"
Please Amara, Lo udah ngejatohin harga diri Lo!!! Pekik ku dalam hati.
Azmi terdiam.
"Apakah anda berharap saya akan membantu anda?"
Asem nih orang! Beda tipis sama Alby!
"Ya!", jawabku pasrah.
"Jika iya, bisakah anda untuk sementara menjauh dari Alby? Memutuskan untuk tidak menghubungi nya untuk beberapa saat?"
"Maksud kamu?"
"Beri Alby waktu! Apakah dia akan mencari anda jika anda tak menghubunginya lebih dulu. Jika iya, dia pun sebenarnya memiliki perasaan yang sama seperti anda. Tapi jika tidak, maaf sepertinya saya tidak bisa membantu anda."
What? Bagaimana bisa Azmi memberi ide konyol seperti itu? Aku gercep mendekat saja, dia sudah pasang dinding pemisahan! Apalagi jika aku menjauh dari nya???
"Lalu dari segi apa kamu membantu ku? Kalo ide mu saja menjauhkan ku!"
Azmi tersenyum tipis.
"Mantapkan hati anda lebih dulu! Baru pikirkan apakah anda yakin, ingin memperjuangkan Alby? Apakah nanti anda akan siap menerima segala resikonya. Entah dari segi apapun itu. Sudah anda pikirkan?"
"Kendala ku hanya soal keyakinan kan?"
__ADS_1
"Tidak sesederhana itu Nona!"
Azmi terlalu mutar muter tak jelas. Tapi ya...aku paham maksudnya.
"Aku akan melakukan apa yang kamu katakan tadi Azmi! Tapi..."
Azmi mengernyitkan alisnya.
"Tapi aku harap kamu bisa membantu ku! Perasaan ku bukan sekedar pelarian dari Febri. Tapi...aku sudah benar-benar jatuh hati pada Alby."
Azmi menatap ku sekilas, tapi setelah itu dia memalingkan wajahnya dari ku.
"Aku menerima apa pun masa lalu Alby. Aku tahu, mungkin dia masih merasa bersalah pada Bia dan mungkin masih sangat mencintai Bia. Tapi...apa aku salah jika aku berusaha menyingkirkan perasaan Alby dari cinta nya pada Bia."
"Baik lah, coba dalam waktu satu bulan nona tak menghubungi Alby, saya yang akan memastikan perasaan Alby terhadap nona."
Aku bisa sedikit merasakan angin segar. Meski pada akhirnya nanti aku tak tahu endingnya seperti apa.
Aku sudah sering dikecewakan. Aku sudah sering kali patah hati. Dan aku harap, Alby lah laki-laki terakhir yang ku perjuangkan.
"Terimakasih Azmi ! Aku...kembali ke kantor dulu!"
Azmi mengangguk.
Semoga saja apa yang di semoga kan akan segera terwujud. Semoga...batin Azmi. Dia kembali melanjutkan pekerjaannya.
Aku kembali ke kantor ku. Aku mengembalikan kunci motor pada Dimas. Aku akan mengikuti apa kata Azmi.
__ADS_1