
Aku sampai ke rumah sudah azan subuh. Belum sampai pintu dapur, aku sudah mendengar tangisan Nabil.
Tumben anak ku menangis di jam segini. Buru-buru aku mencuci tangan ku lalu menghampiri Nabil yang sedang di gendong oleh Mak.
"Iya sayang, bentar lagi papa pulang. Nabil jangan nangis dong!",bujuk mak pada Nabil.
"Papa, Nabil mau papa!",rengek Nabil lagi. Aku mendengar alasan anakku menangis.
"Ini papa sayang?!", kataku menghampiri Nabil yang ada di gendongan Mak.
"Papa huhuhuhu!",Nabil berpindah gendongan sekarang. Dia nemplok padaku. Aku terkejut melihat wajah Mak yang terlihat sangat kelelahan. Gara-gara nonton drakor di tambah lagi begadang karena tangisan Nabil. Aku yakin Mak belum tidur sejak tadi.
"Mak, solat subuh dulu. Habis itu istirahat! Makasih udah jagain Nabil!",kataku.
"Iya Jang....hoamm!",Mak menutup mulutnya karena menguap.
Nenek-nenek tapi kecanduan drakor, ajaran teh Mila emang sesat deh ah....
"Papa....!",Nabil kembali merengek. Aku mengusap punggungnya sambil berjalan menuju ke kamar kami.
"Cup...cup...papa udah sama Nabil. Udah ya jangan nangis. Jagoan papa kan pinter!",bujukku. Nabil pun perlahan diam.
"Papa jangan kerja terus! Nabil mau bobo sama papa",putra ku memelukku begitu erat. Dia takut aku tinggalkan?
"Maaf ya sayang!",ku kecup puncak kepala nya berulang. Ada perasaan bersalah yang amat sangat ku rasakan saat ini. Aku sibuk sendiri dengan kisah cinta ku dengan Amara. Tapi aku mengesampingkan anakku sendiri!
"Maafin papa ya nak! Maafin papa!",Nabil mengangguk cepat.
"Papa jangan kerja terus ya! Nabil juga mau main sama papa!"
Ya Allah, kenapa anakku bisa bicara seperti ini. Aku benar-benar sibuk dengan dunia ku dan pekerjaan ku sendiri tanpa memikirkan buah hatiku. Padahal aku sudah berjanji untuk lebih memprioritaskan putraku dibandingkan yang lainnya.
"Iya sayang, papa minta maaf ya!"
"Huum. Tapi...jadi kan besok ke kampung Abah?",tanya Nabil.
"Insyaallah iya sayang. Makanya...papa ingin buru-buru menyelesaikan pekerjaan papa, biar kita bisa pulang ke rumah Abah di kampung. Jadi papa ngga terganggu sama pekerjaan papa di kantor."
"Nanti Nabil ikut papa ke kantor ya Pa!"
Aku berpikir sebentar. Tapi ngga ada salahnya juga, toh ada teh Ani yang akan menjaga Nabil nanti.
"Boleh sayang! Nanti Nabil di temani amih ya. Tapi Nabil ngga boleh nakal ya."
"Siap papa!",kata Nabil semangat.
"Udah azan subuh daru tadi, solat dulu yuk!",ajakku.
"Mandi juga papa! Kan mau ikut papa ke kantor!",sahut Nabil.
Aku menghela nafas panjang. Ya, tapi kan berangkat ke kantor nya mah jam delapan Nabil. Ini masih jam lima pagi???
__ADS_1
"Ayok pa, mandi dulu!",ajak Nabil.
"Iya ayok!", akhirnya aku pun mengalah. Mau tak mau aku pun ikut mandi. Barulah setelah itu, kami berdua solat subuh.
Sambil menunggu agak siang, aku mengambil mushaf.
Nabil pun ikut duduk di pangkuanku. Mendengarkan tiap kalimat suci yang ku lantunkan. Khayalan ku lagi-lagi kembali pada masa-masa awal pernikahan ku dengan Bia dulu.
Hal-hal sederhana seperti ini adalah rutinitas kami. Padahal saat itu aku hanyalah seorang tukang bangunan. Ralat! Kuli bangunan tepatnya. Tapi Bia memperlakukan ku amat sangat baik.
Ya Allah, sampai kapan rasa bersalah ku memudar. Sampai kapan perasaan ini berakhir. Bia sudah bahagia dengan kehidupannya sekarang. Sedang aku masih saja berkutat dengan perasaan bersalah ku.
"Kok papa nangis?",tanya Nabil.
"Hah? Ngga. Tadi papa nguap sayang! Hoamm....tuh kan, nguap!"
Nabil mengangguk percaya. Bagaimana bisa aku ceritakan pada nabil jika aku masih ingat tentang mantan istri ku.
"Papa masih ngantuk ya? Jangan kerja Mulu ya papa!",kata Nabil mengusap rahangku.
Ya Allah Bil, papa mu ini bukan kerja. Papa justru malah ngurusin urusan hati papa Nak. Maafin papa sayang! Entah berapa ratus kata maaf yang terucap dari mulut ku.
"Iya sayang!",aku mendekap tubuh kecilnya itu.
"Ke dapur yuk, bikin minuman anget. Habis itu duduk di bangku taman samping."
"Ayok!",ajak Nabil semangat. Aku dan Nabil pun ke dapur untuk membuat minuman. Aku membuat teh sedang Nabil susu putih hangat.
"Nenek sama amih Mila mana pa?",tanya Nabil.
"Masih bobo kayaknya." Nabil pun mengangguk.
Teh panas mengepul dengan mug yang cukup besar. Sedang susu Nabil dengan dot corongnya.
"Nabil jalan aja papa. Kan papa susah bawa gelasnya. Teh nya panas banget kan pa!"
"Iya, tapi Nabil juga hati-hati bawa susunya. Takut kececer nanti bikin Nabil kepleset."
"Iya papa!", jawab Nabil sambil berjalan pelan menuju ke teras samping.
Sudah jam enam pagi, biasnya sebentar lagi teh Ani datang. Teh Ani langsung menghampiri ku dan Nabil yang sedang berada di teras samping.
"Assalamualaikum Pak!"
"Walaikumsalam teh!",kataku. Teh Ani nampak celingukan.
"Neangen saha teh?",tanyaku. (Mencari siapa?)
"Gening sepi ya pak. Ibu sama teh Mila, kamana?",tanya teh Ani yang terlihat bingung.
"Masih pada di kamar. Semalaman pada maraton nonton drakor",kataku.
__ADS_1
"Astaghfirullah! Malam-malam maraton pak?",tanya teh Ani terkejut.
Aku mengernyitkan alisku yang melihat wajah teh Ani sedikit terkejut.
"Kenapa teh?"
"Lari maraton malam-malam pak? Atuh kasian pak!",kata nya lagi. Oh, aku paham. Dia pikir lari maraton rupanya.
"Bukan teteh, tapi mak sama teh Mila nonton pilem sampe pagi. Dari episode awal sampe akhir. Kayanya juga belom kelar nonton nya!"
"Oh ya Allah. Teteh pikir mah lari maraton. Ya udah atuh kalo gitu mah. Teteh siapin sarapan buat Nabil dulu ya pak. Apa buat pak Alby sekalian?"
"Boleh deh teh. Makasih ya!"
"Iya pak. Permisi!",ujar teh Ani.
Aku dan Nabil kembali bermain bersama dengan Nabil. Sekitar jam tujuh, teh Ani memanggil Nabil untuk sarapan. Ternyata teh Mila sudah membereskan meja makan.
"Masih ngantuk teh?", ledekku. Teh Mila tersipu di tanya seperti itu.
"Maaf ya jang. Drakor nya seru, sayang aja gitu di lewatin!",kata teh Mila.
"Nanti malam lagi?"
Teh Mila tersenyum malu.
"Lagian tahu dari mana sih pilem begitu? Mana ngajakin Mak lagi nonton nya!",kataku sambil mengambil nasi.
"Dari art komplek atuh jang. Kan banyak tuh yang pada kepopers!"
Aku menaikkan sudut bibir ku, tersenyum dengan istilah yang teh Mila gunakan. Sesuka nya Bae!
"Iya, tapi juga jangan berlebihan nonton nya. Saatnya tidur mah tidur atuh teh!"
"Heheh iya Jang!",sahut teh Mila. Dulu, teh Ani sempat heran dengan kedekatan antara aku dan teh Mila yang tak seperti antara majikan dan art. Lebih terlihat seperti saudara. Sekarang, sudah terbiasa sepertinya.
"Teh Ani!"
"Iya pak?",sahutnya.
"Nanti, ikut ke kantor ya. Nabil pengen ikut ke kantor."
"Iya pak!",sahut teh Ani.
"Papa ganti baju dulu ya Bil." Nabil mengangguk.
Sekitar lima belas menit aku sudah rapi dengan setelan kantorku. Teh Ani juga sudah menyiapkan keperluan Nabil selama di kantor nanti.
"Ayok Sayang!",ajakku pada Nabil.
"Ayok pa!",kata nabil meminta gendong padaku. Teh Ani membawa stroler kecil yang bisa di lipat. Setelah semua beres, kami pun berangkat menuju ke kantor Nabil , bukan kantor ku.
__ADS_1
***""
Selamat berlibur....bagi yang libur 😆