Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 206


__ADS_3

Nur dan Azmi menghampiri Alby yang masih menatap pintu UGD. Terlihat wajahnya begitu mencemaskan kondisi Amara di dalam sana.


"Ya Allah, kenapa lama sekali?", monolog Alby tapi masih di dengar oleh orang sekitarnya.


"Sabar By!", kata Azmi.


"Huffft!", Alby mengusap wajahnya dengan kasar.


Nathan melihat kecemasan di wajah Alby. Lelaki itu tahu jika Alby memang sangat mencintai Amara. Tapi dia juga merasa kesal karena Alby tak mampu menjaga adik bungsunya.


Tak lama kemudian, pintu ruang UGD terbuka. Amara sudah memakai alat bantu pernapasan dan di ganti dengan pakaian pasien.


"Dok! dokter, bagaimana kondisi istri saya?"


Dokter itu menarik nafas dalam-dalam. Tapi dia harus profesional menyampaikan kondisi pasien meski hasilnya sangat mengecewakan.


"Maaf pak Alby, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi....!"


Please! Jangan seperti adegan sinetron yang bilang sudah berusaha tapi ternyata....


"Dokter! Bagaimana kondisi istri saya?????", ulang Alby dengan nada yang lebih tinggi.


"Sabar By!", Azmi mencoba membuat Alby tak menyela ucapan dokter.


''Istri anda secepatnya di operasi. Mohon maaf tapi saya harus menyampaikan kondisi yang tidak anda inginkan!"


"Katakan dok!!!", pinta Alby gemas. Nih dokter mancing emosi jiwa.


"Anda harus kehilangan calon jajin anda yang baru berusia dua Minggu dan yang paling berat, saya harus menyampaikan bahwa... rahim istri anda harus di angkat karena ada sel yang merusak jaringan di rahimnya. Untuk mencegah penyebaran ke organ lain, maka secepatnya harus di lakukan tindakan operasi!", jawab dokter.


"Apa???? Rahim Amara harus diangkat? Bagaimana bisa???!!", kaki Alby luruh.


Dia ingat betul semalam mereka setelah mereka melakukan hubungan suami istri, keduanya mengobrol untuk progam kehamilan. Tapi ini apa???


Justru rahim Amara harus secepatnya di angkat? Bagaimana bisa seorang Frans merenggut masa depan Amara????


"Dok, tidak ada cara lain? Bukankah itu hanya terkena tusukan pisau?", Nathan mencerca dokter.


"Tapi ada zat lain yang terkandung dalam pisau tersebut yang membuat jaringan di rahim nyonya Alby rusak. Terlalu riskan jika di biarkan akan menjalar ke organ lain!", jelas dokter.


"Astaghfirullah!", Nathan dan Mayang bergumam. Mereka sangat sedih mendengar berita tersebut. Amara pasti akan sangat kecewa.


"Lakukan tindakan yang terbaik dok!", kata Alby lirih.


"Baik, kami akan segera melakukan operasi!", kata dokter lalu beranjak dari ruangan tersebut.

__ADS_1


.


.


.


"Alhamdulillah, pak Febri sudah melewati masa kritisnya! Beliau sadar, Bu!", kata seorang dokter yang tadi mengecek kondisi Febri setelah Bia kembali ke kamar rawatnya.


"Benarkah dok? Alhamdulillah ya Allah! Boleh saya menemui suami saya?", tanya Bia menangis tapi juga tersenyum. Haru sekaligus bahagia.


"Mari, silahkan?!", kata dokter. Bia pun di ajak ke ruangan Febri.


Dimas dan Seto berada di ruangan rawat lain yang masih berada di lorong yang sama.


"Mas!", Bia mengusap punggung tangan Febri dan menciuminya sambil terus terisak.


Febri tak berbicara apapun hanya menyunggingkan senyum tipis di wajah pucatnya. Tangan Bia terulur mengusap kepala Febri.


"Makasih mas, kamu bertahan buat kami", kata Bia lirih. Hanya anggukan kecil dari Febri yang mengiyakan ucapan Bia.


"Biarkan tuan Febri istirahat nyonya, kita kembali ke ruangan anda!", kata perawat. Bia pun mengangguk.


"Kamu cepat sehat ya mas. Aku kangen. Si kembar juga pasti kangen ya...?"


Febri kembali mengangguk pelan.


Bia pun di bantu perawat keluar dari ruangan Febri. Tapi dia meminta perawat mengantarkannya ke tempat di mana Amara sedang di tangani.


Bia melihat Alby yang sedang memejamkan matanya bersandar di bangku tunggu. Di tangannya tergenggam sebuah botol kecil air mineral. Mungkin dia hanya membatalkan puasa dengan air putih itu.


"Sus, antar sampai di sini saja. Nanti biar teman saya yang mengantarkan saya ke kamar !", kata Bia. Perawat itu pun mengangguk.


Bia mendekati Alby yang sendirian, mungkin yang lain sedang solat magrib. Mereka bergantian. Bia sendiri sudah solat sebelum ia menemui Febri tadi.


"Aa!", panggil Bia. Alby yang begitu mengenal suara lembut itu pun membuka matanya.


"Neng Bia!", kata Alby yang langsung membenarkan posisi duduknya.


Terlihat mata Alby begitu sembab.


"Aku tahu, Aa sedih! Tapi bukan berarti Aa harus menyiksa diri seperti ini!", kata Bia.


Azmi dan yang lain tiba dimana Alby dan Bia sedang berbicara.


Mereka tak ikut serta dalam pembicaraan tersebut. Bukan ranah mereka untuk ikut campur.

__ADS_1


"Apa kamu masih dendam sama Aa, neng?", tanya Alby dengan mata berkaca-kaca.


Bia mengerjapkan matanya karena dia bingung kenapa Alby bertanya seperti itu. Bukankah sudah sering dia katakan jika dirinya sudah memaafkan Alby tapi mungkin tidak akan pernah melupakan apa yang pernah Alby lakukan padanya, menyakiti hatinya!


"Apa ini karma buat Aa neng, karena sudah menyakiti kamu?", tanya Alby dengan air mata yang luruh.


"Maksud kamu apa A?", tanya Bia. Alby mendongak menatap ke atas, dia malu sebagai lelaki yang terlihat sangat cengeng.


"Dulu, aku harus kehilangan anak kita karena kesalahan ku sudah menyakiti kamu. Dan sekarang aku harus kehilangan anak ku dengan Amara. Bahkan kami tidak akan bisa punya anak karena rahim Amara harus di angkat!"


Bia tertegun mendengar ucapan Alby.


"A....!", ucapan Bia tercekat.


"Apa kamu benar-benar masih menyimpan dendam pada Aa neng???", tanya Alby di sela isaknya. Bia menggeleng lemah, ia pun ikut menitikkan air matanya.


"Ngga, aku ngga dendam sama sekali A. Aku sudah memaafkan mu!", kata Bia. Nur memberikan tisu pada Bia. Bia pun menerimanya.


"Tapi kenapa tuhan mengambilnya dari ku? Dari rahim kamu, dari rahim Amara!!! Sebegitu besarnya dosaku menyakiti kalian? Silvy yang sama sekali tak pernah aku cinta justru memberikan Nabil untuk ku!"


Alby kembali terduduk di bangkunya. Azmi mengusap bahu Alby dengan pelan.


Perlahan Bia mendekati Alby dengan kursi rodanya.


"Jangan bicara seperti itu A. Allah maha tahu seperti apa yang terbaik untuk umatnya!", kata Bia di depan Alby. Alby memalingkan wajahnya. Dia tak bermaksud menyalahkan Bia, tidak sama sekali!


"Sekarang, kamu hanya perlu bersabar dan banyak berdoa untuk keselamatan Amara. Bukan malah menyalahkan yang kuasa!", nasehat Bia.


"Aku sudah memaafkan mu, meski kamu ngga minta A. Jadi, aku harap kamu jangan berpikir jika aku menaruh dendam sama Aa!", kata Bia.


Terlihat jakun Alby naik turun mungkin karena terlampau emosi.


"Jika memang Allah mengambilnya dari kalian, pasti Dia sudah menyiapkan yang terbaik untuk kalian."


Alby menatap dalam mata lentik mantan istrinya itu.


Bagaimana reaksi Nathan sebagai seorang kakak ipar yang melihat suami dari adiknya terlihat intens berbicara dengan sang mantan istri????


Wkwk belibet amat nyebutin nya ya 😄😄😄


****


Ada yang nunggu mamak nongol ga????😄😄😄🤣🤣 pede sekali


Insyaallah nanti 2 bab ye...

__ADS_1


Maruk banget eyke di Noveltoon ngebuka lapak 3 judul on going, eh ....di aplikasi lain juga iya wkwkwkwkwk 🤭🤭


betewe.... terimakasih 🙏🙏🙏


__ADS_2