Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 53


__ADS_3

Alby


Hari ini aku membawa mobil sendiri. Azmi sudah lebih dulu sampai di kantor. Dia mengirimkan jadwal pekerjaan ku dari pagi sampai nanti sore.


Sesampainya di kantor, sambutan seperti biasa di lakukan oleh para karyawan HS grup.


"Selamat pagi pak Alby!",sapa seorang karyawati.


"Pagi!",jawabku singkat. Tiba-tiba saja ada seseorang yang berjalan di samping ku. Dia mensejajarkan langkah kakinya dengan ku. Terpaksa aku menoleh padanya. Dia menyunggingkan senyuman lebarnya.


"Sha???!",aku menghentikan langkahku. Marsha tertawa lebar melihat ku yang terkejut.


"Kapan Lo pulang hah?",aku cukup terkejut dengan kehadiran Marsha yang datang tiba-tiba karena sejak menikah dia tinggal di kampung halamannya, Bangka.


"hahahaha biasa aja kali pak bos! Dateng kemarin sih. Ternyata jadi IRT sekaligus pejuang LDR ga enak Mas. Makanya aku ikut aja Jo ke sini!", kata Marsha. Aku dan Marsha melangkahkan menuju ke lift.


Pemandangan seperti ini sudah biasa bagi karyawan lama. Aku dan Marsha memang terkenal dekat, sebagai sahabat. Meski saat itu banyak yang berpikir kami ada apa-apa. Dan ya ... kenyataannya memang seperti itu. Marsha memiliki perasaan lebih dari sekedar sahabat.


"Lo udah bilang sama Jo, mau ke sini? Udah jadi istri, ke manapun harus ijin!",kataku.


"Sebagai istri Solehah, ya jelas udah lah Bos!", sahut Marsha.


"Lo mah bukan Soleha tapi solehot!",kataku. Marsha kembali tertawa lepas.


Aku dan Marsha sudah sampai di lantai ruangan ku. Di depan ruangan ku ada Azmi yang sudah sibuk dengan pekerjaannya. Dia sendiri punya ruangan, tapi lebih sering duduk di depan ruangan ku.


Azmi menoleh ke arah ku dan Marsha. Dia tersenyum sopan, mungkin karena ada Marsha.


"Selamat pagi bos, mba Marsha!", sapa Azmi.


"Selamat pagi mas Azmi!",sapa Marsha.


"Oh ya bisa jadwal pertemuan dengan PT Sentra Timur di mulai jam sepuluh dan juga....!", Azmi menggantung kalimatnya.


"Juga apa Mi?",tanyaku penasaran. Marsha melirik ku sebentar.


"Mungkin ada rahasia, aku ke kamar mandi dulu kalo gitu!",kata Marsha. Marsha pun meninggalkan kami berdua.


"Apa Mi?",tanyaku lagi pada Azmi.


"Sama Rhd.co , Amara!",jawab Azmi. Marsha yang belum terlalu jauh, cukup mendengar ucapan Azmi yang memang bukan bisik-bisik. Mungkin bukan rahasia, tapi Marsha saja yang menanggapi nya berbeda.


"Eum, gitu. Habis pertemuan itu, kira-kira gue ada kerjaan apa lagi Mi?"


"Banyak! Tuh, berkas di meja. Banyak proyek yang perlu di audit."


"Kan udah ada bagiannya sendiri Mi! Kesan nya gue ga percaya amat sama mereka!",kataku.


"Bukan masalah percaya ga percaya Bos, ini hanya sekedar menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Baik boleh, bodoh jangan! Bagaimanapun juga, mereka kan manusia kaya kita yang bisa saja melakukan kesalahan."


"Ya...ya udah gue nurut apa kata Lo!",kataku.


"Tuh, mba Marsha mau main gitu ke sini?"


"Heum!"


Azmi mengangguk.


"Tapi jadwal Lo sibuk hari ini bos. Kasian dia di cuekin ntar!'', kata Azmi.


"Iya sih, tapi gimana dong."


''Ngga usah bingung! Gue balik aja mas. Gue aja yang gak tahu waktu, main kagak bilang-bilang padahal udah pengalaman kalo Lo pasti sibuk!",kata Marsha di belakang ku. Azmi mengangguk tak enak.


"Yah, gimana dong Sha?", tanyaku.


"Udah gampang, aku main aja ke rumah ya. Sama Nabil sama Mak juga. Aku bete di apartemen mulu. Jo kan pulang nya juga malam."


"Oh, ya udah kalo gitu!"


"Heum, ya siapa tahu aja kalo aku dekat sama anak kecil, Tuhan secepatnya ngasih anak juga ke gue heheheh!"


"Aamiin....!",kataku dan Azmi bersama-sama.


Setelah itu, Marsha pun meninggalkan kami berdua. Azmi merapikan kembali berkasnya.


''Kemana Lo?",tanyaku.


"Dhuha!",sahutnya singkat.


"Ikut!",kataku sambil masuk ke dalam ruangan ku untuk mengganti sepatu ku dengan sendal.


Kami berdua melaksanakan sholat sunah dua raka'at di mushalla lantai kami. Sekitar tiga puluh menit, kami selesai dan bersiap dengan pekerjaan.


Jam setengah sepuluh, kami berdua turun menuju ke ruang pertemuan.


Ternyata, di sana perwakilan dari PT Sentra Timur sudah lebih dulu hadir. Tahu kan siapa yang ada di sana? Ya, Bianca! Gadis genit yang saat itu pernah magang di sini.


"Selamat pagi!'',sapa ku dan Azmi pada Bianca dan juga rekannya.


"Selamat pagi!",sambut Bianca riang. Orang ku pun keluar dari ruangan itu karena aku dan Azmi sudah berada di sana.


"Apa kabar mas Alby?",tanya Bianca.


"Alhamdulillah, baik!", jawabku.


"Nona Bian, saya... permisi keluar dulu !",kata rekan Bianca. Bianca sendiri hanya mengangguk.

__ADS_1


Aku dan Azmi duduk bersebelahan. Azmi menyiapkan materi yang nantinya akan kami gunakan untuk rapat pertemuan itu.


"Pak Azmi, boleh saya bicara berdua dengan mas Alby?",tanya Bianca. Azmi mendongak sebentar lalu menoleh padaku.


"Tidak!", aku yang menjawabnya.


"Mas Alby masih seperti dulu ya? Aku bukan bawahan apalagi anak magang lagi lho mas Alby!",kata Bianca.


"Justru karena itu, alangkah baiknya anda bersikap profesional Nona Bianca!"


''Mas Alby bisa ramah sama kak Naura, tapi kenapa sama aku jutek?", tanya nya cemberut.


Azmi berdehem.


"Karena Naura bersikap sopan, tidak seperti mu!"


"Memang aku kurang sopan yang seperti apa?",tanya Bianca.


"Kamu masih tanya hal itu?",aku mengernyitkan alis ku.


"Memang apa salahnya kalo aku berusaha mendekati kamu mas Alby?"


Azmi memutar bola matanya malas meski ia sibuk dengan berkasnya.


"Salah!",jawabku singkat.


"Kenapa?", tanyanya dengan penuh penasaran.


"Karena..."


Tok.... Tok...


Pintu ruangan terbuka. Muncullah sosok yang beberapa hari ini menguasai pikiran ku.


"Selamat pagi!",sapa Amara dan sekretaris nya.


"Selamat pagi?!",sahut kami semua. Azmi melirik bos nya yang nampaknya masih memandangi wajah cantik Amara yang berbalut jilbab warna navy. Sesuai dengan pakaian yang di kenakannya.


Amara menyalami Bianca, Bianca pun menyambut uluran tangan Amara sambil menunjukkan senyum manisnya.


"Apakah saya terlambat?",tanya Amara.


"Tidak!", jawab ku singkat. Amara tak mau menatap mataku sama sekali seolah kami hanya mengenal karena urusan bisnis semata.


Amara mendudukkan dirinya di sisi yang berbeda dengan Bianca. Sedikit menjauh dari ku.


Mataku tak beralih dari sosok gadis yang sudah melihat aset pribadi ku tanpa ada ikatan apa pun.


"Mas Alby!", panggil Bianca lagi. Aku hanya menoleh padanya.


"Mas Alby belum menjawab pertanyaan ku! Atas dasar apa mas Alby melarang ku mendekati mas Alby?"


"Karena aku sudah punya kekasih!", jawabku. Amara yang tadi sedang memeriksa berkas nya pun menghentikan aktivitasnya.


"Benarkah? Siapa?", cerca Bianca.


"Bukan urusan anda!",jawabku lagi. Aku menunggu reaksi Amara. Tapi sepertinya dia biasa saja? Benarkah dia sudah menghapus perasaannya pada ku?


"Ehemmm, maaf! Bisa kita mulai meeting kita? Setelah ini saya masih ada urusan lain!",kata Amara. Bianca yang memang masih muda, hanya mendengus kesal.


Dia masih terlalu labil untuk menggantikan pekerjaan papanya. Sikapnya masih ke kanak-kanakan.


Meeting tentang kerja sama kami berjalan cukup lancar. Selama pembahasan urusan pekerjaan, kami tak membahas urusan pribadi lagi seperti tadi.


Hasil meeting tadi juga sudah memutuskan bahwa tiga perusahaan kami ini akan melakukan kerja sama pada proyek yang ada di kota B.


"Karena meeting sudah selesai, saya permisi! Selamat siang!",ujar Amara. Tapi belum sempat Amara beranjak, aku menghentikannya dengan menarik tangannya.


Sontak semua yang ada di sana menatap ku heran. Terlebih Bianca. Matanya fokus menatap ku yang sedang mencekal pergelangan tangan Amara.


"Kita harus bicara!",kataku sambil menyeret Amara menuju ke ruang sebelah.


"Alby!",sentak Amara geram.


"Mas Alby!", panggil Bianca. Tapi aku tak memperdulikan Bianca lagi apalagi yang lain. Yang ku tahu, Azmi menggiring mereka semua keluar dari ruangan rapat. Sedang aku dan Amara di ruangan sebelahnya.


Saat ini aku dan Amara berada di ruangan yang lebih kecil. Hanya berdua!


Amara tak mau menatap ku sama sekali bahkan dia memalingkan wajahnya ke dinding yang bergambar presiden.


"Tatap aku Amara!", kataku. Dia yang tadi berdiri sambil melipat tangannya di atas dada, ku dorong sampai ke pintu.


Aku menghimpit nya dan ku kunci dengan kedua tangan ku di masing-masing sisi kepalanya.


"Apalagi sih?",tanya Amara datar.


"Aku sudah bertemu dengan kak Daniel!",kataku. Aku melihat Amara meneguk salivanya. Bibirnya seperti akan mengucapkan sesuatu tapi sepertinya tidak bisa.


"Aku akan bertanggung jawab atas apa yang seharusnya ku pertanggungjawabkan!",kataku di depan wajahnya. Karena dia masih menoleh ke arah lain, aku menarik dagunya sedikit agar ia mau menatap ku.


Pandangan mata kamu bertemu. Bulu mata nya yang lentik, alisnya yang rapi meski tak memakai pensil alis. Bibirnya yang mungil berwarna peach. Sekilas....dia seperti Bia, yang memang tak suka memakai riasan.


Astaghfirullah! Kenapa aku masih saja mengingat mantan istri ku itu. Sekarang aku yang memalingkan muka ku.


"Apa yang kak Daniel katakan?",tanya Amara. Posisi kami masih nampak intim jika di lihat oleh orang lain. Apa aku dan Amara terlalu nyaman dengan posisi ini?


Aku bahkan bisa merasakan sapuan nafas nya di wajahku. Tinggi badan kami memang tak terlalu jauh, wajar jika aku sejajar dengan nya.

__ADS_1


"Dia akan membantu ku membujuk mu agar mau menerima pertanggungjawaban ku!"


Amara tersenyum miris.


"Kamu selalu bilang tanggung jawab, memang apa bentuk tanggung jawab yang kamu tawarkan padaku? Menikahi ku? Begitu? Bahkan Frans saja bisa melakukannya!",Amara mendorong ku. Aku pun mundur selangkah tapi posisi ku masih sama. Berada di hadapannya dengan tangan ku yang mengunci sisi kepalanya.


"Aku yang akan menikah dengan mu!",kataku dengan penuh percaya diri. Lagi-lagi Amara hanya tersenyum sinis.


"Semudah itu?",tanyanya. Dia menurunkan tangan ku dari kedua sisi kepalanya. Bahkan aku bisa merasakan sentuhan telapak tangan nya yang lembut. Dia menurunkan nya perlahan. Tapi mata kami masih saling menatap.


"Kamu pikir aku mau menikah dengan lelaki yang sama sekali tak memiliki perasaan apa pun dengan ku?"


Aku tak bisa menjawab pertanyaan Amara. Mungkin benar! Bukan kah aku tidak mencintai nya? Lalu, pernikahan macam apa yang ku tawarkan pada seorang Amara?


"Kalau aku hanya sekedar ingin menikah, Frans pun bisa melakukannya!",kata Amara.


"Jangan terus membanding-bandingkan ku dengan Frans Amara!",kataku pelan tapi ya... geregetan juga!


Amara menoleh ke arah lain. Tapi aku kembali mendorongnya dan menghimpitnya ke pintu.


"Mau kamu apa sih By? Hah!", tanya nya tepat di depan mataku.


"Kamu kan yang minta aku menjauh sebelumnya? Sudah ku lakukan. Apa lagi?", nafasnya memburu.


Entah setan dari mana, aku yang tadi menahan tangannya kini meraih tengkuknya. Aku menci** bibirnya dengan penuh kesadaran. Amara tak memberi balasan tapi dia juga tak menolak ku.


Karena tak ada balasan dari Amara, aku pun menggigitnya. Spontan ia membuka mulutnya. Aku tak tahu setan apa yang sedang menguasai ku. Jika tadi Mara tak membalas nya, kali ini ia mulai bereaksi. Bahkan tangannya kini berada di pinggangku. Kami saling menyesap satu sama lain bergantian. Entah berapa lama kegiatan itu berlangsung.


Suara dering ponsel ku membuat ku tersadar dengan apa yang terjadi barusan. Amara melepaskan tangan nya dari pinggang ku. Kening kami saling beradu.


"Maaf!", ujarku lirih. Amara tak menyahut apa pun. Aku mengusap bibir nya yang sudah memerah karena ulahku. Bahkan cenderung membengkak.


"Maaf Amara, tapi... kali ini aku sadar dengan apa yang ku lakukan. Bukan karena sedang terpengaruh obat!", kataku di depan bibirnya. Amara masih memejamkan matanya. Ponselku masih berdering. Perlahan aku menjauh kan wajah ku dari Amara.


Azmi yang dari tadi menghubungi ku.


[Hallo...]


[Lo ngapain sih? Amara ngga lo apa-apain kan?]


Cerocos Azmi di seberang sana. Aku menjauh kan ponsel ku dari telinga.


[Ngga lah. Gila aja! Udah, bentar lagi gue keluar!]


Aku memasukan kembali ponsel ku pada saku kemejaku.


Amara menatap ku intens.


"Sudah puas menyalurkan hasrat mu kan?",tanya Amara. Dia mendorong ku sedikit kuat.


Dia akan membuka pintu ruangan ini. Tapi aku menarik lagi tangannya.


"Apa maksud mu?",tanyaku heran.


''Ya, anggap saja aku pelampiasan mu! Karena hanya orang-orang seperti kalian yang bisa melakukannya tanpa rasa cinta!", Amara menuding dadaku dengan jarinya.


Aku tak percaya jika dia bisa berkata seperti itu.


"Mara!"


"Apa? Mau mengelak apa lagi? Sudah puas kan kamu sekarang, By? Kapan lagi kamu akan melakukannya hah? Bahkan Pela*** saja lebih bermartabat karena dia di bayar! Tidak seperti aku yang hanya jadi pemuas mu sesaat!", dia menuding wajahku lagi.


"Amara!!", suara ku sudah meninggi.


"Apa?", tiba-tiba air mata Amara meleleh begitu saja.


"Aku...aku....!", tiba-tiba saja lidah ku merasa kelu.


"Kamu masih mau menikahi ku karena kesalahan tak sengaja itu? Meski di hati kamu masih ada nama Bia? Bagaimana bisa kamu akan kembali mempermainkan pernikahan? Belum cukup ibu nya Nabil jadi korban pernikahan terpaksa mu? Apa aku akan jadi korban mu berikut nya, Alby???!", Mara bertanya begitu tenang tapi juga begitu menusuk dalam dadaku.


Aku fokus menatap bibir nya yang bengkak karena ulah ku tadi. Ya, dia tak salah! Aku memang pria bejat!


Perlahan dia membuka pintu ruangan kecil tadi. Tapi belum sempat dia keluar, aku menarik nya dalam pelukanku.


Detik berikutnya, dia menangis dalam pelukan ku.


"Maaf! Maafkan aku Amara, maaf!",kataku sambil mengusap punggungnya. Tiba-tiba saja pintu terbuka, sosok Azmi yang masuk ke dalam ruangan rapat.


Dia berdehem cukup nyaring.


"Nona Nada sudah menunggu nona Amara di depan!", kata Azmi.


Biar lah di kata apri luknut, yang penting sahabat sekaligus bos nya itu tak sampai melakukan hal yang iya-iya.


Aku melepaskan pelukan ku dari Amara. Ku hapus jejak air matanya.


"Kalo Frans bisa menemui orang tuamu, aku pun akan melakukan hal yang sama!", kataku pelan. Dia mendongak menatap ku.


"Aku antar ke Nada!",kataku sambil menggandeng tangan Amara. Menuntun nya hingga keluar ruangan.


Azmi hanya menarik nafas dalam-dalam sambil menggeleng pelan.


Azmi, Alby bukan Lo! Jadi jangan bandingin dia sama Lo! Batin Azmi yang mengikuti bos nya dari belakang.


*****"


Ada yang nunggu ga sih?? 🤔🤔🤔🤔

__ADS_1


Please....jangan menghakimi Alby dulu 🙏🙏🙏🙏✋✋✋✋


Makasih ✌️✌️ ✌️🙏


__ADS_2