Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 119


__ADS_3

Flashback


Squad gendeng sedang berkumpul di rumah mas kapten seperti biasanya. Mereka memang sering menyempatkan waktu untuk sekedar berkumpul. Apalagi besoknya, mereka kebetulan sama-sama off!


(eyke yang bikin mereka off bareng kok ✌️🤭)


"Kenapa koe Dim?",tanya Febri.


"Feeling ku ngga enak weh Feb! Kayanya... rencana kita ngga sepenuhnya sukses!",jawab Dimas.


"Ngga sukses gimana? Lab nya udah digerebek, udah ditutup paksa. Frans juga udah di deportasi kan?",tanya Seto.


"Iya sih. Tapi kaya nya ga gampang deh. Dia kan manusia beruang. Ga bisa pake cara legal, dia masih bisa menyusup ke negara kita. Duit...gitu lho!",sahut Dimas.


"Iya sih. Tapi sejauh ini aman kan?", tanya Febri.


"Heum, amara ga bilang-bilang sih. Cuma ya... sempat berantem aja sama si Alby!",ujar Dimas.


"Owh, udah move on beneran tuh si Alby dari Bia. Syukurlah!", celetuk Seto.


"Oh iya, gue ada kabar dari temen gue yang waktu itu ngecek darah papinya Amara. Dia bilang, dia udah punya penemuan untuk menangkal virus buatan Frans",kata Sakti.


"Alhamdulillah, kabar bagus tuh. Seenggaknya kalo Frans macam-macam sama papinya Amara atau siapa pun itu, Lo udah punya obatnya!",kata Febri.


"Bukan obat sih sebenernya, semacam cairan gitu lah. Ga tahu, profesor Surya yang lebih paham."


"Semoga sih, ngga ada korban lain lagi!", lanjut Sakti.

__ADS_1


Mereka masih melanjutkan obrolan. Di perjalanan pulang, Dimas menerima chat dari Amara. Dia mengirim ss percakapannya dengan Frans. Kekhawatirannya semakin beralasan sekarang.


Mungkin besok pagi dia akan menemui Amara. Dimas menghentikan laju roda duanya di traffic light. Membaca ulang chat yang Amara kirim lalu membalasnya.


Karena lampu hijau sudah menyala, ponselnya ia masukkan kembali ke saku jaket denimnya. Dari spion, Dimas merasa ada yang mengikutinya. Ada beberapa kendaraan roda dua di belakangnya yang sepertinya memang berniat mengikutinya.


Instingnya sebagai prajurit, membuat ia berpikir cepat. Dia bisa saja melawan andai kata memang diri nya akan diserang. Masalahnya, dia melawan dengan tangan kosong sendirian pula. Selain kalah jumlahnya, tentu dia akan merasa seolah bunuh diri bukan?


Dimas melajukan kendaraannya semakin cepat. Awalnya dia ingin langsung pulang ke kosannya. Tapi melihat situasi tak aman, dia terpikir untuk berbelok ke kantor dimana dia dinas.


Dimas langsung masuk ke area parkir kantor K**** yang terlihat banyak rekan seprofesinya sedang piket berjaga di depan. Lelaki gagah itu berusaha santai seolah sedang tidak di kejar.


Para pengikutnya pun sepertinya menghentikan pengejaran terhadap Dimas. Setelah sampai di meja piket, Dimas mengirim pesan pada dua sahabatnya bahwa dirinya baru saja di ikuti oleh sekelompok orang yang menggunakan kendaraan roda dua. Dimas hanya sekedar mengingatkan teman-temannya untuk sekedar lebih berhati-hati.


Setelah di rasa aman, Dimas pun kembali ke kosannya. Dia memastikan bahwa orang-orang yang mengikutinya sudah tak ada di sekitarnya lagi.


Flashback off


"Baby, kenapa kamu tak berusaha untuk mencintai ku lagi?",tanya Frans sambil mengusap pipi Amara dengan telunjuknya. Amara melengos.


Gadis itu mendorong tubuh tegap itu agar menjauh dari tubuhnya. Frans pun membiarkannya.


"Aku benci sama kamu Frans! Tolong jangan seperti ini!",kata Amara lantang.


Frans berjalan menuju sofa dengan santai. Dia duduk sambil mengangkat sebelah kakinya lalu kedua tangannya di rentangkan di bahu sofa.


"Apa nyawa para bodyguard mu tak ada harganya?",Frans memantik korek api lalu menyalakan rokoknya.

__ADS_1


Asap mengepul di ruang berAC itu. Tapi sepertinya Frans tak memikirkan hal itu.


"Kenapa kamu menyakiti mereka?",tanya Amara dengan nada suaranya melunak.


"Tidak akan baby, tidak akan! Selama kamu bersikap baik dan menurut padaku, aku pastikan mereka akan baik-baik saja! Termasuk... sahabat baik mu, Dimas!"


"Kamu jangan macam-macam Frans!",Amara menarik kerah kemeja Frans. Frans menurunkan dengan pelan tangan Amara yang ada di kerahnya.


"Aku tidak macam-macam sayang!", Frans mengecup punggung tangan Amara. Tapi Amara langsung menepisnya.


"Sepertinya seru ya, kalau sahabat mu gagal menikah karena...aku akan menyingkirkannya. Bagaimana? Seru kan?",tanya Frans dengan mata yang berkilat penuh Amarah.


"Jaga bicara mu Frans!",nafas Amara memburu. Dadanya naik turun menahan emosi yang sudah sampai di ubun-ubun karena menghadapi pria psyco ini.


Frans bertepuk tangan sambil tersenyum. Lalu dia berdiri mengitari Amara.


"Siapapun yang mencoba menghalangi ku untuk bersama mu, dia akan merasakan akibatnya!",bisik Frans di belakang telinga Amara.


Amara terkejut saat tiba-tiba tangan kekar tunangannya sudah melingkar di pinggangnya.


"Putuskan secepatnya! Atau....para bodyguard mu yang tidak bersalah dan...ya mungkin saja dia adalah tulang punggung keluarganya, siap meregang nyawa!", bisiknya lagi.


Saat Amara akan menjawab, Frans membungkam mulutnya dengan telapak tangannya.


"Dimas, Febri, Seto dan dokter Sakti? Siapa diantara mereka yang paling tidak berharga buat kamu baby?",tanya Frans sambil menyeringai menyeramkan.


"Aku belum tahu di mana orang tuamu, tapi setidaknya...aku masih punya teman-teman mu baby???!"

__ADS_1


__ADS_2