Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 154


__ADS_3

Alby hendak memasuki gerbang bersamaan dengan mobil Manh Sapto yang akan keluar. Hari ini Alby pulang sedikit terlalu karena pekerjaannya begitu banyak. Dia pun buru-buru ingin segera sampai rumah untuk mengatakan pada Mak nya jika Amara akan berkunjung. Tapi sepertinya dia kalah start, Mak dan Nabil sudah ada di dalam mobil mang Sapto.


"Kalian mau ke mana?", tanya Alby pada anak dan Mak nya.


"Kan Mak teh tos wa maneh Jang. Mak sama Nabil mau ke rumah makan nya Bia. Mak kangen sama masakan Bia", jawab Mak.


"Nabil juga pengen main sama Dede kembar!", Nabil gak mau kalah.


"Oh ya? Kapan Mak?", Alby merogoh sakunya. Membaca chat dari Mak nya itu yang sudah di kirim sejak setengah lima sore.


"Harus sekarang banget ya Mak?", tanya Alby pelan.


"Mak sudah lama pengen ke sana. Tapi kamu sibuk terus, jadi ngajak Sapto aja."


Alby memijat pelipisnya sedikit. Dia bingung! Di satu sisi ia sudah berjanji jika kekasihnya akan datang berkunjung, tapi justru Mak dan Nabil malah pergi.


"Ya udah Jang, berangkat dulu ya. Assalamualaikum!", pamit Mak dan Nabil.


"Walaikumsalam."


Alby menyugar rambutnya. Ia menyesal tak membaca pesan Mak sore tadi karena terlalu sibuk dengan pekerjaan.


Bagaimana perasaan Amara???


Tapi alangkah baiknya memang Alby berterus terang pada kekasihnya. Ia pun mengirimkan chat pada Amara. Apakah ia akan tetap berkunjung atau mengundurnya lain waktu.


.


.


Amara


Aku sengaja pulang lebih awal. Niatnya, aku ingin masak masakan sederhana yang pastinya akan di sukai calon mertua dan calon anak sambungku.

__ADS_1


Tak banyak memang, tapi cukup lah untuk makan malam bersama. Sekitar pukul setengah tujuh, aku sudah selesai solat magrib dan sudah menyiapkan masakan ku dengan wadah untuk memudahkan di bawa.


Setelah bersiap-siap, ternyata ada pesan dari Alby. Senyum ku memudar saat membaca barisan kata dari Alby.


Ternyata, calon mertua dan anak sambungnya justru pergi ke rumah makan Bia. Alasannya? Ibu mertua kangen masakan Bia, sedang Nabil ingin bermain dengan si kembar.


Ku pandangi hasil masakan ku tadi! Sia-sia!!!


Tapi aku juga tak sepenuhnya menyalahkan Alby. Dia juga bilang Mak nya sudah minta ijin padanya, hanya saja Alby terlalu sibuk hingga mengabaikan chat di ponselnya.


Aku bingung! Apa aku menemui mereka di rumah makan Bia? Setelah ku pikirkan matang-matang, akhirnya aku memutuskan untuk ke sana saja lalu menghubungi Alby.


Alby meminta ku untuk menunggunya sebentar, kami akan berangkat bersama.


Setelah tiga puluh menit berlalu, Alby sudah sampai di apartemen ku.


"Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam!", sahutku sambil memasang senyum.


"Neng masak?", tanya Alby pada ku. Aku mengangguk.


"Heum, niatnya aku ingin membawa makanan itu buat Mak sama Nabil. Tapi... sepertinya mereka lebih tertarik masakan Bia."


Alby merengkuh bahuku.


"Jangan berpikir seperti itu, mereka bukan lebih memilih masakan Bia. Hanya saja, mereka tidak tahu kalo kamu mau ke sana dan membawakan mereka masakan mu. Aa yang salah, ngga bilang sama mereka dari awal. Udah gitu, Aa ngga baca chat dari Mak lagi."


Aku berusaha tersenyum.


"Ya udah, lain kali aja masak buat mereka!"


Aku pun bangkit, lalu menurunkan masakan ku dari wadah. Biarlah, nanti bisa ku berikan pada sekuriti di bawah.

__ADS_1


Alby mengikuti ku, lalu berdiri di samping ku.


"Mau di apakan makanan itu?", tanya nya. Aku menoleh padanya.


"Dari pada tidak kemakan, aku berikan saja pada sekuriti di bawah A. Sayang nanti mubadzir."


Alby meninggalkan meja makan begitu saja. Mungkin akan mengambil sesuatu. Benar dugaan ku, dia datang membawa botol mineral dan piring serta sendok.


"Aa mau apa?", tanya ku saat Alby justru duduk di bangku.


"Mau makanlah! Mana siniin, Aa lapar! Enak aja pak sekuriti yang masak masakan calon istri ku. Isiin!", kata Alby.


Bibirku terangkat lalu tersenyum tipis. Entah lah, mungkin Alby hanya sekedar menghibur ku atau memang dia benar-benar lapar.


Aku pun mengisi piringnya dengan nasi dan lauk yang ku masak. Dia tampak menikmati masakan ku. Melihat nya makan begitu lahap, membuat ku merasa senang. Ku pandangi wajah ganteng nya yang sama sekali tak membuat ku bosan.


Sampai aku sadari jika sendok berisi nasi sudah berada di depan mulutku.


"Aaaakkkk....buka mulut nya, makan sama-sama!", pinta Alby. Aku pun menerima suapan dari nya.


Ah, gini aja berasa romantis banget sih???


Alby mengelap sisa makanan di bibir ku dengan tisu. Tak lama kemudian, dia menyelesaikan makan malam nya.


"Alhamdulillah, Makasih sayang. Masakan mu enak!", puji Alby padaku. Aku cukup senang mendengar pujiannya. Meski aku tahu betul jika masakan ku rasanya standar. Berbeda dengan Bia yang memang sudah terbiasa masak.


"Sisanya jangan di buang. Simpan saja ya, besok di angetin di microwave. Kamu antar ke kantor, ngga keberatan kan?", Alby menyentuh rahang ku lembut.


"Huum, besok aku antarkan sekalian dengan menu yang lain." Alby pun mengangguk. Lalu ia pun bangkit ingin mencuci piring bekas makannya, tapi ku cegah.


"Aku aja yang cucu A!", kata ku merebut piring kotor itu. Alby pun menurutinya. Selang beberapa menit, kami pun berangkat menuju ke rumah makan Bia.


Aku harus siap mental, calon mertua ku memang sangat dekat dengan Bia. Jadi, alangkah baiknya aku memang membentengi diri dari rasa iri pada Bia.

__ADS_1


Sabar Amara.....


__ADS_2