
Azmi berhasil menghubungi warung Bia. Sebenarnya warung makan tersebut memang sudah di booking oleh orang lain lebih dulu. Tapi Azmi memaksa untuk berbibir dengan Bia.
Alhasil, Bia pun mengiyakannya tapi karena tidak ada tempat mau tak mau Bia menyiapkan di rumah pribadinya. Seperti yang sudah di prediksikan oleh Azmi sebelumnya bukan????
Azmi melaporkan pada bos nya. Dia mengatakan bahwa Bia menyetujuinya dan akan menyiapkan rumahnya untuk menjamu mereka semua. Hanya saja....Bia tak minta bayaran. Anggap saja jika dirinya sedang syukuran atas kesembuhan Febri dkk pun termasuk Amara.
"Lo bikin gue ngga enak tahu Mi!", kata Alby kesal.
"Ngga enak kenapa sih? Ya kalo Lo ga mau gratis, tinggal transfer ke Bia. Ngga usah bikin repot deh! Gue juga yakin, Lo pasti kangen masakan mantan istri Lo kan?", ledek Azmi.
Alby mencebikkan bibirnya. Dugaan Azmi memang tidak meleset. Serius hanya kangen masakan Bia aja? Ngga sama orangnya???
"Ngga usah nebak-nebak gitu!"
"Tapi kebanyakan tebakan gue bener kan?", ledek Azmi lagi.
"Heum!", sahut Alby ringan.
"Hehehe udah...kalian move on lah. Jangan kejebak masa lalu terus. Kalo memang masih saling mengingat, cukup dalam hati saja. Ngga perlu menampakkan perasaan itu. Ada hati yang harus kalian jaga juga!", nasehat Azmi.
Alby menoleh pada sahabatnya yang seolah serba tahu akan dirinya tersebut.
"Emang Lo tahu juga perasaan Bia ke gue?", tanya Alby pada Azmi.
"Tahu banget sih ngga! Tapi cukup terlihat saat dia nemuin Lo waktu Amara kritis. Dia pun sama terpuruknya melihat kondisi Lo. Matanya tidak bisa berbohong! Dia masih sangat peduli sama Lo. Tapi mungkin... dengan konteks yang berbeda atau ... sekedar menahan diri."
Ucapan Azmi cukup meresap di otak Alby. Jika dirinya memang masih sedikit menyimpan rasa itu , harusnya segera ia buang jauh-jauh dan ia penuhi hatinya dengan cinta Amara, istrinya saat ini bukan Bia yang hanya masa lalunya.
Alby menghubungi Amara agar mengajak Nabil serta Mak berbuka bersama di rumah Bia.
Awalnya Amara sedikit terkejut, tapi setelah Alby menjelaskan bahwa awalnya ingin makan di warung makan tapi ternyata sudah di booking lebih dulu oleh orang lain. Maka dari itu, Bia justru mengundang mereka untuk bukber di rumahnya.
Akhirnya, Amara pun paham dan tak lagi berpikir negatif.
Jika Alby sudah memberi tahu Amara, berbeda dengan Azmi. Dia tak langsung memberi tahu pada Nur perihal bukber di warung Bia. Kenapa? Karena ternyata Nur sudah menyiapkan masakan untuk berbuka puasa nanti. Tak ingin membuat Nur kecewa, Azmi perlahan membujuk Nur dengan caranya.
Kedua mantan duda sudah sama-sama bersiap pulang ke rumah masing-masing.
Jika Alby di sambut Amara dengan wajah tersenyum, beda dengan Azmi yang di jutekin oleh Nur. Kenapa??
"Aa minta maaf Nur! Ngga bermaksud buat kecewain kamu! Nanti masakan kamu bisa buat sahur, ya?", bujuk Azmi sambil mengusap lengan Nur.
Perempuan itu baru saja selesai memasak daging yang sengaja ia masak dari siang agar sampai buka nanti, dagingnya sudah empuk.
"Tahu gitu kan aku ngga masak atuh A! Udah capek begini, malah ngga di makan!", kata Nur merajuk.
"Iya, aa minta maaf sayang! Maaf!", Azmi kembali meminta maaf pada istrinya.
"Nanti bisa di hangatkan sebelum sahur. Oke?", Azmi masih berusaha membujuk istrinya.
Bahu Nur menurun, mau marah tapi sedang puasa. Di simpan dalam hati, takut jadi penyakit. Serba salah.....
__ADS_1
"Heum, iya...iya...!", sahut Nur pada akhirnya. Ia mengikat asal rambutnya hingga terlihat leher jenjangnya yang berkeringat.
Sebisa mungkin Azmi menahan diri. Jika dulu ia bisa menahannya karena tak memiliki yang halal, tapi sekarang???
Ada yang halal di depan matanya, tapi untuk sekarang ia harus bisa menahan diri.
"Aa mandi dulu ya?!"
"Heum!", sahut Nur. Setelah itu ia pun membereskan makanannya untuk di simpan.
"Kalian sabar ya, nanti juga kami makan kok!", kata Nur seolah berbicara dengan manusia. Azmi yang tadi lupa membawa handuk pun tersenyum mendengar istrinya berkata demikian.
Azmi bertekad, nanti saat berbuka puasa di rumah Bia dia akan makan sedikit. Dan dia akan memakan masakan istrinya setelah pulang dari sana.
Mungkin dengan begitu, Azmi bisa mengurangi sedikit kekecewaan istrinya. Tak lama kemudian Azmi selesai mandi, lalu mendirikan sholat ashar.
Sekitar pukul setengah lima, keduanya pun siap berangkat ke warung Bia. Meski nur tak marah-marah, tapi terlihat bahwa istrinya sedang ngambek ala Nur tentunya.
Tangan Azmi terulur mengusap kepala istrinya.
"Nanti Sabrina juga datang kok, kamu pasti kangen sama sahabat kamu itu kan?", tanya Azmi. Nur menoleh cepat pada suaminya.
"Ada Bina juga A?", tanya Nur. Azmi mengangguk. Senyum nur pun merekah, tak lagi cemberut.
"Seneng?", tanya Azmi. Nur mengangguk cepat sambil tetep tersenyum. Azmi mengusap kepala Nur dengan sayang.
"Kita pakai motor aja ngga apa-apa? Takut macet jam segini?"
Di perjalanan, keduanya saling bercerita. Tak ada lagi hawa marah yang Nur tunjukkan pada suaminya. Di lampu merah, Nur tak sengaja melihat sepasang suami istri dengan seorang batita yang ada di tengah-tengah mereka menaiki roda dua.
Nur menatap perempuan yang memakai cadar dengan batita yang juga di pakaikan kerudung.
Meski tak terlihat wajahnya, Nur yakin jika perempuan itu cantik dan sedang tersenyum karena matanya menyipit.
Tak lama kemudian, Azmi melanjutkan perjalanan menuju warung Bia. Sepanjang perjalanan, Nur terpikirkan untuk memakai cadar seperti mendiang umi nya Putri. Tapi...dia sadar diri jika ilmunya masih sangat kurang. Apakah Azmi mengijinkannya???
.
.
.
Febri sudah jauh lebih sehat. Dia membantu karyawannya menggelar tikar di ruang tamu dan teras. Beruntungnya, Febri sudah menyulap ruang tamu kecilnya menjadi lebih besar karena di satukan dengan teras.
Mobil Febri yang rusak parah akibat kecelakaan waktu itu sudah tak bisa lagi di perbaiki. Untuk sekarang, dia tak memikirkan kendaraan roda empat lebih dulu. Toh, dia masih ada kendaraan roda duanya.
"Nduk! Memang siapa aja yang datang?", tanya Febri.
"Azmi bilang sih Alby dan keluarganya juga dia dan istrinya. Terus... sahabat kamu mas. Dimas, Seto ,Sakti beserta pasangan dan buntutnya masing-masing!", jawab Bia.
"Tapi kan Naya baru melahirkan. Memang bisa kesini? Bawa bayi?", tanya Febri.
__ADS_1
"Ngga, kata Seto mah Naya ngga ikut!", kata Bia. Febri mengangguk pelan.
Terlihat mobil yang cukup keduanya kenal memasuki halaman rumah mereka. Ternyata Sakti yang membawa Sabrina beserta Sasa, anak mereka berdua. Dan Dimas, Anika, serta Seto tanpa Naya seperti info yang Bia dapat.
Sepasang suami istri itu menyambut kehadiran para sahabatnya. Tak lama kemudian, mobil Alby pun masuk ke halaman rumah Febri. Sudah barang tentu, Alby Amara serta Nabil. Ternyata Mak Titin tak bisa menghadiri karena sudah ada jadwal berbuka dengan rekan majelis ta'limnya.
Setelah semua di persilahkan masuk, sepasang suami istri pun menyusul. Azmi dan Nur yang mengendarai motor pun memarkirkan kendaraan mereka.
"Assalamualaikum!", Azmi menyapa mereka semua.
Akhirnya, mereka terlibat obrolan santai. Tak ada kecanggungan yang terlihat di antara mereka hingga ada sebuah truk besar yang akan menurunkan sebuah mobil P****** berwarna hitam di halaman rumah Bia.
Sontak semua mata tertuju ke arah sana.
"Mobil siapa ya?", tanya Febri tapi entah pasa siapa, mungkin Bia.
"Assalamualaikum, permisi!"
"Walaikumsalam!", jawab semuanya kompak. Nur dan Bina asik sendiri dengan Shasa.
"Maaf pak mengganggu waktu nya sebentar. Saya mau mengantarkan mobil pesanan pak Febrianto!", kata nya.
"Saya Febrianto, tapi...saya tidak merasa memesan mobil mas?!", kata Febri. Dia mulai cemas, pasalnya sudah mau azan magrib. Takutnya dia membuat para tamunya tak nyaman karena kesalahpahaman.
"Tapi benar kok pak, ini alamat dan pemesanannya!"
Si pengirim mobil pun memberikan bukti transaksi dan juga bukti pembelian atas nama dirinya.
Febri memijit pelipisnya lalu menoleh pada istrinya yang sedang membawa minuman untuk para tamunya.
"Apa?", tanya Bia dengan wajah polosnya. Semua mata pun tertuju pada Febri yang masih melayani si kurir.
"Pasti kamu yang beli ya nduk?", tanya Febri. Sekarang semua mata tertuju pada Bia. Dia jadi salah tingkah sendiri.
"Heum, udah azan tuh! Buka puasa dulu! Ayo mas, ajak teman yang anterin mobil buka puasa sekalian!", pinta Bia.
Mau tak mau pun mereka berbuka puasa lebih dulu. Wajah Febri menekuk, Alby melihat hal tersebut.
"Ehem, mas marah?", tanya Bia. Febri hanya menggeleng.
"Kan mobil mas teh rusak. Ya udah atuh beli lagi. Kita ge butuh mereun. Kalo aku mendadak melahirkan gimana?", tanya Bia. Dan semua perhatian tertuju pada Bia.
Sakti menepuk bahu sahabatnya itu. Febri pun menoleh pada istrinya.
"Kok P***** nduk? Kirain Lambo apa rubix gitu!", kata Febri pada akhirnya. Dan ya....Bia menggeleng heran pada suaminya. Ternyata Febri tak sepicik itu.
Febri mengucapkan banyak terimakasih pada istrinya tanpa malu-malu di hadapan para sahabatnya.
Pemandangan itu menyita perhatian Alby. Dalam sudut hatinya...ia merasa tertampar. Andai... andai dulu ia bisa seperti Febri yang dengan tangan terbuka menerima pemberian Bia, sebagai istri tentunya....Alby tidak akan menyakiti Bia sedalam itu.
****
__ADS_1
Terimakasih 🙏✌️🙏🤭