Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 26


__ADS_3

Amara


"Kamu bawa bekal lagi Mara?",tanya Mami.


"Iya mam!"


Mami hanya memperhatikan ku sampai aku selesai menyiapkan bekal ku.


"Kalo boleh mami tahu, yang satu buat siapa? Ga mungkin kan kamu habiskan semuanya?", cerca Mami.


"Buat Alby, Mam!", jawabku jujur.


Tiba-tiba papi yang baru duduk di meja makan turut menyahut.


"Alby? Sekarang kamu dekat sama dia?", tanya papi.


"Dekat dalam konteks apa Pi? Kami teman kampus dan kebetulan kan sekarang aku berdinas di dekat kantor Alby!"


Papi tersenyum tipis.


"Papi membebaskan mu Mara. Selama itu baik dan membuat mu bahagia, papi ikut apa maumu."


Aku ikut duduk di samping mami.


"Apa sih Pi, mara cuma berteman sama Alby."


"Lebih dari teman juga boleh kan?",ledek mami.


Aku tak mau menyahuti yang mereka bahas tadi. Toh kenyataannya, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Alby.


.


.


"Ke mana?", tanya Seto saat melihat ku membawa kotak makanan di jam makan siang.


"Keluar! Pinjem motor dong, aku bawa mobil hari ini!"


"Lagi di pake sama Tyo. Pinjam punya Dimas saja, tapi kuncinya sama Kapten! Soalnya tukar pake sama Dimas."


Aku menurunkan bahuku. Mau tak mau aku menghampiri Febri di ruangannya.


Tok...tok....


"Permisi!"


"Masuk!"


Aku pun masuk ke dalam ruangan Febri. Dia mendongak menatap ku.


"Ada apa Lettu Amara?"

__ADS_1


"Maaf Kapt, saya mau pinjam motor Dimas. Kata nya kunci nya sama Kapten!"


Febri menyerahkan kunci itu di atas meja.


"Ini, ambillah!", kata Febri.


Bahkan dia tak tanya aku pinjam untuk apa dan mau ke mana!


"Terimakasih Kapt, permisi!"


Dia hanya mengangguk. Bagiku, Febri itu misterius. Dia bisa jadi sosok yang kocak saat bersama para sahabatnya. Tapi dia akan profesional dan dingin saat bersama rekan kerjanya.


Aku melajukan motor sport Dimas ke kantor Alby. Biarlah di kata agresif, tapi sejauh ini hubungan kami hanya teman kampus. Ingat, hanya teman.


"Siang mba, saya mau ketemu pak Alby. Beliau ada di tempat?".


"Ada Bu!", jawab resepsionis bersamaan dengan Hotma yang akan ke ruangan Alby.


"Amara?", sapa Hotma yang masih jadi pengacara HS grup dan cukup dekat dengan Rahardi, papi Amara.


"Om Hotma?"


"Kamu ngapain ke sini? Ada yang mau kamu temui?", tanya nya sambil melirik kotak makanan yang ku bawa.


"Iya om, mau ketemu Alby. Rencana nya mau makan siang bareng. Itu juga kalo dia ngga sibuk!"


Om Hotma menatap ku dengan seksama.


"Kebetulan kami teman kampus om, dan aku sekarang dinas di kantor sebelah."


"Ya udah, bareng om aja. Paling jam segini dia masih di musholla sama asisten nya!", kata om hotma sambil melihat jam tangannya.


"Iya om!", aku pun mengikutinya menuju ke ruangan Alby.


Sesampainya di lantai Alby, ternyata benar Alby dan Azmi, asistennya baru saja selesai sholat dhuhur. Damage nya ngga nanggung- nanggung. Pesona Alby emang ngga kaleng-kaleng. Asisten nya pun tidak kalah ganteng. Ehhh...???


"Amara, om Hotma? Kok bisa barengan?", tanya Alby pada kami.


"Kebetulan kami ketemu di bawah!", jawab om Hotma.


"Ya udah, kamu sama Amara makan siang dulu sana. Dia udah repot-repot bawain lho buat kamu. Takut nanti dia kesiangan balik ke kantor nya. Bukan begitu Amara?"


"Hah? Iya om!"


"Om ada perlu sama aku?",tanya Alby.


"Bisa di wakili Azmi."


Azmi pun mengangguk. Aku dan Alby pun masuk ke dalam ruangan nya.


Ku serahkan bekal makan siangku padanya.

__ADS_1


"Lain kali ngga usah repot-repot Mara!", kata Alby.


"Ngga repot By! Oh ya, nanti malam ada jadwal kuliah ngga?"


"Ada, makulnya Yana. Kenapa?"


"Ngga apa-apa. Berati nanti kita ketemu lagi di kampus." Alby hanya mengangguk tipis.


"Dimakan By!", pintaku. Dia pun mengangguk lalu mulai memakannya. Setelah hening beberapa saat setelah selesai makan, kami pun mengobrol.


"Apa Lo suka sama gue?", tanya Alby tiba-tiba.


Aku tentu saja terkejut mendengar nya bertanya seperti itu.


"Kenapa tanya begitu?", tanyaku berusaha menetralisir perasaan ku.


"Sikap mu menunjukkan seperti itu."


Aku menatap wajah nya yang tampan tapi ekspresi nya datar.


"Apa aku salah?", tanyaku sebelum menjawab pertanyaan nya sebelum nya.


"Salah", jawab Alby singkat.


"Beri aku alasan!", kataku sambil melipat kedua tanganku di atas meja. Mungkin aku sudah tebal muka, tapi aku sudah memikirkan ini semua. Siap sakit hati untuk yang kesekian kalinya.


Entah apa yang Alby pikirkan, dia hanya diam menatap ku.


"Aku tak ingin menyakiti mu Mara!", kata Alby.


"Apa aku dan yang lain tak punya kesempatan untuk...!"


"Mara, please! Sejauh ini kamu satu-satunya teman perempuan ku setelah Marsha. Jadi maaf, aku tidak ingin nantinya menyakiti mu seperti aku menyakiti Marsha karena aku terlalu nyaman berteman."


"Bagaimana kalo aku bisa memberi mu kenyamanan selain sebagai teman?", aku mencoba menantang duda ganteng itu.


"Amara....!"


"Aku tahu, kamu masih mencintai Bia. Tapi kamu tahu, Bia sudah menikah. Bahkan suami Bia itu adalah laki-laki yang selama ini aku cinta. Tapi semenjak aku kenal kamu, semua perasaan itu luntur bersamaan dengan kesadaran ku bahwa aku sudah tak berhak mengharapkan nya lagi."


Alby masih diam menatap ku.


Aku bangkit dari bangku. Aku membereskan bekas makan ku.


"Permisi!", kataku berdiri bermaksud meninggalkan Alby. Tapi belum sampai pintu, dia menarik lenganku. Bahkan wajah kami saling beradu.


Aku menatap manik matanya yang tajam seperti elang. Tapi sedetik kemudian..


"Ada sisa nasi di bibirmu!", katanya sambil memungut sebutir nasi di atas bibirku dijarinya.


Betapa malunya aku, otakku sudah berpikir yang bukan-bukan.

__ADS_1


"Terimakasih untuk makan siangnya!",aku pun mengangguk.


Setelah itu aku keluar dari ruangan Alby. Apa aku punya muka untuk ke sini lagi besok...?????


__ADS_2