
Alby
Aku memilih mengabaikan apa yang ku lihat tadi. Masih dengan keyakinan yang sama. Dia hanya kebetulan mirip dengan Amara. Lagian, perempuan itu berhijab. Sedang Amara???
Tapi perasaan ku kembali tergelitik untuk sekedar memastikan bahwa apakah dia benar-benar Amara atau bukan. Bodoh ya? Katanya masa bodo, tapi tetap saja penasaran.
Dan ya... penasaran ku sudah terbayar saat ada gadis kecil seumuran Nabil mendatangi perempuan itu yang kini posisinya memunggungiku.
Di belakang gadis kecil itu juga ada pria dewasa yang tersenyum ke arahnya. Fix aku sudah salah lihat. Aku terlalu menghalu, berharap jika Amara sudah kembali. Lalu, sekalipun perempuan itu bukan Amara kalau dia memang sudah kembali ke kota ini, aku mau apa??? Ya kan?!
"Papa, mam!", Nabil menarik-narik celanaku.
''Eh, iya sayang mau mam apa?", tanyaku sambil berjongkok. Nabil lebih serius minta jalan sendiri timbang di gendongan. Dengan pede nya dia mengaku sudah besar.
"Bubul!"
"Bubur ayam apa kacang hijau?"
"Ayam, pa!"
"Ayok!", aku menggandeng nya menuju ke pinggiran taman untuk membeli apa yang Nabil mau.
Meski ibu dan kakeknya orang kaya raya, aku tetap mengajarkan hidup sederhana. Karena aku lah bapak nya, orang kampung. Tapi bukan berarti juga aku memberi Nabil yang sembarangan, sesekali makan di tempat seperti ini tak apalah. Nanti saat dia sudah bisa bergaul, dia tidak akan mengecilkan orang lain seperti almarhum kakek dan almarhumah bundanya.
Eh, ngapain juga masih melibatkan kedua orang yang sudah meninggal itu.
"Mau papa suapin atau mau mam sediri?", tanya ku setelah kami duduk dan menerima pesanan kami.
"Mam ndili!", jawabnya. Dia antusias sekali jika diajak makan di tempat seperti ini di banding di resto.
Kadang aku berpikir, dia benar-benar menuruni ku. Tapi...jangan sampai dia menuruni kebodohan dan kecerobohan ku di masa lalu. Cukup aku satu-satunya! Jangan ada Alby yang lain!
__ADS_1
"Pelan-pelan sayang, masih panas!"
Nabil hanya mengangguk pelan sambil mencocol kerupuknya ke dalam bubur.
"Papa!"
"Apa sayang?"
Nabil menengok ke arah lain di samping kanan dan juga belakangku.
Tatapan memuja dari kaum hawa yang ya...lagi dan lagi terpesona melihat ku. Seganteng apa sih gue di mata mereka????
Nabil yang bocil saja sudah sangat paham, bukan hal baru dia melihat papanya di lihatin oleh para kaum hawa.
"Papa!"
"Iya sayang, kenapa?"
"Tapi bubur Nabil belom habis sayang, nanti buburnya nangis lho. Kan kasian!", aku berjongkok mengelap bibirnya yang belepotan dengan tisu.
"Ate liat papa telus!"
Aku menghela nafas. Setelah itu aku menatap galak ciwi-ciwi yang dari tadi menatap kagum padaku dan Nabil.
"Bisa kan ga liatin anak saya, anak saya ngga nyaman di lihat seperti itu! Punya mata tuh di jaga ya!!!", kataku. Ngga mungkin kan di sini aku bilang 'jangan liatin aku' ????
Para cewek itu gelagapan sendiri. Nabil masih mode merajuk.
"Papa gendong ya?", Nabil mengangguk sambil memegang balon yang dia beli tadi.
"Berapa pak?", tanya ku pada tukang bubur.
__ADS_1
"Tiga puluh ribu pak!", jawabnya. Kebetulan ada uang pas kembalian beli balon Nabil tadi. Jadi aku tak perlu berlama-lama menunggu kembalian.
"Makasih pak!", kataku sambil berlalu. Aku masih sempet mendengar ucapan mereka yang mengataiku.
'Ganteng-ganteng galaknya buset!'
'Bininya sesabar apa ya?'
'Kalo dia jadi laki gue mah, gue ga bolehin keluar kamar deh. Ganteng nya buseettt dah'
'lo nya mau , dianya kagak mau sama Lo!'
'Hot Daddy guys!'
Huffft...bukan sekali bahkan berkali-kali omongan miring seperti itu ku terima. Titel duda Jutek sudah terlanjur melekat pada ku sejak Silvy meninggal.
"Langsung pulang Bil?"
Nabil pun mengangguk. Saat berjalan ke arah mobil kami, tanpa sengaja aku melihat gadis kecil yang bersama perempuan yang tadi ku sangka Amara. Gadis kecil itu di gendong oleh laki-laki yang sepertinya ayah dari gadis itu.
"Ayah, ate Amala maunya bubul ijo!", celoteh nya pada sang ayah.
Gadis itu bilang apa tadi? Ate Amala? Dia cadel atau memang nama tantenya itu Amala? Kenapa aku jadi mikirin itu sih. Aku berhenti lalu memutar badanku untuk bertanya pada pria tadi tapi kuurungkan karena dia sudah cukup jauh.
"Papa kenapa?", tanya Nabil padaku.
"Ngga apa-apa sayang!", aku pun mendudukkan Nabil ke dalam mobil. Kami bersiap pulang.
Di lain sisi....
Seorang gadis berhijab hitam itu hanya mengamati Alby dan Nabil. Siapa yang menyangka jika laki-laki yang sedang berusaha ia lupakan ada di sini????
__ADS_1
Beruntung dia tak melihat ku!!