Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 173


__ADS_3

Warning! Serius ini warning dari mamak ye....❗❗❗❗❗❗❗🆗 Jadi yang merasa di bawah umur harap sadar diri 😆🤣🤣🤣🤣🙏🙏🙏🙏🙏 Please....menepi sesaat 😆 kaya GuyonWaton


*******


Azmi dan Nur langsung pulang menuju ke kostan mereka berdua. Belum terlalu malam sebenarnya, tapi karena hujan turun cukup deras jadi ya...di mana-mana macet. Namanya juga ibu kota, kalo ngga macet mungkin namanya bakal ganti jadi ibu Kitty.


"Mau langsung pulang?", tanya Azmi yang membuka percakapan di antara keduanya.


"Heum, ya langsung pulang. Orang hujan begini!", jawab Nur tanpa mengalihkan perhatian dari jalanan yang macet.


"Kalo ngga hujan, emang mau ke mana?", tanya Azmi. Nur pun menoleh pada Azmi.


"Emang kalo aku bilang, A Azmi mau anterin?", tanya Nur sambil memicingkan sebelah matanya.


Azmi mengedikan bahunya.


"Ya, ngga juga sih."


Nur mencebikkan bibirnya kesal. Ekspektasinya terlalu tinggi pada duda meresahkan yang satu ini. Azmi yang menangkap ekspresi Nur seperti itu tak bisa untuk tidak tersenyum.


"Ya udah, kalo aku ada waktu terus sempat nemenin kamu, kamu mau ke mana? Anggap saja ucapan terima kasih ku karena kamu udah nemenin aku ke acara Alby!"


"Hanya karena itu?", tanya Nur dengan wajah sedikit kecewa.


Heh??? Kenapa harus kecewa?


Nur geleng-geleng kepala. Sebagai seorang lelaki bergelar duda, Azmi maupun Alby sudah paham betul perempuan-perempuan yang berharap dekat dengan duo duda itu.


Eh, Alby bukan duda lagi sih!!


"Maunya?", Azmi menoleh.


"Ngga. Ngga usah bahas. Anggap aja ngga pernah ada obrolan absurb seperti ini!", Nur melipat tangannya di dada.


"Kalo aku bahas yang lain, aku belum yakin kamu mau!", sahut Azmi.


"Belum juga ngomong, udah bilang belum yakin aku mau!", sahut Nur.


"Serius mau tahu aku pengen ngobrolin apa?"


"Ngga perlu!", jawab Nur. Azmi melipat bibirnya ke dalam, menahan senyumnya.


"Heum, menurut kamu ... pernikahan itu seperti apa?", tanya Azmi pada Nur.


Lha??? Nih orang kenapa nanya-nanya soal nikah ke gue sih? Jangan-jangan dia udah ngebet banget pengen punya istri lagi. Tapi kenapa harus bahas sama gue sih???


Mau bikin gue salah sangka , baper apa gimana???


"Menikah itu... ibadah seumur hidup. Dua orang dewasa yang berbeda kelamin tentunya!", sahut Nur. Mendengar jawaban nur seperti itu, Azmi terkekeh pelan.


Tak salah kan jawaban Nur?


Nur sempat terpukau melihat senyum Azmi yang begitu jarang ia lihat. Karena dia terbiasa jutek seperti bosnya. Melihat Azmi tersenyum, Nur pun turut tersenyum tipis.


"Kenapa ketawa?", tanya Azmi pada Nur.


"Kan aa yang ketawa duluan, ya udah atuh aku mah ikut ketawa aja!", sahut Nur datar. Mana mungkin dia mau ngaku kalo sedang terpesona pada duda tampan ini.


"Heum... kenapa? Terkesima sama aku?", tanya Azmi penuh percaya diri.


Mulut Nur ternganga lebar. Tak percaya jika lelaki sejudes Azmi bisa narsis sekali.


"Teuing ah!", sahut Nur.


"Lanjut dong bahasan kita tadi soal pernikahan. Lagi pula, jalan macet parah. Jangan sampai kamu tertidur, aku melek sorangan. Inget ya Nur, aku bukan supir pribadi kamu!"


"Astajimmm....nih orang ya. Kirain mah udah jadi baik ternyata masih aja ngeselin juga!", Nur kembali kesal.


"Astaghfirullah! Jangan di pelesetin gitu kata-katanya atuh Nur!", Azmi mengingatkan dengan nada suara yang sedikit meninggi. Nur sendiri pun menutup mulutnya. Dia terbiasanya seperti itu jika sedang bersama Sabrina.


"Iya, astaghfirullahaladzim!", kata Nur lirih.


"Lain kali ngga boleh sembarangan ya!"


"Iya A Azmi ,ya Allah! Ngga lagi-lagi A", suara Nur memelas. Susah hening beberapa saat tapi kemudian Azmi kembali membuka pembicaraan.


"Kita kembali ke bahasan awal. Menikah itu seperti apa di mata kamu?"

__ADS_1


"Eum...buat aku pribadi mah, maunya ya menikahi sekali seumur hidup. Syukur-syukur Allah ngasih yang benar-benar seperti apa yang aku inginkan. Entah itu secara fisik, akidah akhlak dan agamanya, kehidupan finansialnya dan yang pasti juga harus setia dengan komitmen yang sudah ia jalani. Karena menikah itu tidak hanya melibatkan dua manusia saja, tapi janji suci terhadap Tuhannya juga kan?"


Azmi cukup tercengang dengan pandangan Nur tentang pernikahan. Gadis yang terbiasa ceplas-ceplos ternyata bisa serius juga.


"Kalo posisinya seperti aku, berpisah karena istri ku lebih dulu menghadap Allah, menurut mu apa konsep nya sama seperti cara pandang kamu?", tanya Azmi.


Nur tampak menimbang-nimbang ucapan Azmi.


"Jelas berbeda lah! Kalo kematian itu pasti, tapi perpisahan karena...maaf... perceraian itu kan pilihan!"


"Jadi? Bagaimana menurut kamu?", tanya Azmi lagi.


"Penting banget ya pendapat aku?", tanya Nur. Azmi mengedikan bahunya.


Nur hanya menggeleng pelan, sudah biasa di gitukeun!


"A Azmi berhak untuk melanjutkan hidup dengan menikah lagi kalo memang sudah siap! Toh, A Azmi juga masih ya....belum terlalu tua sih."


"Kalo kamu sendiri gimana, udah siap?", tanya Azmi sambil menghentikan mobilnya tepat di halaman kost. Karena tanpa Nur sadari kendaraan mereka sudah sampai di kostan.


"Maksud Aa teh naon?", tanya Nur sambil membuka seat beltnya.


"Kamu kan bilang, aku berhak melanjutkan hidup ku dengan menikah lagi kalo memang sudah siap. Kamu sendiri gimana, udah siap belum?", tanya Azmi yang semakin membuat Nur bingung.


"Hubungannya sama aku, apa?", Nur jadi pusing sendiri. Azmi menghela nafas berat. Tanpa basa-basi, ia pun membuka pintu mobilnya.


Otak Nur terus bekerja keras hingga akhirnya ia menyadari makna dari pertanyaan Azmi.


Apakah yang di maksud Azmi .....???


Gadis itu buru-buru turun dari mobil Azmi. Azmi yang lebih dulu melangkahkan kaki menuju ke kamarnya pun terpaksa berhenti karena Nur menarik lengannya yang memakai baju batik lengan panjang.


Azmi pun berbalik badan menghadap Nur. Keduanya saling berhadapan, tak terlalu dekat memang. Jangan bayangkan seperti adegan India atau Drakor. Ngga sama sekali, mereka memang berhadapan tapi cukup berjarak.


"Apa?", tanya Azmi dengan wajah datarnya lagi.


"Aa teh ngga mau denger jawaban soal kesiapan aku apa ngga?", tanya Nur. Azmi memicingkan matanya.


"Ngga usah lah!", kata Azmi kembali berbalik badan siap melangkah ke tangga menuju kamar nya yang ada di lantai tiga.


Karena merasa di abaikan, akhirnya Nur kembali bersuara.


Sudut bibirnya terangkat lalu dia berbalik badan kembali. Tanpa menuruni anak tangga, Azmi memberikan senyum pada Nur.


"Kalau ustadz Hanif dan ustadzah Salsabila sempat, aku minta tolong antarkan aku ke rumah orang tua kamu!", kata Azmi.


Nur membeku tak bisa berkata apa-apa.


"Apa ini mimpi?", tanya gadis itu. Azmi menggigit pipi bagian dalamnya. Ternyata, perasaannya tak bertepuk sebelah tangan. Meskipun ia mencoba mengabaikan perasaan itu, fitrahnya memang cinta hadir karena kuasa sang Illahi. Dan... sebagai seorang muslim yang merasa banyak dosa tak ingin menambah dosa yang tak sengaja dan tak di sadari dengan berhubungan di luar pernikahan.


"Balik ke kamar, tanya sama teteh kamu Nur! Sebelum aku benar-benar menemui orang tua kamu, mungkin aku bisa berbicara lebih dulu dengan ustadzah Salsabila."


"Heum, besok pagi aku telpon teteh. Kapan dia ada waktu buat bertemu sama...A Azmi?!", jawab Nur malu-malu.


''Ngga usah sok malu-malu dan sok anggun begitu, ngga cocok! Mending kaya biasanya aja!", goda Azmi. Di goda seperti itu, wajah Nur memerah. Tanpa berpamitan pada Azmi, Nur langsung menuju ke kamar di ujung lantai satu.


Azmi sendiri memandangi punggung Nur yang menjauh. Jika biasa nya ia menasehati Alby agar jangan memandang lebih dari tiga detik, nyatanya Azmi justru memandang Nur lebih dari bermenit-menit. Setelah memastikan nur masuk kamarnya, Azmi pun melanjutkan naik ke lantai tiga dimana ia tinggal.


.


.


.


Gerah euyyy....di acc sama kk Mimin editor apa ga nih??? Kalo gak ya, di revisi 🙈🙈🙈


Suara rintik hujan dan petir bersahutan tak menyurutkan semangat dua sejoli yang baru saja memulai hak dan kewajibannya sebagai suami istri.


Amara masih berada dalam kuasa seorang Alby. Bagaimana tidak??? Alby yang pro karena sudah berpengalaman tentu saja harus mengajari istrinya yang memang baru pertama kali merasakan hal tersebut.


Alby tak membiarkan sang istri untuk sekedar berteriak meski teriakan kenikmatan. Lelaki itu selalu sigap membungkam mulut istrinya agar suara itu hanya cukup dirinya yang mendengarkan.


Egois sekali A Alby teh????


Amara tampak kewalahan mengimbangi tiap hentakan mantan duda ganteng tersebut. Meskipun baru pertama kali, dia tetap ingin membuat suaminya terkesan dan terpuaskan.


Tapi kenyataannya, segarang-garangnya Amara di dunia militer masih tetap kalah di bawah kungkungan suaminya.

__ADS_1


Seorang Alby juga tak ingin egois yang harus terpuaskan tapi tidak dengan pasangannya. Justru Alby memilih untuk membuat Amara nyaman lebih dulu baru memikirkan dirinya.


Sudah season ke tiga sejak keduanya memulai adegan halal bagi sepasang suami istri itu. Dan stamina Alby lebih dari cukup untuk bercocok tanam dengan sang istri hingga pagi. Tapi dia masih punya rasa kasihan pada Amara yang sudah terkulai lemas di bawah kungkungannya.


Alby mengecup puncak kepala Amara dengan penuh kasih sayang. Di usapnya dengan perlahan peluh yang ada di dahi dan pipi Amara.


Amara pun melakukan hal yang sama pada suaminya. Di mata Amara, kali ini Alby benar-benar sangat tampan sekali. Apalagi saat Alby sedang mencapai puncaknya, Amara melihat suaminya sangat laki kaya orang bilang mah.


"Makasih?!", ucap Alby tanpa memindahkan diri nya dari atas tubuh Amara.


"Untuk?", tanya amara yang tak dapat memalingkan wajahnya dari wajah Alby. Alby yang di pandang seperti itu jadi salah tingkah sendiri.


"Untuk hak yang sudah kamu berikan padaku. Meskipun kamu tahu, kalo kamu bukan yang pertama untuk ku!"


Amara menutup bibir Alby dengan telunjuknya.


"Aku tidak perduli A!", jawab Amara. Alby menjatuhkan diri di samping Mara.


"Ke kamar mandi yuk!", ajak Alby.


"Aa duluan aja!", kata Amara.


"Kalau sakit, Aa gendong ke kamar mandi!", tawar Alby.


"Ishhh...ngga selebai itu A. Aku ngga apa-apa kok. Sakit sih emang...tapi banyak enaknya kok hehehe! Ngga usah bayangin kaya malam pertama di novel-novel online apa lagi drama. Aku masih bisa jalan ke kamar mandi A."


Alby pun terkekeh pelan. Ia memungut celana pendek yang ada di lantai lalu memakai dan baru setelah itu masuk kamar mandi.


Melihat suaminya sudah masuk kamar mandi, Amara pun ikut memungut daster minimouse. Alih-alih pakai lingerie kaya di cerita yang suka di baca, Amara justru memakai daster kanak-kanak begitu.


Dengan perlahan Amara menuruni ranjangnya. Tersisa rasa perih dan pedas dan ya.... reader's lebih suhu dari Amara tentunya 🤭🤭🤭


Meskipun nyeri-nyeri sedap seperti itu, Mara memilih mengganti sprei nya dengan yang baru.


Ada percikan berwarna merah di sana. Amara tersenyum tipis. Dia bangga dengan dirinya sendiri yang bisa menjaga mahkotanya untuk seseorang yang berhak atas dirinya di tengah pergaulan bebas saat ini.


Ia menggulung sprei kotor dan di letakkan di keranjang pakaian kotor. Lalu setelah itu, ia memasang kembali sprei yang baru.


Alby sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar. Lelaki tampan itu menghampiri istrinya.


"Biar Aa yang nerusin. Kamu mandi aja sayang!", pinta Alby. Amara menoleh ke arah jam digitalnya. Sudah hampir jam satu pagi dini hari. Dan mereka sudah menghabiskan waktu bersama untuk melakukan kegiatan itu.


"Iya A, aku mandi deh."


"Jangan lama-lama ya, pakai air hangat aja."


"Huum, iya A."


Benar kata Alby, Amara mandi singkat. Mungkin karena dingin.


Alby menunggu Amara berpakaian lagi. Setelah selesai dengan segala ritual setelah mandi, Amara pun merebahkan diri di samping Alby.


Lelaki itu menyambut Amara yang dengan gerakan pelan menaiki ranjang mereka. Kepala Amara di sandarkan di dada Alby.


Amara mendongak beberapa saat yang tepat berada di bawah leher suaminya.


"A , kissmark nya banyak A? Kayanya ngga bisa di tutup deh!", kata Amara dengan nada cemas.


"Biarin lah sayang, itu tandanya lelaki yang sama kamu ini sudah beristri!", jawab Alby.


"Tapi aku malu A!"


"Ngapain malu, pas bikin juga ga malu?!"


"Aa !", Amara memukul pelan perut suaminya dan Alby hanya terkekeh pelan.


"Udah ya, mau tidur!", kata Alby.


"Tapi peluk sampai pagi ya?", kata Mara.


"Heum, iya sayang. Tapi kalo kamu mau ronde ke empat Aa juga masih bisa!", ledek Alby.


''Mulai deh?!"


Tapi usai mengatakan demikian, keduanya mengerat pelukan mereka dan terlelap hingga subuh.


****

__ADS_1


Oke deh❗Pemirsahhh kecewa ya??? Maafkan daku babe...🙏🙏🙏🙏


__ADS_2