
Amara
Aku sudah berada di kantor ku. Nada menyuguhi ku pekerjaan yang menumpuk karena aku meninggalkan kantor sejak kemarin pagi.
"Ada presentasi dengan PT sinar Timur, nona!",kata Nada.
Aku menghela nafas. Bukan masalah presentasi nya, tapi...itu artinya aku akan kembali berurusan dengan Bianca. Gadis itu masih terlalu labil untuk bisa membedakan urusan bisnis dan pribadi.
Dia pasti akan menyangkut pautkan tentang hubungan ku dengan Alby!
Eh, tunggu! Hubungan ku dan alby!? Tidak! Kami belum atau bahkan tidak berkomitmen apa pun. Bagaimana bisa di sebut sebagai 'hubungan' ?
"Eum...jam berapa Nada?"
"Jam tiga sore Nona!"
"Baiklah!",kataku. Setelah itu Nada pun keluar dari ruangan ku. Aku kembali bergelut dengan berkas-berkas yang terabaikan kemarin.
.
.
"Frans, terimakasih sudah menjenguk papi!",ujar mami Kirana.
Frans tersenyum tipis.
"Iya, mami!"
Pria bule itu melirik Mayang yang sedang memangku kepala Dhea. Ya, mami di temani oleh Mayang dan Dhea. Karena ini ruangan VVIP, wajar saja jika Dhea bisa ikut menunggu di sini.
"Dokter Sakti sudah mengecek keadaan papi?",tanya Frans.
"Sudah Frans", jawab Mami.
Frans melangkah mendekati Papi, tapi Mayang tiba-tiba berbicara pada Frans.
"Maaf dok...!", kata Mayang. Alhasil, Frans tak jadi mendekati Papi.
"Iya?",tanyanya pada Mayang.
"Begini dok...eum...", kata Mayang terhenti. Karena pada dasarnya dia hanya ingin mencegah Frans mendekati papi mertuanya seperti apa yang Amara minta. Tapi tentu saja tanpa sepengetahuan mami mertua.
"Ada apa Mayang?",tanya Mami.
"Ngga apa-apa Mi." Frans pun tak jadi mendekati papi.
"Itu, Mi. Sepertinya dokter Frans sudah jadwal praktek. Kasian pasien nya yang menunggu. Papi kak pasien dokter Sakti. Jadi, alangkah baiknya jika dokter Frans kembali mengecek pasien dokter Frans sendiri."
Akhirnya, ada kalimat yang masuk akal juga keluar dari mulut ku! Batin Mayang.
Dokter Frans sempat memperhatikan Mayang yang wajahnya tertutup niqob. Jadi, Frans hanya menatap dua mata Mayang. Tapi setelah itu, Mayang memalingkan wajahnya. Frans bukan mahramnya yang boleh menatap nya seperti itu. Tidak sopan!
__ADS_1
"Mayang!",kata mami pelan.
"Iya Mi, Kak Mayang benar. Frans harus kembali bertugas!", sahut Frans.
"Ya sudah kalau begitu. Silahkan bertugas kembali Frans!", ujar mami Kirana.
Tapi sebelum Frans keluar dari ruangan itu, dia sempat menatap tajam ke arah Mayang. Dan Mayang menyadari hal itu.
Kenapa tatapan mata Frans seseram itu? Batin Mayang dan langsung menunduk.
Astaghfirullah! Gumam Mayang.
"May, kenapa kamu bicara seperti itu nak? Kesannya kok kamu sedang mengusir Frans? Jangan bilang kamu terpengaruh sama ucapan adik kamu itu?"
Mayang menggeleng pelan.
"Ngga Mi, Mayang cuma ngga enak aja. Papi ini kan pasien dokter Sakti. Ada baiknya dokter Frans mengurus pasiennya sendiri yang lebih membutuhkan. Maafin Mayang ya Mi, udah bikin mami ngga enak sama dokter Frans!"
Mami menatap sekilas menantu tertuanya itu. Hanya beberapa kali ia melihat wajah menantunya itu, selebihnya dia selalu memakai niqob.
Mami Kirana pun kembali duduk di samping papi.
.
.
Amara
Aku dan Nada duduk di bangku yang membelakangi layar proyektor. Sedang pihak Sentra Timur berada di sebrang ku yang arti nya menghadap layar.
Ternyata, bukan Bianca yang mewakili perusahaannya. Melainkan seorang perempuan yang sepertinya usianya tak beda jauh dariku.
"Selamat sore!",sapa perempuan itu dengan ramah.
"Selama sore! Saya Amara!",ku ulurkan tanganku untuk menjabat tangannya. Dia pun melakukan hal yang sama, menerima uluran tangan ku.
"Saya Naura!",katanya.
Aku mengangguk dan tersenyum ramah padanya. Mungkin Naura ini staf yang mewakili bocah labil itu.
"Maaf nona Amara, kebetulan adik saya sedang keluar jadi tidak apa kan kalo saya yang mewakilinya? Saya kakak ipar Bianca!"
"Oh, Nyonya Naura kakaknya Bianca? Tidak apa-apa nyonya!",kataku tak enak.
"Naura saja!",katanya. Aku mengangguk tipis.
"Kalau begitu, Amara saja!",kataku.
Dan presentasi pun di mulai. Semua berjalan lancar. Tidak terasa hampir setengah lima, presentasi ku berakhir. Bersamaan pula dengan seseorang yang mengetuk pintu.
"Maaf, Nona Amara!", kata seorang office boy.
__ADS_1
"Iya mas, kenapa?",tanyaku.
"Di depan ada pak Alby, sudah menunggu anda sekitar setengah jam yang lalu."
"Astaghfirullah! Aku lupa! Iya, sampai kan pada beliau, sebentar lagi saya selesai."
Office boy itu pun undur diri. Naura menatapku dengan tatapan mata yang berbeda.
"Apa pak Alby dari HS grup?",tanya Naura. Aku menoleh pada Naura. Ku anggukan kepala dan tersenyum.
"Jadi...mas Alby itu... sekarang sudah punya kekasih? Anda kekasih Mas Alby?",tanya Naura. Urusan pekerjaan sudah selesai, jadi kami bisa mengobrol santai bukan?
"Eum....!",belum ku jawab, pintu sudah kembali di ketuk dan kali ini langsung terbuka. Sosok Alby sudah tersenyum lalu masuk ke dalam ruangan meeting ku.
"Assalamualaikum!",sapa Alby.
"Walaikumsalam!",jawab kami semua tak terkecuali Naura.
"Sudah selesai kan Ra?",tanya Alby padaku. Aku mengangguk. Lalu Alby menoleh pada Naura.
"Mba Naura?",sapa Alby. Naura mengangguk ramah.
"Mas Alby!",sahut Naura menimpali.
Alby kembali fokus padaku.
"Jadi kan jenguk papi?",tanya alby. Aku mengangguk.
"Jadi, By!", kataku. Setelah itu aku menoleh pada Naura.
"Eum...Pak Pradipta kebetulan di rawat bersebelahan dengan ruangan papi ku, anda mau sekalian ke sana bersama kami?",tawarku pada Naura.
"Heum? Oh, tidak terima kasih. Setelah ini saya harus pulang lebih dulu. Kasian anak saya di tinggal dari pagi."
"Mas Bram masih sibuk dengan restoran nya?",tanya Alby.
"Alhamdulillah masih, mas Alby. Makanya...aku yang gantiin di kantornya."
Alby hanya mengangguk.
"Ya udah, saya duluan ya... Amara, mas Alby? Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam!", jawab ku dan Alby bersama-sama. Sekarang hanya ada aku dan Alby di ruangan ini.
"Langsung berangkat?",tawar Alby.
"Sebelum berangkat ke sana, boleh aku tanya By?",tanyaku ragu. Alby mengangguk.
"Sebenarnya, hubungan apa yang kita jalani saat ini???? Tolong jangan bikin aku baper dan kegeeran terus!"
Alby terdiam menatap ku. Apa aku masih berharap jika dia menjadi kekasih ku....???? Ya Allah, memalukan sekali! Menyesal aku menanyakannya!
__ADS_1