Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 93


__ADS_3

Amara


Setelah Alby keluar dari apartemen, aku memutuskan untuk membuat minuman hangat lebih dulu sambil menunggu azan subuh yang mungkin tidak terlalu terdengar dari lantai ku.


Tapi aku sudah menyetel waktu subuh yang biasanya ku lakukan setengah lima.


Setelah minuman ku siap, aku pun bergegas mandi lalu mendirikan kewajiban dua raka'at ku. Cukup lama aku bersimpuh menghadap yang kuasa. Hanya pada yang kuasa aku meminta pertolongan. Meski mungkin lewat perantara orang lain.


Setelah selesai bermunajat, aku kembali ke dapur untuk mengambil minuman ku. Setelah itu, aku bawa ke depan ruang tamu.


Kunyalakan televisi yang berisi berita mancanegara. Ada sebuah berita yang menarik perhatian ku.


Kebakaran sebuah laboratorium pribadi yang terjadi di kota London. Laboratorium tersebut milik salah satu dokter genius yang saat ini tak berada di negara tersebut.


Aku jadi teringat tentang Frans yang mendapat telepon semalam entah dari mana yang mengatakan tentang kebakaran. Apakah kebakaran ini yang di maksud???


Dari penjelasan presenter berita tersebut, laboratorium tersebut di gunakan untuk penelitian oleh si pemilik lab dan beberapa ahli yang masih bernaung dalam kekuasaannya.


Usai kebakaran, masih ada sisa-sisa puing dan beberapa barang yang di deteksi jika itu merupakan sebuah hasil penemuan tentang zat yang dapat merusak sistem kerja jantung dan syaraf sekaligus. Dan sangat mematikan jika bereaksi terhadap tubuh manusia.


Aku cukup terkejut dengan berita tersebut. Entah kenapa otakku mengarah pada Frans????


Ting...tong....


Bel apartemen berbunyi. Tapi siapa yang bertamu di jam enam pagi seperti ini???


Mau tak mau aku pun mengintip dari doorviewer. Tapi tak nampak sosok yang menekan bel tadi. Akhirnya aku pun buka pintu.


Setelah ku buka, ternyata Frans yang langsung masuk ke dalam unitku.

__ADS_1


Aku hampir terdorong oleh tubuh tegapnya. Beruntung aku sudah rapi dengan setelan kerja ku.


"Mau apa kamu sepagi ini ke sini Frans?",tanyaku.


Frans menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa. Dia mematikan televisi yang sedang ku tonton tadi. Mendadak aku teringat berita tadi.


Frans menatap ku horor.


"Alby dari sini?", tanyanya. Aku tak langsung menjawab. Sampai beberapa detik, Frans menarik ku hingga duduk di sampingnya.


"Jawab! Alby dari sini?"


"Ya! Kalo kamu tahu, untuk apa bertanya lagi?",kataku memberanikan diri. Meski sebenarnya aku benar-benar takut jika berita mancanegara tadi menceritakan tentang lab Frans di negara asalnya.


Frans tersenyum tipis. Lalu mencengkram dagu ku seperti kemarin.


"Dia menyentuh ini?!",tanya Frans sambil mengusap bibirku dengan jarinya. Tapi sebisa mungkin menangkis tangan nya agar tak berlama-lama di daguku.


Aku mengambil ponselku lalu ku masukkan ke dalam saku blazer. Juga pouch kecil berisi uang tunai dan beberapa kartu milikku.


"Kita ke rumah sakit bersama mommy dan Daddy ku!",kata Frans menarik tangan ku. Aku menahan nya agar berhenti.


"Wait? Orang tua mu? Untuk apa?"


"Tentu saja! Aku ingin mereka mengenal keluarga calon istri ku!",katanya sambil menarik tangan ku paksa.


Kami berdua keluar dari unit ku bersamaan dengan kedua orang tua Frans. Mommy Frans tersenyum ramah padaku. Mau tak mau aku bersikap seperti itu juga.


"Morning girls!",sapa mommy Frans.

__ADS_1


"Good morning Tan!",sapaku balik.


"Frans bilang, papi kamu di rawat di rumah sakit ya. Boleh kan kami menjenguk nya?",tanya Mommy Frans padaku. Belum ku jawab, Frans sudah menyela.


"Tak perlu ditanya Mom. Tentu boleh lah. Mereka kan akan jadi keluarga kita!",sahut Frans.


Aku hanya mampu tersenyum dan mengangguk pelan.


"Ayo sayang, kita ke rumah sakit!",Frans menggamit pinggang ku. Benar-benar sudah jadi hobi Frans.


"Aku...sama Tante aja!",kataku sambil melepas tangan Frans dari pinggang ku. Frans pun membiarkannya.


Aku berjalan bersama mommy Frans di depan Frans dan Daddy nya.


"Papi kamu sakit apa Amara?",tanya Mommy Frans.


"Jantung Tante. Sebelumnya sih tidak pernah. Baru sekarang-sekarang ini beliau mengalami serangan jantung. Bahkan setelah beberapa hari, kemarin beliau baru siuman!",kataku.


Ku lihat mimik wajah Mommy nya Frans berubah. Seperti seseorang yang terkejut.


"Eum...semoga papi kamu cepat sembuh ya Amara?", kata mommy Frans tulus.


"Aamiin. Makasih Tante!",kataku. Kami pun sudah sampai di basemen. Kami berempat menaiki mobil Frans. Entah sudah berapa lama aku tak mengendarai mobil ku sendiri.


Mommy Frans duduk di belakang bersamaku. Dia menggenggam tangan ku.


"Kapan kamu ada waktu untuk bicara berdua dengan Tante?",kata mommy Frans sedikit berbisik. Aku menautkan kedua alisku.


"Eum... mungkin nanti malam Tan!",jawabku. Mommy Frans mengangguk. Lalu menepuk bahuku pelan sambil tersenyum.

__ADS_1


Di perjalanan menuju ke rumah sakit, aku hanya mendengar percakapan antara Daddy nya dan Frans yang membahas perusahaannya di London. Mereka tak membahas perihal kebakaran.


Apa...aku yang terlalu over thinking????


__ADS_2