
Amara terbangun saat bel pintu berbunyi berulangkali. Siapa coba yang bertamu di pagi buta seperti ini?
Semalaman gadis itu kurang tidur. Mungkin menjelang subuh dia baru bisa memejamkan matanya. Tapi belum nyenyak sama sekali suara bel sudah mengganggunya.
Dengan muka bantalnya, Amara membuka pintu. Di lihatnya seorang pria berpakaian rapi berdiri di depan pintu.
"Selamat pagi Nona Amara!",sapa pria itu.
"Subuh ini mas. Bukan hanya pagi!", sindir Amara.
"Maaf sekali sudah mengganggu istirahat anda nona!"
"Emang!",sahut Amara ketus.
Pria itu tersenyum. Meski tampangnya seram dengan tubuh tegap seperti bodyguard tapi ternyata dia ramah.
"Maaf nona, saya hanya menjalankan tugas dari Mr.Frans untuk mengawal anda selama beliau berada di London. Dan ini, beliau meminta saya untuk mengembalikan ponsel anda yang sudah rusak kemarin"
Amara menerima ponselnya yang sudah 'sembuh' karena kemarin sempat hancur oleh lemparan Frans. Ia periksa ponsel nya. Semua masih aman dan ya... lagi-lagi Frans pasti menghapus nomor Alby. Buat apa? Amara sudah hafal di luar kepala.
Tapi... untuk apa hafal nomor ponsel Alby? Bukankah Alby juga tidak percaya padanya ?
"Nama saya Mario. Mulai hari ini, saya akan mengawal anda sesuai instruksi Mr. Frans."
"Apa??", tentu saja Amara terkejut. Itu artinya Frans masih memantaunya meski jarak jauh. Gagal dong rencana Dimas???
"Iya Nona. Mulai hari ini saya akan mengantar anda ke manapun. Saya yang akan melindungi anda dari segala macam ancaman."
Amara menatap bodyguard yang Frans kirim untuknya.
"Kamu tidak tahu saya? Saya mantan Letnan satu di angkatan darat. Saya bisa menjaga diri saya sendiri. Selama bos mister kamu tidak di dekat saya, jutsu saya merasa bebas dari ancaman! Paham!", usai mengatakan itu, Amara menutup pintunya.
Berbeda dengan Mario, pria tegas itu hanya menghela nafasnya. Jika calon istri majikannya memang mantan anggota yang pastinya bisa menjaga dirinya, lantas dia menjaga nona nya dari apa?
Di balik pintu, Amara berusaha meredam emosinya. Oke, Mario hanya menjalankan tugas.
Ponsel Amara berdering, ada panggilan dari nomor luar. Amara yakin itu nomor Frans.
[Hallo]
[Morning baby!Di sini menjelang sore!]
[Apa maksud mu mengirim bodyguard?]
[Tentu untuk menjaga mu baby, terutama dari Alby, atau Febri atau bahkan siapa itu namanya...Dimas. Whatever!]
[Kam....]
[Shut up baby! Kamu dan teman kamu berhasil baby! Selamat!]
Amara menautkan alisnya.
[Apa maksud mu?]
[Aku akui teman kamu pintar. Tapi dia tak jauh lebih pintar dari ku!]
[Katakan saja apa maksud mu Frans!]
[Mereka berhasil membuatku tak bisa kembali ke Indonesia untuk beberapa waktu. Tapi tentu tidak selamanya. Karena aku pasti akan kembali, untuk kamu baby!]
[Kamu...]
[Yes. Tapi tenang saja, aku pasti akan kembali, buat kamu baby! Dan selama aku tidak di sana, Mario akan selalu mengawasi mu!]
[Terserah kamu Frans. Terserah kamu mau bicara apa pun!]
[Mungkin kedua kakak mu berhasil menyembunyikan mami dan papi, tapi... bagaimana dengan keluarga Alby? Are you ready for starting the game?]
[Jangan libatkan siapa pun lagi Frans!!!]
[Jangan berteriak baby! Aku memang tidak di samping mu, tapi tidak dengan orang-orang ku]
Astaghfirullah!!!! Apa lagi ini???? Amara meraup wajahnya.
Tanpa basa-basi Amara langsung mematikan sambungan ponselnya. Mami papi nya memang sudah di berangkatkan ke Padang, kampung halaman mba Mayang. Alasannya, Abah dan umi mba Mayang baru saja membangun ponpes. Dan berharap jika besannya berkenan mengunjungi mereka sambil mengajak berlibur. Meski tidak tahu berapa lama, sebosannya mereka. Karena, bagaimana pun kedua orang tua itu nonis. Tapi mereka sangat menjaga toleransi satu sama lain. Itu lah kenapa, anak-anaknya memeluk Islam mereka sendiri masih berpegang teguh dengan keyakinan mereka.
Pukul setengah delapan pagi, Amara keluar dari unit apartemennya. Ternyata Mario benar-benar menunggunya. Tidak hanya Mario, tapi ada beberapa pria berseragam hitam di sekitar Mario.
Frans benar-benar gila! Batin Amara.
__ADS_1
Tanpa menghiraukan Mario, Amara berjalan memasuki mobilnya. Dan ternyata apa? Mario dan pasukan nya mengawal Amara. Siapa yang akan nyaman di buntuti seperti itu???
Amara tak mau ambil pusing. Masalahnya sudah sangat banyak! Dia tak ingin menambah beban pikirannya dengan hal-hal yang menurut nya terlalu lebay.
Sesampainya di kantor, Amara langsung menuju ke ruangannya. Tapi dia berpesan pada sekuritinya agar tidak membiarkan Mario dan rekan-rekannya masuk ke kantornya.
Setidaknya, Amara tak terlalu di awasi oleh Mario.
.
.
Berbeda dengan Amara, Alby yang tak bisa tidur semalaman pun langsung bertolak ke kantor k**** di mana Febri, Dimas dan Seto berdinas.
Masih jam delapan pagi, Alby harap Dimas belum di sibukkan dengan kegiatannya. Alby ingin meminta penjelasan dari Dimas yang justru memberikan ide yang menurutnya konyol.
"Selamat pagi!",sapa Alby pada petugas pos jaga.
"Selamat pagi. Ada yang bisa kami bantu?", tanya petugas tersebut.
"Saya ingin bertemu dengan Dimas!"
"Maaf, yang bernama Dimas di sini banyak pak. Bisa lebih spesifik, nama lengkapnya?"
Alby mengusap pelipisnya.
"Saya tidak tahu nama lengkapnya. Yang saya tahu dia sahabat Febri dan Seto. Mereka sama-sama dinas di sini!"
Petugas jaga itu terdiam beberapa saat. Tapi ternyata, yang di harapkan pun muncul dengan sendirinya. Dimas sedang berjalan menunduk ke arah Alby sedang memainkan ponselnya.
Pria gagah itu tak menyadari kehadiran Alby. Petugas itu pun ikut menatap arah mata Alby. Tanpa mengatakan apapun pada petugas jaga, Alby langsung menghampiri Dimas.
Tiba-tiba saja Alby menarik kerah seragam Dimas. Dimas yang tak fokus pun terkejut melihat kehadiran Alby di kantor nya.
"Alby?"
"Dim! Sahabat apa Lo hah? Kenapa Lo biarin Amara sama Frans? Jawab?",kata Alby meski pelan tapi penuh penekanan.
"By, sabar. Lo salah paham!",Dimas berusaha menurunkan tangan Alby dari kerahnya.
"Alby!", Febri menarik tangan Alby dari kerah kemeja sahabatnya. Alby menoleh pada suami dari mantan istrinya itu.
Dimas pun membenarkan posisi kerahnya. Lalu menatap Alby kesal.
"Keruangan gue!",ajak Febri pada Alby. Dimas masih mendengus kesal.
"Lettu Dimas!"
"Siap!"
"Keruangan saya sekarang!"
"Siap!",sahut Dimas lantang.
Ketiga pria tampan itu pun masuk ke dalam ruangan Febri.
"Duduk!",titah Febri. Alby menopang kedua tangannya di lutut.
"Minum!", Febri menyodorkan dua gelas air mineral di depan Dimas dan Alby. Keduanya pun menurut.
"Kenapa Lo dateng marah-marah By?",tanya Febri.
"Lo berdua udah biarin Mara tunangan sama Frans?!", tatapan mata Alby sengit pada Dimas.
"Iya. Emang rencananya gitu!",celetuk Dimas.
"Lo...!",Alby hampir terpancing emosi lagi.
"Sabar By!",cegah Febri.
"Emang harus gitu rencananya begini, kudu ada acara tunangan segala?",tanya Alby dengan kesal.
"Jelasin Dim!",pinta Febri.
"Ya itu salah satu cara biar Frans yakin kalo Mara udah tunduk sama Frans. Habis tunangan, Frans balik ke London. Dan gue...bikin Frans ngga bisa balik lagi ke sini!",jelas Dimas.
Alby menatap bingung pada Dimas.
"Maksudnya apa?",tanya Alby.
__ADS_1
"Udah lah, gue yakin Lo ga bakal paham mekanismenya. Intinya Lo sama Mara terima beres. Setidaknya sampe beberapa waktu dia ga balik ke sini. Tapi...kayanya dia bakal cari banyak cara buat bisa ke sini lagi. Tinggal Lo sama Amara mau gimana kelanjutannya. Gue harap Amara ga nyesel udah milih Lo!",kata Dimas masih dengan nada kesalnya.
Sebenarnya Alby emosi pada bocah Jawir itu, tapi bagaimana pun juga dia sudah membantunya.
"Tapi...Amara sudah di khitbah oleh Frans. Lo tahu apa hukumnya merebut perempuan yang sudah di khitbah hah?",tanya Alby.
"Itu cuma tunangan By!",kata Dimas tak mau kalah.
"Bisa aja Mara batalin tunangan itu",lanjut Dimas lagi.
"Oh, iya. Semudah itu emang! Jangankan cuma tunangan, masih istri orang aja bisa kok di tungguin jandanya. Begitu maksudnya kan? Kaya komandan Lo ini?!"
Febri sedikit tersentak, merasa tersindir. Tapi emang kenyataannya begitu sih. Dia nunggu jandanya Bia.
"Lo emang ga tahu diri ya By! Ga usah ungkit-ungkit lagi meski kenyataannya emang begitu sih!",kata Dimas.
"Sialan koe Dim!", celetuk Febri.
"Udah clear kan masalah nya? Gue mau kerja, ga mau makan gaji buta!",kata Dimas bangkit dari duduknya.
"Saya permisi Kapt!",kata Dimas ijin keluar dari ruangan atasannya.
"Tunggu Dim!",Alby ikut bangkit. Febri pun melakukan hal yang sama.
"Apa lagi?",tanya Dimas.
"Makasih!",Alby menepuk bahu Dimas yang tentu lebih tinggi darinya.
"Maafin omongan gue tadi!", lanjut Alby lagi.
Akhirnya Dimas pun mengiyakan dan tersenyum tipis.
"Sama-sama. Amara juga sahabat gue. Gue harap, Mara ga salah pilih. Ga mudah jadi Amara. Dan Lo....jangan pernah sakiti Amara! Udah cukup lama dia ngrasain di tolak mulu sama noh...!",Dimas mengkode dengan lidahnya yang mengembung di pipi ke arah Febri.
Febri melotot pada Dimas yang masih mengungkit masa lalu itu. Alby hanya menghela nafas menghadapi kerandoman teman-temannya itu.
"Sekali lagi makasih Dim, Feb!",kata Alby tulus.
"Iya sama-sama!",ucap Febri. Dimas mengurungkan langkah nya ke luar.
"Lo ngga berantem sama Mara gara-gara ini kan?",tanya Dimas.
Alby menunduk tak menjawab pertanyaan dari Dimas. Tanpa menunggu jawaban Alby, Dimas pun keluar dari ruangan itu. Tinggallah Alby dan Febri.
"Selesaikan dengan kepala dingin, jangan dikit-dikit emosi. Belajar dari masa lalu!", Febri menepuk bahu mantan suami dari istrinya itu.
Hah! Belibet amat manggilnya 😁
"Insya Allah, gue pamit Feb. Makasih, makasih buat bantuan kalian semua!"
Febri pun mengangguk. Usai dari kantor k***** , Alby melesat ke kantor Amara untuk meminta maaf padanya. Ponsel nya berdering nyaring ada panggilan dari Azmi.
[Assalamualaikum Bos, ada meeting. Ke mana sih?]
[Walaikumsalam. Lo handel dulu Mi. Gue ada masalah yang harus gue selesain sekarang]
[Apalagi? Masalah hati?]
[Heum! Udah ya. Assalamualaikum]
[Ya udah. Waalaikumsalam]
Mobil Alby sudah sampai di kantor Amara. Tapi saat dia akan masuk ke kantor, ada yang mencegatnya.
"Maaf Pak, anda di larang menemui nona Amara!",kata orang tersebut yang tak lain Mario.
"Kamu siapa? Ngapain ngelarang saya bertemu Amara?"
Mario memang sudah mengenali wajah Alby dari informasi yang ia dapatkan dari Frans.
"Maaf pak. Tapi Mr.Frans meminta saya untuk menjaga nona Amara, apalagi dari anda Pak Alby!",lanjut Mario.
"Frans????"
Wajah Alby memerah menahan emosinya.
*****
Makasih 🙏🤗
__ADS_1
Lanjut ora??? 🤔