
Hari berganti minggu, Minggu berganti bulan. Masa-masa muram itu kian berlalu. Amara dan Alby semakin romantis merajut kasih. Berbeda dengan Azmi yang seolah lelah mengingatkan sang bos karena ia gagal membentengi bos nya untuk tidak melakukan hal yang 'iya-iya'.
"Ini laporan meeting kemarin bos!",Azmi memberikan sebuah map file.
"Heum, makasih!",sahut Alby.
"Oh ya bos, ada undangan pernikahan dari Lettu Dimas dan Nona Anika!",Azmi menyodorkan undangan cukup simpel namun elegan berwarna hitam dan emas.
"Dimas mau nikah?",Alby meraih kartu undangan itu. Di bacanya tanggal dan hari acara itu di langsungkan.
"Lo ikut ga Mi?",tanya Alby pada aspri nya.
"Ga lah. Ngapain. Di undang juga kagak."
"Ya, Lo nemenin gue kali."
"Iya kah? Bukannya bakal datang sama calon ibu sambung Nabil?",tanya Azmi sambil memicingkan matanya.
"Hehhehe ya maap. Gue belom bisa kaya Lo Bray. Belum jadi orang alim." Azmi mengedikan bahunya.
"Surga neraka mu bukan urusan ku, yang penting gue udah ngingetin!"
"Njir, serem amad pak ustadz!"
"Paan sih, gue bukan ustad. Yang penting gue udah kasih tahu sama bos. Dan ya, tahu lah yang baik gimana yang buruk gimana. Masing-masing punya konsekuensinya sendiri."
Alby bangkit menepuk bahu sahabatnya itu.
"Iya, maaf. Gue belum bisa kaya Lo. Makasih selama ini Lo udah ngingetin gue terus. Tapi ya...gue masih jauh dari kata sempurna. Insyaallah kalo gue udah nikah nanti beneran deh, gue bakal jaga mata,hati, telinga sama kulit gue untuk bersentuhan dengan non mahram."
"Sekarang?"
"Ya...Lo tahu lah Mi. Gue masih suka begini begitu! Lo paham maksud gue."
Azmi menghela nafas pelan. Urusan hati bosnya emang harus di hadapi dengan sabar, bukan dengan senyum.
"Terserah!",ujar Azmi sambil berdiri hendak keluar dari ruangannya. Tapi di saat yang bersamaan, ada seseorang yang mengetuk pintu ruangan tersebut.
Tok...tok ...
"Masuk!",pinta Alby. Pintu pun terbuka, muncullah sosok perempuan cantik dengan balutan dress batik modern berlengan pendek dengan panjang selutut.
"Hai?",sapa perempuan itu.
"Marsha!", Alby cukup terkejut melihat kedatangan mantan sekretarisnya itu. Perempuan cantik dengan perut sedikit buncit itu menghampiri Alby dan Azmi.
"Apa kabar By?",sapa Marsha pada Alby.
"Alhamdulillah, gue baik. Wah, kayanya ada kabar gembira nih. Mau punya ponakan nih gue?",tanya Alby melihat perut Marsha yang membuncit.
Marsha terkekeh pelan sambil tersenyum. Azmi sendiri menundukkan pandangannya dari sosok cantik di hadapannya itu.
"Saya kembali ke meja ya Bos, permisi mba Marsha!",sapa Azmi sopan pada mantan sekretaris Alby yang posisinya sudah ia gantikan.
Tinggallah mereka berdua berada di ruangan itu. Dua sahabat itu pun bercerita banyak hal. Marsha bercerita tentang kehidupan rumah tangga nya dan juga kehamilannya. Begitu juga dengan Alby yang bercerita tentang tambatan hatinya yang baru.
"So, kapan kalian menikah?",tanya Marsha. Mungkin, perempuan itu sudah melupakan bahwa dirinya juga pernah jatuh hati pada sosok sahabatnya itu.
"Belum tahu juga Sha. Kalo keinginan ke arah sana mah ya, insya Allah udah ada."
"Ya udah, nunggu apa lagi? Amara dan Nabil udah bisa saling menerima kan?",tanya Marsha.
"Ya, udah sih. Mereka tampak cocok-cocok aja. Cuma...gue belum ada mental buat nemuin papi nya Amara. Feeling gue, papinya Amara bakal nolak gue. Karena ya... Lo tahu lah Sha, status gue apa. Sedang Amara kan gadis, dari keluarga berada. Gue sendiri? Gue di posisi begini juga karena anak gue. Mendadak gue insecure, papinya Amara emang mau punya menantu kaya gue?"
__ADS_1
Marsha menggeleng heran dengan jalan pikiran Alby.
"Lo, kalo mau mikir kaya gitu kenapa ngga dari awal?!"
"Maksudnya?"
"Ckkk, aneh Lo mah By! Kalo emang Lo takut gara-gara status Lo, kenapa Lo berani main hati sama anaknya tuan Rahadi? Udah terlanjur begini, masa mau mundur?"
Alby tak menyalahkan ucapan Marsha, benar katanya. Kalau memang dia takut karena hal itu, kenapa dia berani menantang untuk bertanggung jawab pada Amara tentang 'kejadian' memalukan saat itu hingga membuat mereka bersama seperti sekarang?
Tanpa mereka sadari, orang yang sedang mereka bicarakan ada di balik pintu. Amara sengaja ingin membuat kejutan dengan membawa makan siang masakannya untuk sang kekasih. Tapi ia mengurungkan langkah nya untuk masuk saat Azmi mengatakan ada marsha di dalam. Tapi dia juga tak melarang Amara untuk menemui Alby.
Kekasih manapun pasti akan cemburu jika di dalam ruangan yang tertutup kekasihnya bersama dengan seorang perempuan. Amara sudah terlanjur membuka pintu, tapi belum sepenuhnya. Dia sengaja menguping percakapan dua sahabat itu.
"Lo serius kan sama Amara?",tanya Marsha. Amara masih menguping pembicaraan Marsha dan Alby. Azmi hanya menggeleng heran dengan tingkah kekasih bos nya itu.
"Masuk aja Nona Amara, mereka cuma berteman kok. Tuh, mba Marsha aja lagi hamil!",kata Azmi yang berpikir jika Amara mengira bos nya selingkuh dengan Marsha.
"Stttttt, nanti dulu mas Azmi!",bisik Amara pelan tapi telinga nya masih fokus dengan obrolan di dalam. Azmi hanya mengedikkan bahunya, tak mau ikut campur urusan dalam negeri bos nya itu.
Kembali ke dalam....
"Ya serius lah Sha!",jawab Alby. Amara menyunggingkan senyumnya saat mendengar jawaban Alby tentang keseriusannya.
"Syukurlah kalo iya. Jadi, Lo udah move on dari Shabia Ayu? Maksud gue ...Lo udah bisa lupain dia? Kalo soal almarhumah Silvy mah, gue ga perlu nanya sepertinya!"
Alby diam beberapa saat. Dalam hati Amara, dia berharap Alby mengatakan bahwa dia sudah tak lagi mengingat Bia. Tapi....
"Gue emang cinta sama Amara Sha. Tapi bukan berarti gue udah melupakan Bia. Dia lebih dulu hadir dalam kehidupan gue. Lo tahu seperti apa hancur nya gue saat dia minta perpisahan yang sama sekali gak gue inginkan. Tapi...gue...", ucapan Alby terhenti saat pintu terbuka.
Amara datang dengan wajah murungnya.
"Mara?",sapa Alby. Marsha pun bangkit dari bangkunya lalu tersenyum kikuk pada kekasih sahabatnya.
"Terimakasih sebelumnya ya Marsha, berkat kamu aku jadi tahu seperti apa perasaan Alby yang sebenarnya!",Amara meletakkan kotak makanannya di atas meja. Dia akan berbalik arah, tapi Alby buru-buru Alby mencegahnya.
Karena merasa situasi sedang panas, Marsha pun pamit dengan alakadarnya, lalu keluar dari ruangan Alby. Azmi yang melihat Marsha memegang dadanya pun menatap heran.
"Maaf, mba Marsha kenapa?",tanya Azmi.
"Di dalam Mas Azmi, kayanya mau ada perang dunia deh!",ujar Marsha.
"Hah? Masa sih? Mba Amara tahu kok mba Marsha itu sahabat pak Alby!",kata Azmi.
"Bukan. Bukan karena itu mas Azmi!",kata Marsha.
"Terus?",tanya Azmi makin bingung.
"Tadi kita lagi bahas Bia, Amara masuk. You know lah selanjutnya gimana!",kata Marsha.
"Iya sih, pesona Bia emang beda!", celetuk Azmi. Marsha menoleh cepat pada aspri Alby itu.
"Astaghfirullah!",gumam Azmi sambil menutup mulutnya. Marsha menggeleng pelan. Setelah itu ia pun berpamitan pada Azmi.
Di dalam ruangan Alby, sepasang kekasih itu sedang berdebat. Yang satu masih tinggi egonya, yang satu lagi tak bisa meredam emosinya.
"Untung ada marsha ya By, dengan begitu aku tahu kalo kamu belum move on dari Bia!",Amara menelan dada Alby dengan telunjuknya.
"Sayang, dengarkan aku. Maksud ku itu bukan...."
"Stop by! Stop!",Amara mengangkat tangannya agar Alby tak menyentuhnya.
"Kamu harus dengerin penjelasan aku Sayang, ya?",Alby memegang kedua bahu Amara. Tapi gadis itu menepisnya.
__ADS_1
"Apa yang harus aku dengar? Telinga ku masih cukup baik untuk mendengarkan pengakuan kamu yang masih sulit untuk melupakan Bia. Awalnya aku berusaha untuk memahami hal itu, tapi mendengar pengakuan kamu barusan hatiku sakit By!"
Alby meraih tubuh kekasihnya itu untuk di peluk. Sekuat tenaga Amara meronta karena kesal dan emosi yang meledak-ledak.
"Iya... sayang...iya, aku salah. Aku minta maaf!",ujar Alby pada akhirnya. Dia tak mau jika masalah itu kian memanjang karena hal seperti itu.
Amara mulai tenang, Alby menakupkan kedua tangannya di pipi Amara yang masih nampak menahan emosinya.
Tapi dasar duda mesum, Alby mengecup bibir seksi itu sekilas. Hanya sekilas lho ya!
"Maafkan aku, kalo aku salah. Udah nyakitin hati kamu. Aku memang belum bisa sepenuhnya melupakan Bia...",ucapan Alby terjeda karena Amara meronta lagi. Tapi Alby pun tak tinggal diam. Dia kembali menahan Amara.
"Aku belum bisa sepenuhnya melupakan Bia, maka dari itu... bantu aku buat lupain Bia, dengan cinta kamu. Kamu paham?",Alby menatap mata lentik Amara yang mengembun.
"Maksudnya?",Amara mulai melunak hehehhe
Alby mengajak Amara duduk di sofa. Alby berjongkok di hadapannya.
"Aku pengen kamu bikin aku melupakan masa lalu ku, dengan mengisi masa depan ku. Sama kamu?!",kata Alby sok romantis.
Amara terdiam. Tak menyahuti ucapan kekasih nya itu. Entah di mana pikiran nya saat itu. Saat ia sadar, kekasih sudah menci****.
Ya, gitu lah si duda meresahkan. Susah payah Azmi mengingatkan, tapi ujung-ujungnya begitu lagi begitu lagi.
Amara pun ikut membalasnya bahkan sekarang dia yang lebih dominan. Mungkin ingin meluapkan emosinya. Alby pun membiarkan apa yang kekasih nya lakukan. Toh...ehem...you know lah...
Beberapa menit berlalu, sepasang kekasih itu kini sedang menikmati makan siang bersama. Mereka berusaha untuk melupakan kejadian tadi. Tapi sepertinya 'kegiatan' itu menjadi rutinitas setiap mereka bertemu.
"Oh ya, kita ke undangan Dimas dan Anika bareng aja ya?",kata Alby menyuapi kekasihnya. Amara mengangguk setuju.
"Huum, boleh. Ajak Nabil kan?",tanya Amara.
"Kayanya ngga usah deh. Takut acara nya lama, dia kan ngga betah lama-lama di tempat ramai. Udah tahu sendiri kan?",tanya Alby. Amara mengangguk paham. Grand opening di rumah makan Bia saja, dia jadi pengasuh Nabil yang tak ingin bergabung dengan orang banyak.
"Iya sih. Ya udah, kita pergi berdua!",ujar Amara.
"Mau ke butik?",tanya Alby.
''Buat?",tanya Amara heran.
"Beli pakaian couple!",sahut Alby santai. Amara terkekeh pelan dan menggeleng.
"Maksudnya pakai batik sarimbit gitu?",tanya Amara. Alby pun menoleh pada kekasihnya.
"Ya ngga harus batik sarimbit juga Ra, bisa aja dress atau kemeja yang senada."
Amara menggandeng lengan Alby. Alby pun menoleh.
"Ngga perlu By, aku pergi berdua sama kamu aja sudah cukup. Ngga perlu pakaian yang serasi. Yang penting kita saling melengkapi. Heum?",kata Amara. Alby menowel hidung mbangir milik Amara.
"Iya sayang, aku ikut kamu aja.Oh, iya gimana kabar Frans? Kapan sidang perdana nya?",tanya Alby. Amara menghela nafas.
"Seminggu lagi By. Tapi..."
"Insyaallah aku temenin, oke?"
Amara mengangguk cepat. Keduanya sudah selesai makan siang. Amara pun kembali ke kantor nya.
"Kata Marsha mau ada perang dunia, mana? Aman tuh!", sindir Azmi saat masuk ke dalam ruangan Alby.
"Aman Mi!",sahut Alby.
"Oh, syukur Alhamdulillah kalo gitu mah. Piraku teh aya perang beneran, eh...nu aya mah perang biwir mereunan!", sindir Azmi.
__ADS_1
"Ari maneh mah sok bener lamun nebak!",kata Alby melempar gulungan tisu. Azmi hanya memutar bola matanya malas.