Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 51


__ADS_3

Amara


Sebelum jam makan siang aku keluar dari kantor untuk mendinginkan otak ku. Masalah demi masalah muncul dalam hidup ku. Ternyata tidak semudah itu menuruti apa yang orang tua katakan meskipun itu untuk kebaikan ku sendiri.


Apa selama ini aku kurang mengalah? Satu hal yang saat itu aku sadar egois hanya saat aku memutuskan untuk terjun di dunia militer. Itu saja! Selebihnya, aku kuliah S1 pun mengambil jurusan yang papi minta. Begitu pun dengan S2. Padahal aku ingin mengambil jurusan hukum yang jelas-jelas berhubung langsung dengan bidang ku.


Apa sebagai anak, aku tidak berhak menentukan pilihan ku sendiri?


Frans, kenapa dia tiba-tiba datang dan menambah runyam saja. Masalah dengan Alby saja belum selesai, kenapa dia malah mengarang cerita pada keluarga ku?


Aku melajukan mobil ku tak tentu arah. Mencari tempat yang sunyi untuk ku menenangkan diri.


Di sebuah danau, aku menghentikan mobil ku. Ku pandangi sekitar yang memang tampak sepi. Jarang ada lalu lalang karena memang ini bukan hari libur terlebih ini tengah hari.


Aku memilih duduk di bawah pohon menatap air danau yang tenang. Sunyi! Iya, ini yang ku butuhkan untuk menenangkan diri.


Aku menopang kedua tangan ku di atas lutut yang ku tekuk. Permukaan air begitu tenang. Tapi siapa yang tahu jika di bawah sana, banyak pergerakan yang tak nampak. Begitu pun kehidupan ku. Di saat orang lain melihat ku seolah berada di atas kesempurnaan, namun kenyataannya aku justru rapuh.


Menggelikan sekali seorang Amara rapuh lagi-lagi karena cinta!


Aku menenggelamkan kepala ku dalam lutut. Bahkan menangis pun sepertinya aku sudah tak mampu lagi saat ini.


Cuaca yang tadinya cerah, sekarang mulai mendung dan rintik gerimis pun mulai turun. Aku masih bergeming di bawah pohon. Toh, hujan belum terlalu lebat.


Ku nikmati tiap tetes yang membasahi wajahku. Alay sekali rasanya menangis di bawah hujan ya? Aku memejamkan mataku dan mendongak ke atas. Tapi beberapa saat kemudian aku menyadari jika ada yang menghalangi tetesan air di wajahku. Aku pun membuka mataku.


Saat mataku terbuka, sesosok laki-laki menatap ku dengan pandangan nya yang tak bisa ku artikan.


"Untuk apa kamu menyakiti diri mu sendiri seperti ini?", tanyanya.


Aku mengerjap tak percaya, jika dia ada disini. Kenapa bisa????


.


.


Mami tengah makan siang sambil menjaga Dhea yang mulai aktif di usianya yang menjelang tiga tahun.


Mayang, sang Tante juga membantu mertuanya untuk menjaga Dhea. Karena pada dasarnya, Mayang memang menyukai anak kecil. Nathan sendiri sudah berangkat ke kantornya. Sesekali mereka berdua memang menginap di rumah mami dan papi.


"May!"


"Iya, Mi!"


"Kamu kan lebih dewasa, setidaknya kamu bisa nasehati adik kamu itu. Mami sebenarnya tidak ingin memaksa kehendak kami sama Amara. Tapi, sebagai seorang perempuan sekaligus ibu, mami berharap Amara bisa mendapatkan laki-laki yang menerima Amara apa adanya. Apalagi Frans mengakui kalo mereka...."


"Maaf, Mami. Mayang memang gak terlalu dekat dengan Amara. Tapi, Mayang yakin kalo Amara tidak melakukan hal seperti itu dengan Frans Mi. Mami lebih mengenal anak mami sendiri kan?"


"Iya, tapi dia sudah dewasa. Apalagi... kehidupan nya di luar sana bisa saja mengubah seseorang May."


"Mi, Mara sudah bilang dia tak melakukan apa yang seperti mami pikir. Mami harus percaya sama anak mami sendiri."

__ADS_1


Mami terdiam beberapa saat.


"Mi, biarlah Mara menentukan sendiri siapa yang kelak akan jadi pendampingnya. Kalau memang nantinya Frans yang akan bersama Amara, kita tinggal dukung. Tapi kalau pun ada laki-laki lain yang sebenarnya Mara cintai pun, kita harus tetap mendukungnya."


"Tapi siapa May? Alby? Dari dulu keduanya kenal tak ada kemajuan apa-apa. Dulu, mami pikir Alby alasan kenapa dia pindah keyakinan. Tapi nyatanya, sampai sekarang mami saja tidak tahu lagi seperti apa hubungan mereka berdua."


"Mi, kita doakan saja yang terbaik untuk Mara. Tapi kalo mami mau mendengarkan Mayang, tolong....tolong jangan buat Mara tertekan saat ini. Maaf ya Mi, kalo Mayang terlalu ikut campur. Tapi... keputusan yang Mara ambil, untuk menuruti keinginan mami papi meneruskan perusahaan...itu keputusan yang sulit dan berat Mi. Mami tahu itu kan? Mara sudah bisa menentukan sendiri pilihan dalam hidupnya."


Tanpa mereka sadari, papi menguping pembicaraan antara ibu mertua dan menantu tertuanya. Memang, Mayang perempuan yang sangat dewasa secara pemikiran. Dia bisa mengimbangi pemikiran menurut sudut pandang dia sebagai anak atau pun orang tua.


.


.


"Kenapa kamu bisa di sini, mas?",tanya Amara. Pria itu tersenyum.


"Dari posko Xxx! Ngga sengaja liat mobil kamu. Ku pikir mogok, ngga tahunya lagi main hujan-hujanan!", jawabnya.


Aku menatap nya sekilas. Kenapa setelah dia menikah, justru sikapnya menjadi lebih hangat padaku? Dulu...saat aku menggebu-gebu mengejar cintanya, dia seolah membuat tembok tinggi untuk menghalau ku.


"Oh!", kataku.


"Jangan hujan-hujanan! Ini bukan pilem India!", katanya. Aku pun bangkit dari rumput.


"Bahkan drama nya melebihi serial India, mas!"


"Oh ya?"


"Huum! Aku berulang kali patah hati sama kamu, tapi tak pernah seperti ini!",kataku apa adanya. Ya, pria itu adalah Febri.


"Siapa yang sudah bikin kamu kaya gini? Alby?", tembaknya. Aku menghembuskan nafas pelan.


"Entah!", jawabku.


"Kenapa?",tanyanya. Aku menoleh dan menatapnya penuh selidik.


"Apa Bia merubah mu jadi sosok yang hangat sekarang? Wait...kita sebaiknya berada di sini berdua. Aku takut ada yang melihat kita lalu istri mu salah paham. Ancaman ibu mu bahkan lebih menyeramkan!",aku bergidik ngeri.


Febri tertawa lepas. Dia menunjukan ponsel nya padaku. Ada chat dengan Bia yang mengatakan dirinya tengah bersama ku. Dan Bia sepertinya tak keberatan. Dia sepercaya itu???


"Tidak ada yang harus aku khawatir kan. Bia menaruh kepercayaan padaku, dan aku tidak akan pernah mengkhianati kepercayaan Bia."


Aku mengangguk pelan. Benar, mereka memang pasangan yang serasi. Bia memang baik, wajar saja jika seorang Alby susah melupakannya.


"Jadi, apa yang Alby lakukan sampai kamu seperti ini!?"


"Huft! Bukan hanya alby Mas! Frans menyusul ke sini!"


"Dokter Frans?",tanya Febri. Aku mengangguk.


"Lalu? Apa masalah nya? Dia...mau melanjutkan hubungan kalian?",tanya Febri.

__ADS_1


"Mungkin ini hal yang memalukan mas. Tapi ..dia tak sebaik yang kalian kira."


"Maksudnya?"


"Aku...menjalin hubungan dengan Frans, tapi ternyata...dia suami orang. Bahkan saat itu istrinya sedang hamil besar."


"Astaghfirullahaladzim!"


"Dan sekarang dia datang katanya ingin melanjutkan hubungan kami karena anak dan istrinya meninggal saat melahirkan."


''Innalilahi wa innailaihi Raji'un!",gumam Febri.


Setelah itu kami terdiam.


"Dia bahkan sudah menemui kedua orang tua ku mas."


Febri mengangguk paham sekarang. Wajar jika seorang Amara galau.


"Selain karena itu, aku yakin ada faktor lain. Mungkin... karena Alby?",tanya Febri padaku.


Aku menoleh padanya. Tapi untuk menceritakan soal kejadian di apartemen, lebih baik tidak ku ceritakan. Itu aibku, aib Alby juga sih! Apalagi, kalo mas Febri cerita pada Bia yang notabene mantan istri Alby yang masih sangat Alby cintai. Bukan kah itu juga menjatuhkan harga diri Alby...???


Ya Allah, aku masih memikirkan harga diri nya segala sih....?


"Pulang lah! Sebaik-baiknya tempat mengadu itu pada sang pencipta. Bukan pada dedemit di pinggir danau!", celetuk Febri. Aku memicingkan mata ku.


"Aku kan curhat nya sama kamu mas, berati kamu dong dedemit nya hahahaha!"


Mas Febri mendengus kesal. Tapi bagi ku terlihat lucu! Ya Allah, kenapa aku merasa dekat dengan Febri setelah dia justru menjadi milik orang lain???


"Nah gitu, ngga usah cemberut. Semua masalah ada jalan keluarnya kok."


Aku tersenyum kecil. Hujan pun sudah berhenti.


"Pulang gih! Kalo kamu butuh teman bicara, kamu bisa curhat kok sama aku, sama Bia juga boleh. Banyak hal yang perlu kamu syukuri, karena semua orang pasti punya masalah dengan kapasitas nya masing-masing."


"Huum! Siap Kapt!",kataku menaruh hormat padanya. Dia pun melakukan hal yang sama seolah kami masih seperti atasan dan bawahan. Aku merindukan momen-momen ini dengan rekan ku yang lain juga.


"Sesekali main lah ke kantor, aku yakin banyak yang kangen sama kamu?!",kata Febri. Apa dia bisa membaca pikiran ku? Aku mengangguk tipis dan tersenyum.


Ternyata, aku sedikit lega saat memiliki teman bicara yang tepat.


"Kalo gitu, aku pulang dulu. Payung nya ku bawa lagi, udah ga hujan ini?"


"Iya, silahkan! Makasih mas, udah jadi teman bicara ku?"


Mas Febri tersenyum tipis. Dia meninggalkan ku setelah mengucapkan salam.


******


Eh?? ada mas kapten? ada tapi ga sering lah dia nongolnya heheh sesekali ngga apa-apa lah ya 🤗😆😆

__ADS_1


mohon maaf Kalo banyak typo, suka Bae kelewat lho padahal udah di cek 😆


Makasih 🙏🙏🤭🤭


__ADS_2