Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 102


__ADS_3

Alby


Di sebuah rumah....


"Mas, tadi Alby bilang mau ke sini, ada perlu sama kamu!",kata Bia pada Febri.


"Tumben? Ada perlu apa katanya?",tanya Febri sambil menyesap kopinya.


"Ngga tahu!",Bia mengangkat bahunya. Selang beberapa saat kemudian, pasukan gesrek yang sudah janjian akan berkunjung pun datang memenuhi teras. Siapa lagi kalo bukan dua Lettu dan dokter yang sekarang sudah tidak dingin lagi 😁


Febri langsung keluar menuju ke ruang tamu. Beruntung sang ibu sudah pulang ke kampung lagi tadi ashar. Kalau tidak...beuh...di jamin squad nya bakal jadi bulan-bulanan ibunya yang di kenal galak.


"Assalamualaikum!",kata tiga pria ganteng itu.


Febri melangkahkan kaki membuka pintu ruang tamunya.


"Walaikumsalam!",jawab Febri. Segerombolan kang rusuh pun masuk ke ruang tamu tanpa komando sang empunya rumah.


"Ngga usah berisik. Anak-anak gue udah tidur!",kata Febri.


Keempat pria itu pun saling bercerita tentang banyak hal. Ya, mereka merindukan saat-saat seperti ini. Seto dan Naya sudah menikah, tinggal Dimas saja yang masih belum sah. Dan itu cukup membuat dia jadi bahan bulian para sahabatnya.


Di tengah keasikan obrolan mereka....


"Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam!",sahut keempat pria gagah yang ada di dalam ruang tamu. Semua menoleh padaku.


"Eh, By! Masuk!",ajak Febri. Aku akui, dia memang ramah. Dan tidak sedang berpura-pura baik. Wajar saja jika Bia jauh lebih memilih pria itu, bahkan Amara pun sulit melupakan sosok pria idaman kaum hawa itu. Selain karena rupa, juga karena pekerjaan nya yang mentereng. Astaghfirullah!!!


Aku pun mengangguk lalu masuk dan ikut duduk di antara mereka semua.


"Gue ga tahu Lo mau ke sini By, tahu gitu tadi bareng!",ujar Sakti padaku.


"Heum, tadi aku nganter Nabil dulu. Soalnya dari pagi ikut ke kantor."


"Oh, gitu!", kata Sakti. Dimas dan Seto yang memang tak begitu akrab dengan ku pun hanya basa-basi sekedarnya saja.


Tak lama kemudian, Febri pun keluar membawakan secangkir teh. Mungkin untuk ku? Karena...ada empat cangkir kopi hitam di meja, satu-satunya teh ya untuk ku.


"Silahkan By! Bia yang bikinin kok. Dia kan yang tahu selera kamu!",kata Febri tersenyum.


Maksudnya apa nih? Ngeledek apa gimana?


"Makasih!",kataku.


"Oh ya, tadi Bia emang sempat bilang kalo kamu mau ke sini ada perlu sama gue, kenapa?",tanya Febri. Aku menoleh pada Sakti yang mungkin sama herannya. Begitu pula Dimas dan Seto, aku harap mereka ya km berpikir kalo kami akan adu mulut apa lagi adu otot.


"Ini....soal Amara!",kataku. Sakti yang mungkin paham pun menatap ku.


"Amara kenapa?",tanya Febri.


Aku menceritakan dari awal sampai kejadian hari ini yang membuat mereka cukup tercengang. Tak terkecuali Seto!


"Tunggu! Dokter Frans seperti itu!? Rasanya mustahil!",kata Seto.


Yup, Seto dan Febri memang cukup kenal dengan dokter itu selama mereka di negeri konflik dulu.


"Tapi kenyataannya memang begitu To!",sahut Sakti. Dimas yang biasa bawel jika bersama rekannya pun memilih diam karena dirinya memang tak tahu apa-apa. Yang dia tahu, memang Amara bilang cukup dekat dengan Alby. Tapi kalo berbicara soal dokter Frans, dia buta tuli alias tak tahu apapun.


Seto masih terlihat heran. Tapi tidak dengan Febri. Wajahnya seperti terlihat sedang berpikir.


"Apa Amara yang meminta Lo untuk mengatakan ini semua pada kami?",tanya Febri padaku. Aku pun mengangguk.

__ADS_1


"Iya, Amara bilang Lo ahli strategi. Itu pun...kalo Lo gak keberatan Feb!"


Febri terdiam sejenak. Mungkin saat ini dia memang benar-benar sedang mencari ide.


"Mara tidak ingin ambil resiko. Dia bilang, Frans mengancam keselamatan orang di sekitarnya. Lo udah tahu sendiri juga kan Sak? Apa yang Frans lakuin ke papi nya Amara?", tanya ku pada Sakti.


"Huum! Gue tahu!", sahutnya.


"Bukan cuma keselamatan orang tuanya yang Mara pikirkan Sak. Frans juga mengancam kalau...kalau dia bisa merusak karir kamu!",kataku.


"Astaghfirullah!",gumam mereka semua.


"Coba Lo hubungi Amara, gimana perkembangan terbaru nya. Biar kita bisa pikirkan planing yang tepat buat hadapin segala kemungkinan tanpa mengorbankan siapa pun!",ujar Febri bijak. Heum...wajar, dia memang biasa memimpin!


Aku mencoba menghubungi Amara. Tapi sama sekali tidak bisa.


"Mungkin nomor gue di blok sama Amara! Apalagi, Frans juga meretas nomor Amara!",kataku.


"Kalo Frans meretas nomor Amara itu artinya...Frans tahu jejak panggilan atau story chat Amara dong?",tanya Febri. Aku pun mengangguk.


Tiba-tiba mata Febri mengarah pada Dimas. Febri menatapnya intens sambil tersenyum tipis.


"Ngapa koen nyawang aku kek kuwe Feb?",tanya Dimas dengan logat ngapaknya.


(Kenapa kamu liat aku begitu Feb?)


Aku yang tak begitu tahu arti ucapan Dimas, tapi cukup paham maksud nya pun mungkin akan bertanya dengan hal serupa.


"Lo pernah ketemu Frans?",tanya Febri pada Dimas. Dimas menggeleng.


"Kapan terakhir Lo kontak sama Amara?",tanya Febri lagi. Aku...belum paham dengan pertanyaan Febri pada Dimas. Memang apa hubungannya???


"Kapan ya??? Wis suwe Feb! Ada kali berapa bulan!",jawab Dimas.


"Kenapa?",tanya ku dan ketiga pria berprofesi keren itu.


"Gini! Ponsel Amara di retas kan sama Frans? Nah, Frans itu cukup kenal gue dan Seto. Apalagi Sakti, satu profesi dan bekerja di rumah sakit yang sama. Lo By, mungkin Lo saingan terberat Frans. Tapi....Dimas doang yang aman di antara kita semua."


Hallo?? Maksudnya apa sih Febri???


"Maksudnya apa nih?",tanya Dimas. Dia yang tak tahu menahu malah mendadak jadi tumbal ide nya pak kapten. Sahabat sih sahabat tapi jangan neken mentang-mentang atasan!


"Gini!!",kata Febri.Aku, Sakti , Dimas dan Seto mendekatkan kepala kami pada Febri. Febri mengatakan semua rencananya. Kami hanya mengangguk. Hanya Dimas satu-satunya yang mengerucutkan bibirnya.


"Aku pan kawin lho Feb!",kata Dimas.


"Yo ndang kawin toh? Eh ...nikah maksudnya!",kata Febri.


"Tapi keselamatan ku terjamin mbokan? Masa yayang Anika jadi janda sebelum waktunya!",kata Dimas.


"Bibirmu ini lho Dim! Sembarangan!",Sakti melempar mulut Dimas dengan tisu.


"Astaghfirullah, ada kakak ipar! Kelalen aku mas!",ujar Dimas pada Sakti.


"Jadi gimana?",tanyaku.


"Gimana Dim, kapan misi di mulai?",tanya Febri pada Dimas. Dimas mendengus sebal.


"Demi sahabat ku Amara dan juga.... mantan suaminya mba Bia, gue mau deh mulai besok. Tepatnya ni malam deh!",kata Dimas.


Aku sedikit senang, tapi kalimat 'mantan suaminya Bia' terdengar sangat menggangu. Oke, mereka berempat memang sering bertingkah absurb.


"Ngono kan enak Dim!",Febri menepuk-nepuk bahu sahabatnya yang masih jomblo itu.

__ADS_1


"Ngko sit!",kata Dimas. Dia menoleh padaku.


(Nanti dulu)


"By, Lo beneran ada hati sama Amara? Kalo Lo cuma main-main mending biarin deh Amara sama Frans!",kata Dimas. Febri menoyor kepala Dimas dengan gemas.


"Kie di fitrahin lho Feb!",sahut Dimas sewot. Dari tadi dia diam, tapi setelah tahu dia akan jadi ujung tombak mendadak banyak bicara. Maafkan aku Dimas!!!


"Iya, gue...gue emang berniat buat nikahin Amara!",kataku.


"Buset? Wes move on dari Bia? Serius ngga?",tanya Dimas lagi. Aku pun mengangguk.


"Edan rek! Pan mbojo ping telu! Entuk perawan kabeh nin",gumam Dimas tapi masih di dengar oleh Febri dan Seto. Aku pun dengar tapi tak begitu paham ucapan nya.


(Gila? Mau nikah tiga kali! Mana dapat perawan semua)


Dimas di toyor oleh dua sahabatnya sekaligus. Sang calon kakak ipar juga tidak ada niat membelanya. Sakno koe Dim!!!


"Jadi gimana Dim?",tanyaku pada Dimas.


"Heum! Iya, oke aku setuju Bae! Demi temen!",kata Dimas pada akhirnya.


"Alhamdulillah!", semua teman-teman Dimas mengucap hamdalah bersama-sama.


Ponselku berdering nyaring. Ada panggilan dari Azmi.


"Maaf, sebentar!", kata ku sambil berdiri agak menjauh dari mereka.


[Ya Mi?]


[Gue udah di rumah, ke mana Lo? Gue nginep. Ga mau gue pagi-pagi buta suruh Dateng]


[Oh, ya bagus lah. Gue lagi di rumah Febri]


[Ngapain? Ga cari masalah sama mantan istri kan?]


[Astaghfirullah, su'uzon amat sih Mi! Ga, gue lagi ada urusan sama Febri.]


[Soal Amara?]


[Heum]


[Ya udah deh. Gue juga mau langsung istirahat kalo gitu. Jangan kemalaman, besok ga mau gantian nyetir]


[Hallo..??? Lo lupa apa gimana?]


[Please! Ga usah ngedrama bos nya siapa? Gue tahu kok. Assalamualaikum]


[Walaikumsalam!]


Aku kembali duduk bersama mereka. Aku masih mendengar diskusi antara Dimas dan Febri. Semoga apa yang mereka rencanakan berjalan lancar dan tidak menyakiti siapa pun.


"Udah malam, gue balik deh kalo gitu. Makasih ya semuanya!",kataku.


"Ya, semoga sukses rencana kita ya!",kata Febri.


"Aamiin!", sahut kami semua. Ternyata bukan hanya aku yang pamit. Tapi Sakti dan Seto pun ikut pulang. Hanya Dimas yang tertinggal di sana. Katanya dia biasa weekend di sini biar pagi nya bisa pinjem mobil Febri untuk mengajak Anika pergi.


******


Huuuhhh! Berasa di episode Albia sama Febia ya?? Maapkeun 🙏🙏🙏🙏


Selingan kok. Ga sering-sering juga! Betewe... kira-kira apa ya ide yang mas kapten katakan sampe seorang Dimas di tumbalin??? 🤔🤔🤔

__ADS_1


Makasih yang udah mampir ke sini. Hatur nuhun 🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2