
Beralih ke Abi nya Putri dulu ya....✌️✌️✌️Mon maap kalo yang ga suka, skip aja 🙏✌️
Nur sudah di pindah ke ruang rawat. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Azmi yang sudah seharian bekerja di kantor pun merasa sangat lelah.
Azmi memilih untuk merawat Nur di kelas dua. Karena kelas tiga sedang penuh. Sebenarnya bisa saja Azmi memesan kelas VIP ,hanya saja takut memberatkan Nur saat ia menggantinya besok. Pelit amat??? Bukan masalah pelit, di rumah sakit ini biayanya cukup mahal untuk kelas dua sekalipun. Tapi hanya rumah sakit ini yang paling dekat dengan kosan mereka.
Duda beranak satu itu duduk di bangku tunggu sambil menyandarkan kepalanya dan meluruskan kakinya. Biasanya ruangan itu di pakai dua pasien, tapi kali ini Nur hanya dirawat sendiri.
Azmi sudah solat isya sekaligus mengisi perut. Hanya saja belum mandi. Beruntung ruangannya sejuk, kalo tidak... entah lah seperti apa rasanya.
Lama kelamaan, mata Azmi terlelap saking lelahnya.
Disaat Azmi mulai lelap, Nur justru siuman. Dia membuka mata perlahan, mendesis pelan saat merasakan ada jarum di tangannya.
'Gue kenapa?', batin Nur. Lalu ia mengucek matanya, setelah itu ia menoleh pada sosok yang ada di samping nya yang tertidur di kursi sambil melipat kedua tangannya di dada.
Lelaki berkemeja cream yang lengang di gulung hingga siku terlihat pulas tertidur. Nur mengamati Azmi yang jika sedang tidur begini terlihat sangat tampan berlipat-lipat. Biasanya dia memasang wajah judes dan ketus jika bicara dengannya.
Tapi Nur baru melihat sisi lain dari Azmi yang baru beberapa hari terakhir ia kenal.
'Ternyata kamu tampan ya A, sebelas dua belas sama mas Alby!', batin Nur lagi. Tapi setelah itu, ia menggeleng cepat.
Ngapain sih gue muji dia? Dia kan judes pake banget. Tapi, gue harus makasih sama dia karena dia udah bawa gue ke sini! Monolog Nur yang jelas masih lemas untuk sekedar berbicara.
Sayangnya, kerongkongannya terasa begitu kering. Dia sangat haus. Tapi dia tak bisa mengambil minum yang ada di atas nakas.
Dengan menahan malu dan menurunkan gengsinya, Nur memanggil Azmi pelan.
"A...A Azmi!", panggil Nur sekali. Tak ada reaksi dari Azmi. Nur mencoba memanggilnya lagi bersamaan dengan dering ponselnya yang berbunyi nyaring. Otomatis mata Azmi terbuka.
"A...Azmi!", panggil Nur lirih. Azmi langsung menoleh ke arah Nur.
"Eh, udah sadar? Alhamdulillah! Mau minum?",tanya Azmi penuh perhatian. Nur pun mengangguk lemah. Ponselnya masih berdering nyaring dari arah tas Nur.
Azmi memberikan minum lebih dulu pada Nur.
"Pelan-pelan, ngga ada yang minta juga!", kata Azmi seperti biasa. Jika sedang dalam keadaan normal, mungkin Nur akan membalas ocehan Azmi. Sayangnya, dia sedang lemas. Jangankan membalas ocehan si judes, untuk sekedar mangap saja butuh banyak tenaga.
Azmi meletakkan gelas bekas Nur minum. Lalu ia mengambil tas Nur yang ada di laci nakas.
"Ada yang telpon!", ia menyerahkan tas Nur pada si empunya. Nur hanya mendesah pelan.
"Bisa tolong angkat ngga? Aku lemes!",kata Nur lirih. Mau tak mau, Azmi pun membuka tas Nur untuk mengambil ponselnya.
__ADS_1
Teh Salsa calling....
"Ustadzah Salsa yang telpon!", kata Azmi.
"Tolong Aa yang terima ya?", Nur memasang wajah memelas.
Ngapain sih jam segini telpon ya? Ngga tahu apa jam segini waktu nya orang istirahat! Dalam hati Azmi merasa kesal sendiri. Tapi meskipun begitu, dia mengangkat panggilan video tersebut, langsung ia arahkan pada Nur yang terbaring.
[Assalamualaikum, Nur]
[Walaikumsalam]
Azmi yang menyahut salam Salsa. Karena Nur bilang tak punya tenaga untuk banyak bicara.
[Lho, Nur? Kamu kenapa? Kamu di rawat? Kamu sakit apa?]
Nur tidak menjawab apapun hanya nyengir tipis dengan wajahnya yang pucat. Tanpa mengalihkan kameranya ke wajah sendiri, Azmi yang menjawab pertanyaan Salsa.
[Asam lambungnya naik Ustadzah, tadi dia ditemukan pingsan di dapur kosan]
[Terus, ini siapa? Pacar nur?]
Salsa mulai cemas. Nur menggeleng. Sedang Azmi membelalakkan matanya.
[Masyaallah, barrrakalallah.Terimakasih Abinya Putri, sudah bawa adik saya ke rumah sakit]
[Iya ustadzah, sama-sama.]
[Kalau begitu boleh ngerepotin lagi kan abinya Putri?]
[Iya ustazah Salsa, ada yang bisa saya bantu?]
[Tolong nitip adik saya ya, besok sebelum subuh insya Allah saya sama suami saya sampai ke rumah sakit situ]
[Heum, iya Ustadzah]
[Makasih Abinya Putri. Nur! Jangan bikin Pak Azmi repot ya!]
Nur pun mengangguk lemah. Setelah mengucapkan salam, sambungan telepon pun berakhir. Azmi meletakkan kembali ponsel Nur di nakas. Nur berusaha menegakkan badannya tapi dia kesusahan.
"Ngapain?",tanya Azmi.
"Mau pipis!", kata Nur lirih, sekaligus malu.
__ADS_1
"Emang bisa ke kamar mandi sendiri?", tanya Azmi. Nur tak menjawab, hanya menghela nafas panjang.
Kalau memang bisa, sudah ia lakukan sejak tadi. Sayangnya, dia malu untuk meminta tolong pada Azmi yang setahu Nur, laki-laki itu tak mau bersentuhan dengan non mahram.
"Ayo!", Azmi mengambil botol infus yang di gantung sambil memberikan lengannya ke arah Nur. Gadis itu mendongak menatap Azmi.
"Kenapa? Bisa jalan sendiri ke toilet tanpa pegangan?",tanya Azmi sambil memicingkan matanya. Jujur dia merasa sangat lelah dan ngantuk. Apalagi besok pagi pekerjaannya begitu banyak di kantor.
"Emang boleh pegang A Azmi?",tanya Nur ragu-ragu.
"Darurat! Kamu pikir kalo ngga terpaksa karena asas kemanusiaan, aku mau nyentuh kamu? Gendong kamu ke sini!?"
Gue pikir dia ikhlas, ngga tahunya pedes juga tuh mulut meskipun tahu gue lagi sakit begini! Batin Nur.
Dengan perlahan ia pun menuruni brankar dengan berpegangan pada Azmi. Karena masih lemas, ia hampir saja terhuyung. Beruntung Azmi sigap menangkapnya. Dan tanpa banyak bicara, Azmi membawa Nur ke toilet.
Dengan pelan, Azmi menggantung botol infus di gantungan yang ada di toilet.
"Kalo udah selesai, panggil aku!", kata Azmi keluar dari kamar mandi. Nur pun mengangguk lemah. Ngga ada tenaga untuk berdebat dengan si judes itu.
Azmi menunggu di depan kamar mandi. Ingatannya kembali pada saat dirinya merawat almarhumah istrinya yang sakit parah. Bahkan saat sang istri menghembuskan nafasnya yang terakhir, Azmi mendampinginya.
Entah kenapa melihat Nur yang lemah seperti tadi, ia seolah Dejavu dengan saat-saat menyakitkan itu. Rasa takut akan kesedihan dan kehilangan, meski...dia sadar tak ada hubungan apa pun dengan Nur. Bahkan sejak pertama bertemu saja mereka seperti tak bisa akur.
Pintu kamar mandi terbuka, Nur tertatih mencoba keluar dari kamar mandi. Azmi langsung mengambil alih botol infus lalu menggamit pinggang Nur. Nur pun sedikit tersentak lalu menoleh pada Azmi. Keduanya saling berpandangan.
"Ehem...biar ngga jatuh!", kata Azmi mencoba untuk tenang. Nur pun tak berpikir buruk, hanya saja dia segan dengan Azmi yang taat. Dia tak sembarangan menyentuh lawan jenis.
Akhirnya Nur membaringkan tubuhnya di atas ranjang rumah sakit lagi.
"A..."
"Heum?", gumam Azmi yang sekarang duduk di sampingnya.
"Makasih!",kata Nur.
"Iya! Tapi ini ngga gratis, setelah kamu sehat kamu harus ganti semua biaya rumah sakit. Makanya jangan manja, cepet sembuh!",kata Azmi dengan nada tegasnya.
Hidung Nur kembang kempis, tanpa di bilangin pun dia pasti akan menggantinya tak perlu Azmi jelaskan seperti itu! Menyesal ia mengucap terima kasih pada duda itu.
"Ngga usah ngeliat aku kaya gitu!", kata Azmi tanpa menatap mata Nur. Nur pun melengos, menoleh ke arah lain yang tak perlu berhadapan dengan Azmi.
Melihat tingkah Nur, membuat Azmi tersenyum tipis. Entah kenapa dia senang melihat gadis itu dengan wajah kesal. Ada kepuasan tersendiri baginya.
__ADS_1
Azmi pun memilih untuk memejamkan matanya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah agar besok pagi kembali fit untuk menjalani kesehariannya di kantor.