Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 141


__ADS_3

Alby mengirim pesan pada kekasihnya bahwa dirinya sudah sampai di rumah. Langkah kaki Alby langsung menuju ke kamarnya.


Jam sudah menunjukkan setengah sepuluh malam. Alby melepaskan jam tangan serta pakaiannya. Tersisa hanya kaos dalam. Lalu mata nya beralih ke ranjang. Di lihatnya sang putra sudah tertidur lelap. Tapi ada yang janggal menurutnya.


Pria tampan itu pun mendekati Nabil. Bantalnya basah, tepat di bawah mata putranya. Apa Nabil habis menangis???


Alby ingin segera tidur, makanya ia buru-buru membersihkan diri ke kamar mandi. Jadi ia bisa secepatnya memeluk putra semata wayangnya.


Lima belas menit berlalu, Alby sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang nyaman untuk tidur. Dia masuk ke dalam selimut yang sama dengan Nabil.


Saat Alby ingin menyentuh kepala Nabil, tiba-tiba mata Nabil terbuka. Kedua pasang mata itu bertemu.


"Kenapa sayang? Mau minum?",tawar Alby. Nabil menggeleng tanpa melepaskan tatapan matanya dari sang papa.


"Kenapa bangun? Apa papa mengganggu?",tanya Alby pelan.


Nabil kembali menggeleng. Matanya berkaca-kaca melihat papanya yang ada di depan mata.


"Kamu kenapa sayang? Cerita sama papa?",Alby mengusap air mata Nabil yang meleleh, anak tampan itu menangis tanpa suara.


"Apa papa selalu sibuk sama kerjaan papa di kantor?",tanya Nabil. Alby mengerutkan keningnya.


"Eum...ngga selalu sayang. Ada apa? Nabil pengen jalan-jalan sama papa?",tanya Alby sambil mengusap punggung Nabil.


"Apa di kantor masuk jam delapan pagi pulang jam sepuluh malam, setiap hari?",tanya Nabil lagi. Alby mulai paham dengan pertanyaan Nabil.


Putranya sudah hampir tiga tahun. Nabil anak yang cerdas, bahkan kemampuannya di atas rata-rata teman seusianya.


"Ngga kok sayang. Kantor tutup jam empat, kalo papa ngga ada pertemuan dengan teman bisnis papa atau kuliah papa kan pulangnya ngga sampai malam banget. Dan papa udah lama kan ngga keluar kota?"


"Apa setelah papa menikah sama Tante Amara, papa masih sayang sama Nabil? Papa masih tinggal sama Nabil?",tanya Nabil dengan suara seraknya.


Alby sampai tak percaya jika anaknya bertanya seperti itu. Seperti bukan Nabil! Lalu, ia terinspirasi dari mana memiliki pertanyaan seperti itu?


"Apa Nabil bertemu Bian lagi?",tanya Alby. Nabil menggeleng.


"Dari mana Nabil punya pemikiran kalo papa ngga akan sayang sama Nabil lagi kalo papa menikah sama Tante Amara?"


Nabil terdiam. Mungkin dia belum punya jawaban dengan pertanyaan Alby. Tapi dia punya pertanyaan lain yang cukup menohok Alby.


"Papa sibuk sama pekerjaan, sibuk sama kuliah papa, nanti setelah menikah papa pasti juga sibuk sama Tante Amara yang sama-sama kerja kaya papa. Lalu, apa Nabil akan seperti ini terus?"


Mata Alby berkaca-kaca mendengar serentetan pertanyaan Nabil. Dia pikir, selama ini putranya baik-baik saja. Ia cukup merasakan kasih sayang yang melimpah darinya dan juga Neneknya. Tapi sekarang? Apa ini bentuk protes Nabil?


"Jangan berpikir seperti itu sayang! Sampai kapanpun, Nabil akan selalu papa sayang. Papa janji!",kata Alby memeluk Nabil.


"Papa tahu, Nabil pengen kaya Fesha Ribi. Ibunya selalu bersama. Nabil juga mau punya mama kaya ibunya Fesha Ribi. Nemenin mereka main. Nyuapin. Boboin."


Nyesss...ada perasaan aneh dalam dada Alby. Kenapa standar 'mama' yang ada di mata Nabil harus Bia? Bukan yang lain.


Alby masih memeluk erat Nabil dalam dekapannya.


"Apa Nabil ngga boleh punya mama yang nemenin Nabil terus? Kalo bunda masih ada, mungkin Nabil ngga akan cengeng ya pa?",Nabil mendongak ke atas menatap wajah papanya yang entah menatap apa.


"Nabil ngga cengeng kok!",Alby ganti mengusap kepala Nabil sesekali mengecup puncak kepala nya.

__ADS_1


"Bunda sudah di surga ya pa? Gara-gara Nabil lahir, bunda jadi meninggal!",kata Nabil lalu terisak di dada Alby.


Lelaki itu merasa tertampar dengan curahan hati sang putra. Ternyata dugaannya selama ini salah! Nabil masih membutuhkan sosok ibu, bukan hanya dirinya yang butuh pendamping hidup.


"Nabil ngga boleh bicara seperti itu. Bunda pergi, bukan karena Nabil. Tapi memang sudah ketetapannya begitu sayang. Udah ya, sekarang Nabil bobo! Besok, Nabil ikut papa ke kantor. Istirahat makan siang, kita makan siang bareng. Mau?",tawar Alby agar mengalihkan pembicaraan yang sangat sensitif ini.


"Mau pa!",jawab Nabil cepat.


"Ya udah, sekarang bobo lagi ya? Tuh, masih malam?"


"Iya pa!",Nabil kembali memeluk tubuh papanya. Dengan perlahan, Alby mengusap punggung Nabil hingga akhirnya bocah itu kembali terlelap.


Alby memandangi copyan nya sendiri. Tak ada satu pun yang terbuang dari wajahnya di wajah Nabil.


Vy, maafkan aku yang belum bisa membahagiakan putra kita! Maafkan aku! Batin Alby sebelum ia turut terlelap sambil memeluk Nabil.


.


.


Amara sudah kembali ke kantor. Pekerjaan nya yang cukup lama ia tinggalkan semakin menumpuk. Bersyukur dia memiliki Nada yang kompeten dalam menghandle pekerjaannya.


"Nada, apa saat jam makan siang nanti saya ada kerjaan lagi?",tanya Amara pada sekretarisnya.


"Eum, tidak ada nona. Hanya beberapa pekerjaan di meja anda. Tidak ada jadwal keluar hari ini."


Amara mengangguk paham. Lalu ia pun melanjutkan pekerjaannya. Jam berlalu begitu cepat, Alby mengirim pesan jika ia ingin makan siang bersama. Tapi...Amara yang sudah ana niatan untuk menjenguk Frans, ia pun menolaknya. Mara beralasan sedang sibuk dengan pekerjaannya. Akhirnya, Alby pun tak bisa memaksa.


Jam dua belas lewat sepuluh menit, Amara memutuskan untuk menghentikan pekerjaannya. Dia pun keluar dari ruangannya.


"Baik Nona!",Jawa Nada.


Gadis itu pun melesat ke rumah tahanan di mana Frans berada. Dia meminta ijin untuk bertemu dengan Frans pada petugas.


"Nona Amara, sebenarnya sekarang bukan jam besuk. Tapi tuan Frans tidak ada di sel nya, nona!",ujar penjaga.


"Tidak di sel? Lalu dia dimana?",tanya Amara bingung.


(Maafkan daku yang ga tahu prosedur jenguk napi, maapkeun 🙏🙏🙏🙏🙏)


"Tuan Frans ada di klinik khusus Nona."


"Di klinik? Kenapa? Dia sakit?", cerocos Amara. Penjaga itu menggeleng tapi setelah itu mengangguk. Membingungkan!!!!


"Tolong pak, ijinkan saya bertemu dengan Frans. Sebentar aja pak. Habis ini saya mau ke kantor lagi soalnya!",kata Amara beralasan. Padahal mah, kantor-kantor dia. Bebas mau masuk jam berapa juga.


"Baiklah nona, silahkan isi daftar kunjungan!",kata petugas. Usai menandatangani daftar tersebut, Amara pun di antar petugas ke Klinik yang ada di lapas.


Beberapa saat berjalan, seseorang menyapa Amara.


"Lettu Amara?", panggilnya. Amara dan petugas yang tadi mengantar nya pun menoleh. Datang seorang pria yang berpakaian sama seperti petugas yang mengantarnya.


"Pak Yuda!",sapa Mara. Petugas yang di samping Amara pun nampak bingung. Bukannya dia bilang mau balik ke kantor?


"Lettu Amara, apa kabar? mau mengunjungi siapa?", cerocos pak Yuda.

__ADS_1


"Maaf pak Yuda, saya sudah mengundurkan diri. Saya sekarang orang sipil. Bukan anggota lagi!",kata Mara sambil tersenyum.


"Oh ya? Ya sayang sekali ya!",kata pak Yuda.


"Iya pak Yuda, kalau begitu saya permisi ya pak. Mau jenguk rekan saya. Soalnya setelah ini saya mau kembali ke kantor!",ujar Amara.


"Oh iya, silahkan Lettu Amara! Eh...maaf!",kata pak Yuda. Amara pun memaklumi pak Yuda.


Petugas itu mengantar Amara ke ruangan yang hanya di huni oleh Frans. Frans sedang terpejam di atas brankarnya.


"Dia kenapa bisa di sini pak?",tanya Amara pelan pada petugas yang mengantarnya.


"Dia berusaha bunuh diri lagi nona!"


''Bunuh diri? Bagaimana bisa?",tanya Amara terkejut.


Ada dokter yang bekerja di klinik tersebut. Akhirnya ia menjelaskan pada Amara.


"Beberapa kali ia mencoba melompat dari atap saat kegiatan para napi. Tapi kebetulan di gagalkan oleh teman napi yang lain. Setelah itu, dia juga kedapatan sedang memukulkan kepalanya ke dinding. Dan terakhir, setelah sidang kemarin, dia mencoba mengiris pergelangan tangannya lagi. Sebelumnya yang kiri dan kemarin yang kanan. Sebenarnya dia akan di bawa ke psikiater, tapi dia selalu menolak. Dia tak mau di anggap gila. Sepertinya...dia depresi berat nona!",ujar dokter jaga tersebut.


"Astaghfirullahaladzim!",Amara sampai hampir terhuyung karena tak mampu menopang berat badannya sendiri.


"Anda tidak apa-apa nona?",tanya dokter tersebut. Amara menggeleng.


"Apa orang tua nya tidak mengunjungi nya?",tanya Amara lagi. Dokter menggeleng.


"Dia tak mau di temui kedua orang tuanya. Bahkan ia menolak pengacara yang akan mendampinginya. Entah lah Nona!",jawab dokter itu seperti orang yang putus asa.


Dada Amara bergemuruh hebat! Apa ini semua salahnya????


Mendengar suara yang cukup menyita perhatiannya, Frans pun membuka matanya. Pandangan nya bertemu dengan mata Amara, pujaan hatinya.


Lelaki itu menatap Amara datar, tidak seperti kemarin saat ia ditemui bersama Daniel.


"Boleh saya bicara berdua dengan Frans, dok?",tanya Amara pada dokter. Dokter pun mempersilahkan Amara berbicara berdua dengan Frans.


Setelah petugas dan dokter itu keluar, Amara mendekati brankar Frans.


"Bagaimana keadaan kamu Frans?",tanya Amara.


"Seperti yang kamu lihat, baby! Tapi ini tak seberapa dibandingkan dengan hancurnya hidup ku."


Hati Amara mencelos. Ia begitu tak tega melihat mantan kekasihnya seperti sekarang. Seorang jenius, yang memiliki penemuan luar biasa bisa seperti sekarang?


"I'm happy for you,baby!",kata Frans.


(Kaya dialognya Bryan Domani ke Prilly Latuconsina ga sih? Di webseries nya??? 🤭🤭🤭)


Amara tak sanggup menatap mata sayu yang biasa berkaca mata itu.


"Kamu sudah bahagia dengan Alby setelah aku ada di sini bukan!?", entah dia bertanya atau memberi pernyataan.


"Mungkin, aku memang di lahirkan untuk di khianati orang-orang terdekat ku. Bahkan kedua orang tua ku, yang tak pernah menyayangi ku. Mereka hanya menyayangi adikku yang sudah merebut kekasih ku sendiri. Dan mereka meminta ku untuk menerima keadaan menyakitkan itu!"


Mata Frans mulai memerah karena emosinya sudah ia luapkan di depan Amara. Lalu apa yang akan Amara lakukan????

__ADS_1


__ADS_2