
"Neng Bia? Masuk Bi!", pinta Mak Titin. Dia langsung menghampiri mantan menantunya itu.
Bia tersenyum menyambut Mak Titin. Febri ada di kursi roda yang Bia dorong. Setelahnya ia mendekati brankar Amara.
"Mas Febri, Bia!", sapa Amara lirih. Alby seperti salah tingkah karena kehadiran sepasang suami istri tersebut.
Dia malu saat dirinya panik dan seolah menyalahkan Bia yang masih menaruh dendam padanya. Amara melihat suaminya seperti bertingkah aneh. Dia pun menyentuh tangan Alby yang dari tadi diam.
"Aa, ada Bia sama mas Febri. Kamu kenapa diam aja?", tanya Amara. Tentu Amara tidak tahu kejadian dimana Alby seolah menyalahkan Bia. Kalau tahu.... mungkin dia akan sama malunya.
"Gimana kondisi kamu Ra?", tanya Bia perhatian dengan suara lembutnya.
"Alhamdulillah sudah membaik. Mas Febri sendiri, bukannya juga sakit kenapa malah ke sini?", tanya Amara melihat mantan atasannya sekaligus mantan pujaan hatinya.
"Alhamdulillah aku juga sudah lebih baik. Mungkin butuh pemulihan sedikit lama."
Nabil yang biasa nempel pada Bia terlihat murung di samping Amara. Hal itu menarik perhatian Bia yang memang peka terhadap anak kecil.
__ADS_1
"Nabil, apa kabar sayang?", sapa Bia. Mendengar namanya di sebut dan di sapa dengan lembut wajah Nabil berbinar. Ia langsung mendekat pada Bia.
Tangan Bia terulur mengusap kepala Nabil yang mendongak menatapnya.
"Nabil pikir, mama Bia ngga mau nyapa Nabil lagi!", keluh Nabil. Bia tersedak ludahnya sendiri mendengar Nabil lagi-lagi menyebutnya mama. Hal itu pun menarik perhatian Alby, sebagai papa Nabil.
Febri mengusap lengan Bia, lalu memberi sedikit anggukan menandakan bahwa tak perlu keberatan Nabil memanggilnya seperti itu.
"Heum, maaf sayang!", kata Bia tulus. Tapi setiap melihat Nabil, ada perasaan sesak di dada Bia yang hanya ia sendiri yang merasakannya. Ya, Nabil lahir dari perempuan yang sudah merebut suaminya.
Astaghfirullah! Guman Bia lirih.
Bia mendongak menatap Alby yang berada di samping Amara.
"Aa minta maaf!", kata Alby. Semua mata tertuju pada Alby, tak terkecuali Amara sendiri. Maaf untuk apa??
"Kenapa harus minta maaf?", tanya Bia.
__ADS_1
"Karena... seharusnya Aa ngga bicara seperti itu sama kamu. Maafkan Aa yang sudah menyalahkan kamu padahal...aku tahu kamu orang yang pemaaf. Maafkan Aa neng!", kata Alby lesu.
Amara semakin bingung di buatnya. Tapi setelah mendengar Bia, ia pun perlahan paham. Alby cukup punya nyali untuk meminta maaf, bahkan di depan suami Bia.
"Aku paham kok A. Kamu hanya sedang kalut kemarin. Wajar jika kamu berkata demikian, tapi asal Aa tahu. Aku sudah memaafkan mu sejak lama. Meski aku sering bilang tidak akan pernah lupa rasa sakit itu, tapi bukan berarti aku menaruh dendam sama kamu A. Ngga sama sekali!", kata Bia.
"Semua yang terjadi hanya takdir yang harus kita ikut alurnya. Nanti akan ada saatnya kalian merasakan kebahagiaan yang seutuhnya."
"Jujur, Aa merasa malu neng sudah mengatakan hal buruk itu sama kamu di depan orang lain. Aa benar-benar minta maaf!"
"Sudah, ngga usah minta maaf terus. Aku tidak mempermasalahkan hal itu lagi. Yang penting sekarang, Amara sudah terlihat lebih baik dari kemarin-kemarin."
Bia meletakkan tangannya di bahu Febri. Setelah ucapan maaf memaafkan itu , obrolan berlangsung lama. Febri yang menceritakan kronologis seperti apa ia kecelakaan hingga akhirnya ia tahu jika Frans dalang di balik semuanya. Tapi dia juga tidak menyangka jika dokter yang sudah menolong nya dulu justru ingin menghabisinya. Dan yang lebih mengejutkan lagi, Frans sudah tewas.
*****
Beberapa bab lagi habis ya 🤗🤗🤗
__ADS_1
Makasih 🙏🤗🙏