Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 11


__ADS_3

"Mau kemana?", tanya Bram.


"Magang!", jawab Bianca.


"Magang di mana?"


"Di HS grup!", sahut Bianca. Bram yang sedang meminum kopinya tersedak.


"Pelan-pelan mas!", kata Naura, istri Bram.


"Ini juga pelan Ra!", kata Bram pada istrinya yang sedang hamil besar itu.


"Emang salah nya di mana kalo aku magang di sana mas?", tanya Bianca sambil mengunyah makanannya.


"Kamu serius mau magang atau mau gangguin temen mas?"


"Heheheh bisa jadi dua-duanya lah mas. Bukan ganggu sih, pedekate! Heheheh!"


"Sayang, kamu dengar kan apa kata si Biang rusuh ini?", tanya Bram pada istrinya.


"Bian mas!", istrinya membenarkan.


"Memang kenapa sih mas kalo magang di sana? Bagus kan kalo udah kenal sama temen kamu?", tanya Naura.


"Nepotisme itu namanya sayang...!"


"Mas, emang kenapa sih sama mas Alby?masalah? Dia ganteng, Soleh lagi!", kata Bianca.


"Yang jadi masalah, dia ga bakal suka sama bocil kaya kamu!", kata Bram lagi.


"Emang suka nya kaya siapa? Mba Naura?"


Uhuk-uhuk-uhuk


Sekarang Naura yang tersedak.


"Kok bawa-bawa mba sih???", kata Naura.


"Lagian mas Bram gitu!", cebik Bianca.


"Bianca, mas kenal mantan istri pertamanya. Mas juga tahu almarhumah istri keduanya! Jadi...dia ga..."


"Apa? Kamu mau pedekate sama duda dua kali dek? Nggak! Nggak boleh!", kata Naura tiba-tiba.


"Denger kan? Tuh Mbak mu juga sependapat sama mas!", kata Bram merasa menang.


"Kamu tuh masih gadis Bian, ga mau ah. Kasian kamu nya!", kata Naura lagi.


"Emang masalahnya apa kalo dia duda? Toh dia masih muda, ganteng ,soleh! Kurang apa coba?"


"Bianca! Denger apa kata mas mu! Kamu itu masih muda, ngga usah lah neko-neko!", nasehat Naura. Meski hanya adik ipar, tapi keduanya sudah lama dekat sejak Bram dan Naura pacaran.


"Mba Naura belum liat sih pesona nya mas Alby kaya apa. Ya Allah....!", kata Bianca sambil membayangkan wajah Alby yang bersih dan bersinar. Apalagi saat wajahnya masih sedikit basah oleh air wudhu.


Bram dan Naura menggelengkan kepalanya. Tak tahu apa yang harus mereka katakan lagi pada gadis yang sudah mulai dewasa secara usia atau pun pemikiran.


.


.


Aku memakai lagi masker ku. Lalu menekan nomor guru privat les bahasa asing ku. Aku sedang tidak mood untuk belajar. Lagi pula satu jam yang akan datang, aku ada meeting dengan salah seorang pengusaha yang terkenal dengan darah birunya.


Sambil menenangkan pikiran ku setelah bertengkar dengan Marsha, aku memilih lebih dulu menunggu klien ku itu. Aku melepaskan jas ku, lalu ku letakkan di salah satu lenganku.


Mata-mata tajam menatap ke arahku. Apa sebegitu anehnya aku saat ini?


Aku duduk di salah satu kursi yang dekat dengan kaca yang menunjukkan ke arah pintu keluar.


"Permisi, mau pesan apa ya pak?", tanya salah satu pramusaji.

__ADS_1


Aku menoleh sebentar, lalu meminta daftar menu makanan dan minuman.


"Ini sama ini aja mba!", aku menunjuk gambar makanan dan minuman.


"Siap pak, mohon di tunggu!", kata pramusaji. Aku mengangguk tipis. Sambil menunggu klien juga makanan ku, aku memainkan ponsel ku.


Tanpa sengaja aku melihat status wa milik Bia. Bia dan Febri sedang dalam perjalan menuju ke Jakarta. Terlihat dari postingan dan juga swafoto mereka.


Bia nampak sangat bahagia dengan senyumannya yang lebar. Aku lupa, kapan dia bisa tertawa selebar itu saat bersama ku dulu. Febri bisa mengembalikan kebahagiaan Bia. Febri mampu mengobati luka Bia. Tidak seperti aku!


Ya Allah, ampuni aku yang sudah menyakiti nya!


Makanan yang ku pesan pun datang.


"Silahkan pak!", kata pramusaji itu setelah meletakkan makanan pesanan ku di meja.


"Terima kasih!", setelah itu aku melepaskan masker ku. Tak mungkin bukan aku makan dengan mulut tertutup masker.


Si pramusaji memandangku beberapa detik. Aku menoleh padanya.


''Saya sudah pesan. Makanan saya juga sudah kamu antar. Mau apa lagi?", tanyaku.


Pramusaji tadi jadi tersentak karena suara ku yang cukup tinggi plus judes.


"Maaf pak! Permisi!", kata nya lalu pergi dari mejaku. Aku mendesah pelan. Lagi-lagi, aku jadi pusat perhatian. Ini yang membuat ku malas!


Suara bisik-bisik di sekitar mejaku pun cukup mengganggu ku. Aku memejamkan mata ku untuk beberapa saat dan mengambil nafas dalam-dalam. Aku sudah cukup emosi karena urusan dengan Marsha tadi, di tambah urusan tak penting seperti ini.


Aku membuka mataku tiba-tiba sudah ada seorang gadis yang duduk di depan ku dengan tanda tanya besar di wajahnya.


Ya, gadis itu yang ku kenal semalam saat aku hampir di begal.


"Amara?", tanyaku. Dia mengangguk.


"Hai Alby, kita ketemu lagi. Lo ngapain merem di sini? Ngantuk ya? Pulang kuliah udah malem?", tanya Amara.


Nih cowok ganteng banget ya, baru ngeuh gue. Semalam gak seganteng ini deh perasaan! Batin Amara.


"Lo ngapain di sini?", tanya Amara.


"Makan!", kata ku sambil mengangkat sendok. Aku sudah terbiasa membentengi diriku untuk tidak terlalu berinteraksi dengan lawan jenis, selain kedekatan ku dengan Marsha. Tapi ternyata... Marsha pun seperti itu!


Amara yang tak tahu mau membahas apa akhirnya pun pamit.


"Ya udah kalo gitu, selamat makan. Gue... tinggal!", kata Amara. Aku pun mengiyakannya dengan anggukan.


Setelah Amara pergi, ponsel ku berdering. Ada panggilan dari Pak Rahardi.


[Selamat siang pak Rahardi]


[Selamat siang pak Alby, saya sudah di resto Xxx. Anda di mana? Sudah on the way?]


[Oh, saya sudah di sini pak. Anda di meja berapa? Biar saya ke meja anda!]


[Oke. Meja VVIP 01, pak Alby!]


[Baik pak. Saya ke sana sekarang]


Panggilan pun terputus. Aku membayar makanan ku lalu menuju ke meja yang pak Rahardi katakan.


"Selamat siang pak Rahardi!", aku mengulurkan tanganku pada pria berdarah biru itu.


"Selamat siang pak Alby!", kata pak Rahardi. Karena tak enak, aku pun kembali melepaskan masker ku. Toh ,ini di dalam ruangan.


"Sendiri saja pak Alby?"


"Iya pak."


Belum sempat kami membicarakan bisnis, tiba-tiba seseorang masuk.

__ADS_1


"Maaf Pi, Mara dari toilet!", kata Mara. Aku dan Mara sama-sama saling berpandangan.


"Alby!"


"Amara? Lo...?"


"Lho, kalian sudah saling kenal rupanya?", tanya Rahardi.


"Eum, kami satu kampus Pi!", jawab Amara. Rahardi mengangguk paham dan tersenyum tipis.


"Begitu rupanya, bagaimana kalo saya panggil nya mas Alby saja. Anda masih terlihat sangat muda, mungkin seumuran dengan putri saya!"


Amara berdehem pelan untuk menahan papinya berbicara yang tidak-tidak.


Aku hanya mengangguk.


"Bisa kita mulai meeting membahas proyek kita pak? Sekertaris saya sudah membuatkan beberapa daftar bahan baku, yang sebelumnya sudah anda setujui!", kataku sambil menyodorkan berkas yang kubawa tadi.


Pak Rahardi pun membaca berkas tersebut. Kami pun membicarakan tentang proyek yang akan kami kerjakan beberapa Minggu yang akan datang.


"Sebenarnya, putri saya ini anggota TNI AD", kata pak Rahardi melirik Amara yang terlihat diam. Tidak secerewet saat tadi bertemu dengan ku.


"Prajurit wanita?", tanyaku.


"Iya."


Keliatan sih dari postur tubuhnya yang tinggi semampai dengan otot yang kuat, tidak lembek. Nah??? Ngapain gue perhatiin sampe segitunya???


"Sebenarnya saya ingin dia keluar dari instansi nya, karena...hanya dia harapan saya untuk meneruskan perusahaan yang sudah saya rintis sejak muda."


Aku melirik sekilas wajah datar Amara yang sedang di ceritakan oleh ayahnya sendiri di depan ku, rekan bisnisnya.


Aku tak tahu harus berbicara apa, lalu tersenyum adalah pilihan ku. Tapi tiba-tiba saja aku ingin bersin, belum sempat bicara meminta ijin bersin ku keluar begitu saja. Tapi masih bisa ku tutup dan mengalihkan wajahku ke samping.


"Alhamdulillah!", kataku bersamaan dengan Amara.


Rahardi menatap wajah putrinya dengan lekat. Sepertinya....


"Maaf! Maaf saya tidak sopan pak Rahardi, maaf sekali lagi!", kataku.


"Tidak apa!", kata Pak Rahardi memaklumi.


"Jadi, mumpung kalian sudah saling kenal bagaimana kalau kalian meneruskan kerja sama ini?", tanya Pak Rahardi tiba-tiba.


"Papi, Mara kan harus dinas Pi. Hanya hari ini off nya!", kata Amara pada Rahardi.


"Kamu kan baru tugas dari luar, harusnya istirahat lebih banyak dong!", kata Rahardi.


"Iya pap, tapi besok aku juga ada acara sama temen-temenku. Dia mau memperkenalkan istri nya ke kami rekan kerja nya Pi!", kata Amara.


"Siapa? Febri? Kamu mau kenalan sama istri nya Febri? Iya?", tanya Rahardi.


Apa aku tak salah dengar???


"Febri?", tanyaku. Amara dan papinya yang baru menyadari ternyata masih ada Alby di situ pun merasa sedikit malu.


"Iya, Febri atasan ku!", kata Amara dengan nada suaranya yang sedikit bergetar. Dari apa yang ku dengar, sepertinya Amara mengenal Febri cukup dekat.


"Kamu kenal juga sama mas Febri?", tanya Amara padaku. Aku menggeleng.


"Oh!", hanya itu sahutan dari Amara.


Usai berbasa-basi dengan hal di luar pekerjaan, kami pun berpisah.


"Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik ya mas Alby!", kata Rahardi.


"Terimakasih Pak Rahardi, Amara!", kataku menyalami mereka berdua.


"Nanti malam ada kuliah?" , tanya Amara padaku.

__ADS_1


"Iya!", jawabku singkat.


"Oke, sampai ketemu di kampus nanti malam!", kata Amara. Aku mengiyakan ucapan nya. Setelah itu, aku kembali memakai masker ku lagi.


__ADS_2