
Alby
"Papa berangkat ya sayang?!", pamitku pada Nabil yang sedang di suapi teh Ani. Dan bocah itu seperti nya paham jika papanya akan bekerja.
"Sarapan dulu atuh jang!", kata Mak.
"Ngga usah Mak. Nanti sarapan sama Azmi. Biasanya dia bawa bekal sarapan sama makan siang sekalian."
"Lha, masa mau nebeng makan asisten mu terus By? Ngga enak atuh!"
"Kan Alby ge ganti make uang Mak. Ngga gratisan."
"Oh,ya sudah atuh! Hati-hati!"
"Ya Mak. Assalamualaikum?!"
"Walaikumsalam."
Aku pun melesat menuju ke kantor. Aku tersenyum sepanjang perjalanan menuju ke kantor. Ada yang tahu kenapa?
Yup, hari ini ada rapat pemegang saham HS grup. Aku sudah menunggu hari ini tiba. Karena hanya dengan rapat ini, aku bisa memandangi Bia lagi dengan puas.
Ya, meski dia sekarang istri orang sih. Tapi aku belum bisa move on darinya. Entah karena apa!
Aku memberikan kunci pada satpam. Setelah itu aku pun masuk menuju ke lift. Banyak karyawan yang menyapa dan menghormatiku. Tapi seperti biasa, aku masih betah memakai masker ku.
__ADS_1
Aku sengaja berdiri di barisan para pegawai mengantri lift. Padahal sebenarnya lift yang sebelah khusus untuk para petinggi gedung ini.
Dari sini lah aku tahu obrolan-obrolan karyawan ku. Dari yang mengatakan aku jutek, galak, sok kecakepan lah, belagu dan ya....etc. Itu pandangan mereka. Yang lebih menggelikan, aku di bilang 'belok' gara-gara selalu pasang tembok jika di dekati kaum hawa. Rumor itu semakin kencang saat Marsha resign dan digantikan oleh Azmi, seorang laki-laki.
Anggapan itu semakin gencar menjadi gosip di grup pegawai hs grup. Tapi sejauh ini, masih aku diamkan. Dan ya...namanya netizen, aku yang kedatangan Amara pun tak luput jadi bahan gosip mereka.
"Apa kalian di gaji hanya untuk mengomentari saya?", tanyaku dengan suara tenang tapi mengintimidasi. Para ciwi-ciwi yang tadi sedang bergosip langsung menengok ke belakang.
Oke, aku sengaja membuka masker ku. Bukan untuk caper pada mereka. Tapi aku ingin jika mereka mendengar dengan jelas saat aku bicara seperti itu. Tidak seperti orang yang kumur-kumur karena tertutup masker.
Kaum hawa yang tadi bergosip ria pun mendadak pias meneguk salivanya dengan kasar.
"Kamu,kamu dan kamu? Dari divisi apa? Lantai berapa?", cercaku. Mereka pun menjawabnya. Aku merekam jawaban mereka.
"Tinggi sp satu dari saya. Orang HRD akan membawakannya ke meja kalian!", kataku pergi meninggalkan mereka menuju ke lift ku. Setelah itu, aku tak tahu ada kehebohan apa di bawah tadi.
"Pagi pak?!"
"Pagi, bawa sarapan kan?"
"Bawa pak, tapi kayanya bukan selera bapak."
"Apa emangnya?"
"Garang asem pak. Resep dari almarhumah istri saya."
__ADS_1
"Oh, aku doyan kok! biasa ya, ku ganti ntar!"
"Siap pak? oh iya, nanti rapat nya jam satu ya pak?!"
"Iya, aku sarapan dulu ya!"
Setelah mengambil bekal yang Azmi bawa, aku pun sarapan. Meski laki-laki, Azmi punya keahlian memasak yang cukup bagus. Terbukti rasa masakannya enak.
Dia bisa jadi panutan ku selain dari segi agama atau pun pengalaman hidup. Partner kerja yang solid lah.
.
.
Aku dan Azmi menemui klien di lantai bawah. Saat akan menuju lift, seseorang yang ku tunggu kehadiran nya pun berada di sana. Aku menepuk bahunya. Dia nampak terkejut.
"Neng!"
"Aa!"
Dia masih sangat mengenali ku meski aku memakai masker ku. Ku bujuk dia agar mau ikut ke dalam lift khusus.
Acara rapat berlangsung dengan lancar. Usai acara, aku menarik tangan Bia sebelum masuk ke dalam lift. Meski hanya ada kami berdua, Bia tetap tak mau di pegang.
Aku bertanya, apakah dia bahagia dengan Febri. Dengan tegas ia menjawab iya, dan lebih menyakitkan saat aku mendengar jika saat ini ia tengah mengandung.
__ADS_1
Dadaku terasa nyeri, aku merasa ia sedang menyindir ku meski mungkin sebenarnya ia tak ada niat seperti itu.
Dia hanya ingin menunjukkan jika dia sudah bahagia dengan suaminya! Tapi aku masih terpaku dengan rasa bersalah yang teramat sangat sudah menyia-nyiakan nya.