
Amara
Aku dan Frans sudah selesai makan siang di salah satu rumah makan. Kami sudah keluar dari tol dalam kota. Setelah selesai minum, Frans menyodorkan ponselku.
"Kak Daniel yang menghubungi mu dari tadi. Katakan padanya, kamu baik-baik saja bersama ku. Tidak perlu mengirim orangnya untuk menjemput mu!",kata Frans.
Aku sedikit tercengang mendengar hal itu. Kak Daniel sampai mengerahkan anak buahnya untuk mencari ku?
Ada banyak missed called dari nomor kak Daniel dan juga Alby. Mereka pasti sangat mencemaskan ku.
"Aku minta kamu hubungi kak Daniel, Baby! Bukan Alby! Oke?",katanya menyentuh salah satu pipiku. Tanpa menjawab ucapan nya, aku pun menghubungi kak Daniel.
[Assalamu....]
[Mara! Kamu dari mana saja hah? Kemana Frans membawa mu? Apa yang dia lakukan padamu? Sekarang kamu di mana? Ka...]
[Stop kak! Aku baik-baik saja!]
Terdengar helaan nafas dari seberang sana. Antara lega dan kesal mungkin.
[Apa Frans menyakiti mu Ra?]
[Ngga kak. Aku baik-baik saja. Percaya sama aku kak. Dan ... sepertinya kakak ngga perlu nyuruh anak buah kakak buat nyariin aku]
[Astaghfirullah Ra. Kami panik, kamu malah sesantai itu. Frans tidak berbuat macam-macam sama kamu kan?]
Frans merebut ponsel ku lalu merubah dalam panggilan video.
[Hallo Kak?]
Sapa Frans setelah kak Daniel mengubah panggilannya.
[Frans? Kamu bawa ke mana adikku?Jangan pikir aku tak tahu apa yang sudah kamu lakukan sama papi ku]
[Iya kak. Aku minta maaf!]
Frans menoleh padaku.
[Minta maaf?]
Dari seberang sana kak Daniel terdengar tidak yakin sama sekali.
[Bisa kita bicara di rumah saja nanti kak? Setelah papi pulang. Percaya padaku, besok siang papi sudah bisa keluar dari rumah sakit]
Frans meyakinkan kak Daniel, sekaligus aku mungkin.
[Apa maksud mu? Kamu mengakui...]
[Iya kak, kak Daniel akan mendengar penjelasan ku nanti. Sekarang...kami berdua akan pulang. Malam ini aku praktek dan Mara juga sudah ada janji ingin bicara dengan Mommy ku]
Frans menoleh padaku. Kenapa dia tahu jika aku ingin bicara dengan Tante Elizabeth???
[Ingat, jangan macam-macam pada adikku! Kalo tidak, aku akan membuat perhitungan dengan mu Frans!]
[Iya kak. Bagaimana mungkin aku akan menyakiti perempuan yang sangat aku cinta. Sekali ini percaya padaku kak! Jadi, bilang sama anak buah kak Daniel. Tak perlu menjemput Amara. Aku sendiri yang akan membawa Amara pulang]
__ADS_1
[Baiklah! Jangan salah gunakan kepercayaan ku pada mu Frans!]
[Tentu saja kak. Aku tak akan mengecewakan mu]
Panggilan itu berakhir. Frans mengembalikan ponsel itu padaku. Setelah itu ia menggandeng ku menuju ke mobil.
"Frans?!",aku menarik tangan nya agar berhenti.
"Kenapa baby?", tanya nya.
Aku tak mengatakan apapun sampai dia memegang kedua tangan ku.
"Aku tak mengijinkan mu menghubungi Alby. Kamu hanya milikku baby!"
"Tapi ak..."
"Shhhuuttt... please, lupakan Alby! Aku janji akan jadi pria yang baik, untuk mu! Oke?",dia menyentuh bibir ku dengan telunjuknya.
"Dengarkan aku baby!"
"Aku... sudah bilang tidak ingin menyakiti orang lain lagi bukan, demi kamu!", lanjutnya.
"Tapi jika kamu masih bersikeras untuk menghubungi pria itu, aku tidak segan-segan untuk menyingkirkannya sejauh mungkin dari mu. Heum??",katanya penuh penekanan.
Aku meneguk ludahku kasar. Basic militer ku nyatanya tak membuat ku merasa aman. Frans bukan tipe laki-laki yang bisa ku lawan dengan kekerasan.
Setelah itu, dia mendorong ku masuk ke dalam mobil. Di sepanjang perjalanan, Frans menggenggam tangan kananku. Saat ia menarik tuas, tanganku pun melakukan hal yang sama. Ponsel ku berdering dari tadi. Frans menoleh padaku. Mungkin memastikan aku tak mengangkat panggilan itu.
"Berikan ponsel mu baby!",pintanya pelan. Aku bergeming.
"Aku tak mengangkat panggilannya!",kataku sambil menatap arah lain. Frans terkekeh pelan.
Dengan berat hati aku menyerahkan ponsel ku. Setelah itu ia memblokir nomor Alby lalu menghapusnya.
Setelah itu, mobil pun meluncur ke gedung apartemen, tapi ini bukan apartemen ku.
"Frans? Kamu mau bawa aku ke mana?",tanyaku sedikit panik.
"Kita istirahat dulu di apart ku. Kamu pasti lelah sejak pagi di perjalanan kan? Nanti saat aku berangkat praktek, aku akan mengantarmu ke mommy!"
"Tapi Frans, aku mau pulang!",kataku.
"Baby, listen to me! Aku tidak akan mengecewakan mu. Tenanglah! Aku tidak akan berbuat macam-macam dengan mu. Kamu butuh istirahat!"
Aku menghela nafas panjang. Ku sandarkan kepalaku sebentar sampai mobil berhenti. Frans pun menggandeng ku menuju ke unit apartemen nya.
Sesampainya di unit nya, Frans mengajak ku masuk. Dia mempersilahkan ku duduk.
"Kamu mau istirahat di kamar?",tanyanya.
"Tidak. Terimakasih. Di sini saja cukup!", tolakku. Frans tersenyum samar. Apartemennya tidak lah mewah. Untuk seorang anak pengusaha sekaligus dokter sepertinya, apartemen ini termasuk sederhana. Bahkan, apartemen ku jauh lebih luas di banding ini.
Frans melepaskan jas nya. Kemudian melepaskan satu persatu kancing kemejanya tanpa malu-malu seolah tak ada aku di sini. Aku memalingkan wajah ku ke arah lain.
Frans tersenyum tipis. Bukan nya menjauh, dia justru mendekatkan dirinya. Hanya tersisa celana bahan yang melekat di tubuhnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa?",tanya nya yang justru duduk di meja, berhadap-hadapan dengan ku. Aku masih memalingkan wajah ku agar aku tak melihat nya yang bertelanjang dada.
"Kenakan pakaian mu!",pinta ku. Dia bangkit dan terkekeh pelan.
"Ini lah yang membuat ku yakin, kamu tak pernah melakukan apa pun dengan Alby. Terlebih...kalian tak pernah ada hubungan apa pun selama ini!",katanya menepuk puncak kepala ku. Baru lah setelah itu, ia menjauh. Mungkin ke kamarnya.
Huh! Aku merasa lega!
Kamu tak sepenuhnya benar Frans! Aku memang belum pernah melakukan hubungan badan dengan Alby. Tapi aku tahu seperti apa aset pribadinya! Dan itu ...sangat memalukan! Bagiku apalagi Alby tentunya!!
Aku memejamkan mataku sambil bersandar di bahu sofa. Entah untuk beberapa lama aku sampai tak sadar tertidur di sofa.
Aroma wangi sabun mandi menyeruak mengganggu penciuman ku. Saat ku buka mata, Frans sudah mengganti pakaian nya dan berdiri di hadapan ku.
"Kamu mau mandi? Atau mau ibadah?",tanya Frans padaku.
Ibadah? Dia tahu soal kewajiban ku?
Aku melirik jam tangan ku sudah jam lima lewat. Bahkan dengan sengaja tadi aku meninggalkan empat rakaat ku tadi siang. Astaghfirullah!
"Aku sudah menyiapkan pakaian untuk mu, begitu juga alat ibadah mu. Ada di kamar! Masuklah! Aku tunggu di sini!",titahnya. Dia duduk di samping ku.
Apa ini??? Apa dia benar-benar berubah secepat ini???
Frans menatap ku balik karena aku memandanginya dari tadi. Dia mendekatkan dirinya padaku. Lalu menakupkan kedua tangannya di pipi ku.
"Aku tak sejahat yang kalian pikirkan, baby!",katanya. Aku pun tersadar dari lamunanku. Perlahan, aku menurunkan tangan kekar itu dari pipiku. Aku percaya saja jika dia melakukan apa yang dia katakan. Dengan langkah percaya diri, aku langsung ke kamar nya. Benar, di kamar itu sudah di sediakan segala sesuatunya untuk ku. Ku ambil pakaian yang Frans sediakan untuk ku.
Benar kah dia Frans yang sama? Yang pernah ku cintai dulu? Frans yang mencelakai papi? Kenapa dia bisa berubah-ubah seperti ini???
Karena badanku terasa lengket, aku pun mandi. Setelah itu aku mendirikan empat rakaat ku yang sudah cukup terlambat. Setelah itu, aku lanjutkan dengan tiga rakaat ku.
Aku keluar dari kamar Frans setelah berpakaian lengkap. Ku bawa pakaian kotorku.
"Letakkan saja di sana baby. Nanti ada petugas laundry yang mengambilnya."
"Aku bawa pulang saja!", tolak ku. Frans mendekati ku, lalu meraih pakaian kotor ku. Dia melemparnya ke keranjang pakaian kotor.
"Jangan menolak perintah ku baby!",bisiknya pelan di telinga ku. Suaranya cukup membuat ku merinding.
Frans memeluk ku begitu erat. Mengusap pipiku dengan lembut.
"I love you, baby!", katanya. Aku diam tak membalas. Dia meraih daguku. Hendak mencium ku, tapi aku melengos. Alhasil, dia gagal!
Tapi setelah itu ia terkekeh pelan. Lalu mengusap kedua pipi ku.
"Setelah acara lamaran besok, aku akan menjadi muslim! Dan setelah itu kita menikah!",katanya. Mataku membulat tak percaya.
"Aku... pernah tak percaya Tuhan, meski kedua orang tua seorang yang taat beragama. Tapi tidak dengan ku. Dan mungkin, setelah bersama mu nanti...aku akan belajar mengenal Tuhan mu!",kata Frans.
Subhanallah! Apa ini ya Allah???? Kadang kala Frans jadi sosok yang menakutkan, tapi seketika juga dia seperti.....
Milih Alby yang di cintai atau Frans yang artinya dia memilih untuk tak mengambil resiko keselamatan orang di sekitarnya??? Karena, Frans belum bisa sepenuhnya bisa di percaya.
****
__ADS_1
Kumaha? Daek teu si Amara teh?
Segini dulu ya? Makasih ✌️✌️✌️🙏🙏🙏