Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 182


__ADS_3

"Silahkan mas Alby!", Bram mempersilahkan Alby duduk di bangku ruangannya.


"Terimakasih mas Bram."


"Jadi, ada apa ini? Tumben sekali ada perlu sama saya? Biasanya berurusan dengan Naura kan?", tanya Bram basa basi karena ia cukup tahu istrinya yang bekerja sama dengan perusahaan Alby.


"Saya boleh minta tolong, saya ingin mencari tahu data dan informasi atas nama Nur", kata Alby memulai pembicaraan.


"Nur? Nur siapa ya? Ada beberapa nama Nur di sini?", tanya Bram.


"Nur yang bersahabat dengan Bina, istrinya sakti. Dan katanya baru keluar dari sini kemarin."


"Owh...Nur yang itu. Sebentar saya tanya manager dulu?!", kata Bram. Alby mengangguk pelan.


[Hallo? Olivia?]


[Ya pak?]


[Keruangan saya sekarang dan bawa data-data pegawai]


[Baik pak. Tunggu sebentar!]


Bram meletakkan kembali gagang teleponnya.


"Kalau boleh tahu, untuk apa ya mas Alby data tersebut. Mengingat...itu hal privat seseorang. Bahkan bisa saja menyalahi aturan ketenagakerjaan? Tapi... mengingat ini...anda yang meminta, saya...ijinkan."


"Saya minta maaf sebelumnya mas Bram. Tapi...ini urgent, menyangkut masa depan sahabat saya."


Bram menautkan kedua alisnya.


"Maksudnya?", tanya Bram bingung. Belum juga Alby menjawabnya, Olivia sudah mengetuk pintu.


"Masuk Liv!", titah Bram. Perempuan berblazer hitam itu membawa map yang berisi daftar karyawan restoran Xxx.


"Ini pak, data yang anda minta!", kata Oliv. Tapi matanya melirik pada sosok tampan yang ada di depan bosnya. Jika selama ini ia sering mencari celah untuk mendekati Bram karena dia tampan dan mapan, melihat Alby yang kadar ketampanannya di atas Bram pun membuat oliv membeku di tempat.


"Oliv!", panggil Bram. Tapi gadis itu masih memandangi sosok tampan yang duduk dan asik dengan ponselnya.


"Oliv!", panggil Bram lebih keras. Sontak hal itu membuat oliv sadar akan lamunannya dan keterkesimaannya terhadap Alby.


"Eh, iya. Maaf pak. Iya."


"Kembali ke ruangan mu!", pinta Bram.


"Iya pak?!", sahut Oliv yang masih betah berlama-lama memandangi Alby.


Bukan hal baru ya gaes dia di tatap seperti itu! Ingat dong jamannya dia hobi pake masker ke mana-mana???? Takut pada tersepona dengan kegantengan sang duda.


Setelah Oliv keluar, barulah Bram menyerahkan data diri Nur pada Alby. Alby pun membaca CV Nur.


Ainur Mirzana Husain. Dua puluh empat tahun. Jalan Xxx no. 12 Bandung.


Alby memfoto data Nur, lalu ia menghubungi seseorang.


[Hallo?]


[Ya pak Alby?]


[......]


Percakapan antara Alby dengan orang yang ia suruh berlangsung singkat.


"Jadi, sebenarnya ada apa dengan Nur? Apa dia melakukan kesalahan yang merugikan anda? Soalnya, dia mengundurkan diri saja via telepon. Padahal setahu saya selama ini dia tak pernah bermasalah."


"Ngga kok mas Bram. Saya sedang mencari tahu alamat Nur di Bandung karena ada suatu hal yang harus saya selesaikan dengan nya. Bukan karena Nur memiliki salah, tapi sekali lagi... untuk masa depan sahabat saya."


Bram tampaknya mengerti, yang penting data mantan pegawainya tidak di salah gunakan oleh orang yang tak bertanggung jawab. Tak lama kemudian, ponsel Alby berdering.

__ADS_1


[Hallo?]


[.....]


[Kerja bagus Bil. Besok ku kirim bonus kamu!]


Alby tersenyum mendapatkan jawaban dari Billy, orang yang ia minta tolong mencari tahu tentang Nur. Hebat kan si Billy itu? Sebenarnya minta tolong pada Azmi pun bisa, tapi Alby sedang tak ingin melibatkan sang Aspri untuk sekarang.


"Alhamdulillah mas Bram. Anak buah saya sudah mendapatkan alamat orang tuanya Nur. Ternyata...dia cukup berada ya mas!", kata Alby.


"Cukup berada? Maksudnya?", Bram mengernyitkan alisnya.


"Orang tuanya cukup terpandang di daerahnya." Setelah paham, Bram pun mengangguk.


Tok...tok....


Suara ketukan pintu menjeda obrolan kedua orang itu.


"Masuk?!", pinta Bram. Seorang waiters masuk ke dalam ruangan Bram.


"Kenapa mba?", tanya Bram.


"Maaf pak Bram, di depan ada masalah!", kata waiters itu ragu-ragu.


"Masalah apa?", tanya Bram. Sedang Alby cuek, ia membaca data yang Billy kirimkan soal Nur. Dan ternyata, Alby bisa mengambil cara untuk menolong Azmi. Urusan lancar atau tidaknya, dia pikirkan nanti. Yang penting ia sudah mencobanya lebih dulu.


"Itu pak, mba Bianca."


"Bian? kenapa?"


"Mba Bianca numpahin kopi panas sama pengunjung pak."


"Apa?", Bram langsung bangkit.


"Kok bisa?", tanya Bram.


"Apa? Apa...tamu itu perempuan dan seorang anak laki-laki?", tanya Alby. Waiters itu mengangguk cepat.


Bram memejamkan matanya, dia sudah tak punya muka lagi jika korban dari Bianca adalah orang yang cukup berarti untuk Alby saat ini.


.


.


"Bianca!!!!Apa yang kamu lakukan?"


Semua mata menoleh pada sumber suara itu. Bram langsung menarik tangan adik satu-satunya itu. Sedang Alby menghampiri istrinya.


"Neng? Nabil? Kalian ngga apa-apa?", tanya Alby sedikit panik. Ia menggendong Nabil yang sepertinya sedikit takut.


"Papa! Mama sakit kena air panas!", adu Nabil. Alby meraih tangan Amara yang sedikit memerah dan terlihat ada kulit tipis yang mengelupas.


"Sayang? Maaf ya, Aa ngga langsung nemuin kalian. Jadi kaya gini kan?", Alby meniup-niup luka merah di tangan Amara. Yang di khawatirkan justru malah tersenyum.


"Ngga apa-apa A. Aku udah biasa kok luka. Bahkan lebih parah dari ini juga sering, jaman masih jadi abdi negara dulu. Jadi...kalo cuma kaya gini, aku ngga apa-apa A",Amara mencoba menenangkan suaminya.


"Apanya yang ngga apa-apa? Ini sampe mengelupas lho!", kata Alby kesal lalu menatap Bianca dengan penuh emosi. Tapi ternyata Bram lebih dulu memarahi adiknya.


"Mas malu sama kelakuan kamu Bi! Belum cukup peringatan dari papa?", bentak Bram. Mungkin dia menyesal sudah terlalu memanjakan gadis itu.


"Malu apa sih? Orang aku ngga sengaja kok!", Bianca melipat kedua tangannya di dada sambil melirik sinis pada Amara.


"Ngga sengaja kamu bilang?? Pengunjung dan pelayan melihat kamu dengan sengaja berniat menyiram air panas itu Bi! Masih mau ngelak????", Bram masih tak percaya adiknya tak mau mengakui kesalahannya.


"Apaan sih? Dia aja yang lebay!", kata Bian mengarah pada Amara.


"Sebenarnya kamu ada masalah apa sama saya ya Bianca?", tanya Amara dengan tenang.

__ADS_1


"Ciiih...sok baik!", cebik Bianca.


"Bianca!!!", bentak Bram.


"Mau kamu apa?", tanya Alby pada akhirnya pada Bianca. Tapi kali ini justru Bian tak menjawabnya.


"Sepertinya peringatan ku saat itu hanya angin lalu buat kamu?!", kata Alby dengan tegas.


"Kalian jangan merasa sok jadi orang paling bener deh! Tuh... perempuan yang ada di dekat mas Alby. Harus nya mas Alby itu mikir beribu kali kalo mau deketin perawan tua itu!"


Mulut Bram ternganga tak percaya adiknya bisa berkata kasar dan pedas seperti itu.


"Gila kali ya!!! Jangan mentang-mentang mas Alby tuh duda, terus si perawan tua itu menawarkan tubuh mu dengan murahan!", sindir Bian.


"Jaga bicaramu!", tuding Alby tapi Amara menahannya. Bram sudah tidak sanggup berkata-kata. Dia pasrah, terserah Alby akan melaporkan lagi pada papanya yang pasti setelah ini....Bianca tak akan lagi berada di sini. Dia akan di ungsikan di negara sebrang yang pasti nya akan membuat seorang Bianca tak bisa berbuat semaunya lagi.


"Baiklah Bianca, aku akui. Aku sudah tidak muda lagi, tidak semuda kamu. Tapi...atas dasar apa kamu menuduh ku menawarkan diri tubuh ku dengan murahan pada nya?", tanya Amara santai.


Padahal sebenarnya Amara takut jika di luaran sana akan muncul Bianca yang lain karena siapa pun akan terpesona pada sosok Alby.


"Cih...sok lembut kamu Mbak! Bagaimana kalau publik tahu, kalian...yang sok alim ini... pagi-pagi aja udah ngamar ke hotel! Memalukan! Murahan!", lanjut Bianca.


"Berani sekali kamu menghina istriku!!"


Kali ini Alby sudah habis kesabarannya. Tak bisa lagi mendengar setiap hujatan yang keluar dari mulut Bianca.


"Sudah A. Sudah!", Mara mencoba kembali menenangkan suaminya. Nabil sendiri masih memeluk erat papanya.


"Istri?", Bianca membeo.


"Iya, perempuan yang kamu hina adalah istri saya! Apa itu merugikan kamu?", Alby menyerahkan Nabil ke gendongan Amara. Dia melangkah mendekati Bianca.


"Iya, Amara istri sah saya. Dan saya harap, setelah ini...jangan pernah mengganggu kami lagi! Atau kalau tidak....apa yang baru saja kamu lakukan pada istri saya tadi, akan berurusan dengan pihak berwajib!", ancam Alby.


"Maaf mas Alby, saya sebagai kakak Bianca sungguh-sungguh minta maaf atas apa yang adik saya lakukan. Tolong jangan bawa kejadian ini ke polisi!", mohon Bram pada Alby.


"Saya masih menghargai anda mas Bram. Selama ini saya tidak pernah bertindak karena hanya ucapan saja yang keluar dari mulut Bianca. Tapi kali ini dia sudah berbuat nekat, maka saya tidak bisa tinggal diam!"


"Iya mas Alby. Sekali lagi, saya minta maaf!!!", kata Bram.


"Nona Amara, mohon maafkan Bianca!", Bram masih tak enak hati. Amara mengangguk pelan.


"Minta maaf sama Nona Amara, Bi!", pinta Bram pada adiknya.


"Gak!", sahut Bianca ketus.


"Bian?", bentak Bram.


"Aku bilang enggak ya enggak!", kata Bian lalu meninggal mereka.


"Bianca!??", sungguh kali ini Bram merasa malu sekali pada Alby atas tingkah adiknya.


"Maaf sekali lagi saya minta maaf! Kalau begitu, silahkan di lanjutkan lagi acara makan malam kalian. Maaf sekali sudah merusak momen kebersamaan kalian!",


"Sudah mas Bram, tidak apa-apa."


Alhamdulillah, semua sudah selesai. Tapi tidak tahu kelanjutan nasib Bian jika Bram mengadu pada papanya.


"Papa! Nabil laper?", keluh Nabil pada papanya.


"Oke sayang, kita pesan dulu yuk!", ajak Amara yang masih menggendong Nabil.


Saat Amara duduk, pelayan memberikan kotak p3k. Amara pun tak menolak untuk mengolesi lukanya dengan salep yang di pakai khusus untuk luka bakar. Alby dengan telaten mengoleskan salep tersebut di luka Amara.


***


Mon maaf kalo banyak typo yak, Mak harap kalian maklum 😆✌️🙏😌

__ADS_1


haturnuhun


__ADS_2