
Amara kembali ke kantornya. Di ruangannya, ada surat dari pengadilan negeri. Undangan untuk menjadi saksi kasus Frans.
"Permisi nona!", sapa Nada.
"Kenapa Nad?"
"Ada revisi kerja sama dari Sentra Timur Nona, entah kenapa tiba-tiba kerja sama kita perjanjiannya di rubah", jawab Nada.
"Apa? Kenapa bisa begitu? Bukannya sudah ada kesepakatan di awal? Kok dia main rubah gitu aja sih?", tanya Amara kesal. Dia pun membuka laptopnya. Membaca berkas kerja sama dengan sentra timur.
Nada terlihat cemas melihat wajah Amara yang tersulut emosi dan sedang serius.
"Bocah itu ingin bermain-main dengan ku Nad!"
"Bocah? Bocah siapa?", tanya Nada. Amara menoleh tajam pada sekretarisnya.
"Bianca. Dia punya masalah pribadi dengan ku. Tapi kenapa dia malah mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan. Dasar bocah labil. Kalo begini, kita bisa rugi Nad."
"Iya saya tahu Non, tapi bagaimana ya...???"
"Hubungi pihak Sentra Timur, aku ingin bertemu dengan perwakilannya. Kalau bisa , aku bertemu dengan Naura saja. Bocah itu terlalu banyak bertingkah!", kata Amara penuh emosi. Dia pun meninggalkan Nada, menuju ke kamar mandi yang ada di ruangannya.
Nada pun menghubungi pihak Sentra Timur, mengajukan permohonan bertemu dengan pihak yang bertanggung jawab dengan proyek kerjasama antar dua perusahaan.
Pihak Sentra Timur menyanggupi bertemu jam tiga sore.
"Gimana Nad?"
"Mereka mau di ajak bertemu nona, di restoran Xxx jam tiga."
"Oke, kamu temani aku. Karena kamu paham dengan apa yang sudah terjadi."
"Baik Nona."
Nada pun meninggalkan ruangan bosnya. Dia tak tahu masalah pribadi apa yang di hadapi bos nya dengan petinggi Sentra Timur.
Jam tiga sore, Amara dan Nada sudah sampai di restoran Xxx. Di sana sudah ada Naura dan Pradipta, papa Bianca.
__ADS_1
"Selamat sore ibu Naura, pak Pradipta!", kata Amara mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan kedua orang tersebut.
"Selamat sore, nona Amara!", sambut Naura. Pradipta pun melakukan hal yang sama.
"Silahkan duduk!", pinta Pradipta.
"Terimakasih. Maaf saya langsung ke inti permasalahan, tidak apa-apa kan Bu, Pak?", tanya Amara. Naura dan Pradipta pun mempersilahkan Amara untuk mengungkapkan keperluan nya perihal rasa keberatan dengan perjanjian yang dilakukan sebelumnya sudah di setujui tiba-tiba di rubah oleh pihak satu, Sentra Timur.
Pradipta cukup kesal dengan tindakan yang di lakukan putrinya. Ia pikir, setelah peristiwa di restoran bersama Alby waktu itu, Bianca tak lagi berulah.
"Atas nama anak saya, saya minta maaf nona Amara. Saya pastikan, perjanjian di awal tetap berlaku. Dan saya berharap anda masih berkenan melanjutkan kerja sama kita."
"Tentu saja saya ingin tetap melanjutkannya pak, proyek sudah berjalan empat puluh persen. Jika tidak di lanjutkan, kerugian besar untuk perusahaan saya", kata Amara tegas. Iya lah...mantan anggota gitu lho. Dia tegas beginian, tapi soal hati beuuuh...masih kalah sama anak SMA.
"Kami benar-benar minta maaf Nona Amara!", sekarang Naura yang ikut meminta maaf.
"Saya tahu, dia masih muda masih labil. Tapi bukan berarti semua kesalahannya bisa di maklumi pak, Bu."
"Iya, Bianca memang keterlaluan. Padahal beberapa hari yang lalu saat saya bertemu dengan tuan Rahadi dan pak Alby di restoran, saya sudah memperingatkan Bian agar tak mengganggu nona Amara dan pak Alby."
"Bertemu dengan papi saya dan Alby?", Amara menautkan kedua alisnya.
"Sekali lagi, kami mohon maaf!", kata Pradipta. Dia tak enak dengan papi Amara yang seniornya dalam berbisnis.
Akhirnya, kedua perusahaan itu pun kembali damai dalam mengurus proyek kerjasama mereka.
"Maaf pak Dipta!", kata Amara.
"Iya, kenapa nona Amara?"
"Bisa minta tolong untuk mengatakan pada putri anda. Tolong jangan ganggu saya dan Alby lagi. Terus terang, kami merasa risih karena selalu terusik dengan sikapnya yang sering kali menyakiti perasaan kami. Bisa saja saya bersikap tegas, anda tahu backup saya. Tapi...saya masih bisa berpikir positif, jika anda bisa melakukan jauh lebih baik sebagai orang tua Bianca."
Pradipta merasa tertampar karena ulah putri bungsunya. Anak itu memang dari dulu selalu saja membuat orang tuanya emosi.
"Baik Nona Amara, saya akan membuat putri saya mengerti agar tidak menggangu kalian lagi."
"Terimakasih pak Dipta. Saya minta maaf jika mungkin apa yang saya sampaikan membuat anda tersinggung."
__ADS_1
"Tidak , anda benar. Saya yang harus bersikap tegas dengan Bianca."
Pertemuan dengan pihak Sentra Timur pun selesai. Amara dan Nada kembali ke kantornya sekitar jam lima sore.
Saat sampai di kantor, ternyata sang pujaan hati sudah menunggu di loby. Tak lupa, senyumnya mengembang saat melihat Amara yang turun dari mobil.
Hal yang jarang karyawan Amara lihat, CEO HS grup yang terkenal jutek memberi senyuman terbaik pada Amara, bos mereka.
Banyak yang mengagumi Alby dengan ketampanannya tapi juga sedikit perasaan heran kenapa Alby begitu dingin.
"Udah lama A?", tanya Amara sambil menyalami tangan Alby.
"Belum, baru lima menit yang lalu!", jawabnya.
"Nad, saya langsung balik sama pak Alby deh. Kamu juga langsung balik aja. Udah sore, makasih banyak ya Nad."
"Sama-sama nona, kalau begitu saya permisi nona, pak Alby!", pamit Nada. Alby pun menyunggingkan senyumnya pada sekretaris Amara.
"Langsung pulang?", tanya Alby.
"Iya, pulang ke rumah papi, mau?",tanya Amara. Alby pun mengiyakan.
"Ayok deh, sekalian ngomong soal rencana akhir pekan."
Wajah Amara memerah, dan hal itu membuat Alby merasa gemas.
"Kok mukanya merah gitu?", ledek Alby.
"Issshhh...mulai!", kata Amara kesal. Keduanya terkekeh pelan lalu menuju ke mobil Alby.
"Sekertaris Nada!", panggil salah seorang karyawan.
"Iya?", tanya Nada bingung.
"Gimana rasanya di senyumin orang ganteng kaya pak Alby yang biasanya jutek bin judes?", tanya nya.
"Hah? Biasa aja tuh! Sebenarnya dia ngga judes sih, tergantung sama siapanya. Kalo sama cewek yang caper sama dia ya...pasti lah di judesin!", kata Nada meninggalkan karyawan itu. Nada tahu, karyawan tersebut memang sok caper dengan cowok-cowok tampan yang sering berlalu lalang di perusahaan Rhd.co
__ADS_1
*****
Selamat berbuka puasa 😌🤗🤗🤗