
Pertemuan pemegang saham berjalan alot. Alby yang berperan sebagai CEO HS grup pun tak bisa menahan atau meminta direktur keuangannya yang menjelaskan tentang benefit perusahaan pada para pemegang saham.
Alby sudah melihat gelagat Bia yang sepertinya masih shock dengan peristiwa di lift tadi. Dia sangat ingat, mantan istrinya itu sangat takut gelap. Kalau malam? Tentu berbeda kondisinya. Jika malam, sudah jelas semuanya terlihat gelap. Tapi jika saat dalam kondisi terang, tiba-tiba gelap pasti Bia akan merasa ketakutan.
Contoh, saat hujan, guntur dan mati lampu bersamaan sudah di pastikan jika Bia akan seperti sekarang.
Tanpa Alby sadari, tatapan mata nya pada Bia di lihat berbeda oleh seorang gadis yang menjadi fans fanatik Alby. Bianca melihat pandangan Alby seperti seseorang yang sangat mencemaskan seorang yang spesial pada Bia.
Akhirnya, rapat itu pun selesai. Satu persatu para peserta rapat pun meninggalkan ruangan.
Saat Bia akan berdiri, badannya terhuyung tapi dia masih bisa bertahan dengan memegang tangannya ke meja.
"Neng!",Alby langsung menghampiri Bia yang tampak pucat. Azmi dan beberapa orang di sana termasuk Bian pun terkejut saat Alby tiba-tiba menopang tubuh Bia.
"Pusing neng?",tanya Alby cemas. Sekuat apa pun Alby berusaha untuk bersikap tidak peduli pada mantan istrinya, dia tak bisa membiarkan Bia dengan kondisi seperti itu.
"Iya A!",sahut Bia lirih dengan mata yang hampir terpejam.
"Minum dulu ya!", Alby meminta Bia duduk kembali. Tapi Bia menggeleng.
"Ngga A. Aku...puasa!",kata Bia. Alby menggeleng heran.
"Kondisi kamu seperti ini masih mau melanjutkan puasa? Kamu juga masih menyusui si kembar kan? Kenapa memaksa diri puasa sih?",kata Alby dengan nada kesal sekaligus cemas. Ada sebagian yang tak tahu jika keduanya adalah mantan pasangan suami istri.
"Bos!",Azmi mencolek lengan bos nya karena berbicara dengan nada yang cukup tinggi pada Bia. Bagaimana pun, Alby sudah tak berhak bersikap bossy pada mantan istrinya itu.
Bia memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Ia meraih tasnya lalu menyangkut kan di bahunya lagi. Setelah itu ia pun memaksa dirinya untuk bangkit, tapi baru saja ia berdiri Bia langsung tak sadarkan diri. Lagi-lagi Alby menangkap Bia yang hampir jatuh.
Dengan sedikit panik, Alby pun membopong Bia. Banyak yang berbisik-bisik di ruangan itu. Begitu juga dengan Bianca yang menatap miring pada laki-laki yang sudah menjadi obsesinya.
Alby mengangkat tubuh mungil Bia yang sebenarnya sekarang sudah mulai berisi sejak melahirkan si kembar.
"Mau di bawa kemana Neng Bia nya?",tanya Azmi yang mengejar bos nya menuju lift utama.
"Kerumah sakit lah! Masa ke kantor pos!",jawab Alby ketus. Azmi menekan tombol lift menuju lantai dasar.
Setelah di dalam lift, Azmi pun kembali mengeluarkan celetukannya.
"Tinggal telpon suaminya kenapa, kantor nya kan ngga jauh dari sini!",kata Azmi. Alby menoleh sebentar. Benar juga apa yang Aspri nya katakan. Bagaimana nanti jika Febri salah paham? Meski dalam sudut hatinya, Alby benar-benar mencemaskan istrinya. Eh ..ralat, mantan istri!
Pintu lift terbuka! Pemandangan Alby yang membopong Bia menjadi pusat perhatian penghuni gedung.
Belum sampai ke lobby, Alby sudah melihat Febri yang berada di resepsionis.
"Feb!",teriak Alby. Febri langsung menoleh. Wajah nya terkejut saat melihat kondisi istri nya yang pingsan dan berada dalam gendongan Alby.
"Astaghfirullah! Nduk, kenek opo?",tanya Febri sambil meminta Bia dari Alby.
"Bia kenapa By?",tanya Febri panik.
"Ngga tahu tadi tiba-tiba pingsan Feb. Aku tanya katanya dia lagi puasa!",jawab Alby.
"Ya Allah! Nduk...nduk...!", Febri menepuk pipi istrinya pelan. Febri sudah membawa nya ke bangku yang ada di lobby. Alby dan Azmi hanya berdiri di samping mereka berdua.
Bia tampak melenguh.
"Mas?", panggil Bia saat mata nya terbuka dan suaminya yang pertama kali ia lihat. Perlahan Bia pun bangkit dan duduk di samping suaminya.
"Pusing? Udah ya, jangan puasa. Lain kali lagi ya? Sekarang kondisi kamu ngga fit nduk!", Febri mengusap kepala istri nya dengan penuh kasih sayang.
Bagaimana reaksi Alby???
Ada rasa terbakar dalam sudut hatinya. Sekuat apa pun untuk mencoba ikhlas, masih sulit untuk Alby lakukan. Bia mengangguk pelan.
Bia menoleh pada Alby yang masih memandanginya.
"Makasih A, udah bawa aku ke sini!",ucap Bia tulus. Alby mencoba bersikap biasa saja. Dia hanya mengangguk pelan, tak ingin mengatakan apa pun takut suara nya bergetar.
"Kita langsung pulang? Atau mau ke dokter dulu?",tanya Febri pada istrinya. Bia menggeleng.
"Pulang aja mas. Kasian si kembar di tinggal kelamaan!",tolak Bia.
"Tapi...kamu beneran ngga apa-apa kan nduk? Kandungan kamu juga baik-baik aja kan? Mas khawatir lho! Habis ini makan ya?",paksa Febri.
Kandungan? Bia hamil lagi?? Batin Alby.
Tak berbeda jauh dengan pemikiran Alby, Azmi pun membatin hal yang sama. Bos nya pasti tambah potek hatinya 😆.
"Ka...kamu hamil lagi neng?", tanya Alby tergagap. Dengan sedikit tersenyum, Bia mengangguk. Begitu juga dengan Febri. Mau pamer kemesraan??? Oh, tidak! Mereka memang selalu mesra.
"Iya A. Alhamdulillah! Mungkin ini cara Allah mengganti kesedihan ku selama ini dengan kebahagiaan yang bertubi-tubi."
__ADS_1
Nyesss!! Hati Alby terasa di colek...eh, di iris-iris. Mungkin Bia benar-benar bersyukur, bukan sedang menyindir sang mantan suami.
"Kalo begitu, selamat neng Feb!",ujar Alby.
"Makasih!",sahut Febri.
"Ya udah Mas, kita langsung pulang aja!",kata Bia mencoba berdiri.
"Mas gendong aja ya?",kata Febri. Bukan hal sulit menggendong Bia bagi seorang Febri. Sudah amat sangat terbiasa sekali.
"Ngga usah mas, malu!",kata Bia. Akhirnya sepasang suami istri itu pun berpamitan pada Alby dan Azmi.
Febri menggamit pinggang Bia dengan posesif sampai ke mobil yang berada di parkiran depan.
Azmi menepuk bahu bos sekaligus sahabatnya.
"Pasti masih belom move on ya?",kata Azmi pelan. Alby tak menyahutinya.
"Sakit tapi tak berdarah!",Azmi kembali menepuk bahu Alby. Sontak mata Alby menatap nyalang pada asprinya.
"Ikhlas itu susah ya Mi!",kata Alby lirih lalu berjalan mendahului Azmi. Azmi hanya menghela nafasnya. Percintaan bos nya emang rumit.
Sedikit-sedikit bilang move on, eh... berubah lagi katanya belum ikhlas. Kapan kelarnya coba???
Bianca menghadang langkah dua lelaki dewasa yang tampan itu.
"Eh...gimana kalo Tante Tua tahu, kalo pujaan hatinya belum move on dari mantan istrinya? Kaya nya seru nih!",kata Bian sambil memainkan jarinya di pipi.
Alby hanya menoleh sebentar pada gadis yang sangat menginginkannya.
"Bisa sopan tidak mulut kamu itu?",tanya Alby dengan nada judesnya seperti biasa. Lagi-lagi, tingkah Bian menjadi tontonan penghuni gedung.
"Gimana ya?? Tergantung sih mas, kalo mas Alby ngomong baik-baik sama aku, aku juga bisa sopan kok mas. Jangan cuma baik sama Tante tua atau mantan istri aja."
Alby meremas kedua tangannya hingga memutih. Ia masih berusaha menjaga emosi nya karena yang ia hadapi hanya gadis kecil.
Azmi mendorong pelan bos nya agar melanjutkan langkahnya dan cuek pada Bian.
"Anggap aja ngga ada orang yang ngomong apa-apa!",bisik Azmi sambil berjalan di samping Alby. Dia berbicara pelan, tapi masih mampu di dengar oleh Bianca.
Bianca yang mendengar olokan dari Azmi pun merasa geram. Bisa-bisanya Aspri Alby mengatakan hal seperti itu.
Ia memejamkan matanya sebentar. Tapi belum lama, ponselnya berdering. Ada nama Amara tertera di sana. Lelaki tampan itu pun tersenyum.
[Assalamualaikum Sayang?]
Alby membuka percakapan dengan kekasihnya.
[Walaikumsalam. By? Masih sibuk ngurusin Bia kah?]
Amara bertanya tanpa basa-basi. Tapi bagaimana dia tahu?
[Sayang, maksud kamu apa bertanya seperti itu?]
Alby langsung bangkit dari sofanya.
[Ngga apa-apa. Aku cuma tanya, kamu masih sibuk ngurusin Bia yang pingsan atau sudah sibuk dengan urusan pekerjaan mu?]
[Aku di ruangan ku Ra. Bagaimana kamu tahu kalo Bia pingsan?]
[Tahu aja lah. Aku juga tahu kamu masih begitu mencemaskan nya kan? Lalu buat apa kamu meminta ku untuk membantu mu melupakan Bia? Kamu saja masih seperti itu!]
Suara Amara sedikit meninggi. Cemburu? Wajar ngga sih???
[Kamu cemburu?]
Tanya Alby yang sebenarnya tak perlu ia tanyakan pada kekasihnya itu.
[Ckkk udah lah, jujur aja kenapa sih?]
[Sayang, dengar ya? Please! Dengar aku baik-baik. Tadi memang Bia pingsan setelah mengikuti meeting. Tapi Febri sudah menjemput nya di depan...akkkk...]
[Tapi kenapa harus kamu yang membopong nya? Kenapa bukan Azmi atau yang lain?]
Alby mengusap tengkuknya yang sedikit menegang karena kekasihnya sedang cemburu. Mungkin ulah seseorang yang mengadu pada Amara. Tapi siapa????
[Azmi? Salaman sama kamu aja ngga mau Ra. Apalagi menggendong Bia? Ayolah sayang, jangan salah paham begitu. Aku murni cuma nolong Bia. Dia lagi hamil muda, di tambah lagi dia memaksa diri berpuasa. Makanya dia pingsan. Ra, jangan cemburu buta seperti itu. Kamu kan udah janji kalau kamu akan membantu ku melupakan masa laluku. Jangan seperti ini lagi ya? Percaya sama aku!]
Amara menggigit bibir bawahnya. Antara cemburu, kesal dan bahagia datang sekaligus.
[Oke. Kali ini aku maafkan!]
__ADS_1
Terdengar helaan nafas lega dari mulut Alby.
[Makasih sayang, makasih!]
[Heum!]
Sahut Amara di seberang sana. Dia hanya sedang mencoba percaya pada kekasihnya itu. Mungkin ia tak pantas cemburu pada Bia, apalagi Bia sedang hamil lagi.
[Udah ketemu papi mami kamu?]
[Udah, tapi belum bahas apa-apa. mungkin nanti malam saat makan malam]
[Oh, ya udah. Kabarin aja ya kalo ada apa-apa.]
[Huum, iya By. Ya udah aku mau nemuin mba Mayang sama Dhea dulu ya. Kak Nathan sama kak Daniel sudah di sana]
[Iya]
[Ya udah ya By. Assalamualaikum]
[Waalaikumsalam]
Alby meletakkan ponsel nya di atas meja. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
Berbeda dengan Alby, Amara yang berencana ingin mengobrol dengan kedua orang tuanya dan keluarga besar nya yang sedang bertandang di rumah orang tua Mayang harus mengobrol saat itu juga.
Papi nya langsung menyidang Amara di depan seluruh anggota keluarganya.
Amara langsung duduk di samping Mayang yang sedang memangku Dhea. Meski wajah nya tertutup niqob, mata Mayang menatap Adik iparnya dan penuh kasih sayang seperti pada adik kandung nya sendiri.
"Kamu pacaran sama Alby?",tanya papi to the point. Amara yang langsung di todong pertanyaan seperti itu pun mengangguk pelan.
"Papi sudah menyelidiki siapa laki-laki itu. Asal-usulnya seperti apa!",kata papi. Semua terdiam saat papi sedang berbicara.
"Papi tahu dari awal kalau dia duda kan pi? Apa salahnya? Anak papi juga duda di tinggal mati kan?", celetuk Daniel.
"Diam kamu kak!",pinta Papi nya pada Daniel. Mami hanya mengelus dadanya pelan.
"Atau jangan-jangan kamu tahu kalo Alby sebelumnya sudah pernah menikah lalu ia bercerai karena berpoligami dengan anaknya Hartama?",tanya papi pada Daniel. Dia menunduk beberapa saat. Tapi belum sempat Daniel menjawab, papi sudah melanjutkan kalimatnya.
"Bahkan mantan istrinya sekarang sudah menikah dengan laki-laki yang selama ini kamu kejar Amara???",tanya papi dengan mata berkilat penuh emosi.
Suara Amara tercekat di tenggorokan. Apa yang papinya katakan memang sebenarnya seperti itu bukan?
"Dan laki-laki seperti itu yang kamu pilih untuk menggantikan Frans?",tanya Papi.
"Seperti itu yang bagaimana Pi? Alby laki-laki yang baik Pi."
"Laki-laki baik macam mana yang rela menukar kebahagiaan rumah tangganya dengan harta dari Hartama?"
"Astaghfirullah, Pi. Alby bukan laki-laki seperti yang papi tuduhkan! Alby hanya ter...!"
"Papi tidak ingin putri papi satu-satunya sampai gagal berumah tangga. Memang nya kamu tidak takut kalau dia melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan sebelumnya???"
"Pi, ini semua ngga seperti yang papi sangka. Alby tidak....!"
"Papi tidak merestui kamu dengan laki-laki seperti itu!"
"Papi!", Amara langsung bangkit dari kursinya. Mayang berusaha menahan adik iparnya agar tak terlalu emosi. Tapi mungkin Amara sudah terlanjur tak menahan diri.
"Berani kamu bentak papi?",tanya papi dengan mata melotot tajam.
"Belum cukup papi menghancurkan karir militer Amara? Belum cukup Amara meneruskan perusahaan papi? Belum cukup Mara menuruti keinginan papi untuk bertunangan dengan Frans? Apa lagi Pi? Amara hanya ingin bahagia menurut pandangan mara sendiri. Mara mohon dengan sangat, biarkan Amara menentukan masa depan Amara sendiri. Mara mohon Pi!",Amara mengatupkan kedua tangannya di dada.
"Sekali papi bilang tidak, ya tetap tidak! Papi akan mencarikan jodoh buat kamu. Kalo perlu, dengan ustadz yang ada di pesantren ini!",sahut papi sambil mendorong kursi roda nya dengan pelan.
Amara terduduk lemas.
"Dek!", Nathan membantu Amara bangkit dari lantai.
"Sabar, papi pasti akan luluh. Kalian harus tetap berusaha. Coba, ajak Alby menemui papi!", ujar Nathan.
"Apa yang kakak mu bilang benar sayang! Mami yakin, suatu saat nanti papi pasti akan luluh!",mami memeluk Amara dengan erat. Amara mengangguk pelan di dekapan sang ibu.
Tanpa mereka ketahui, papi masih berada di dekat ruangan itu. Dia tahu alasan sebenarnya mengapa Alby bisa menjadi menantu Hartama dan terpaksa menggantikan posisi Hartama, minimal sampai anak tunggalnya dewasa.
Papi Amara hanya ingin melihat kesungguhan hubungan antara Alby dan Amara. Bagaimana pun juga, seorang ayah pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya terlebih Amara adalah anak bungsunya dan satu-satunya anak perempuan nya.
*****
Slow down baby....ðŸ¤ðŸ™ˆðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤£
__ADS_1