
Kediaman keluarga Mirza.....
Siang sudah menjelang. Bada dhuhur, Nur mulai di make over. Azmi mengabarkan bahwa ia baru saja masuk kota bandung. Masih ada sekitar setengah jam lagi rombongan Azmi sampai di kota kembang tersebut.
"Punten non, ada teman non Nur di luar!", kata seorang art.
"Siapa Bik?"
"Non Sabrina dan suaminya!", jawab bibik. Senyum Nur pun merekah.
"Suruh masuk, Bik!", kata Nur. Sambil tetap di rias, Nur menunggu kedatangan sahabat nya yang tiba-tiba.
"Assalamualaikum calon pengantin!", Bina menghampiri Nur yang sedang di rias.
"Walaikumsalam!", jawab Nur. Lalu keduanya pun berpelukan.
"Gue seneng banget akhirnya Lo nikah juga Nur!", kata Bina melerai pelukannya. Nur sendiri tersipu malu.
"Iya, Alhamdulillah!", kata Nur.
"Sambil lanjut di rias boleh?", tanya perias Nur. Nur dan Bina hanya saling tersenyum malu.
Nur kembali duduk di bangkunya.
"Dokter sakti mana, Bin?"
"Ada di depan. Dia tim nya mas Azmi!", kata Bina.
"Kalo Lo, tim gue gitu?", tanya Nur.
"Ngga juga. Gue tetap satu tim sama pak suami dong!", jawab Bina.
"Ckkk kirain! Lo ga setia kawan!", kata Nur.
"Eh, hallo??? Bukannya makasih Lo ya gue udah di sini. Ini juga karena mas Alby yang ganteng itu yang bilangin mendadak tadi pagi. Sahabat apaan Lo, nikah kagak bilang-bilang!", kata Bina.
"Hehehe ya gue bukan maksud buat lupain Lo, ini kan baru ijab aja. Pas resepsi pasti Lo harus datang dong!", kata Nur membela diri.
"Udah, debat nya ntar lagi. Sekarang kelarin dulu make up nya. Gue di depan sama pak suami. Takutnya rombongan Azmi ga bawa pasukan emak-emak. Istrinya mas Alby sakit, ngga bisa ikut ke sini!"
"Oh ya, mba Amara sakit?", tanya Nur. Bina mengangguk.
"Ngga tahu sakit apa sih!"
Nur hanya mengangguk tipis. Bina menatap cermin. Nur terlihat sangat cantik karena dia memang sudah dari sananya cantik, hanya saja Nur memang jarang merias wajahnya. Paling banter juga pakai pelembab dan liptin itu pun tipis-tipis.
"Lo cantik banget Nur!", puji Bina. Nur yang di puji demikian pun tersenyum malu.
"Mba, mba pinter banget sih merias bocah bar-bar ini! Bisa gitu jadi cantik banget, biasanya mah buluk mba. Heran aja gitu mba, mas Azmi mau gitu sama dia!", kata Bina.
"Sabrina ih...!", kata Nur kesal. Mba perias pun tersenyum dan menggeleng pelan.
"Nanti mba liat sendiri deh suaminya Nur seganteng apa. Pasti dalam hati, mba bakal bilang. Kasian amat mas Azmi, istrinya cuma model gini doang! Hahahah!", ledek Bina.
Lagi-lagi perias itu hanya menggeleng heran pada dua sahabat itu. Mendengarkan ucapan Bina, si perias jadi penasaran seperti apa calon suami kliennya itu.
"Katanya keluar?! Sana keluar Lo ah!", kata Nur kesal. Sabrina masih tergelak, tapi saat membuka pintu kamar Nur, Bina mendadak kalem lagi. Ya begitulah dia!
"Sabar!!", kata mba perias pada nur. Nur pun tersenyum tipis.
__ADS_1
"Dia emang gitu teh!", kata Nur pada periasnya.
"Udah selesai! Tinggal pasang jilbabnya!", kata si perias. Nur pun mengangguk pelan. Ada asisten perias yang membantu memasangkan jilbab dan aksesoris lainnya.
.
.
"Udah mau sampe Mi, jangan tidur!", ledek Alby.
"Mana ada tidur!", sahut Azmi. Mereka baru saja berhenti di salah satu pom bensin. Azmi dan yang lain mengganti pakaiannya yang formal.
"Mana bisa tidur sih Jang, yang ada bangun terus. Apalagi nanti malam hahhaha!", ledek Mang Sapto.
"Emang nanti malam kenapa mang?", tanya Azmi mendadak ngelag karena sedang grogi.
"Lho? Kok tanya kenapa?", tanya mang sapto yang mengemudikan mobilnya. Azmi dan Alby di belakang. Sedang pasukan Billy ada yang di depan dan dibelakang mobil mereka.
"Gara-gara grogi, mendadak lemot Lo ya?", tanya Alby sambil menoleh ke sahabatnya yang sekarang sedang memakai kemeja putih dan jas hitam. Khas pengantin laki-laki mau ijab ya gitu kali kostumnya.
"Ngomong yang jelas!", kata Azmi.
"Dih, ngegas! Ya kan Lo udah lama menduda Mi. Berapa tahun coba? Dia tahun lebih kan, bahkan kayanya Lo puasa jauh sebelum uminya Putri ngga ada. Iya kan???", tebak Alby.
Azmi menoleh pada Alby dengan cepat. Calon pengantin itu memutar bola matanya malas.
"Hahahah kok gue jadi mikirin nasib Nur nanti ya??", kata Alby mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu dengan gaya songongnya.
"Ishhh...ga segitunya!", kata Azmi dengan wajah memerah. Dan hal itu membuat Alby tertawa lepas, begitu pula dengan Manh Sapto yang mengemudi. Pria tua itu menatap dua laki-laki tampan di belakangnya dari kaca spion dan turut terkekeh pelan.
"Saya tadinya mah ngga mau bahas itu! Tapi si Alby malah ngomongin begitu. Maksud saya teh, nanti malam kan tarawih dan malamnya sahur. Otomatis bangun-bangun terus kan? Apalagi nak Azmi kan udah biasa tadarus sama sunah malam. Ya kan???", tanya Mang Sapto.
Sebenarnya Alby hanya ingin mengurangi ketegangan Azmi. Makanya dia selalu meledek Azmi agar tidak terlalu memikirkan tentang pernikahan itu sebentar lagi.
"Iya, tapi sunah yang udah lama ngga sih dapet dari istri juga bisa kok nak Azmi!", sambung Mang Sapto.
Setelah mendengar ucapan mang Sapto, Alby lagi-lagi tertawa puas melihat sahabatnya yang manyun.
Di tengah candaan mereka, mobil di depan memberi kode klakson. Ternyata, mobil mereka sudah sampai di lokasi.
Azmi yang tadi sempat kesal pada Alby mendadak kalem, mode yang biasa di lihat oleh banyak orang tapi tidak saat bersama Alby.
"Ayo turun! Udah ada sakti sama bina di dalam!", kata Alby.
"Hah? Dokter Sakti sama istrinya ikut ke sini?", tanya Azmi.
"Gimana sih Lo, Bina kan sahabat nur. Wajar dong kalo gue minta dia kesini! Tapi, dia ikut rombongan keluarga kita. Kan keluarga nur udah banyak!", kata Alby. Azmi pun mengiyakan.
"Kapan Lo hubungi mereka?"
"Tadi pagi, Mi! Udah ngga usah mengalihkan pembicaraan. Turun!", ajak Alby.
"Gue deg-degan By. Astaghfirullah!", kata Azmi. Tapi Alby tetap memaksa Azmi agar turun.
"Ayo!", ajak Alby. Azmi pun turun dari mobil. Ia di sambut oleh Sakti dan Bina. Setelah itu mereka berbaris rapi karena akan memasuki rumah yang di halaman rumah itu sudah berdiri keluarga nur yang menyambut.
"Abi!", teriak seorang gadis kecil yang tadi berdiri di samping ustadzah Salsabila.
Azmi berjongkok mensejajarkan diri untuk memeluk Putri. Gadis cantik berhijab warna baby pink itu memeluk erat tubuh Azmi.
__ADS_1
"Kapan datang sayang?", tanya Azmi pada putrinya. Putri menoleh pada Alby. Seketika itu juga Azmi menoleh pada Alby.
"Tadi subuh, bodyguard nya om Alby jemput Putri ke pondok. Jadi ke sini sama ustadzah Salsabila dan ustadz Hanafi juga!"
Azmi tak bisa berkata-kata lagi. Sahabat sekaligus atasannya itu sungguh melakukan banyak hal di luar apa yang dia pikirkan. Barang seserahan, kedatangan sahabat Nur dan tentu nya kehadiran buah hatinya.
"Makasih!", ucap Azmi pada Alby, nyaris tanpa suara. Alby tersenyum tipis, dia paham jika sahabatnya sedang terharu.
"Ayo, Abahnya Nur sudah menunggu!", ajak Alby. Akhirnya Azmi pun melangkah ke dalam sambil menggandeng tangan Putri. Tidak banyak tamu di sana, sebagian hanya keluarga dekat saja dan karyawan Abahnya Nur yang turut membantu.
Visual Alby dan Azmi memang tampan di atas rata-rata. Keduanya menarik perhatian kaum hawa di rumah itu. Tak terkecuali teteh sulung Nur yang pernah menolak di jodohkan dengan Azmi. Tapi yang namanya takdir sudah di tetapkan, bisa apa?
Tak jadi menantu sulung, Azmi malah menjadi menantu bungsu di keluarga Mirza.
Orang tua yang mewakili keluarga Nur menyambut kedatangan calon mempelai pria. Sedang Mang Sapto, ia yang paling sepuh di antara punggawa Alby pun menjadi wakil dari pihak mempelai pria.
Ucapan salam bergema di halaman rumah yang cukup luas itu. Kedatangan Azmi dan rombongannya di sambut hangat.
"Langsung ke tempat acara?", tanya wakil keluarga Nur. Pihak Azmi pun mengiyakannya.
Dan di sinilah Azmi mengucapkan ijab qobul nya dengan mahar yang sudah di tetapkan. Tapi, tak lupa Azmi menyiapkan cincin untuk istrinya. Sedang Azmi yang memang tak menganut bahwa laki-laki tak memakai perhiasan emas pun, menyiapkan cincin dengan bahan yang berbeda namun berkualitas. Bentuk dan model yang di gunakan pun sama seperti milik Nur, hanya berbeda bahan baku.
Lantunan Ayat suci yang sudah di siapkan untuk mahar pun terdengar sangat merdu hingga terdengar sampai ke kamar Nur.
Azmi melafalkan surat Ar Rahman itu tanpa kendala apa pun. Hingga suara hamdalah dan kata 'sah' menggema di ruangan yang tak terlalu besar itu.
Azmi menakupkan kedua tangannya di wajahnya. Dia terharu bukan main. Akhirnya ia menikah untuk kedua kalinya. Masih ada sedikit rasa bersalah dalam hatinya karena seolah dirinya sudah mengkhianati umi nya Putri. Tapi...apa yang terjadi saat ini adalah jalan takdir yang harus ia tempuh. Tidak bisa selamanya ia sendirian menjalani hidup. Dia masih punya masa depan.
Alby dan Mang sapto menepuk bahu Azmi yang terlihat sedang kalut. Putri menghampiri abinya, memeluk tubuh lelaki cinta pertamanya.
"Selamat ya Abi!", ucap Putri.
"Terimakasih sayang!", Azmi mengecup kening Putri. Mendadak suasana menjadi haru. Ustadzah Salsabila membawa Nur dari kamarnya menuju ke tempat ijab qobul.
Azmi tersenyum melihat istrinya cantik dengan balutan kebaya modern berwarna putih dengan bagian dada yang tertutup hijab.
Nur pun membalas senyuman suaminya, setelah duduk di samping Azmi, tak lupa Nur mencium punggung tangan Azmi. Begitu pula Azmi yang mengecup kening Nur.
Setelah itu, mereka berdua memakaikan cincin nikah ke masing-masing jari manis pasangan secara bergantian.
Barulah Azmi meletakkan tangan kanannya di ubun-ubun Nur, ia melafalkan doa.
Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltaha 'alaih. Wa a'udhubika min syarii hana wa syarii maa jabaltaha 'alaih.
Artinya : Ya Allah sesungguhnya aku memohonkan kepada Mu kebaikan dirinya dan kebaikan Engkau tentukan atas dirinya. Dan aku berlindung kepada mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya.
Doa dari penghulu pun di amini oleh kedua mempelai dan juga kerabat yang ada di sana. Setelah itu, acara sungkeman pun berlangsung. Seperti biasa, Azmi tak menyentuh selain yang bukan mahramnya.
Tiba saatnya Azmi bersungkem ria pada Abah mertuanya. Sosok lelaki yang sudah menolongnya dan memungutnya dari jalanan hingga dirinya hidup layak seperti sekarang.
Meskipun sempat ada kesalahpahaman yang sangat panjang, pada akhirnya...Azmi tetap menjadi menantu keluarga Mirza.
"Abah titip putri Abah, jangan pernah sakiti putri Abah!"
"Insyaallah Bah!", kata Azmi.
****
Udah sah ya...udah dong??!!! 🤭🤭🤭
__ADS_1
Terimakasih 🙏🙏🙏