Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 94


__ADS_3

Flashback on


Amara yang tampak buru-buru memasuki unit nya membuat Frans cukup meradang. Masalahnya, dia sudah memperkenalkan Amara sebagai calon istrinya pada mommy dan Daddy nya. Tapi sikap Amara tak mencerminkan kebahagiaan tentang kebersamaan mereka.


"Kami tidak jadi keluar Frans, mari kita bicara!",ajak Jhon pada putra sulungnya.


Mau tak mau Frans pun mengikuti kedua orang tuanya untuk masuk ke unit apartemen mereka. Frans tak menyangka jika kebetulan sekali mereka berada di gedung apartemen yang sama dengan Amara, terlebih bersebelahan.


"Apa yang membuat mommy dan Daddy sampai di sini? Dari mana kalian tahu aku di negara ini?",tanya Frans pada keduanya sebelum mereka memulai bertanya lebih dulu.


"Daddy yang mencari tahu Frans. Perusahaan Daddy butuh kamu. Dari pada kamu menjadi investor di negara asing. Bukankah lebih baik kamu memajukan perusahaan kamu sendiri? Berhenti lah menjadi dokter, untuk apa kamu bekerja di bawah tekanan orang lain?",kata Jhon.


"Perusahaan ku?",tanya Frans sambil tersenyum miring.


"Ya, untuk siapa lagi? Kamu anak Daddy satu-satunya sekarang!",ujar Jhon.


"Itu perusahaan Mark, anak kesayangan Daddy yang selalu jadi kebanggaan Daddy!", sindir Frans.


Elizabeth membawa minuman hangat ke depan anak dan suaminya.


"Frans, Daddy tak pernah sekalipun membeda-bedakan kalian!",kata Jhon bersikap tenang.


"Benarkah? Bahkan kalian mendukung saja bukan pengkhianatan mereka??",tanya Frans menatap daddynya.


"Frans, belum cukup kamu membuat mereka tiada? Adik kamu dan juga istri kamu sendiri?",tanya Jhon lagi. Elizabeth hanya menjadi pendengar antara anak dan suaminya.


"Itu belum seberapa di banding sakit hati yang mereka lakukan padaku. Kalian tidak tahu kan seperti apa rasanya di khianati oleh orang terdekat kita? Sakit Dad!",kata Frans dengan penuh penekanan.


"Tapi mereka sudah tidak ada Frans. Jadi tolong maaf kan mereka!", kata Elizabeth mengusap lengan Frans. Frans memang begitu menyayangi Elizabeth. Menikahi mendua Jassy juga karena Mommynya. Meski tak pernah sekalipun Frans menganggap Jassy sebagai istrinya.


"Kembali ke London ya Frans!",bujuk Elizabeth.


"Untuk apa?", tanya Frans sambil menoleh pada sang ibu.


"Untuk menata kehidupan kita yang baru!",kata Elizabeth.


"Kehidupan ku atau kalian?",tanya Frans.


"Frans....!"


"Aku mau kembali Mom, tapi setelah aku mendapatkan Amara kembali!",kata Frans.


"Apa maksud mu dengan mengatakan mendapatkan Amara kembali?",tanya Jhon.


"Karena ulah kalian yang menghubungi ku saat Jassy akan melahirkan, Amara tahu aku sudah menikah. Dan karena itu dia meninggalkan ku!"


Kedua orang tua itu cukup terkejut. Mereka pikir, Frans baru mengenal Amara setelah berada di negara ini.

__ADS_1


"Kamu mendekati gadis lain padahal kamu punya istri Frans?", Elizabeth mengguncang bahu anaknya.


"Karena aku mencintai Amara mom. Aku sangat mencintai gadis itu. Bukan Jassy yang sudah berkhianat pada ku!",jawab Frans lantang.


Jhon dan Elizabeth sebenarnya memahami perasaan sang putra. Tapi bagaimana pun tindakan putra nya tetap salah. Secara tak langsung dia sudah menyakiti dua hati sekaligus.


"Jadi, bagaimana hubungan mu dengan Amara sekarang Frans?", Elizabeth mulai memelankan suaranya. Dia tak ingin Frans terpancing emosi yang berlebihan.


"Aku akan tetap menikahi Amara. Dan aku akan mendapatkan Amara apa pun caranya!",kata Frans.


"Kamu tidak akan bertingkah bodoh kan Frans?",tanya Jhon. Frans tersenyum miring.


"Menurut Daddy??",tanya Frans balik.


Jhon hanya menatap putranya.


"Daddy pikir, setelah lab ku terbakar, aku kehilangan banyak penemuan ku?",tanya Frans pada daddynya. Jhon dan Elizabeth cukup terkejut mengetahui jika Frans tahu lab nya terbakar karena ada campur tangan kedua orang tuanya.


"Apa maksud mu?",tanya Jhon pura-pura tak tahu.


"Aku tahu rencana kalian! Jadi...lebih baik, batalkan rencana itu! Kalian tinggal ikuti seperti apa permainan ku untuk mendapatkan Amara kembali. Dan setelah itu, aku akan kembali ke London membawa Amara sebagai istriku!"


Kedua orang tua itu tak tahu harus berbicara apa lagi pada putranya. Ingin melaporkan pada polisi tentang perbuatannya pada anak bungsu dan menantu nya pun tidak tega. Lagu pula hanya Frans harapan mereka satu-satunya. Dan ... mereka juga tidak punya bukti yang menunjukkan bahwa kematian anak dan menantunya karena ulah Frans. Meski Frans telah mengakuinya


"Istirahat lah! Besok pagi akan ku jemput!",ujar Frans meninggalkan ruangan itu.


.


.


.


Amara


Aku dan Tante Elizabeth berjalan beriringan menuju ke kamar Papi. Sedang Frans berjalan di belakang kami bersama Daddy nya.


"Kamu tidak praktek?",tanya John pada Frans.


"Nanti malam Dad!",jawab Frans.


Jhon benar-benar tak menyangka jika putra nya kini berubah menjadi sosok yang dingin dan misterius. Tidak seperti dulu, sebelum adik dan menantunya mengkhianati Frans.


Aku membuka pintu kamar papi, pemandangan pertama yang ku lihat adalah papi yang tersenyum melihat keberadaan ku.


"Assalamualaikum!",sapaku karena di dalam ada mba Mayang dan Kak Nathan.


"Walaikumsalam!",jawab keduanya. Mba Mayang tersenyum meski mulut nya tertutup niqob. Tapi dari gerakan matanya yang menyipit, terlihat jelas jika dia tersenyum.

__ADS_1


Aku mencium punggung tangan papi.


"Papi apa kabar?", tanyaku pelan. Aku sangat bahagia melihat papi sudah kembali membuka mata nya.


"Papi akan baik-baik saja selama kamu menuruti keinginan papi!",kata Papiku. Aku menghela nafas panjang.


Mata papi beralih pada orang-orang asing yang datang bersama ku.


"Pagi, Papi!",sapa Frans. Huh, dia sok dekat sekali!


"Pagi juga Frans!",jawab papi tersenyum.


"Oh iya kenalkan Pi. Ini mommy dan Daddy ku, mereka baru datang dari London kemarin."


Daddy dan mommy Frans menyalami papi yang terbaring di brankarnya.


"Jhon!"


"Elizabeth!"


Kedua orang tua Frans memperkenalkan diri.


"Rahardi",kata Papi.


"Mommy ku asli Singapura Pi. Jadi, mommy bisa bahasa Melayu!",kata Frans.


"Oh, ya?", sahut papi. Setelah itu para orang tua berbicara satu sama lain. Aku memilih duduk dengan mba Mayang. Kak Nathan juga terlihat antusias mengobrol dengan sesama pengusaha macam daddynya Frans.


Mba Mayang mengusap punggung tangan ku.


"Apa mba boleh bertanya Ra?",tanya Mba Mayang sedikit berbisik. Aku mengangguk. Tapi mataku tertuju pada Frans, kak Nathan, orang tua Frans dan papi ku yang membahas bisnis.


"Apa mba?",tanyaku.


"Kamu... sudah memutuskan untuk menerima Frans? Sampai...orang tua Frans berada di sini?",tanya mba Mayang pelan.


Aku menggeleng pelan juga.


"Ngga mba. Aku ngga ada hubungan apa-apa dengan Frans. Tapi...Frans mengatakan kepada orang tuanya jika aku calon istrinya."


Mba Mayang terlihat menghela nafas. Dia mengusap punggung ku.


"Mba pikir, kamu sudah memilih Frans, Ra!",kata mba Mayang lagi.


"Sejauh ini... keputusan ku masih sama. Aku...ngga mau dengannya mba." Mba Mayang mengangguk.


"Maaf ya Ra, bukannya su'uzon, tapi.... feeling mba mengatakan kalo Frans bukan laki-laki yang baik buat kamu. Terlepas apa pun keyakinan nya. Mba tidak mempermasalahkan itu. Tapi...entah lah Ra, mba harap kamu jangan sama Frans!", kata mba Mayang panjang lebar.

__ADS_1


"Insyaallah mba!", jawabku. Aku tidak tahu kedepan nya seperti apa. Karena sampai sekarang aku belum tahu jalan keluarnya seperti apa. Tak mungkin aku hanya memikirkan diri ku sendiri jika ada keselamatan orang lain yang terancam.


__ADS_2