Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 177


__ADS_3

"Aku...ijin ke apartemen dulu ya A. Mau ambil pakaian ku. Ngga mungkin kan aku beli pakaian mendadak", ijin Amara mengurai pelukan mereka.


"Aa aja yang pulang ke apartemen sekalian pulang ke sini jemput Nabil, neng."


"Oh...terus, aku ngapain dong?", tanya Mara bingung.


"Eum, masak buat makan malam kita bertiga. Aku kangen masakan kamu!", bisik Alby. Senyum sumringah terpancar di wajah cantik Mara.


"Bukan ngga mau masak, tapi ...kita bahkan belum belanja sayang!"


Alby tersenyum tipis. Lalu ia mengandeng Amara menuju ke kulkas yang ada di dapur. Ia membuka kulkasnya. Di dalam sana, sudah tersedia beberapa macam sayur, buah ,ikan ,daging ,telur tahu tempe. Bahkan makanan Frozen.


"Ini...siapa yang ngisi A?"


"Teh Mila sama mang Sapto, neng. Mereka sudah menyiapkan semuanya."


"Ya Allah, baik banget sih mereka?!", Amara sampai terharu.


"Dan, di sana...!", Alby menunjuk sebuah lemari bawah.


"Beras, minyak dan tepung-tepungan ada di sana. Lalu rak sebelahnya berisi persabunan.Sebelahnya lagi, rak piring dan kawan-kawan. Kalo yang di atas yang biasa kita pakai sehari-hari"


Amara mengangguk. Sungguh dia tak menyangka jika hal remeh temeh saja Alby menyiapkan sedemikian rupa, meski lewat tangan orang lain.


"Mesin cucinya satu tabung, biar tinggal jemur karena sudah cukup kering." Lagi-lagi Amara hanya mengangguk.


"Aa mau tetap mempekerjakan teh Ani seperti biasa. Apa kita perlu memakai jasa art?"


"Ngga A. Lagipula aku sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah. Jadi, aku yakin tanpa art pun aku bisa tetap bekerja di kantor."


"Kamu...ngga tersinggung kan sayang? Bukan maksud ku tidak percaya kalau kamu bisa merawat Nabil dengan baik. Aku cuma ngga mau kamu kelelahan sayang."


"Iya, A. Aku paham kok."


Alby mengusap lengan atas Amara.


"Mau aku masakin apa A? Ada semua bahan-bahannya nih di kulkas!"


"Aa mah apapun yang kamu masak tetap Aa makan. Tapi...kalo Nabil, dia lebih suka sayur berkuah. Mau itu sop atau sayur bening. Dan ya ...yang menjadi bukti dia anak sundanise, ngga ketinggalan ikan asin Neng."


Amara terkekeh pelan. Bukan apa, tak percaya saja kalau Nabil yang lahir di keluarga Hartama masih mau makan makanan kelas biasa seperti dirinya dan papanya juga. Tapi ya...namanya juga selera kan ya?


"Oke , aku masakin apa pun nanti ya. Kalian harus makan yang banyak!", ucap Amara.

__ADS_1


"Siap Nyonya Alby!", kata Alby sambil hormat seperti hormat bendera.


"Heheheh berasa masih jadi Lettu deh sekarang!", sahut Amara. Keduanya terkekeh pelan. Alby pun meninggalkan rumah mereka untuk ke apartemen dan menjemput Nabil dirumah neneknya.


.


.


.


Azmi dan Nur sudah sampai di pelataran ponpes Salsabila mengajar. Karena pemilik pondok cukup mengenal orang tua Nur, kyai Ahmad pun menyambut kedatangan Nur dan Azmi.


"Assalamualaikum kyai!", Nur menyapa kyai Ahmad yang merupakan senior uminya saat di pondok dulu. Ya, kedua orang tua Nur merupakan sosok yang agamis. Begitu pula dengan Salsabila. Tapi tidak dengan Nur yang masih urakan.


"Walaikumsalam, masuk Neng Nur. Dan...?"


"Assalamualaikum kyai. Saya Azmi, wali santri atas nama Aisyah Putri Abdullah."


"Oh...iya, pantas sepertinya saya tidak asing. Mari masuk, Abah sama umi nya Nur juga sudah datang. Mari masuk ke pondok Abah!", pinta kyai Ahmad.


Nur dan Azmi menelan salivanya. Keduanya saling menatap bingung hingga akhirnya Azmi memutuskan pandangannya lebih dulu.


"Kok...Abah sama umi kamu...di sini? Bukankah tujuan kita kemari untuk bertemu teteh kamu?", tanya Azmi.


"Aku juga ngga tahu A!", jawab Azmi karena memang dirinya tidak tahu jika kedua orang tuanya menyambangi pondok dimana tetehnya mengajar.


"Walaikumsalam!", jawab orang-orang yang ada di dalam sana termasuk Salsabila.


Wajah Azmi seketika menegang saat mengetahui jika di dalam sana ada seseorang yang cukup ia kenal. Sosok lelaki yang sudah pernah ia kecewakan!


"Azmi!", seru laki-laki itu dan bangkit dari kursinya.


"Pak...Mirza!", ujar Azmi gugup.


"Abah!", Nur menghampiri seseorang yang di panggil Abah. Ia mencium punggung tangan abahnya, setelah itu uminya.


Jadi.... Nur putri pak Mirza?


"Silahkan duduk nak Azmi!", pinta Kyai Ahmad. Azmi sedikit sungkan. Sungguh, dia tak menyangka akan bertemu lagi dengan sosok pria yang berjasa dalam hidupnya dan pernah ia kecewakan juga.


Pak Mirza menatap wajah Azmi dengan pandangan yang tak bisa di tebak.


"Jadi...apa Azmi yang akan meminang adik kamu Salsa??", tanya Pak Mirza dengan suara tegasnya.

__ADS_1


Semua menegang, tak terkecuali Azmi yang tiba-tiba di todong dengan ucapan itu.


"Berani kamu melamar putri saya?", tanya Pak Mirza lagi. Hanya ada keheningan sekaligus ketegangan.


Uminya Nur tak banyak bereaksi. Dan sepertinya, Azmi juga baru melihat istri dari pak Mirza.


"A...Aa!", panggil Nur lirih. Azmi pun menoleh pada Nur. Entah di sebut kekasih atau pacar atau ...apalah namanya.


"Heuh?", Azmi sedikit tersadar.


Belum keluar jawaban apapun dari Azmi, sosok gadis kecil mengetuk pintu.


"Assalamualaikum!", sapa nya.


"Walaikumsalam!", jawab semua yang ada j pondok kyai. Azmi menoleh pada sosok yang memberikan salam, karena ia hafal betul siapa pemilik suara itu.


"Abi!", Putri menghampiri Azmi dan memeluk putrinya dengan begitu erat. Mereka berdua saling merindukan satu sama lain.


"Abi ngga bilang mau jenguk Putri!", air mata Putri meleleh. Dia terharu mendapatkan kejutan dari abinya.


"Maafin Abi sayang!", Azmi menghapus air mata Putri. Pak Mirza bangkit dari duduknya.


"Dia putri mu, Azmi?", tanya pak Mirza. Tanpa ragu, Azmi mengangguk.


"Iya pak Azmi, gadis ini putri saya!", jawab Azmi. Semua tersihir dengan adegan yang ada di hadapan mereka. Karena mereka memang tidak pernah tahu jika sebelumnya Azmi dan pak Mirza pernah saling mengenal.


"Ikut saya!", pinta Pak Mirza pada Azmi. Suara grasak-grusuk mulai terdengar, tapi Azmi lebih memilih untuk mengikuti pak Mirza.


"Putri, tunggu di sini. Abi mau bicara sebentar sama pak Mirza."


"Iya Abi!", jawab Putri. Ia pun menghampiri ustadzah Salsabila, karena ia lah ustadzah di kelasnya selama ini.


Di sebuah teras....


"Dimana perempuan pilihan kamu?", tanya Pak Mirza.


"Uminya Putri sudah meninggal satu setengah tahun yang lalu , pak Mirza."


"Dulu, kamu menolak menjadi menantuku. Tapi sekarang kamu justru ingin melamar putri bungsu ku?", tanya Mirza sambil menoleh pada sosok yang pernah ia inginkan untuk di jadikan menantu.


"Maaf pak, saya tahu anda sangat berjasa dal hidup saya. Tapi...saya tidak bisa memaksa Nayla untuk menikah dengan saya sedang dia sudah memilih orang lain. Dan ... sungguh saya tidak tahu jika....Nur adalah putri bungsu pak Mirza!"


******

__ADS_1


Selingan Azmi dikit ngga apa-apa yakkkk???? 🙏🙏🙏🙏


Makasih


__ADS_2