Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 176


__ADS_3

Niat hati keluar dari kamar ingin menghindari pertengkaran dengan Alby, justru di sana pertengkaran semakin melebar.


[Halo Nad?]


[Iya nona. Maaf mengganggu istirahat anda]


[Ngga. Ada apa Nad?]


[Saya hanya ingin mengingatkan jika besok sidang putusan kasus Mr. Frans, nona.]


[Ah, iya. Aku hampir lupa Nad. Tapi kamu sudah bilang sama pengacara ku kan? Soal pencabutan kasus yang....]


Ucapan Amara terhenti saat sang suami menatap tajam padanya.


[Nad, nanti aku hubungi kamu lagi]


Tanpa mendengar sahutan Nada, Amara mematikan ponselnya.


"Kamu mencabut laporan kejahatan Frans?", tanya Alby.


"Tidak sepenuhnya. Kasus tentang pelecehan seksual Frans masih berlanjut. Besok putusannya."


"Lalu, laporan apa yang kamu cabut?"


"Udah lah, itu bukan urusan kamu. Yang penting masalah Frans udah selesai."

__ADS_1


Amara bermaksud meninggalkan Alby di ruang keluarga tersebut tapi tangan nya di tarik oleh Alby.


"Apa maksud mu bukan urusan ku?"


"Ya...ya itu memang udah selesai. Jadi udah ngga ada lagi yang harus di bahas soal Frans."


"Apa yang kamu sembunyikan dari ku Mara?", Alby menatap istrinya lekat.


Amara bukan Bia yang lemah lembut dan mudah di intimidasi. Jadi jangan harap dia akan diam saja saat Alby memojokkannya.


"Aku ngga sembunyikan apapun. Aku bicara semuanya ke kamu. Kamu yang selalu saja apa-apa mengambil keputusan sendiri."


"Sudah aku bilang Mara, aku ambil rumah ini karena memang agar lebih dekat sama Mak. Biar Mak bisa jaga Nabil."


"Kamu ngga percaya kalau aku bisa jadi ibu sambung yang baik untuk Nabil, begitu? Apa karena aku tidak keibuan seperti Bia? Begitu?"


Alby menyugar rambutnya yang mulai panjang. Please, mereka menikah baru hitungan jam. Masa harus di warnai pertengkaran sepele seperti ini?


Perlahan Amara mulai menyadari alasan Alby. Dia sadar, dia juga seorang CEO. Tidak mungkin standby menjaga Nabil meskipun dia berkewajiban untuk itu. Hanya saja ... kewajibannya di perusahaan juga tidak lah mudah.


Alby memilih untuk mengambil minum di kulkas. Ia mendudukkan tubuhnya ke bangku lalu menenggak air putih hingga tandas.


Dengan pelan, Amara mendekati Alby. Dia pun turut duduk di hadapan Alby.


"Kamu tahu dari awal Ra. Aku duda beranak. Tidak mungkin aku hanya memikirkan kebahagiaan diriku sendiri. Aku memang berhak menjalani kehidupan pribadiku. Tapi memang anakku tak berhak juga mendapatkan kasih sayang dari ku, dari kamu?"

__ADS_1


Amara meremas kedua tangannya di atas meja. Apa yang barusan terjadi seolah dirinya tak menerima kondisi Alby dan keberadaan Nabil. Padahal dari jauh-jauh hari, ia sudah memikirkan hal itu.


Menikahi bapaknya, harus menyayangi anaknya juga. Dan...Amara memang tulus menyayangi Nabil. Hanya saja ia tidak bisa sepenuhnya merawat Nabil karena kesibukannya.


"Aku sadar aku salah, sudah memutuskan sendiri kita tingga disini. Padahal... seharusnya aku belajar dari pengalaman pernikahan ku dulu. Karena keputusan sepihak ku, aku harus kehilangan keluarga ku. Dan harusnya aku berpikir seperti itu. Aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Aku tidak ingin kehilangan lagi orang yang ku cintai dan tulus mencintai ku dan Nabil, Amara!", mendadak Alby kembali melow.


Mara bangkit dari duduknya lalu memeluk Alby, menenggelamkan kepala Alby di dadanya. Ia menyesal kenapa harus ada pertengkaran seperti ini.


Harusnya Amara tahu, ada trauma yang Alby rasakan dengan pernikahan terdahulunya. Tapi kenapa Amara memancing Alby untuk merasakan hal serupa saat ini???


"Maafin aku, A! Maaf?", ujar Amara lirih sambil mengusap kepala Alby.


"Huum, Aa juga minta maaf. Lain kali apa pun pasti akan aa bicarakan sama neng?!"


"Iya. Eum...besok sidang putusan kasus Frans. Kalo aa ada waktu, temani aku ya...!"


"Kamu mau pamer sama Frans kalo kita sudah menikah?", Alby mendongakan kepalanya.


"Ngga. Buat apa pamer! Aku hanya ingin kamu juga mendengar sidang putusan besok. Apa Frans akan menjalani hukuman di sini atau di oper ke negaranya atas kasus pembunuhan adik dan istrinya."


"Oke, besok Aa temani."


"Makasih ya A."


******

__ADS_1


Ga lama2 kok marahnya hehehe 🤭🤭🤭


__ADS_2