
Sepasang kekasih itu sudah berada di halaman sebuah rumah di kawasan perumahan. Rumah itu tak terlalu besar, tapi cukup nyaman karena banyak tanaman di depannya. Belum lagi pagar keliling yang tak terlalu tinggi, membuat siapa saja bisa menikah keindahan itu.
Amara akan mengetuk pintu, tapi belum sempat ia ketuk pintu sudah terbuka. Muncullah sosok perempuan berniqob. Sudah pasti itu kakak ipar Amara.
"Assalamualaikum mba!",Amara menyapa kakak iparnya. Begitu pula dengan Alby.
"Walaikumsalam. Masuk Ra, Alby!",kata Mayang mempersilahkan mereka berdua. Jam klasik berwarna keemasan menghiasi ruang tamu bernuansa cream.
Amara dan Alby pun masuk ke dalam ruang tamu. Dari ruangan dalam, terlihat Nathan berjalan sambil menggendong Dhea.
"Kak!",sapa Amara. Alby pun menyalami calon kakak iparnya itu, weitssss calon lho...baru calon.
"Pak Nathan!",sapa Alby basa basi. Mau ikut-ikutan memanggil 'kak' sepertinya wajah Nathan tidak terlalu welcome padanya. Berbeda dengan Daniel yang notabene berusia tak jauh berbeda dengannya.
"Tante Mara ke sini ngga sama papa ku?",tanya Dhea yang usianya beda sedikit dengan Nabil.
"Ngga sayang, papa masih di rumah Oma!",kata Amara.
''Udah jam delapan lewat, Dhea bobo sama Bu Dhe yuk!",ajak Mayang.
"Iya Bu Dhe!",sahut Dhea yang langsung pindah ke gendongan Mayang.
"Mba nidurin Dhea dulu ya Ra, Alby!",pamit Mayang.
"Silahkan mba!",kata Alby sopan. Sebelum membawa Dhea ke kamar, Mayang meminta art nya untuk membuatkan minuman lebih dulu.
__ADS_1
"Dari rumah?",tanya Nathan pada adik bungsunya.
"Iya kak, tadi Alby jemput di apartemen."
Alby nampak memainkannya jarinya. Meskipun bukan pertama kalinya ia bertemu dengan Nathan, tetap saja aura kurang senang terhadapnya begitu terlihat.
Bahkan Alby pernah melihat Nathan marah saat papi Amara di rawat dulu. Tapi....
"Di apartemen?",tanya Nathan. Keduanya pun mengangguk pelan.
"Apa ada yang ingin kamu sampai kan pada saya, sebagai kakak tertua Amara?",tanya Nathan melipat kedua tangannya di dada. Amara dan Alby belum ada yang menyahuti karena ada bibik yang membawanya minum.
Setelah si bibik ke belakang, Amara ingin memulai obrolannya.
"Kak...!",kata Amara tapi Nathan mengangkat tangannya agar Amara diam.
"Eum...itu pak Nathan, saya...saya...."
"Kaku sekali bahasa mu!", sindir Nathan. Amara menyenggol lengan kekasihnya.
"Maaf...kkkaak!",kata Alby terbata.
"Benar kamu ada niat menikahi adikku sejak lama?",tanya Nathan. Tanpa pikir panjang, Alby mengangguk cepat.
"Kenapa?",tanya Nathan.
__ADS_1
"Karena... karena saya memang mencintai Amara kak!",jawab Alby.
"Cinta? Benarkah?"
Alby mengangguk."Iya kak!", lanjut nya.
"Bagaimana dengan peristiwa di apartemen saat itu?",tanya Nathan tanpa basa-basi. Sontak, wajah Alby memerah. Bagaimana ia menjelaskan peristiwa memalukan itu? Kenapa harus terungkap sekarang-sekarang??? Kenapa kak Nathan membahasnya???
"Jawab!",ujar Nathan dengan suara tegasnya. Dan itu sempat membuat Alby terkejut.
"Itu kak sebenarnya....!"
Alby menceritakan kronologi kejadian dimana dirinya terkena pengaruh obat yang membuat dia seperti itu. Beruntung dirinya tak sampai merusak Amara.
"Jadi, saat itu kamu mau bertanggung jawab atas apa yang terjadi di sana?",tanya Nathan.
"Iya kak!",jawab Alby.
"Dan kamu menolaknya Amara?",tanya Nathan pada adiknya.
"Iya kak!",jawab Amara.
"Kenapa?", suara Nathan terdengar pelan namun tegas. Keduanya membatu dan hanya mampu saling melempar pandangan. Persis seorang terdakwa yang sedang di sidang.
****
__ADS_1
Nanti lagi ya π€
Mengandung anu, jadi alangkah baiknya di up habis magrib ππππ€£π€£π€£βοΈβοΈβοΈpiss