
Amara
"Nona Amara, hari ini ada pengiriman donasi rutin ke yayasan panti asuhan Kasih Bunda, apakah nona Amara berkenan untuk berkunjung ke sana?", tanya sekretaris ku, Nada.
"Apa papi juga sering ke sana?"
"Iya Nona. Meski tidak selalu, tapi jika memang tidak sibuk beliau pasti berkunjung dan menemui anak-anak yatim di sana. Apalagi saya dengar, hari ini akan ada acara ulang tahun yang akan di langsungkan di panti asuhan tersebut. Ulang tahun anak salah satu pengusaha, nona!"
"Heum, baiklah. Jam berapa Nada?"
"Jam sepuluh, nona!"
"Baiklah, nanti kamu temani saya ya!"
"Iya Nona! Kalo begitu, saya kembali ke ruangan saya."
Aku pun mengangguk pelan.
.
.
Alby
Hari ini ulang tahun Nabil. Aku merayakan ulang tahun kedua Nabil di yayasan yatim pintu Kasih Bunda.
Kenapa tidak di rumah atau di hotel mewah? Aku ingin mengajarkan Nabil berbagi. Tidak salah memang merayakan di tempat seperti itu. Tapi, alangkah baiknya jika Nabil terbiasa untuk berbagi dengan yang kurang beruntung. Nabil memang tak merasakan kasih sayang bundanya sejak kecil. Tapi, dia lebih beruntung. Masih memiliki ku, memiliki nenek dan tak kekurangan materi.
Segala persiapan sudah ku pasrahkan pasa Azmi.
"Bos!"
''Heum!"
''Hari ini ada tamu yang lain selain kita yang mengunjungi panti ini lho!"
"Oh... terus?"
"Kalau jam nya bentrok, acaranya jadi satu sekalian aja ga masalah kan? Toh, intinya mereka juga mau berdonasi untuk anak-anak panti seperti niat Nabil."
__ADS_1
"Atur aja, Mi!"
Azmi pun mengangguk saja. Aku memang terima beres. Itu saja!
"Oh ya, Mi!"
''Apa?"
"Nabil sama Mak udah di jemput kan?"
"Udah di jalan. Tadi mang sapto yang bawa mobilnya kok!"
"Oh, syukurlah!"
Selang beberapa menit, mobil yang membawa Nabil pun sampai. Baby boy ku berlari menuju ke arah ku. Wajah tertawa riang.
"Papa!", pekik nya lalu meminta gendong padaku.
"Selamat ulang tahun anak papa yang ganteng!", Nabil hanya cengengesan.
"Selamat ulang tahun Nabil. semoga panjang umur sehat selalu dan makin pintar!",kata Azmi.
"Azmi, Bil! Jangan Ami, kaya tante-tante tahu!", celetuk Azmi. Aku hanya terkekeh mendengar protes Azmi pada Nabil.
"Iya om Ami!", ulang Nabil. Azmi memutar bola matanya dengan malas.
"Kumaha sia wae!",kata Azmi. Aku menepuk bahu Azmi.
"Dia emang turunan Sunda, tapi ajarin bahasa yang halus kenapa? Belegug sia teh!"
"Nah, kasar maneh meren!", protes Azmi lagi.
"Ini bapak-bapak dua, hobinya adu mulut mulu", kata Mak. Azmi menyalami tangan mak yang sudah keriput.
"Sama nenek-nenek mau pegang tangan, giliran yang bening kagak mau!", sindir ku.
"Sindir aja terus bos!"
Usai bercanda ria, acara itu pun di mulai. Dari pembacaan doa, ceramah singkat dan potong tumpeng. Sedang acara terakhir adalah bagi-bagi hadiah buat anak-anak panti.
__ADS_1
Nabil sangat antusias saat ia membagikan hadiah-hadiah itu pada kakak-kakak panti. Semua memberikan doa dan selamat pada Nabil.
Beberapa saat kemudian, pemimpi panti memberitahu Azmi jika ada donatur tetap yang juga ingin berbagi. Azmi mengatakan hal itu padaku. Dan tentu saja aku mempersilahkan nya. Toh, acara intinya sama. Berbagi!
Tamu yang di maksud pun masuk ke dalam aula yang di gunakan untuk acara ulang tahun Nabil tadi.
Mataku terpaku saat melihat seseorang yang baru saja masuk. Perempuan cantik yang berhijab dengan pakaian kantor nya yang fashionable.
Perempuan itu tersenyum menyalami anak-anak panti. Wajahnya begitu teduh dan memberikan kesan betah untuk di pandang.
"Terimakasih atas kunjungannya, nona Amara!",kata pemimpin panti.
"Sama-sama bu. Maaf, saya tidak tahu jika papi saya donatur tetap disini!"
"Tidak apa Nona Amara. Kami justru senang, nona Amara berkenalan kemari di sela kesibukannya."
Itu percakapan yang aku dengar. Aku masih tak percaya jika itu, Amara.
Dia berhijab? Dia tak lagi memakai seragam kebanggaannya? Dia menjadi penguasa?
Aku mendekati Amara perlahan, posisinya memunggungiku.
"Mara!",panggil ku saat aku berada di belakangnya. Dengan gerakan pelan, ia memutar badannya.
Pandangan mata kami bertemu. Ya, dia Amara!
"Alby!",sapanya sedikit terkejut. Dia menatap Nabil. Nabil yang tersenyum riang membuat siapa pun merasa gemas.
"Nabil yang merayakan ulang tahun di sini?",tanya Amara.
Aku mengangguk.
"Setelah ini, aku ingin bicara Mara!"
"Maaf, By! Tapi setelah ini, aku harus kembali ke kantor. Maaf!"
"Lalu kapan kamu bisa luangkan waktu untuk bicara dengan ku?"
Amara tak menjawabnya. Justru di menatap ku dengan pandangan yang tak bisa ku artikan.
__ADS_1