Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 88


__ADS_3

Alby


Jam tujuh malam aku berangkat ke kampus. Nabil sedang bermain-main di tempat bermainnya sebelum dia mengantuk di temani Mak. Teh Ani sudah pulang setelah magrib tadi.


"Papa ke mana?",tanya Nabil.


''Papa ada kuliah sayang. Nabil bobo sama nenek dulu ya. Nanti papa pulang, Nabil pindah ke ranjang papa."


"Ngga pa. Nanti Nabil bobo sendiri, sambil nunggu papa. Nabil berani. Ya kan nek?",Nabil minta persetujuan pada Mak.


Mak mengangguk dan tersenyum tipis.


"Iya Jang, Nabil kan pinter udah besar lagi. Nanti nenek liatin dari sini sebelum Nabil benar-benar bobo, nenek ga tinggalin!",sahut Mak.


"Tuh kan pa, Nabil pinter heheheh!"


"Iya anak papa memang pintar banget!",ku acak rambutnya.


"Papa hati-hati ya!",kata Nabil. Aku mengulas senyum.


"Iya sayang. Assalamualaikum?",ku kecup keningnya sebentar.


"Walaikumsalam."


Setelah itu aku pun menuju ke kampus. Aku dengar Yana mulai aktif mengajar lagi setelah melahirkan beberapa waktu lalu.


Ku parkirkan kendaraan ku di tempat biasa. Fakultas ekonomi di malam hari ini memang sedikit lebih ramai dibandingkan fakultas lain karena memang mungkin sebagian besar adalah orang-orang yang bekerja di siang harinya bekerja seperti ku.


Sekitar jam sembilan, mata kuliah pun selesai ku ikuti. Langsung ku hubungi Amara karena setelah dari sini aku akan menjemputnya. Setidaknya dia mau menunggu ku sebentar.


Saat aku menghubungi nya, nomor nya memang aktif tapi bukan suara Amara yang ku dengar, melainkan...


[Assalamualaikum Mara, aku baru selesai kelas. Kamu tunggu aku bentar ya?]


[Amara sedang ke toilet. Kamu tidak perlu menjemput Amara. Dia pulang bersama ku!]


Dari logatnya aku tahu jika dia itu Frans. Tapi kenapa ponsel Amara bisa dipegang olehnya????


[Kenapa ponsel Amara ada sama kamu?]

__ADS_1


Frans terkekeh di seberang sana.


[Karena memang Amara bersamaku? Kamu tak perlu susah payah menjemput Amara. Biar Amara jadi urusan ku]


Klik! Panggilan itu berakhir karena Frans. Bahaya sekali kalo Amara hanya berdua dengan Frans. Aku harus menyusul nya ke perusahaan Amara.


Sekitar tiga puluh menit aku sampai di gedung Rhd.co yang sudah mulai sepi dan sebagian lampunya padam.


"Selamat malam pak!", sapaku pada sekuriti.


"Selamat malam. Ada perlu apa ya pak malam-malam ke kantor ini?",sapa satpam itu dengan nada tegas.


"Saya mau jemput Amara. Belum keluar kan?", tanyaku.


"Maaf pak, nona Amara sudah keluar sejak sepuluh menit yang lalu."


"Sudah keluar?",tanyaku membeo. Satpam itu mengangguk.


"Apa dia keluar dengan laki-laki asing? Maksudnya bule gitu pak?", tanyaku lagi.


"Iya pak. Bule ganteng, tapi bapak lebih ganteng kok hehehe!"


"Nih pak buat beli kopi. Makasih pak!",aku menepuk bahu satpam.


"Wah, jadi ngga enak pak!",ujar Satpam. Aku hanya tersenyum, setelah itu aku kembali masuk ke mobil.


Aku bingung, menyusul ke apartemen Amara atau ke rumah sakit. Ponsel Amara sudah tak aktif lagi. Aku berharap Frans tidak berbuat yang macam-macam pada Amara.


Aku memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Sayangnya, meski aku di rumah tapi pikiran ku masih melayang memikirkan Amara.


.


.


.


Amara


Aku keluar dari toilet yang ada di ruangan ku. Ada note dari Nada yang mengatakan dirinya tak bisa menemaniku sampai malam karena mamanya sakit. Aku pun sibuk sendiri dengan pekerjaan ku. Mungkin besok aku bisa berangkat siang.

__ADS_1


Hampir jam sembilan, belum ada kabar dari Alby. Aku memutuskan untuk solat isya lebih dulu.


Setelah selesai mengucapkan salam, aku terkejut keberadaan Frans yang ada di ruangan ku bahkan dia menyentuh ponsel ku.


''Frans???"


Dia tersenyum lalu meletakkan ponsel ku lagi. Aku yakin Alby yang baru saja menghubungi ku. Tapi kenapa Frans begitu lancang menyentuh barang pribadi ku.


"Sudah selesai baby? Mari kita pulang! Sudah malam, tak baik seorang gadis masih berada di tempat kerja yang sepi seperti ini!",ujar Frans sambil melangkah mendekati ku. Aku sudah melipat mukena ku.


"Bahkan aku jauh lebih takut jika hanya berdua dengan mu!",kataku.


"Kenapa harus takut padaku sayang? Aku mencintaimu, tak mungkin melukaimu baby!"


"Bagaimana bisa kamu masuk ke sini? Dan siapa yang mengijinkan mu menyentuh ponsel ku!!!"


Frans menyeringai miring menatap ku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Menjijikkan sekali bukan?


"Aku tidak akan lelah meminta mu kembali pada ku baby!", katanya sambil menarik pinggang ku. Aku menginjak kakinya dengan kencang. Hal itu cukup membuat nya melepaskan tangannya dari pinggang ku.


Sudah terlalu sering ia menyentuh ku semaunya. Aku harus bisa melawan pria yang sangat misterius ini.


"Papi mu sudah siuman!", katanya.


"Benarkah?",tanyaku. Frans mengangguk tipis.


"Aku masih berbaik hati membuat papi mu bangun kembali. Huum... tapi... bagaimana jika aku juga menghancurkan karir dokter Sakti? Sepertinya menyenangkan!",katanya sambil tertawa lepas.


Aku terperangah tak percaya. Satu sisi aku bahagia papi ku siuman, tapi di satu sisi aku juga tak rela jika karena obsesi Frans menghancurkan karir Sakti yang sudah susah payah ia bangun selama ini.


Aku menarik kerah lelaki psyco ini. Karena dia yang cukup tinggi, aku sedikit mendongak.


"Jangan libatkan siapa pun!",ancamku. Tapi Frans menggenggam tangan ku lalu melepaskan tangan ku dari kerahnya perlahan.


"Kamu yang sudah melibatkannya bukan?", mata Frans memerah menatap ku.


Apa dia tahu jika aku dan sakti menyelidiki kondisi papi??


******

__ADS_1


segini dulu, makasih ✌️✌️✌️


__ADS_2