Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 68


__ADS_3

Alby


"Kak, jangan seperti itu!", ujar Kak Daniel. Mungkin dia membela ku 🤭.


"Jangan seperti itu bagaimana? Fisik tampan tak menjamin bisa memberi kebahagiaan!",kata Kak Nathan.


"Kak, bisa ngga liat nya jangan hanya dari sudut pandang kakak dan mami papi?"


"Dan, kamu sudah mengenal dia lebih dulu begitu?",kak Nathan sedikit menaikkan intonasi suaranya. Sebenarnya dia bukan tipe pemarah seperti Daniel. Tapi entah kenapa dia bisa seperti itu melihat sosok Alby.


"Tentu saja aku kenal Kak. Jangan kan aku, papi pun kenal dengan Alby. Dia CEO HS grup. Kami bekerja sama dengan perusahaannya!"


Nathan masih menatap ku dengan pandangan yang tak bisa ku artikan. Apa yang ada di dalam pikirannya?


"Kamu...ada...??", pertanyaan Nathan menggantung saat Amara keluar dari kamar rawat papi nya.


"Alby?",gumam Amara yang sudah pasti di dengar oleh semua orang di situ termasuk sakti. Dokter yang sekarang sudah mulai menghangat, sedang membaca situasi apa yang sedang terjadi.


"Ra!",aku sedikit mendekatinya. Tapi kak Nathan menarikku. Dia juga sempat di tahan oleh istrinya.


"Ngga usah deket-deket Amara?!", tarik kak Nathan ke lengan ku.


"Kak!", panggil Daniel dan Mara bersama-sama.


"Kak Nathan apa-apaan sih?",tanya Amara.


"Kamu yang apa-apaan? Jadi benar, laki-laki ini yang bikin kamu tidak mau kembali pada Frans?",tanya Nathan pada Amara.

__ADS_1


"Kak, aku memang gak mau balikan lagi sama Frans. Bukan semata karena Alby. Tapi karena alasan lain yang bikin aku ga mau balik sama Frans!",kata Amara menegaskan.


"Karena apa? Dia nonis gitu? Kamu lupa, kita juga pernah sama sepertinya. Malah bagus bukan kalo kita membimbingnya jika memang dia serius mengikuti keyakinan kita lalu menikah sama kamu ,dek!", Kak Nathan masih saja pro dengan Frans. Entah kenapa!


"Kak, aku bingung jelasin ke kak Nathan. Pokoknya ada hal yang tidak bisa aku jelaskan di sini sekarang!",kata Amara.


Sakti menarik tangan ku, dia memberikan kode agar aku tak dekati Amara saat ini dari pada menimbulkan pertengkaran kakak dan adik itu.


Tiba-tiba suara bariton khas bahasa bule nya yang masih kagok berbicara bahasa Indonesia pun mendekat ke kami.


"Karena sebelumnya saya sudah menikah!", Frans berdiri di hadapan kami.


Nathan mungkin belum tahu status Frans, tapi tidak dengan mami dan papi apalagi kak Daniel.


"Kamu sudah pernah menikah Frans?",tanya Nathan. Bule itu mengangguk.


"Tapi saya tidak mencintai mendiang istri saya!"


"Maksudnya apa Frans?",tanya Daniel. Saat ini, Amara justru berdiri di samping ku dan Sakti.


"Saya pernah membohongi status saya saat kami berada dimedan perang dulu. Tapi saat itu saya benar-benar mencintai Amara, bahkan sampai detik ini. Saya menikahi seorang wanita yang seharusnya menjadi istri almarhum adik saya. Sebab seorang kakak, saya hanya ingin bertanggung jawab sebagai kakak almarhum karena dia sudah menjamin gadis itu!"


Semua mata tertuju pada cerita Frans. Mungkin Amara satu-satunya orang yang masih saja enggan untuk sekedar percaya dengan ucapannya.


Aku menoleh pada sosok gadis cantik yang tinggi semampai dengan hijab kekiniannya khasa orang kantoran. Amara seolah tak peduli dengan pembelaan Frans.


"Kak Daniel, kak Nathan. Sungguh, saya sama sekali tidak pernah mempermainkan perasaan Amara. Justru karena saya ingin memperjuangkan Amara, kaki saya bisa melangkah di sini, saat ini bersama kalian."

__ADS_1


Nathan terdiam. Begitu juga dengan Daniel. Daniel menatap laki-laki yang saat ini sedang mencuri perhatian sang adik bungsu.


"Frans, kamu bisa saja berusaha menaklukkan Mara lagi. Tapi keputusan tetap ada pada Amara. Kamu tidak boleh memaksa kehendak kamu pada Amara!",kata Kak Daniel.


"Kak Daniel, aku tahu. Tapi aku tetap berusaha untuk mendapatkan Amara lagi. Apa pun caranya!"


Meski orang lain mendengar ucapan nya biasa saja, berbeda dengan ku yang memahami maksud lain ucapannya.


"Kamu dengar sendiri kan Dek? Seperti apa usaha Frans bahkan rela jauh-jauh ke sini buat kamu!",kata kak Nathan.


Mayang menarik lengan baju suami nya agar tak melanjutkan ucapannya.


Aku sendiri masih cukup memahaminya. Jadi, aku memilih untuk berpamitan pada Amara begitu juga dengan yang lain.


"Ra, aku balik. Mungkin lain kali aku jenguk papi kamu!", pamitku pada Amara. Dia hanya mengangguk tipis.


Aku pun berpamitan pada kedua kakak Amara.


"Ra!"


Dia menoleh sekilas.


"Iya hati-hati."


Setelah berpamitan,aku dan Sakti pun menjauh dari mereka.


****

__ADS_1


Segini dulu ya. Ngantuk pake Banget! Maaf kalo tidak berbobot heheh ✌️ sambil merem melek ini mata 🙈


Makasih yang udah support mamak sampe bab ini. Tanpa kalian-kalian sapa lah Mak othor ini.


__ADS_2