
Billy sudah standby di halaman rumah Alby sekitar jam tujuh pagi. Alby yang merasa heran pun memutuskan untuk menemui Billy.
"Bil?"
"Selamat pagi pak!", sapa Billy sopan.
"Pagi! Ada apa sepagi ini sudah berada di depan rumah saya? Kita menemani Azmi ke Bandung nanti siang."
"Maaf pak Alby, ada hal penting yang ingin saya sampaikan!", jawab Billy tapi matanya beralih ke pintu. Ada Amara yang sedang berdiri di sana. Alby pun menoleh pada istrinya yang tengah menatapnya dan juga pemimpin bodyguard.
"Ada apa?", tanya Alby lirih.
"Apa nyonya tidak masalah jika mendengarnya?", tanya Billy. Alby mengangguk.
"Hari ini Frans akan terbang ke London. Dan proses hukum di negaranya juga akan berlanjut!", kata Billy.
(Maaf atas ketidaktahuan othor di bidang ini)
"Owh... begitu rupanya. Iya, terimakasih infonya Bill!"
"Sama-sama pak!"
"Hari ini aku tidak akan ke kantor, nanti Azmi akan berangkat bersama kita."
"Baik Pak!"
"Anak buah kamu standby kan Bil?"
"Tentu pak. Saya juga sudah menyebarkan mereka ke beberapa titik tak jauh dari sini."
"Kerja bagus Bil! Soalnya ...ku pikiran istri ku sedang kurang fit makanya... mungkin dia lebih baik di rumah!"
"Nyonya Amara sakit pak?"
"Iya, asam lambungnya naik tadi malam muntah-muntah. Makanya sekarang masih pucat!"
"Asam lambung pak? Bisa jadi...nyonya hamil pak! Kan orang hamil juga tanda-tandanya ada yang muntah juga!", jawab Billy.
Alby mengernyitkan alisnya lalu ia tersenyum.
"Kami baru menikah dua mingguan Bill, ada-ada saja! Mara hanya kelelahan dan kambuh saja kok!", Alby menepuk lengan Billy.
"Ya, benar. Mungkin saya yang sok tahu padahal saya tidak berpengalaman. Kalau begitu, saya permisi pak. Saya menunggu di depan rumah Nyonya Hartama!", kata Billy.
"Iya Bil, terimakasih banyak!"
__ADS_1
Billy pun meninggalkan rumah Alby. Lelaki tampan yang masih mengenakan celana selutut itu pun kembali masuk ke dalam rumah. Amara sendiri sudah duduk di bangkunya. Ia sedang menikmati teh lemon.
"Sayang, kamu kan lagi kambuh malah minum minum asam kaya gini?", Alby mengambil teh lemon Amara yang masih hangat itu.
"Ngga asam A. Itu udah banyak gulanya. Mulut ku rasanya ngga enak, makanya pengen teh lemon biar enakan. Cicip aja kalo ngga percaya, itu udah manis!", kata Amara.
Alby kembali menyerahkan gelas itu pada istrinya.
"Nanti, kamu di rumah sama Mak dan Nabil ya?! Aa sama mang Sapto yang akan menemani Azmi, sama Billy juga. Ada anak buah Billy yang berjaga di sekitar sini."
"Kenapa aku ngga boleh ikut?"
"Kamu lagi ngga fit sayang!", Alby menggenggam tangan Amara.
"Tapi aku juga ingin menyaksikan proses pernikahan Azmi dan Nur! Aku penasaran sama mahar nya yang surat apa itu?"
"Surat Ar Rahman?!", jawab Alby.
"Iya itu, aku sempat gugling kemarin. Lumayan panjang suratnya. Di tambah lagi berulang-ulang ada kata yang sama. Emang Azmi bisa hafal, ngga bingung?"
Alby tersenyum.
"Azmi mantan santri ponpes Zzz di Bandung sayang. Dia juga hafidz Qur'an! Jangankan hanya Surat Ar Rahman, dari Al Baqarah sampai tiga kul di akhir lembar Alquran dia aja hafal!"
Amara ternganga, hampir tak percaya. Ternyata oh ternyata, di balik sikap absurb nya selama ini, ada kelebihan Azmi yang Amara tak tahu. Dia pikir, Azmi hanya tipe laki-laki yang mengikuti sunah tak menyentuh lawan jenis yang bukan mahram. Ternyata dia lebih dari itu.
Amara tergelak pelan. Bisa-bisanya Alby berpikir seperti itu.
"Kok mikir nya gitu?", tanya Amara masih sedikit tertawa.
"Ya itu tadi, Azmi banyak plusnya!", jawab Alby.
"Kalo emang aku tertarik sama Azmi, kenapa ngga dari dulu aja, waktu kamu nolak aku terang-terangan. Ya kan?"
"Ishh...masih ingat aja deh!", kata Alby.
"Hehehe, ingat lah. Apalagi jargon kamu A, ehem...'kita tak sedekat itu'. Sumpah A, kalo inget itu hatiku mencelos pake banget!", kata Amara dengan gaya yang di buat-buat melankolis.
Alby langsung merengkuh bahu Amara.
"Iya maaf, tapi itu kan dulu! Habis itu kamu yang bikin aku ngejar-ngejar kamu terus!", balas Alby.
"Iya, tapi aku juga lama ngga dapat kepastian apa-apa. Padahal kita sering hmmmppttt....!"
Amara tak melanjutkan kalimatnya lagi karena sudah di bungkam oleh pak suami!
__ADS_1
.
.
Di kost Azmi, dia sudah bersiap mengenakan pakaian santai. Karena berangkatnya nanti masih agak siang, dia masih bisa bersantai lebih dulu.
Santai? Sebenarnya tidak! Dia hanya berusaha untuk tampak bersikap baik-baik saja. Padahal, rasa grogi tetap saja melanda hatinya.
Ia memainkan ponselnya sambil turun dari kamarnya yang ada di lantai tiga menuju ke parkiran mobil. Ia sudah menyiapkan pakaian ganti dan semua dokumen nya sudah lebih dulu berada di rumah Nur sejak pagi agar bisa di daftarkan hari itu juga. Jadi, pernikahan mereka sah. Terlebih, besok sudah mulai puasa. Instansi pemerintah juga libur awal puasa, begitu pula kantornya.
Nur mengirimkan gambar di mana ruang tamu rumah abahnya sudah di sulap menjadi pelaminan yang sederhana dengan nuansa putih. Bukan pelaminan sebenarnya, lebih tepatnya dekorasi yang indah dengan nuansa putih dan bunga-bunga segar.
Azmi hanya membalas 'bagus' pada gambar Nur. Nur yang paham seperti apa calon suaminya hanya menghela nafas pendek memaklumi kengiritan bicara Azmi.
Sekitar setengah jam, Azmi sudah sampai di rumah Mak Titin. Ada Billy dan Mang Sapto yang sepertinya sedang sibuk memindahkan barang-barang ke dalam mobil Alp**** milik Nabil.
"Assalamualaikum!", Azmi menyapa semuanya.
"Walaikumsalam! Eh, calon manten tos dugi!", ledek mang Sapto.
"Mang sapto bisa aja!", kata Azmi malu-malu.
"Pasti deg-degan nih!", ledek mang Sapto lagi.
"Muhun mang!", kata Azmi masih tersipu.
"Oh iya Mang, itu apaan?"
"Atuh seserahan dong buat mempelai perempuan!", jawab Mang Sapto.
"Hah? Kan saya mah ngga beli apa-apa mang?", tanya Azmi.
"Iya, tapi ini teh acc neng Mara. Dari subuh udah di anterin ke sini lho."
"Hah?!", Azmi ngelag. Tak lama kemudian Mak Titin keluar menyapa Azmi.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu mau menikah juga ya Mi!", kata Mak.
"Iya Mak. Alhamdulillah!", kata Azmi.
"Hampura ya Mi. Mak sama Nabil ngga bisa nemenin kamu. Amara teh sakit, kasian atuh kalo dia sendirian di rumah. Kamu sama mang Sapto dan Alby aja ya? Ya...anggap saja kami ini keluarga kamu!", kata mak Titin. Azmi merasa terharu sekali. Dia yang hanya karyawan anaknya di kantor, sudah di anggap keluarga sendiri oleh keluarga bos nya.
Ya Allah, amalan apa yang sudah pernah ku lakukan hingga aku seberuntung ini bertemu orang baik seperti mereka, batin Azmi terharu.
*****
__ADS_1
ada yang nunggu part nikahnya Azmi ya???? 🤭🤭🤭🤭