
Amara sudah selesai membacakan dongeng untuk Nabil. Berbekal dari Mbah Gugel pastinya. Karena dia memang jarang bermain ponsel selain membuka chat atau telepon, atau sekedar membaca email urusan pekerjaan kantornya.
Aplikasi berlogo F dan kamera ungu pun jarang ia buka. Sok sibuk ibu tiri satu ini emang.
Perempuan yang baru dua hari berstatus sebagai istri seorang Alby sedang memasak sarapan untuk keluarga kecilnya.
Alby memilih pindah ke kamar Nabil setelah solat subuh. Jam setengah tujuh, masakannya sudah selesai. Amara bersiap untuk berangkat ke kantor.
Saat keluar dari kamarnya, bersamaan pula dengan Nabil yang sudah rapi. Alby pun sama. Bedanya, ia masih memakai celana boxer dan kaos oblongnya.
"Lho, Nabil udah mandi aja. Baru mau mama bangunin!", kata Amara.
"Nabil kalo bangun pagi lho Ma. Iya kan pa?"
"Iya sayang."
"Aku udah siapin bajunya A. Aa ganti baju dulu sana!"
"Iya, mama!", goda Alby. Bukan yang pertama kali, tapi panggilan itu sungguh membuat Amara merasa berbunga-bunga.
Mara menggandeng Nabil duduk di bangku meja makan.
"Sarapan nya cuma nasi goreng. Nabil doyan ga? Kalo ngga nanti mama buatkan yang lain?"
"Nabil doyan kok Ma."
Anak itu menatap lauk yang ada di depannya. Amara merasa jika anaknya mungkin tak terlalu suka. Hanya ingin membuat Amara senang saja, Nabil berkata demikian.
Pinter sekali Nabil ya??
"Eum, mama masih punya telor, sosis, nugget ada yang Nabil mau?"
Nabil menggeleng.
"Atau mau roti sama sekali coklat aja?", tawar Amara lagi. Tapi lagi-lagi Nabil menggeleng.
"Nabil yakin, mau makan pakai nasi goreng ini. Ngga pedes kok!"
Kali ini Nabil mengangguk pelan. Melihat anak sambungnya kurang begitu lahap, Amara jadi tak enak hati. Ia pun berjongkok di sebelah Nabil. Nabil menghentikan sarapannya.
"Sayang, mama minta maaf kalo masakan mama ngga seperti yang Nabil mau. Lain kali mama tanya dulu deh Nabil mau lauk apa."
Nabil memeluk Amara tiba-tiba. Amara pun membalas pelukan putranya.
"Ada apa?", tanya Amara.
"Nabil maunya nasi putih aja ma, sama telur dadar. Boleh?", tanya nya. Amara menyunggingkan senyumnya.
"Tentu boleh sayang. Mama buatkan! tunggu ya!", Amara mengusap kepala Nabil. Nabil mengangguk senang.
Alby yang baru keluar kamar merasa heran melihat istrinya yang sudah berpakaian rapi berada di depan kompor lagi.
"Lho, mama udah rapi kok main kompor lagi sih?", tanya Alby sambil meminum teh panasnya. Alby tidak terlalu suka kopi.
"Nabil mau telor dadar pa. Ngga suka nasi goreng!", kata Nabil menunduk.
Alby tahu, Nabil pasti tak enak hati meminta lauk seperti yang dia mau. Meskipun hanya telur dadar.
"Ngga apa-apa A. Cuma telor dadar mah gampang", sahut Amara. Dalam hitungan menit, telor dadar sudah siap di hidangkan.
"Silahkan Nabil ganteng!", Amara meletakkan nasi putih dan telor dadar.
__ADS_1
"Makasih mama."
"Sama-sama sayang!", jawab Amara. Lalu ia duduk dan menuangkan nasi ke piring Alby.
"Cukup Ma, jangan banyak-banyak!", kata Alby. Amara pun menghentikan aktivitasnya yang menuangkan nasi.
Amara pun menyendok untuk dirinya sendiri. Lalu, ia pun turut sarapan bersama suami dan putranya.
Usai sarapan, Alby dan Amara mengantar Nabil ke rumah Mak. Karena posisi rumah Mak lebih berada di depan di banding rumah Alby.
"Mak, nitip Nabil ya!", kata Alby pada Mak Titin.
"Ngga usah di bilangin lah! Pasti Mak jagain kok!", kata Mak Titin.
"Maaf ya, kami ngerepotin Mak terus. Harusnya Mara yang jagain Nabil."
Amara tampak tidak enak.
"Ngga usah ngga enak begitu nak Mara. Kamu kan juga punya kewajiban sendiri. Jangan di pikirin yang nanti malah bikin beban buat kamu."
"Makasih ya Mak!", Mara mengusap punggung tangan Mak Titin.
Nabil yang sudah di pamiti oleh orang tuanya ikut pengasuhnya ke taman belakang untuk bermain seperti biasa.
Sepasang suami istri itu pun berangkat ke kantor mereka.
"A, aku bawa mobil aja sendiri deh. Kasian kamu kalo antar jemput aku terus."
"Hari ini aja sayang, mulai besok Billy dan yang lain akan tetap mengawal kamu."
"Masih perlu mereka A?", tanya Amara.
"Iya, bagaimana pun juga aku ingin kamu selalu ada yang menjaga karena aku tidak bisa dua puluh empat jam sama kamu sayang!"
"Masih ngga nyangka, seorang duda Jutek yang ganteng ini udah jadi suami aku!", ledek Amara.
"Diiih...apaan sih!", cebik Alby.
"Heheh emang iya, mantan duda yang jutek dan ga peka ini udah luluh cuma sama seorang Amara yang ngga tahu diri ngejar-ngejar cintanya si duda Jutek!", Amara makin meledek suaminya.
Alby melotot tajam pada Amara. Bukannya takut, Amara justru mendaratkan ciuman ke pipi kiri Alby. Setelah itu, Amara terkekeh geli melihat ekspresi wajah Alby.
Tapi tanpa Amara sadari, mobil mereka justru melaju ke arah lain. Bukan gedung HS Grup apalagi Rhd.co.
"Lho? Kita mau ke mana A???", tanya Amara.
"Hotel!", jawab Alby singkat sambil menyeringai. Amara sendiri di buat ternganga tak percaya.
Dan ya... mereka berbelok ke arah hotel yang cukup lumayan jaraknya dari kantor mereka masing-masing.
Saat keduanya check in, tanpa mereka tahu ada yang tak sengaja menangkap momen kebersamaan mereka.
Gila!? Mereka check in jam segini? Dasar perawan tua ngga punya harga diri Lo! Awas aja, gue bakal bikin Lo berdua malu! Liat aja Amara!!!!
.
.
.
Azmi hanya tersenyum tipis saat beberapa karyawan menyapanya. Hari sudah tak lagi pagi, tapi menjelang siang.
__ADS_1
Alby belum menunjukkan batang hidungnya. Dan azmi tak mempermasalahkan hal itu. Alby bos nya kan....???? Lagi pula, bos nya pengantin baru. Wajar kalau tidak masuk ke kantor.
Karena pekerjaan Alby terbengkalai, mau tidak mau Azmi pun kembali menyelesaikan pekerjaannya.
Dia sengaja menyibukkan dirinya agar sejenak melupakan masalah yang menimpa dirinya dengan nur.
Siapa yang akan menyangka jadi seperti ini???
[Maaf pak Azmi, ada tamu untuk bapak di bawah!]
Resepsionis menghubungi Azmi.
[Tamu buat saya?]
[Betul pak. Atas nama.... Sabrina]
Azmi mengernyitkan dahinya, ia tak mengenal nama itu.
[Baiklah, saya ke bawah sekarang!]
Azmi langsung menuju ke lobby untuk menemui tamunya.
"Selamat siang mas Azmi?", sapa seorang perempuan.
"Selamat siang, lho...anda istrinya dokter Sakti kan? Nyonya Bina?", tanya Azmi.
"Iya."
"Tadi katanya ada tamu buat saya...?"
"Sabrina. Panggilan sehari-hari nya Bina, mas Azmi!", jawabnya.
"Oh...maaf, saya kurang paham nyonya."
"Jangan panggil nyonya. Kesannya tua sekali saya. Nur yang lebih muda dari saya saja memanggil nama doang kok."
Azmi mengangguk pelan.
"Oh iya, mau bicara di ruangan saya saja atau..."
"Di situ aja, ngga apa-apa kan?", tanya Bina yang menunjuk tempat duduk di dekat resepsionis. Azmi pun mengangguk lalu mempersilahkan Bina lebih dulu.
"Jadi, apa yang membuat nyo...em... maksudnya Bina ke sini?", tanya Azmi. Bina tampak menghela nafas.
"Nur!", kata Bina singkat. Dan tentu saja membuat Azmi penasaran.
"Kenapa dengan Nur?"
Bina pun menceritakan tentang apa yang Nur alami. Sebenarnya Bina sendiri yang berinisiatif menemui Azmi. Bagaimana pun juga, Nur adalah sahabatnya. Tentunya Bina ingin membantu Nur terutama untuk bersama Azmi. Karena selama mereka bersahabat, Nur tak pernah sekalipun jatuh cinta. Sekalinya jatuh cinta dan bersambut, justru terkendala restu.
"Aku harus apa?", tanya Azmi. Bina mengedikan bahunya.
"Bina? Kamu disini??", sapa Alby.
"Eh, iya mas Alby. Ada perlu!", jawab Bina. Alby pun heran tapi tak banyak bertanya. Kenapa????
Bagaimana bisa Bina ke sini untuk menemui Azmi?
Setelah merasa apa yang perlu di sampaikan pada Azmi selesai, Bina pun berpamitan. Tinggallah duo duda ganteng, eh...yang satu udah sold out deeeengggg....
"Kenapa Lo?", tanya Alby saat keduanya sudah ada di depan meja mereka. Bukannya menjawab, Azmi justru tertunduk lesu.
__ADS_1
******
Maapkeun lamun loba typo nyakkk 🙏🙏🙏✌️✌️✌️